
Pukul lima sehabis subuh Ashilla membantu Marni menyiapkan sarapan. Tidak enak enak kembali tidur di rumah orang, sementara dia sendiri harus menyiapkan keperluan Asa sekolah. Sedangkan yang dia tahu Angkasa kembali tidur, tadi bahkan Angkasa sempat mengajaknya berhubungan, namun Ashilla menolak dengan alasan harus menyiapkan sarapan untuk Asa karena Pak Yayan sudah berangkat dari rumah Ganjar untuk mengantarkan seragam, tas, buku, serta keperluan Asa lainnya.
Sementara pagi itu Daniel sedang berolahraga di halaman belakang, sehingga jendela kamar langsung mengarah pada pria itu. Ashilla dapat mendengar lompatan Daniel ketika sedang melakukan skipping, dia juga dapat melihat pria itu dari jendela dapur.
Jika dipikir-pikir Ashilla terlalu cepat mengambil keputusan, seharusnya dia lebih santai menikmati pernikahannya. Mungkin dia bisa menginap di hotel selama beberapa hari dan mengambil kesimpulan yang matang untuk tinggal di rumah Angkasa. Atau dia bisa tinggal di rumah Ganjar dan memaafkan kesalahan pria tua itu.
Semalam ketika dia terbangun dari tidurnya dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Di sana secara tak sengaja dia bertemu Daniel.
“Hai,” sapa pria itu diantara gelap.
Jantung Ashilla berdegup, dia sangat mengenal suara itu, yang jelas itu bukan suara Angkasa. Ashilla lekas berbalik dan berusaha menghindar.
“Kamu nggak pernah cerita soal Asa,” kata Daniel ketika Ashilla melewatinya.
Seketika langkah kaki Ashilla terhenti, dia kemudian menoleh dan menatap pria itu. “Jangan sebut nama anakku.”
Remangnya cahaya tak dapat menyembunyikan senyum Daniel malam itu. “Jadi, benar, Asa adalah anakku?”
“Aku nggak butuh pengakuan kamu. Sebaiknya kamu jauhi dia.”
“Nggak,” tolak Daniel cepat. “Asa harus tahu siapa ayahnya.”
Ashilla mendecih. Dia kemudian mendekatkan telunjuk ke dada Daniel. “Seorang pengecut, selamanya akan tetap menjadi pengecut.”
Daniel lekas menahan tangan Ashilla. “Kalau begitu, aku akan bilang sama Angkasa kalau aku ini ayahnya Asa.”
“Nggak. Selama ini Asa sudah cukup bahagia hidup bersama kami, jadi, jangan pernah ganggu dia.” Ashilla menarik tangannya dari genggaman Daniel.
“Aku akan tetap memberitahu mereka kalau Asa adalah darah dagingku.”
“Nggak!”
“Kenapa, Non?” tanya Marni panik.
Ashilla terkesiap. Dia seperti ditarik dari kejadian semalam. Sejak malam di mana dia melihat Daniel di depan pintu kamar hotelnya, semua kenangan yang baik bersama Daniel menjadi buruk baginya. Dia tak dapat lupa, sehingga gagal menikmati malamnya bersama Angkasa. Sekarang pun Daniel berhasil memporak porandakan hidupnya, bahkan sejak semalam dia tak bisa tidur dan terus memikirkan ucapan Daniel. Dia takut kalau Daniel akan mengatakan semuanya.
“Sini, Non, biar bibi aja.” Marni mengambil alih pekerjaan Ashilla. Sejak tadi air dibiarkan mengalir dari keran membasuh semua sayuran segar, Marni pikir Ashilla terbiasa mencuci sayur sampai selama itu, ternyata istri tuan mudanya itu sedang melamun di tengah pekerjaannya mencuci sayur.
“Saya mau bangunin Angkasa dulu.” Ashilla lekas membawa secangkir teh panas ke kamar.
Akhirnya hal yang paling dia takutkan terjadi, namun tak pernah sedikitpun dia berpikir kalau mantan pacarnya, atau lebih tepatnya ayah kandung Asa adalah saudara tiri Angkasa. Seandainya dia tahu lebih awal, tentu saja dia tidak akan terjebak di antara masa lalu dan masa depannya seperti sekarang.
Ashilla lekas membuka pintu kamar dan meletakkan teh di atas meja. “Bangun,” katanya pada gulungan selimut yang dia pikir adalah Angkasa. Dia kemudian duduk di tepi ranjang dan menatap sang suami. Haruskah dia bilang semuanya sebelum Daniel mengatakan hal tersebut pada Angkasa? Setidaknya Angkasa tahu darinya bukan dari Daniel, sehingga kalau ada apa-apa dia bisa membantu dan mengantisipasi semuanya.
