
Faran membawa Aruna keluar dari ruang radiologi. Perawat sudah menyiapkan kamar untuk setengah hari agar Aruna bisa beristirahat lebih nyaman.
“Apa yang terjadi, Nak?” tanya Ayu khawatir. “Aruna baik-baik aja, ‘kan?”
“Baik, Bu,” jawab Aruna pelan.
“Ah, ibu nggak percaya,” sanggah Ayu seraya menggeleng dan lekas mengikuti anaknya.
“Ran, istri kamu nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Ayu lagi sambil melangkah masuk ke dalam lift.
Faran tersenyum lebar seraya menggeleng.
“Terus hasilnya apa?” tanya Ayu semakin penasaran. “Dia sakit apa?”
“Ibu sama ayah akan punya cucu,” jawab Faran tanpa menoleh.
“Ah, kamu bohong. Pasti bercandain ibu, ‘kan?”
“Iya, ah, jangan bercanda nggak lucu,” seru Kamal.
Aruna menggeleng. “Iya, Bu. Hasil lab kemarin menunjukkan kalau Runa hamil.”
“Tujuh tahun menanti, Bu, Yah, nggak ada waktu buat bercanda,” tutur Faran seraya menatap kedua orang tuanya.
“Serius? Jadi, ibu akan punya cucu?”
Aruna mengangguk.
Ayu pun lekas membungkuk dan langsung memeluk Aruna. “Pantas kemarin kamu bahagia banget.” Ayu melepas pelukan, kemudian berdiri tegak dan menatap suaminya. “Yah, kita akan punya cucu.” Dia lalu memeluk suaminya girang.
Aruna tersenyum lebar, begitupun dengan semua orang di dalam lift termasuk dua perawat yang mengantar mereka.
“Iya. Alhamdulillah. Ayah juga nggak sabar dipanggil Eyang.”
“Eyang? Kakek ajalah,” goda Ayu seraya melepas pelukan.
“Terserah ayah dong minta dipanggil apa.” Kamal tertawa.
Akhirnya Aruna melihat kebahagiaan yang dia inginkan sejak semalam.
“Ibu kok nggak peluk aku?” tanya Faran.
“Ah, ibu lupa.” Ayu lekas memeluk anak semata wayangnya. “Selamat ya.”
“Makasih, Bu.”
Lift berdenting dan mereka melangkah keluar.
“Pantas kemarin kamu bahagia sekali sampai memberi hadiah pada semua orang, membeli banyak makanan, kita benar-benar nggak nyangka kalau kamu sedang syukuran.”
Faran termangu. Dia benar-benar merasa bersalah atas kejadian kemarin. Meski Aruna sudah memaafkannya, tapi dia merasa sangat bersalah, apalagi sampai membuat Aruna sakit.
“Kalau hadiah buat Faran isinya apa, Ibu boleh tahu nggak?” tanya Ayu.
“Mas Faran belum buka hadiahnya, Bu.”
“Ini pasti gara-gara dia marah. Kamu ini, Ran. Ck-ck-ck.” Ayu menggeleng. “Padahal Aruna mau kasih kejutan, dasar nggak peka banget sih, kamu.”
Aruna tersenyum. “Nggak apa-apa, Bu, yang penting sekarang Mas Faran sudah tahu.”
Ayu mengangguk. “Untung istrinya baik.”
“Mas Faran juga baik kok, Bu.” Aruna terus saja membela suaminya. Bagaimana tidak, dia takut Ayah dan ibu mertuanya tahu kalau Faran marah karena dia menemui pria lain ketika Faran pulang ke Bali.
“Kamarnya di sini, Pak, nomor sembilan,” kata Perawat.
Faran mengangguk dan lekas membawa istrinya masuk ke dalam kamar tersebut. Dia juga membantu Aruna naik ke ranjang dan merebahkan tubuh di sana.
“Ibu harus makan dulu, terus minum obat yang kemarin dari Dokter, obatnya masih sama.”
“Obatnya ketinggalan di rumah, Mas,” kata Aruna.
“Ya udah nggak apa-apa, Mas bisa pulang dulu, biar Ibu sama Ayah yang jaga kamu di sini.”
“Iya, aman,” kata Ayu, sementara Kamal hanya tersenyum.
“Mas, aku mau sandarannya dinaikkan,” pinta Aruna pelan.
“Iya.” Tantu saja tak sulit mengabulkan keinginan Aruna. “Begini sudah enakkan?” tanya Faran.
“Ketinggian, Mas, turunkan sedikit.”
Faran kembali menekan tombol yang ada di belakang ranjang. “Begini?” tanyanya lembut.
“Iya, udah, makasih, Mas.”
“Sama-sama.” Faran bangkit dan mengecup puncak kepala Aruna. “Mas ambil obatnya dulu, di mana?”
“Di tasku.”
Faran menatap sang ibu. “Ibu lihat tas Aruna?”
“Ya udah. Bu, Yah, titip Aruna.”
Ayu tersenyum seraya mengangguk.
