Behind The Lies

Behind The Lies
Menjadi Dewasa



Ashilla kerepotan mengurus Asa ketika mulai masuk sekolah. Pagi hari dia harus mengantarnya dan siang tepat pukul dua dia harus menjemputnya. Baru dua hari saja Ashilla sudah stress. Dia harus berangkat lebih pagi dari rumah menuju sekolah Asa, kemudian menjemput Asa dari kantor satu jam sebelum sekolah bubar. Itu semua karena Yayan belum masuk, lantaran masih harus menjaga cucunya di rumah sakit. Kedua orang tua anak itu sudah meninggal, jadi tinggal bersama kakek dan neneknya, sedang yang lain juga memiliki kesibukan masing-masing. Yayan memiliki tiga orang anak, istri Yayan sendiri sudah dua tahun mengalami sakit stroke, betapa merepotkannya. Ashilla turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Yayan.


Malam itu Ashilla sangat kelelahan, pinggangnya terasa nyeri, badannya pegal-pegal semua. Menjemput Asa dari kantor, mengantarnya pulang, kemudian dia kembali ke kantor, terlalu banyak memakan waktu di jalan, sehingga dia merasa jauh lebih lelah.


Asa duduk di kelas tiga dan sekarang dia sedang sibuk belajar di ruang keluarga. Namun, sesekali memanggil Ashilla untuk meminta penjelasan tentang maksud dari apa yang dibacanya.


“Asa disuruh menghafal lagu Indonesia Pusaka.” Bocah itu mengacungkan buku catatan dan menunjukkannya pada Ashilla. “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya.” Dia membacakannya persis seperti melantunkan dua baris puisi.


“Jadi, pusaka itu apa, Ma?”


“Hm, Asa belajar sama Opa aja ya, Mama capek banget.” Ashilla memegang tengkuk lehernya.


“Pusaka itu sebenarnya istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu benda yang dianggap sakti atau keramat,” kata Ganjar sembari mendekat. “Tapi, bisa juga disebut sebagai warisan, atau peninggalan. Mengerti, Boy?”


Asa menggeleng. Sementara Ashilla lekas pergi ke kamar dan merebahkan diri di ranjang. Saat hendak memejamkan mata, dia mendapat telepon dari Angkasa.


“Fabian Abiyasa gimana?” tanya Angkasa via telepon usai Ashilla menjawab panggilannya.


“Baik.”


Angkasa berdehem. “Aku kangen banget sama kamu.”


“Iya.”


“Gimana mengurus Asa?”


“Maksudnya?”


“Pasti nggak sulit, dia, ‘kan sudah besar.”


“Aku cuma kerepotan mengantar dan menjemputnya pulang, sementara kamu tahu aku harus ke kantor.”


“Nanti kalau pekerjaan aku di sini selesai. Aku bisa gantiin kamu menjaga Asa.”


“Makasih.”


“Bilang makasih nya nanti kalau aku sudah di sana.”


Ashilla menghela napas. “Iya.”


“Semua aman, ‘kan? Kerjaan kamu, hari-hari kamu.”


“Ya.”


“Sayang.”


“Iya?”


“Aku boleh bertanya?”


“Aku capek, jangan nanya yang aneh-aneh.”


“Hmmm … kamu masih sering ketemu Iyash?”


Jantung Ashilla mencelus. “Kenapa tiba-tiba bertanya soal Iyash?”


“Aku dengar katanya kamu sering ketemu dia.”


“Nggak. Udah nggak. Kamu tadi dengar, ‘kan, aku sibuk.”


“Iya, kamu benar. Jadi pengen cepat pulang,” dengkus Angkasa via telepon, namun Ashilla merasa seperti pria itu ada di depannya.


“Ada banyak hal yang terjadi di sini, tapi aku nggak ada waktu untuk memikirkan semuanya, pekerjaan di kantor sudah terlalu menyiksaku.”


“Ya ampun, kamu pasti rindu saat-saat menjadi dosen.”


“Of Course. Andai bisa memilih.”


“Kamu berhak memilih.”


“Terus perusahaan Opa?”


“Mungkin bisa dipegang orang kepercayaan Opa sampai Asa dewasa,” usul Angkasa.


“Iya, seharusnya begitu, tapi aku nggak tahu apakah memang ada?”


“Ada, kamu coba bicarakan sama Opa.”


Ashilla mengangguk. “Aku harap memang ada.”


“Ya. Udah dong jangan banyak pikiran. Kamu harus happy. Boleh aku bicara sama Asa.”


“Dia lagi belajar.”


“Sebentar aja, cuma mau bilang hai.”


Asa terperanjat dan lekas berlari untuk memburu ponsel di tangan ibunya. “Om,” teriak bocah itu antusias.


Angkasa tertawa mendengar suara Asa. “Asa, apa kabar?”


“Fine. You?”


