
Pukul empat dini hari Yayan mengantar Ashilla pergi ke Bandara untuk menjemput Miranti dan Asa. Sejak kemarin Asa ngotot ingin pergi menyusul ibunya ke Indonesia. Tentu saja Ganjar senang karena ke depannya mungkin suasana rumah akan lebih ramai.
Tepat pukul enam mereka sudah berada di rumah. Di dalam mobil Asa tertidur, dia sangat lelah karena seharusnya di New York baru saja malam, sedangkan sejak sampai di Indonesia pagi baru saja menjemputnya.
Kini mereka sedang berkumpul menikmati sarapan. “Kamu ngomong apa sama Asa, sampai dia nangis dan ngotot minta cepat-cepat ke sini. Di jalan dia terus nanya, ‘Bunda kapan sampai?’ Dia pikir dekat,” keluh Miranti. Setelah hampir dua puluh tahun tak kembali ke Indonesia dan ini kali pertama dia kembali menginjakkan kaki di tanah air.
“Kemarin dia menelpon, nangis-nangis. Shilla juga inget terus, Bund.”
“Syukurlah kalian sampai dengan selamat. Asa mungkin capek,” kata Ganjar
“Aku juga capek, Pa,” keluh Miranti pada ayahnya.
“Ya kamu juga istirahat, jangan mikirin kerjaan terus, kapan mau stay di sini?”
“Belum mikirin itu. Baru juga sampai. Sekarang mungkin fokus beberapa hari ke depan saja,” kata Miranti. Semua sifat Ganjar nampaknya turun pada Miranti.
“Iya.”
Ashilla menghela napas. Dia menatap sang ibu yang sedang menikmati roti sandwich daging. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada ibunya selama berada di sini. Dari mulai orang yang memanggilnya Aruna, sampai dia melihat sendiri seperti apa wanita yang dipanggil Aruna itu, hingga pertanyaan perlahan terjawab, wajar orang memanggilnya begitu karena memang mereka sangat mirip.
Lalu soal Lily, bayi yang dia dan Iyash angkat sebagai anak, entah apa kabarnya, dua hari ini dia belum mendengar tentangnya. Suster Rika hanya mengabarkan kalau mereka pindah rumah dan memberi alamat rumahnya yang sekarang. Itu saja.
“Mama,” panggil Asa sembari berjalan keluar dari kamar Ashilla. Tubuhnya lemas dan tampak sempoyongan mencari keberadaan Ashilla. “Mam.”
“I am here.”
Ashilla lekas meninggalkan kursi, lalu berjalan ke dekat Asa. Bocah itu langsung memeluk ibunya yang baru saja menurunkan lutut di depannya.
“Kepala Asa sakit,” keluh bocah yang dua bulan lagi akan merayakan ulang tahun yang ke sepuluh.
“Hm. Kasihan.” Ashilla kemudian bangkit dan menarik tangan Asa untuk duduk di sofa.
“Indonesia is far.”
Ashilla tersenyum. “Iya.”
Asa membuka mata dan manatap Ashilla. “Kok Om Angkasa nggak capek bolak-balik?” tanya bocah itu.
“Sudah biasa,” jawab Ashilla.
“Seperti kata Bunda, bisa karena terbiasa?” tanya Asa.
“Hm.” Ashilla kemudian pergi ke meja makan untuk mengambilkan sepotong sandwich untuk Asa sarapan.
“Shill.”
“Iya, Bund?”
“Jangan terlalu dimanja, Bunda capek menanamkan disiplin sama dia,” interupsi Miranti.
Ashilla mematung memegangi piring. “Iya, Bund. Hari ini aja.” Dia kemudian pergi ke sofa tempat Asa berbaring.
“Bund, i hear you. Asa janji nggak akan nakal, nggak akan bikin Mama repot,” kata Asa sembari duduk.
“Kalau melanggar, konsekuensinya apa?” tanya Miranti.
“Pulang lagi ke New York,” dengkus Asa.
“Nice.”
Ashilla mengangkat kedua alisnya, dia kemudian menoleh pada sang Ibu. Miranti hanya tersenyum seraya mengedikkan bahu.
“Kalau Opa, boleh, ‘kan manjakan Asa?” tanya Ganjar.
“Nggak boleh, meski Papa kakek buyutnya,” kata Miranti tegas.
Ganjar tersenyum seraya menghela napas.
“Asa mau sekolah di sini, boleh, ‘kan, Opa? Kemarin Bunda bilang harus minta izin sama Opa.”
“Boleh.” Perlahan Ganjar bangkit. “Nanti Opa yang antar kamu sekolah.”
“Iya, Non?”
“Tolong buatkan Asa susu hangat.”