Faran kemudian berpamitan dan pergi dari rumah sakit menuju kediaman Ganjar untuk mengambil tas yang berisi obat Aruna.
Tak berapa lama setelah Faran pergi, perawat datang mengantarkan makan untuk Aruna. “Ibunya makan dulu ya.”
“Iya, Sus.”
“Harus dipaksakan ya, Bu. Bayinya juga butuh gizi lebih banyak.”
Aruna dan Ayu kompak mengangguk. “Kalau nggak mau makan, biar saya yang hukum, Sus,” kata Ayu.
Aruna tersenyum. “Runa kira ibu yang akan habiskan.”
“Ah, ibu mah udah overweight, nanti kasihan ayah.”
Kamal malah mengernyit. “Apa hubungannya?”
“Ah, Ayah mah suka loading. Udah kamu makan aja.”
“Ayah tenang aja, Runa juga nggak ngerti.” Aruna terkekeh, sementara Kamal hanya tersenyum. Faran memang tak mirip ayahnya karena Kamal lebih sedikit bicara, sedangkan Faran lebih mirip ibunya, meski begitu Faran tak terlalu cerewet seperti Ayu, nampaknya Faran memiliki perpaduan dari kedua orang tuanya.
Aruna meraba perutnya sendiri. Akan seperti apakah anaknya nanti? Akankah mirip dengannya, atau justru tidak sama sekali. Aruna akan lebih tenang, jika anaknya nanti lebih mirip Faran.
Sedangkan ayah dari bayi yang dikandungnya itu, baru sampai ke rumah. Faran langsung mencari tas Aruna, setelah itu dia pergi ke kamar dan termangu menatap kotak kecil berwarna ungu. Dia pikir itu adalah kejutan yang hendak Aruna berikan padanya.
Faran segera membuka kotak tersebut Dia terharu karena melihat ada sebuah kertas bertuliskan “Halo, Dad”, lalu ada sepasang kaos kaki bayi, kemudian ada alat tes kehamilan dan ada hasil USG. Faran pikir Aruna sudah tahu kalau dirinya hamil sebelum pergi ke Dokter. Faran juga teringat perkataan Dokter yang mengatakan kalau Aruna pernah keguguran. Demi Tuhan Faran tidak tahu akan hal itu.
Faran segera memotret isi dari kotak tersebut dan langsung mengirimkannya ke grup keluarga tanpa kalimat pengantar apapun. Lalu setelah itu dia pergi meninggalkan kediaman Ganjar dan kembali ke rumah sakit. Dia juga membawa kotak tersebut.
Sedangkan Aruna dan Ayu baru saja menerima panggilan video dari Miranti dan Ashilla.
“Gimana Aruna?” tanya Miranti segera setelah Ayu menerima panggilannya.
“Bund.” Aruna tersenyum dan masih menikmati makanannya.
“Lagi makan? Jadi, gimana?” tanya Miranti lagi.
“Aku punya kabar baik,” kata Ayu.
“Syukurlah kalau sudah baik, cepat ke sini, jangan lama-lama di sana nggak enak.”
“Bukan gitu, Mir. Aku dan Kamal akan segera punya cucu.”
“Hah? Cucu?” Miranti malah tampak bingung. Sementara Ashilla baru saja membuka pesan dari Faran dan menunjukkannya pada Miranti.
“Faran akan jadi ayah,” bisik Ashilla.
“Hah? Aruna, kamu hamil?” tanya Miranti setengah berteriak.
Aruna tersenyum dan mengangguk.
“Selamat, Run. Maaf soal kemarin,” kata Ashilla.
Aruna kembali tersenyum seraya mengangguk.
“Alhamdulillah, selamat ya. Bunda sudah duga sejak awal, tapi Faran … ah, sudahlah.”
Ayu malah tertawa. “Jangan dibahas, dia memang begitu.”
“Jadi, nanti malam gimana?” tanya Miranti.
“Nanti sore Aruna bisa pulang dan kami langsung ke sana.”
“Syukurlah, ya sudah kami tunggu.”
“Iya.”
“Kami sudah memesan kamar untuk kalian.”
“Makasih, Mir.”
“Iya, sama-sama. Ya sudah, aku tutup ya. Run, cepat sehat.”
“Iya, Bund.”
Setelah menutup panggilan Miranti menatap semua anggota keluarga. “Kabar bahagia kita bertambah.”
Ashilla mengangguk. “Akhirnya setelah penantian panjang.”
“Bunda udah curiga sejak awal. Edgar sih nggak percaya.”
“Ya mana aku tahu kalau dugaan Bunda memang benar,” kilah Edgar.
“Naluri ibu memang gini, Gar.”
Ashilla tersenyum. “Bunda benar. Nggak ada yang salah dengan naluri ibu.” Ashilla kemudian pergi dan mengirim pesan pada Dewi, dia memberitahukan kalau Aruna masuk rumah sakit. Dia hanya ingin Dewi juga menerima kabar bahagia ini. Namun, sayang pesannya malah terbaca oleh Roy dan pria itu langsung menghapusnya, tanpa sepengetahuan Dewi.