
Senin malam Aruna dan Faran mengantar kedua orang tuanya ke Bandara.
“Kalian kapan nyusul?” tanya Ayu pada sang anak dan juga menantunya.
“Belum tahu, Bu,” jawab Faran.
“Memang nggak apa-apa, izin terlalu lama?” tanya Ayu khawatir.
“Faran di sini harus temani Aruna sampai kontrol berikutnya.”
“Tapi, nggak enak numpang terus, udah kalian cepat pulang ke Bali, nanti bisa kontrol di sana.”
“Kami harus memastikan kalau kehamilan Aruna baik-baik aja dan bisa melakukan penerbangan.”
“Ibu doakan istri sama anak kamu baik-baik aja.” Ayu mengusap punggung Faran.
Faran mengangguk. Sementara Aruna hanya tersenyum.
“Kalau begitu ibu sama ayah pamit.”
Faran kembali mengangguk.
“Hati-hati, Bu, Yah,” kata Aruna.
“Kalian juga.” Kamal mengusap bahu sang menantu.
Aruna mengangguk, dia kemudian menatap sang suami yang terlihat berat hati membiarkan kedua orang tuanya pulang tanpa menemani mereka. Padahal bukan itu, sama seperti kekhawatiran Ayu terhadap Aruna, itulah yang Faran rasakan saat ini.
Ayu sendiri khawatir ketika dia mengingat pertengkaran di pesta pernikahan Ashilla. Dia terkejut karena tak pernah menyangka sikap Ganjar yang begitu keras pada cucunya sendiri. Ayu takut Aruna diperlakukan sama, apalagi Aruna sedang hamil. Dia benar-benar tak bisa berhenti memikirkan ini. Sudah terlalu lama dia menantikan cucu, dia takut terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucunya itu. Akhirnya Ayu mengerti kenapa Aruna tak pernah ingin kembali ke rumah Kakeknya.
“Mas.” Aruna merangkul lengan sang suami.
Faran lekas menoleh.
“Kalau Mas mau pulang sekarang, nggak apa-apa, aku, ‘kan udah bilang aku baik-baik aja.”
Faran tak menjawab dia malah mengusap punggung tangan Aruna.
“Nggak apa-apa, dia lebih khawatir sama kamu,” kata Kamal.
Aruna tersenyum menatap ayah mertua. Sedangkan ibu mertuanya terlihat resah. Aruna belum sempat bertanya apa yang membuatnya resah seperti itu.
“Kalau ada apa-apa, bilang ya.”
“Iya, Bu.”
“Ibu sama Ayah berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ayu dan Kamal berlalu dari selasar Bandara. Begitupun dengan Aruna dan Faran, mereka kembali ke rumah dalam keadaan lelah.
Sementara itu Miranti baru saja kedatangan tamu.
“Hasa?”
“Siapa, Mir?” tanya Ganjar yang perlahan melajukan kursi rodanya.
“Bukan siapa-siapa, Pa. Hanya orang salah alamat.” Persis seperti ketika Iyash datang ke rumah tersebut. Ashilla juga menolaknya sama seperti yang Miranti lakukan.
Miranti hendak menutup pintu, namun Hasa menahannya. “Saya Hasa, Pak. Ayahnya Edgar,” teriak pria itu.
Miranti mengernyit. “Bohong, Pa, dia hanya orang asing yang hendak melakukan penipuan.”
Miranti lekas menutup pintu. Dadanya berdebar kencang sampai napas pun terasa sesak. Tak hanya dirinya yang terkejut, Ganjar pun dibuat tergemap sampai tak bisa berkata apa-apa.
“Mir,” teriak Hasa membuat keributan. “Kamu buktikan kalau aku bukan ayah Edgar, aku menantang kamu untuk melakukan test DNA malam ini juga. Bagaimanapun caranya Edgar harus tahu kalau ayahnya masih hidup.”
Miranti bingung menanggapi karena dia sudah kehabisan kata untuk merangkai cerita. Beruntung tak ada orang di rumah, Faran dan Aruna belum pulang, begitupun dengan Egdar yang pergi sejak sore tadi dengan Marissa.
“Mir.” Ganjar mendekat. “Kamu jelaskan sama Papa sekarang.”
“Nggak ada yang perlu dijelaskan, Pa.”
“Jangan gitu kamu. Kalau kamu tidak bisa dan tidak ingin menjelaskannya sama Opa, sekarang kamu buka pintunya dan biarkan dia masuk.”
“Tapi, Pa.”
“Mir, kamu bukan anak kecil lagi.”
Miranti mendengkus. Seharusnya Ganjar bisa menerapkannya pada diri sendiri. Dengan sangat terpaksa Miranti membuka pintu dan membiarkan Hasa masuk.
Tiba-tiba Hasa menjatuhkan lutut di depan Ganjar. “Pak, saya minta maaf, seharusnya dari dulu saya datang ke sini dan menjelaskan semuanya.”
Ganjar mundur. “Kamu menantu Wahid?”
Seketika Hasa mengangkat wajah, kemudian mengangguk.
“Mir, kenapa kamu bisa punya anak dari menantu Wahid?”
