
Aruna turun dari mobil tepat di depan rumah sakit. Dia melangkah masuk tanpa menunggu Yayan. Namun, Yayan tetap mengikutinya dari belakang. Setelah naik ke lantai tiga, dia mencari kamar kakeknya dan entah kenapa bukannya langsung masuk Aruna malah mematung di depan pintu.
Wajar karena itu mengingatkannya kembali pada sepuluh tahun lalu saat mereka dilarikan ke rumah sakit yang sama tempat Ganjar berada sekarang.
“Biar Bapak yang bukakan,” kata Yayan seraya memutar knop kemudian membaca salam.
Ganjar terkapar lemah di atas ranjang. “Kenapa bisa seperti ini?” tanya Aruna sembari melangkah masuk dan melihat kondisi Ganjar.
“Bapak memang sudah sering sakit-sakitan, Non,” jawab Yayan di belakangnya. “Semakin tua, ‘kan kesehatan semakin menurun.”
Aruna menoleh dan menatap Yayan. “Pak,” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Apa ibu saya pernah mencari anaknya?”
Yayan tergemap. Tentu saja, bukan sekali bahkan beberapa kali, tapi selalu berakhir dengan hal yang tidak baik.
“Pak?” panggil Aruna sekali lagi.
“Tidak, Non.” Ah, kenapa Yayan harus berbohong? Kenapa dia masih harus setia pada Ganjar yang bahkan sudah hampir sekarat.
Aruna menghela napas. “Pak Yayan tahu, seburuk apapun ibu saya, surga tetap berada di bawah kakinya. Setidaknya saya bisa meminta ridhonya sekali saja.”
Yayan terenyuh. Dia kagum karena Gusman berhasil membesarkan Aruna dan Miranti berhasil mendidik Ashilla.
“Pak Yayan minta maaf, Non. Sebenarnya beberapa kali Bu Dewi datang untuk mencari tahu tentang Non Aruna dan Mas Gusman. Sewaktu Mas Gusman masih di Surabaya.”
Jantung Aruna mencelus.
“Tapi, Bapak selalu mengusirnya dan memberi jawaban yang sama kalau Mas Gusman dan Non Aruna sudah meninggal.”
Dada Aruna terasa sesak. “Lalu?”
“Beberapa bulan yang lalu, dia juga datang dan berhasil bertemu dengan Mbak Miranti dan Non Ashilla.”
“Terus?”
Yayan mengangguk. “Bu Dewi menanyakan tentang Non Aruna.”
Aruna hendak mengatakan sesuatu, namun terpotong dengan kehadiran beberapa orang perawat. “Saya periksa dulu kondisi Bapak, ya, Bu.”
Aruna mengangguk, kemudian mundur perlahan.
Perawat memeriksa tensi darah, detak jantung, kadar kolesterol dan jumlah gula dalam darah. Sementara Aruna tak melanjutkan obrolannya dengan Yayan karena menghargai keberadaan perawat tersebut. “Hasilnya tetap sama sejak semalam.”
“Kakek saya kenapa, Sus?”
“Bapak mengalami komplikasi serius, Bu.”
“Hm.”
“Nanti malam Dokter akan memeriksa kembali keadaan Bapak. Saya permisi.”
Aruna mengangguk. Setelah ketiga perawat itu pergi, dia kembali menatap Yayan. “Apa yang Opa katakan waktu itu?” tanya Aruna kembali.
“Jawabannya tetap sama.”
Jantung Aruna mencelus. Dadanya seperti dihantam benda berat. Ternyata dianggap tiada oleh keluarga sendiri begitu menyakitkan. Bodohnya dulu dia ingin dianggap tiada oleh Iyash. Namun, ternyata tidak, Iyash berhasil membuktikan keyakinannya selama ini.
“Kenapa?” gumam Aruna.
“Opa tidak pernah benar-benar menerimaku dan ayah?”
“Tidak, Non. Pak Yayan yakin maksud Bapak tidak seperti itu.”
“Lalu seperti apa? Kami sudah dianggap meninggal bahkan ketika kami masih hidup.”
Yayan tergemap menatap Aruna sampai beberapa detik. “Maaf, Non. Pak Yayan permisi.” Dia kemudian keluar tanpa menunggu Aruna bicara. Entah apa yang dirasakan Yayan, kenapa dia harus mengakhiri obrolannya secepat ini. Padahal Aruna masih ingin mendengar banyak tentang keluarga yang terasa seperti orang lain, sementara orang lain terkadang lebih hangat dari keluarga sendiri.
