
Usai dari klinik, Angkasa tak mengantar Ashilla pulang, dia malah pergi ke mall untuk menservis ponsel Ashilla yang terkena air. Namun, Angkasa malah membelikannya yang baru. Ashilla bukan tak mampu beli, tapi selama bisa diperbaiki, dia akan tetap memakai yang lama.
“Besok aku pergi, masa nggak bisa hubungi kamu,” kata pria itu, seolah memang perselisihan tadi sudah selesai, padahal mereka hanya sama-sama meredam.
“Tinggal nunggu diperbaiki aja,” jawab Ashilla masih dengan nada kesal.
“Kesalnya jangan lama-lama. Masih bete aja.” Angkasa merangkul bahu wanita itu dan mendekatkan ke dadanya. “Udah kamu pakai HP-nya, ini hadiah dari aku.”
“Ya udah. Makasih.”
“Senyum dong.”
Ashilla tengadah dan menatap pria itu sembari tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi. Angkasa kembali merangkul dan mengecup puncak kepalanya.
“Sekarang kita makan, aku laper, lagipula kamu juga harus minum obat.”
“Obat sakit kepala doang.”
“Memang kamu mau apa, vitamin untuk ibu hamil?”
Seketika Ashilla menyikut perut pria itu, kemudian berlalu dan meninggalkan Angkasa yang kesakitan.
“Sayang,” panggil Angkasa seraya mengejarnya.
Ashilla tak menolah dan terus berjalan kesal meninggalkan Angkasa. Namun, tiba-tiba langkah kakinya terhenti saat dia melihat Sarah berdiri di depannya dan menyebut nama Angkasa.
“Hei. Pulang kerja?” tanya Angkasa.
“Iya, biasa. Belum punya yang cariin duit, jadi gue cari sendiri daripada minta.”
Ashilla seperti tersindir padahal Sarah tak bermaksud, bahkan Sarah tak tahu kalau Angkasa baru membelikannya ponsel.
“Bagus, daripada nyusahin orang,” timpal Angkasa.
“Kalian sendiri habis dari mana?”
“Kami dari gerai ponsel. Kebetulan ponsel Ashilla rusak terendam.”
“Oh gara-gara semalam itu? Gue turut prihatin. Adisty emang kayak gitu orangnya,” kata Sarah pada Ashilla.
Namun, Ashilla merasa heran, tiba-tiba Sarah bersikap ramah, tak sinis seperti semalam.
“Sa, jadikan lo berangkat besok?” tanya Sarah.
“Jadi,” jawab Angkasa seraya menggenggam tangan Ashilla. “Mau gimana lagi, udah tanda tangan kontrak.
“Perlu pesta nggak nih?” tanya Sarah lagi sembari menatap tangan Angkasa yang menggenggam tangan Ashilla.
“Nggak usah kemarin udah cukup, hari ini gue cuma mau habisin waktu sama kesayangan gue.” Angkasa menatap sang kekasih, kemudian mengecup pelipis Ashilla.
Sarah mengedikkan satu alisnya. “Yakin bisa muasin Angkasa? Dia mainnya dua ronde loh.”
“Hah?” Seketika Ashilla mengernyit.
“Sarah cuma bercanda, Sayang, jangan dianggap serius.”
Namun, Sarah malah tersenyum sinis, seolah menyanggah perkataan Angkasa. Ashilla malah semakin terbakar, dia lekas melangkah pergi dan meninggalkan Angkasa bersama Sarah.
“Sayang,” panggil Angkasa. Ashilla mengabaikannya dan terus melangkah. “Sar, bercanda lu nggak lucu.” Angkasa kemudian pergi dan mengejar Ashilla. Setelah dekat dia menarik tangan wanita itu.
“Jangan dianggap serius.”
“Terus aku harus gimana? Aku nggak kenal dia, terus tiba-tiba ngomong gitu, ya aku kesal lah.”
“Ya, aku tahu.”
“Kita jadi makan, ‘kan?”
“Nggak, aku mau pulang.”
“Pulang? Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini kamu ambekan.”
“Ya aku–” Kalimat Ashilla tercekat.
“Itu artinya kita harus cepat-cepat menikah.”
Seketika Ashilla tergemap.
“Ya, biar kamu percaya kalau aku cuma sama kamu.”
***
Sementara itu di waktu yang sama Iyash tengah menikmati acara makan malam bersama keluarganya. Celotehan Queensha, anak dari Rasya membuat Ira dan Hasa bahagia. Sedangkan Iyash sedari tadi hanya melamunkan Ashilla yang sudah membelikannya roti dan susu, memang hanya roti dan susu, tapi dia begitu terkesan.
