
Sebenarnya untuk kejadian semalam Ashilla merasa bersalah telah memutuskan Angkasa. Mungkin Angkasa benar kalau dia hanya emosi.
“Temui dia,” titah Ganjar. Beberapa hari yang lalu setelah pulang dari rumah sakit Angkasa menemuinya dan menceritakan niatnya yang ingin segera menikahi Ashilla.
Sejujurnya Ganjar sudah ingin menikahkan mereka sejak lama. Namun, Ashilla masih belum siap.
Perlahan Ashilla turun meninggalkan ranjang, kemudian pergi ke kamar mandi. Sedangkan Ganjar sendiri kembali ke ruang tamu menemui Angkasa.
“Baru bangun,” kata Ganjar pada pria yang tengah duduk di sofa.
“Dia baik-baik aja, ‘kan, Opa?”
“Baik, cuma mengeluh nggak enak badan sedikit.”
Angkasa tampak begitu tegang. Dia takut tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Ashilla.
“Semua akan baik-baik aja, Opa sudah bicara sama dia.”
Angkasa malah semakin tegang. Berulang kali dia membasahi tenggorokan. Mencoba meredakan perasaan itu. Entah apakah dia sanggup menjalankan hidup atau tidak jika hubungannya dengan Ashilla berakhir.
Menunggu hingga tiga puluh menit, akhirnya Ashilla keluar dengan pakaian rapi dan itu membuat Angkasa merasa kalau Ashilla siap pergi dan menunaikan rencananya semalam.
“Ya sudah kalau begitu, Opa tinggal.” Ganjar pun bangkit dan meninggalkan sepasang kekasih tersebut.
“Kamu mau pergi sama aku?” tanya Angkasa pelan.
“Nggak. Aku ada acara lain.”
“Semalam kita udah bicara kalau kita mau pergi hari ini.”
“Nggak jadi.”
Seketika raut sedih tergambar di wajah Angkasa. Dia tak pandai membujuk Ashilla. Apalagi ini kali pertama Ashilla meminta putus setelah setahun berpacaran. Setahun berteman, setahun berpacaran dan mungkin perasaan yang wajar jika dia ingin menghabiskan sisa umurnya bersama Ashilla.
Tak pikir panjang Angkasa berlutut di depan wanita itu sembari meraih tangannya. “Tolong maafin aku. Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, asal jangan pernah meminta putus.”
Ashilla menghela napas.
“Sayang, aku harus apa?”
“Kamu harus meminta maaf dan berterima kasih sama Iyash,” kata Ashilla pelan.
“Iya.” Perlahan Angkasa bangkit. “Tapi kamu maafin aku, ‘kan? Kita nggak putus, ‘kan?”
Ashilla mengangguk.
Angkasa tersenyum dan langsung memeluknya. “Opa kamu benar kalau semua akan baik-baik saja. Terima kasih, aku cinta sama kamu.”
Perlahan Ashilla tersenyum dan membalas pelukan Angkasa. Tak dapat dipungkiri kalau dia juga masih sayang pada pria itu. Selama dua tahun ini Angkasa adalah orang yang memberinya kenyamanan baik sebagai teman, sahabat dan bahkan kekasih.
Rasanya memang kejadian semalam hanyalah sebuah kekhilafan, Ashilla tak perlu memperbesar keadaan, dia mungkin cukup tahu bagaimana pergaulan Angkasa dengan teman-temannya.
“Opa minta aku mengantar kamu ke acara santunan,” kata Angkasa sesaat setelah dia melepaskan pelukannya.
Ashilla mengangguk. Angkasa sendiri langsung berpamitan pada Ganjar ketika pria tua itu baru saja kembali.
“Kami berangkat sekarang, Opa.”
“Iya hati-hati. Tolong jaga cucu Opa. Jangan buat dia kesal lagi, takutnya bukan nanti nggak ada kesempatan lagi buat kamu.”
“Siap, Opa.” Angkasa lekas menautkan jemari di jarijari lentik Ashilla. “Kalau begitu kami berangkat Opa, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sepasang kekasih itu berjalan keluar. Dengan sangat hati-hati Angkasa membukakan pintu mobil untuk Ashilla, kemudian memegangi tangannya dan membantu wanita itu menuruni tiga undakan anak tangga.
“Berlebihan, kayak ke wanita hamil aja,” dengkus Ashilla seraya masuk ke dalam mobil.