“Aku mau ngomong sama kamu,” kata Ashilla resah. Dia kemudian menghela napas panjang. “Angkasa, kamu harus tahu, kenapa aku nggak mau tinggal serumah sama Daniel di sini.”
Angkasa tak menyahut. Bahkan tak bergerak sama sekali.
“Itu semua karena aku tidak ingin Asa tahu kalau Daniel itu ayahnya.”
Lagi-lagi Angkasa tak bereaksi.
Tak berapa lama orang yang dia harapkan kehadirannya keluar dari kamar mandi. Seketika Ashilla tergemap dan langsung menegakkan tubuhnya. Pun dengan Angkasa, pria itu mematung di depan pintu.
“Aku buatkan teh,” kata Ashilla seraya bangkit dan pura-pura tak peduli.
“Makasih.” Angkasa berjalan ke dekat meja. Sama seperti Ashilla, Angkasa pun bersikap seolah tak peduli pada istrinya.
Ashilla keluar dari kamar dan pergi ke kamar Asa yang kebetulan ada di sebelah kamarnya. “Asa,” panggilnya seraya mengetuk. “Asa.” Dia mengulangi panggilannya karena sang anak tak menyahut. “Asa.” Dia mulai panik dan takut Daniel membawa pergi Asa, padahal Asa sudah cukup besar untuk menolak ajakan Daniel, jika itu memang terjadi.
Ashilla memutar knop pintu, dia tercengang saat mendapati kamar dalam keadaan kosong. “Asa,” teriaknya panik. Dia masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar mandi. Tak ada sahutan dari dalam, dia kemudian membuka pintu tersebut dan Asa tak ada di kamar mandi.
Ashilla lekas keluar dari kamar Asa, lalu kembali ke kamarnya. “Asa nggak ada,” teriak Ashilla panik pada Angkasa.
Seketika Angkasa mengernyit dan meletakkan gelas di meja. Untung saja dia tidak tersedak mendengar teriakan Ashilla.
“Asa nggak ada,” ucap sang istri panik.
“Udah kamu cari?”
“Di kamarnya nggak ada.”
“Asa bukan bayi yang harus menunggu kamu kalau mau keluar dari kamar,” kata Angkasa tenang. “Seharusnya kamu senang karena Asa bisa beradaptasi dengan cepat di rumah ini.”
Ashilla menggeleng. “Aku harus telepon Bunda.” Dia kemudian mengambil ponsel di atas meja.
“Cari dulu, jangan sampai Bunda mikir aku nggak bisa jagain dia,” ucap Angkasa tetap tenang.
“Memang kamu nggak jagain dia, dari tadi kamu tidur.”
“Aku nggak tidur. Saat kamu pergi ke dapur, aku ke kamar mandi, buang air, perutku mulas, Shill. Lagian Asa sudah besar, dia nggak perlu kamu pantau terus bahkan kalau dia mau ke dapur mencari sesuatu yang mau dia makan.”
“Sepuluh tahun, dia masih terlalu kecil,” kukuh Ashilla.
“Astaga, kamu berlebihan.” Angkasa bangkit dan meminta Ashilla duduk, namun wanita itu menolak.
“Asa memang bukan anak kamu, tapi kamu sudah janji akan menyayangi dia seperti anak kamu sendiri iya, ‘kan?”
“Iya-iya.” Angkasa menghela napas. “Mulai lagi deh, kamu meragukan aku,” gumam Angkasa. Namun, Ashilla tak mendengarnya, wanita itu sedang membatalkan panggilannya pada Miranti dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
“Sekarang kita cari Asa di bawah, siapa tahu dia bersama Daniel.”
“Nggak,” tolak Ashilla cepat seraya menoleh dan menegakkan tubuhnya. “Dia nggak boleh bersama Daniel.”
“Astaghfirullahaladzim.” Angkasa berdecak sembari memutar matanya ke atas, dia lalu menahan tangan Ashilla saat wanita itu hendak pergi keluar. “Memang kenapa kalau dia bersama Daniel?”
“Karena sepuluh tahun lalu Daniel pergi ninggalin aku dan Asa, sekarang dia nggak boleh kembali dan memberi tahu Asa semuanya,” ungkap Ashilla dengan sadar.
Kedua mata Angkasa seketika membola. Dadanya seperti dihantam benda berat, bahkan dia merasa seperti tertampar. Akhirnya dia mengerti kenapa semalam Ashilla ngotot tak ingin serumah dengan Daniel.