“Iya, Ma?”
“Di makan dong, jangan cuma diaduk, nanti jadi dingin nggak enak.”
Seketika semua anggota keluarga menoleh kepadanya, termasuk Rasya dan Priska, kakak iparnya.
“Masih nggak enak badan? Perlu ke dokter?” tanya Hasa.
“Nggak usah, Pa. Besok juga baikan.”
“Tadi Angkasa sama pacarnya ke sini buat jenguk Iyash,” kata Ira pada akhirnya, mungkin memang sudah tidak tahan ingin membicarakan kejadian tadi dengan sang anak.
“Wah tumben ke sini, kirain udah lupa,” ucap Rasya. Sementara Hasa hanya terdiam dan tak menanggapi perkataan sang istri.
“Pacarnya cantik mirip Ar–”
Iyash lekas mendorong kursi seraya bangkit. “Aku belum lapar,” katanya.
Ira terperangah, meski dia tidak menyelesaikan kalimatnya, namun Iyash mengerti arah pembicaraan tersebut.
Rindu yang perlahan dia lupakan kembali membuatnya sesak hingga tak sanggup lagi untuk bernapas. Jika memang Ashilla itu bukan Aruna, kenapa mereka bisa sangat mirip, wajahnya, suaranya dan bahkan cara bicaranya? Jika memang wanita itu adalah Aruna, kenapa harus bersikap seolah tak pernah mengenalnya?
“Kenapa, Ma?” tanya Rasya.
Ira tampak bimbang, namun dia juga tak bisa diam begitu saja. “Pacarnya Angkasa mirip Aruna.”
“Mirip?”
Ira mengangguk.
“Mama juga kaget, Pa. Tapi kayaknya cuma mirip. Iya, ‘kan? Lagi pula Aruna udah lama nggak ada.”
Hasa tak menanggapi dan kembali menyantap makan malamnya, sementara Rasya hanya termenung memikirkan perkataan sang ibu. Yang dia takutkan adalah Iyash semakin sulit melupakan Aruna.
Iyash sendiri tak bisa melupakan Ashilla, dia benar-benar mengira kalau wanita itu memang Aruna, biarlah yang jelas hatinya berkata demikian. Setiap ada wanita itu di depannya, dia selalu ingin meraihnya ke dalam dekapan.
“Kita harus bagaimana?” tanya Ira pada suaminya. “Ini sudah sepuluh tahun dan Iyash masih tetap seperti itu, menunggu Aruna, padahal dia sendiri sudah tahu kalau Aruna tidak akan kembali.”
Hasa hanya membelai bahu istrinya.
“Mama takut Iyash nggak mau menikah.”
“Suatu saat pasti ada keajaiban, Ma,” kata Rasya.
“Kita selalu menunggu saat-saat itu.”
“Mungkin kita masih harus bersabar.”
“Iyash sudah menolak semua perempuan, termasuk Adisty.”
“Belum semua. Masih ada banyak perempuan di muka bumi ini. Mama yang sabar.”
“Papa nggak tahu, sesabar apa Mama selama ini. Tapi, Mama sakit hati melihat penantian Iyash.”
***
Kendaraan beroda empat baru saja berhenti di kediaman Ganjar Wijaya. Sang pengemudi masih menahan pintu agar si penumpang wanita yang duduk di sebelahnya tidak langsung keluar.
“Apa lagi?” tanya Ashilla malas.
“Besok kita mulai LDR.”
“Bulan depan kamu pulang, ‘kan?”
“Iya, tapi LDR. Selama ini aku bertahan kerja sama Mama kamu agar aku bisa terus ketemu dan sama-sama kamu terus.”
“Sekarang juga masih sama-sama.”
“Iya, tapi jauh,” rengek Angkasa.
Ashilla menghela napas. “Ya udah pilihannya kamu berhenti kerja sama Mama dan tinggal di sini, lagi pula semua keluarga kamu juga ada di sini.”
“Cuma domisili, bahkan seminggu aku di sini, kita belum ketemu Mama sama Papa aku.”
“Ya aku ngerti, lagian mereka orang sibuk.”
“Dari dulu, aku tuh kayak anak yatim,” keluh Angkasa.
Ashilla merasa prihatin. Jika memang itu yang dirasakan Angkasa, betapa kesepian jiwanya selama ini. Ashilla kemudian menyandarkan kepala di dada Angkasa. “Suatu saat kita bentuk keluarga sempurna.”
Tentu saja Angkasa merasa senang mendengar kalimat itu. Meski Ashilla selalu berkata kalau dia belum siap, namun, setidaknya wanita itu masih menjadikan Angkasa sebagai tujuannya.