Miranti menggeleng.
“Saya bisa jelaskan, Pak,” kata Hasa seraya bangkit. “Sebelum saya menikah, saya berpacaran dengan Miranti.”
Miranti terdiam.
“Dua tahun,” jawab Hasa.
Seketika Ganjar menoleh menatap anaknya. “Dua tahun, Mir? Dan Papa nggak tahu sama sekali?”
Miranti tertunduk.
Ganjar lekas menjauh. “Kalian selesaikan masalah ini.”
Tentu saja, Hasa datang ke sini untuk menyelesaikan masalahnya. “Mir, sahabat kamu bilang kalau kamu pergi dalam keadaan hamil.”
Miranti terpegun.
“Kamu jelaskan, Mir. Katakan kalau aku memang ayahnya,” pinta Hasa sekali lagi.
Akhirnya Miranti mengangguk.
“Kenapa nggak pernah bilang, kalau kamu hamil, Mir?” sesal Hasa.
“Buat apa? Kamu sudah berkeluarga. Aku tidak ingin mengusik rumah tanggamu.”
“Kamu tahu aku terpaksa menikah.”
“Terus apa aku harus menjadi orang ketiga? Harga diriku sudah hancur dan aku tidak ingin membuatnya semakin berantakan. Meski, kepayahan, tapi aku bisa bangkit dan menjalani semuanya dengan baik.”
“Aku minta maaf, Mir.”
Miranti berbalik dan mengambil langkah ke dekat sofa. Lalu kemudian dia duduk.
“Anggap saja dengan kepergianku, aku ikut membantumu menyelamatkan perusahaan yang sampai saat ini berhasil menghidupi kamu, istri dan juga kedua anakmu.”
Jantung Hasa mencelus. Dia lekas mendekat dan ikut duduk di sofa, meski tak ada yang mengizinkannya. “Mir, izinkan aku memperbaiki semuanya.”
“Nggak perlu. Aku sudah ikhlas kok, kamu bisa tanya Papa.” Miranti menoleh menatap ayahnya. “Papa sudah berperan cukup baik sebagai kakeknya Edgar.”
Hasa menatap Ganjar. “Maafkan saya, Pak. Sampai detik ini saya masih mencintai Miranti,” ungkap Hasa jujur. “Tolong restui kami.”
“Hah?” Miranti terperanjat dan langsung berdiri. “Maksud kamu apa?”
“Mir.” Hasa pun ikut bangkit. “Aku akan menceraikan Ira dan kembali sama kamu.” Dia meraih tangan Miranti.
“Gila kamu.” Miranti melepaskan genggaman tangan Hasa dan memalingkan wajahnya. “Kamu pikir aku mau menikah dengan pria bekas orang?”
Jantung Hasa mencelus. “Mir, izinkan aku memperbaiki semuanya.”
“Memperbaiki semuanya, bukan berarti harus menikahiku, ‘kan? Kamu pikir aku bodoh?”
Hasa tergemap. Sudah dia duga sebelumnya kalau Miranti adalah wanita yang tak butuh pria.
“Sekarang lebih baik kamu keluar,” pinta Miranti baik-baik.
“Nggak. Aku mau ketemu Edgar dan menjelaskan semuanya.”
“Nggak perlu. Edgar nggak butuh kamu. Tiga puluh tiga tahun dan Edgar tak pernah bertanya siapa ayahnya.”
Jantung Hasa mencelus. Sakit rasanya ketika dia berjuang sendirian untuk meyakinkan Miranti kalau dia benar-benar ingin bertanggung jawab, meski mungkin sudah terlambat.
“Maaf, aku bukannya nggak mengerti dengan rasa sakit kamu selama ini,” kata Hasa.
“Ssshhh …. nggak usah dibahas. Masa lalu.”
Jantung Hasa mencelus. Dia tertunduk dan merasa malu ketika tak ada yang menghargainya.
“Assalamualaikum.”
Kedua mata Miranti membola ketika mendengar suara Edgar. Dia tak ingin merusak seri di wajah anaknya dengan kabar ini.
Semua orang menatap ke arah Edgar sampai pria itu mematung dan berhenti melangkah.
“Ada tamu ya.” Edgar masuk dan tak begitu memperhatikan pria yang sedang mengobrol dengan ibunya. “Kenapa nggak duduk? Kayak yang nggak ada kursi aja,” godanya seraya melewati sang ibu.
“Gimana jalan-jalannya?”
Edgar menoleh seraya tersenyum. “Ya begitulah, Bund. Seru.”
Miranti ikut tersenyum, sepertinya Mila benar kalau Edgar dan Marissa ada kecocokan.
“Aku ke kamar dulu ya.”
“Tunggu,” tahan Hasa.
Edgar menatapnya heran. “Siapa, Bund?”
“Teman Bunda, dia cuma pengen kenalan sama kamu.”
“Oh.” Edgar segera mengulurkan tangan.“Edgar.”
Hasa meraih tangan sang anak, lalu kemudian memeluknya erat seraya menangis. “Maafin Papa, Nak.”
Seketika Edgar mengernyit dan melepaskan pelukan pria itu. “Maksudnya?”