“Kita nikah dulu, baru nanti kamu hamil.” Angkasa berputar dan masuk dari pintu lain. Setelah sama-sama ada di dalam mobil Angkasa menatap lekat kedua bola mata Ashilla. “Sayang, aku–” Dia menjeda kalimatnya sendiri. “Aku mau–” Jantungnya bertabuh. Kenapa rencana besar yang hendak dia katakan lebih mudah disampaikan pada Ganjar ketimbang pada Ashilla, padahal Ashilla sendirilah yang ada dalam rencana besar itu.
“Bukan.” Angkasa lekas memakai sabuk pengaman dan mulai menancap gas dengan pelan.
Perlahan mobil tersebut meninggalkan halaman rumah Ganjar.
“Gimana tidur kamu semalam?” tanya Angkasa basa-basi.
“Nyenyak,” bohong Ashilla. Padahal beberapa kali dia bermimpi tentang anak kecil yang tenggelam di sungai, bahkan setelah subuh dia memimpikannya lagi.
“Aku nggak bisa tidur,” keluh Angkasa. “MIkirin kamu terus, dan ingin segera pagi agar bisa memperbaiki semuanya.”
Jantung Ashilla berdegup.
“Kamu yakin nggak mikirin aku?”
“Aku?”
“Iya.” Angkasa menghela napas. “Aku takut saat kamu minta putus, rasanya aku nggak tahu lagi tujuan hidupku karena selama dua tahun ini tujuanku cuma kamu.”
Ashilla termangu. Dia memang beruntung karena Angkasa benar-benar tulus mencintai dirinya. “Aku minta maaf.”
“Nggak-nggak. Kamu nggak salah, kamu mungkin cuma khilaf.”
Ashilla tersenyum simpul. Bisa-bisanya Angkasa berpikir demikian.
“Sayang, aku minta jangan lagi kamu minta putus dari aku.”
Mendengar permintaan Angkasa, Ashilla pun menoleh. “Selama kamu tidak mengkhianati aku, aku mungkin akan bertahan, tapi sekali saja kamu melakukannya, aku tidak akan berpikir dua kali untuk putus dari kamu.”
Seketika tenggorokan Angkasa terasa kering. Dia membasahinya susah payah. “Apa yang bisa aku lakukan tanpa kamu. Bodoh jika aku harus mengkhianati wanita sebaik dirimu.”
“Awas saja.” Ashilla mungkin patut waspada mengingat apa yang dikatakan Sarah semalam. Bisa saja hal itu terjadi, meski dia tidak ingin, namun mungkin Sarah tidak akan menyerah untuk menghancurkan hubungannya.
“Kalau aku ingin berkhianat, mungkin sudah dari dulu aku lakukan. Ada banyak perempuan seksi di tempat Mama kamu, tapi tidak satupun dari mereka menarik hatiku, Shill.”
“Iya. Aku udah sering dengar kamu ngomong kayak gitu.”
Angkasa tersenyum. “Ada banyak hal yang kamu lupakan, tapi aku bersyukur kamu masih ingat tentang itu.”
“Gimana aku bisa lupa, kamu terus mengulang kalimat itu.”
“Aku tahu kamu cemburu sama Sarah, tapi asal kamu tahu, para model di tempat aku kerja banyak yang jauh lebih cantik dan seksi dari Sarah, kalau aku mau sudah aku lakukan dengan mereka.”
Ashilla menghela napas. Dia tetap takut, pasalnya acara semalam masih tak dapat dia lupakan. Setiap perkataan Sarah tampak begitu meyakinkan.
“Tolong jangan memikirkan apa yang tak seharusnya kamu pikirkan,” pinta Angkasa sembari menginjak rem dan berhenti di depan sebuah panti. “Di sini, ‘kan?”
“Iya.”
Ashilla lekas membuka sabuk pengaman, namun Angkasa menahan tangannya. “Bilang kalau kamu memang cinta sama aku.”
“Iya, kamu udah tahu itu.”
“Telinga aku ingin mendengarnya.”
“Lain kali.” Ashilla keluar dari mobil dan Angkasa termangu di tempat duduknya.
Ashilla disajikan dengan pemandangan para pekerja bangunan. Kedua matanya mencari sesosok pria yang pernah memberinya ciuman asing. Namun, tak menemukannya. Dia terkejut saat tiba-tiba Angkasa sudah berada di sampingnya.
“Aku tahu kamu mencari Iyash di sini, ‘kan?”
“Kamu sudah janji untuk meminta maaf dan berterima kasih padanya.”
“Iya, aku belum lupa, Sayang.”
“Syukurlah, sekarang kamu ikut aku.” Ashilla berjalan mendahului dan Angkasa lekas menyusulnya. Wanita itu pergi menemui Marwan dan tentu saja dia mendapat sambutan hangat dari pengurus panti tersebut.