Aruna terdiam menatap Ganjar. Sang ayah meninggal membawa rahasia dan rasa sakitnya. Lalu apakah Ganjar juga akan melakukan hal yang sama?
Aruna berbalik dan memilih duduk di sofa dekat pintu. Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke nomornya.
[Surat rekomendasi kamu dicabut. Kamu tidak bisa pergi seenaknya.]
Jantung Aruna mencelus. Dia lekas mengetik pesan balasan dalam bahasa Jerman.
[Aku minta maaf, Opaku masuk rumah sakit dan aku sudah mengirim permintaan cuti melalui email.]
Setelah itu Aruna mengempas punggung ke sandaran sofa. Lehernya terangkat dan dia tengadah menatap langit-langit rumah sakit. Tiba-tiba seseorang datang membuka pintu sampai membuatnya terperanjat dan langsung menegakkan tubuh.
“Sayang.” Angkasa mendekat dan duduk di sebelahnya. “Maaf baru bisa ke sini lagi. Kamu sudah makan?” Angkasa hendak mengecupnya, namun beruntung dia berhasil menghindar.
“Kamu marah?” tanya Angkasa heran.
Aruna membasahi tenggorokan. Sepertinya Angkasa tidak sadar kalau yang di depannya saat ini bukan Ashilla. Rambut pendek Aruna dicepol ke atas, sehingga Angkasa tidak tahu kalau itu bukan Ashilla, padahal Ashilla tak pernah mengikat rambutnya seperti itu, apalagi dengan anak rambut berliuk yang menjuntai di dekat telinga.
“Kamu segar banget. Udah mandi? Kapan pulang? Udah ganti baju juga ternyata.”
Aruna ingin tertawa, apalagi saat Angkasa mendekatkan kepala untuk menghirup aroma parfumnya yang jelas-jelas berbeda dengan Ashilla. Dia heran kenapa Ashilla bisa menyukai pria cerewet seperti Angkasa.
“Jangan sedih lagi. Aku bawakan kue coklat kesukaan kamu.” Angkasa membuka sekotak kue. Semalaman Ashilla tidak tidur dan terus menangis lantaran merasa bersalah untuk kondisi sang Kakek.
“Aku nggak suka,” tolak Aruna seraya membuang muka.
“Aku ngerti kamu lagi nggak nafsu makan, tapi kamu juga harus banyak makan, masa nanti Opa sembuh kamu yang sakit,” kata Angkasa sembari menata semua makanan yang dibawanya di atas meja.
Aruna menoleh dan mengernyit seraya bergeser dari duduknya.
Ketika Angkasa menyadari wanita yang duduk di sebelahnya itu beringsut beberapa senti darinya, dia malah tertawa karena melihat raut wajah Aruna. “Aku bukannya mendoakan kamu sakit, Sayang. Kita mau menikah, jadi aku pengen kamu tetap sehat. Jangan sampai kita menikah di rumah sakit.”
“Sssttt.” Aruna mengacungkan telunjuknya seraya bangkit. Dia baru saja menerima panggilan telepon.
“Sayang, mau kemana?” tanya Angkasa sembari ikut bangkit.
“Ada telepon, tunggu di situ.” Aruna kemudian melenggang pergi. Sebenarnya sedari tadi dia ingin tertawa Angkasa persis seperti anak kecil. Kenapa Ashilla bisa begitu menyukai Angkasa?
Cara Aruna bicara barusan persis seperti Ashilla membuat Angkasa semakin tidak menyadari kalau wanita yang baru saja keluar itu bukan calon istrinya.
“Telepon dari siapa sampai dia harus meninggalkan aku di sini?” dengkus Angkasa seraya duduk kembali dan menikmati kue itu sendirian.
Angkasa benar-benar resah, pasalnya setelah beberapa menit wanita itu tak kembali. Tak seharusnya Ashilla menerima telepon sampai selama itu, pikir Angkasa.
Angkasa mencoba menelepon wanita yang dua minggu lagi akan menjadi istrinya itu. Namun, percobaan kesepuluh pun tak membuat Ashilla menjawab panggilannya. Tentu saja, Ashilla yang asli sedang tidur di kamar dan mematikan volume ponselnya.
Rupanya usai menerima telepon, Aruna pergi diantar Yayan, dia harus ke Bandara untuk menjemput seseorang, tapi bukan Miranti karena dijadwalkan Miranti baru bisa datang pukul sepuluh malam nanti.
Aruna mengirim pesan pada Ashilla agar Angkasa tetap menunggu dan menjaga kakeknya, namun Ashilla terlalu nyenyak tidur, sehingga jangankan pesan, panggilan Angkasa saja diabaikan.