“I am not okay, Om kangen sama Mama kamu, tapi kayaknya Mama nggak kangen sama Om.”


Asa langsung tengadah menatap Ashilla. Sedangkan Ashilla sendiri tidak mendengar apa-apa lantaran dia sengaja tidak menekan speaker pada panggilan Angkasa.


“She misses you too.”


“Semoga memang benar,” kata Angkasa.


“Kapan ke sini? Asa mau jalan-jalan.”


“Dua minggu lagi. Kerjaan di sini belum selesai.”


“Semua orang sibuk,” dengkus Asa pelan.


“Iya, jadi orang dewasa nggak enak.”


“Padahal Asa juga ingin menjadi dewasa.”


“Dewasa bukan tentang usia,” sambar Ashilla, “Dewasa tentang bagaimana cara kita menghadapi masalah.” Ashilla membuka telapak tangan dan meminta ponselnya kembali.


“Om udah dulu ya, Asa harus belajar.”


“Iya. Dah, Asa, sampai ketemu nanti.”


“Iya, dah.” Bocah itu lalu memberikan ponsel pada sang ibu dengan wajah cemberut.


“Ngomong apa aja sama Asa?” tanya Ashilla pada Angkasa.


“Rahasia lelaki,” jawaban Angkasa.


“Dih. Nanti aku nggak kasih lagi ngobrol sama Asa.”


“Duuh, kok ngambek sih. Aku cuma bilang jadi dewasa nggak enak.”


 “Kenapa harus ngomong begitu?”


“Hehe ….”


“Udah ah, aku mau istirahat,” dengkus Ashilla pelan.


“Kamu ngambek?”


“Nggak, aku cuma butuh istirahat.”


“Ya udah, selamat istirahat.”


“Hm, kamu juga.”


“Apaan aku di sini lagi kerja,” kekeh Angkasa.


“Oh iya lupa. Selamat bekerja.”


Setelah memutus sambungan telepon Ashilla kembali ke kamar dan memilih untuk tidur, sementara Asa sudah lebih dulu tidur, rupanya usai mendapat panggilan dari Angkasa, dia tak melanjutkan belajar dan malah tidur. Dasar anak kecil.


***


Pagi hari Ashilla mencari-cari keberadaan kakeknya, namun sudah dicari ke seluruh penjuru rumah dia tak menemukannya. Dengan perasaan resah, dia mencoba melakukan panggilan, tapi sayang, tak terhubung. Ponsel Ganjar tertinggal di rumah dalam keadaan mati.


“Opa kemana?” gumam Ashilla seraya menatap Asa yang sudah siap berangkat ke sekolah.


“Ma, Asa kesiangan.”


Kedua mata Ashilla membola menatap arlojinya. “Ya sudah kita berangkat.” Dia memilih pergi sebelum bisa menemukan keberadaan Ganjar.


Rupanya pria tua itu tengah berada di depan sebuah makam dengan tanah basah dan dedaunan berembun. Tak ada yang tahu kalau dia sedang mengunjungi makam istri sementara makam Gusman ada di New York. Semalaman tak dapat tidur dan meresahkan kedatangan Dewi beberapa hari lalu. Dia merasa kalau Dewi membawa kutukan untuk keluarganya dan dia tak ingin hal itu terulang.


Sejauh ini memang dia belum meminta maaf dengan apa yang terjadi di masa lalu. Namun keras kepala dan sikap angkuhnya membuat Ganjar enggan meminta maaf, padahal Dewi datang bermaksud untuk berdamai.


“Papa nggak masalah jika harus membawa ini sampai mati, Ma, tapi masalahnya memang Papa pantas bawa semua ini ke alam baka? Memang Papa siap dengan semua konsekuensinya? Papa nggak yakin, bisa, Ma, tapi Papa takut,” ungkap Ganjar di depan makam sang istri.


Tahun 1994 bencana itu dimulai. Dia mengusir anak sulungnya dari rumah karena tak merestui pernikahannya dengan Dewi. Gusman menantang dirinya sendiri untuk bisa sukses tanpa bantuan orang tua. Sayangnya semua fasilitasnya dicabut, bahkan ijazah yang Gusman dapatkan dari pendidikannya untuk bisa mencari pekerjaan pun Ganjar ambil, itu semua karena dia ingin sang anak kembali padanya.


Namun, sama halnya dengan sang ayah, Gusman mewarisi sifat keras kepala, sehingga dia tetap tak kembali dan memilih hidup susah, hingga pada akhirnya Dewi menyerah dan memilih meninggalkannya.


Dua puluh delapan tahun itu semua berlalu dan hanya tinggal kisah kelam yang melebur bersama kepergian Gusman ke alam kubur lima tahun lalu.


Kedatangan Dewi kemarin mengusik semua kenangan buruk itu lagi. Apakah Ganjar akan berubah pikiran dengan membongkar rahasia itu sendiri atau justru benar-benar membawanya pergi bersama kematian?