“Baik, Non.”
“Rumah Opa beda sama rumah Bunda di sana,” kata Asa sembari mengedarkan pandangan.
“Enakan di mana?” tanya Ganjar.
“Enakan di rumah Bunda, tapi sepi. Asa suka ditinggal sendiri, kalau Nancy sudah pulang Asa sendirian di rumah.”
“Kasihan,” kata Ashilla sembari membelai puncak kepala anaknya.
“Kalau di sini, Asa nggak ditinggal sendirian, ‘kan?” tanya bocah berhidung bangir tersebut.
“Nggak. Kalau Mama belum pulang, ‘kan di rumah ada Opa.”
Asa tersenyum. “Bunda, Asa di sini betah,” kata bocah itu pada Miranti.
“Just a day.” Miranti mengacungkan telunjuknya. “Kalau kangen, telpon Bunda. Don't ask to go home, far away.”
“Yes, Bund.”
Setelah selesai menyuapi Asa. Ashilla memberinya segelas susu.
“Ma, Asa sakit kepala,” keluh Asa sembari menekan pelipisnya sendiri.
“Kamu hanya perlu istirahat, nggak usah minum obat.”
Mungkin sedikit berbeda dari Miranti. Ashilla tak gampang memberi Asa obat, sedangkan Miranti akan dengan mudahnya memberi Asa ibuprofen atau paracetamol.
Ashilla menatap arlojinya. “Hari ini Shilla banyak kerjaan di kantor, nggak bisa ditinggal, Bunda nggak apa-apa, ‘kan? Shilla paling pulangnya sore.”
“Iya, nggak apa-apa. Kamu berangkat aja, Bunda juga capek pengen istirahat, nggak mungkin jalan-jalan.”
“Asa?” Bocah berkulit putih itu menunjuk wajahnya sendiri.
“Asa juga di rumah. Besok atau lusa kita jalan-jalan.”
“Week end?”
“Iya.”
Ashilla lekas pamit dan pergi diantar Yayan. Di dalam mobil dia nampak tertidur lantaran capek usai menjemput Asa ke Bandara, itulah kenapa dia malas membawa kendaraan sendiri.
Di lampu merah tiba-tiba dia terbangun. “Saya kira sudah sampai,” katanya seraya menegakkan tubuh. Jalan menuju kantor tinggal beberapa kilometer lagi. Matahari yang semula hangat sudah sedikit menyengat.
“Pak Yayan ikut bahagia, Non. Dulu Bapak untuk senyum saja jarang. Sudah tiga puluh tahun Pak Yayan kerja sama Bapak dan ini kali pertama Pak Yayan melihat wajah Bapak kembali ceria. Terima kasih, Non, sudah menghidupkan kembali rumah.”
Ashilla tersenyum. “Kalau Papa saya masih ada. Mungkin kebahagiaan Opa akan lebih melimpah.”
“Iya, Non. Saya harap Mbak Miranti juga tidak kembali ke New York dan tetap di sini.”
Ashilla kembali tersenyum. Cukup sulit meminta Miranti untuk tetap di Indonesia, entah itu karena dia sulit meninggalkan karir dan kehidupannya di sana tau karena hal lain, Ashilla sendiri tidak tahu.
“Pak, kalau sehabis mengantar saya, Pak Yayan mau pulang, pulang aja. Istirahat di rumah. Mobil simpan di kantor aja, Bapak pulang naik taksi nggak apa-apa?”
“Iya, Non.” Bagi Yayan itu adalah sebuah perintah dengan kalimat yang sangat halus. Dia tak mungkin menolak, seharusnya dia bersyukur karena masih dipercaya bekerja di sana sejak usianya masih dua puluh lima tahun.
Setelah sampai di depan kantor, Ashilla turun dan lekas memberinya ongkos untuk naik taksi. “Istirahat ya, Pak.”
“Baik, terima kasih, Non.” Sejak bekerja menjadi sopir Ashilla. Yayan terkadang lebih banyak libur karena kalau sedang ingin pergi sendiri Ashilla tidak akan mempekerjakannya. Yayan tak ingin memakan gaji buta, sehingga dia memilih untuk membersihkan rumput-rumput liar di halaman rumah Ganjar. Namun, mungkin hari ini dia memilih untuk pulang dan beristirahat di rumah.
Ashilla sudah masuk ke ruangannya. Beberapa pekerjaan perlu pengawasan lebih karena dia mendengar ada beberapa yang menyelundupkan kain dari pabriknya. Jika sampai Ganjar tahu, dia khawatir itu akan mengganggu kesehatan kakeknya itu. Walau bagaimanapun Ganjar membangun semua ini dari nol.
***