Behind The Lies

Behind The Lies
Masalah Tidak Selesai Dengan Berbohong



Awal pertemuan Ashilla dengan Angkasa memang di kantor ibunya. Ashilla sendiri tidak tahu kalau Angkasa sudah lama menyukainya. Dia hanya mengenalnya sebagai model ibunya, tidak lebih. Terkadang interaksi mereka cukup sering jika Miranti meminta Ashilla membantunya di kantor.


Suatu hari Angkasa pernah mengatakan secara terang-terangan pada Miranti tentang perasaannya pada Ashilla. “Tante, maaf tanpa melibatkan pekerjaan. Saya suka sama anak Tante.”


Miranti malah tertawa mendengar ungkapan perasaan Angkasa. Kebetulan memang hari itu Ashilla menjadi model dadakan ibunya karena model yang seharusnya datang mendadak sakit sedangkan yang lain sudah memiliki jadwal dan tak bisa digeser. Awalnya Ashilla menolak karena merasa tidak percaya diri menjadi model fashion.


“Sejak kapan?” tanya Bu Miranti dengan kening mengernyit.


“Sejak pertama aku melihatnya di lobi,” kata Angkasa sembari menatap Ashilla yang waktu itu terlihat begitu judes.


“Ya, kalau Tante gimana Shilla aja.”


"Bagaimana, Shill?" tanya Angkasa.


Ashilla menarik napas. “Suka, ‘kan?”


Angkasa mengangguk.


“Ya udah makasih.”


"Kamu mau jadi pacar aku?" tanya Angkasa lagi.


Rasanya terlalu cepat bagi Ashilla. Kenapa tiba-tiba dia harus pacaran dengan orang yang baru dikenalnya. Dia memang tidak tahu kalau selama berbulan-bulan Angkasa mencari tahu tentang dirinya.


"Shil, Angkasa nanya, kamu mau jadi pacar dia?" kata Miranti.


“Nggaklah,” jawab Ashilla judes. “Masa pacaran, baru kenal juga.”


Miranti malah tertawa dan menatap Angkasa. “Perempuan melihat perjuangan, bukan cuma rasa suka.”


Sejak saat itu Angkasa berjuang untuk menaklukan hati Ashilla, meski butuh waktu lama, akhirnya Ashilla menerima dirinya.


***


Pagi hari Iyash datang ke rumah Ganjar untuk menemui Ashilla. Kemarin malam dia terkejut karena melihat rumah yang dia sewa kosong tak tersisa satu barang Lily pun.


Iyash terus menekan bell sampai menimbulkan kebisingan. Bi Sumi sedang ke pasar, Ganjar sedang berjalan-jalan bersama Asa. Ashilla sedang di kamar mandi. Hanya ada Angkasa yang tengah duduk di ruang keluarga sembari menikmati secangkir kopi. Semalam dia tidak pulang dan menginap di sana dengan alasan lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


Angkasa berjalan ke depan pintu dan terkejut melihat Iyash di sana. “Lu?” Dia lekas keluar dan menutup pintu. “Mau apa ke sini?”


“Gue ada perlu sama Ashilla.”


“Perlu?” Tentu saja Angkasa terkejut. Dia sudah meminta Ashilla menjauhi Iyash. Kenapa tiba-tiba Iyash datang dan mengatakan kalau dia ada perlu dengan Ashilla?


“Perlu apa?”


“Bukan urusan lu.”


“Semua yang menyangkut Ashilla, jadi urusan gue.”


“Nggak. Lu nggak akan ngerti. Dan gue yakin Lu nggak tahu apa-apa.”


“Hah?”


Mendengar ribut-ribut di luar, Ashilla keluar dari kamar dengan mengenakan kimono handuk dan membalut rambut basahnya dengan handuk kering. “Sayang, kenapa?”


Angkasa menoleh dan Iyash terperangah. Tak terima Ashilla berdandan demikian Angkasa lekas berlari dan memintanya kembali ke kamar dengan mendorong tubuh Ashilla.


“Kenapa?”


“Pakai baju yang benar, baru keluar. Kamu nggak malu dandan kayak gini.”


Ashilla tersenyum, meski sedikit posesif, namun pria seperti inilah yang Ashilla butuhkan.


“Ngapain masih di sini? Cepat.”


Ashilla segera ke kamar dan lekas berpakaian. Sementara Angaksa menunggu di depan pintu kamarnya.


Dua puluh menit, akhirnya Ashilla keluar.


“Sekarang kamu jelasin sama aku,” pinta Angkasa langsung.


“Iyash masih di sini?” Ashilla hendak melangkah, namun Angkasa menahannya.


“Jelasin dulu sama aku, baru temui dia.”


“Nanti aku jelasin. Aku harus ketemu dulu sama dia.”


“Ini sebenarnya ada apa?” tanya Angkasa kesal.


“Ssshhh ….” Ashilla meletakkan telapak tangan di dada bidang Angkasa. “Kamu tenang aja. Semua aman dan ini nggak ada hubungannya sama kamu.”


“Apa kamu bilang?” Angkasa tidak terima saat Ashilla berkata kalau ini tidak ada hubungan dengannya. “Bukannya setiap yang menyangkut tentang kamu, itu menjadi urusanku?”


“Iya, tapi tidak dengan yang ini.” Ashilla masih berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing emosi.


Angkasa menghela napas panjang dan merelakan Ashilla pergi menemui Iyash. Wanita itu berdiri di depan pintu karena Iyash tak diizinkan masuk.


Iyash berbalik saat menyadari kalau Ashilla ada di belakangnya. “Kenapa kamu mengirim Lily ke panti?”


“Dia anak panti, ‘kan? Sudah sewajarnya aku kembalikan dia ke sana.”


“Maksud kamu apa?”


Iyash menggeleng. “Kamu sudah berjanji.”


“Iya, kalau memang kasus itu benar-benar ada.”


“Maksudnya apa?”


“Aku udah tahu semuanya kalau bayi itu sudah meninggal dan sebagai gantinya kamu mengambil bayi dari panti asuhan kakek kamu untuk menjadikannya alat agar bisa dekat dengan aku, iya, ‘kan?”


Seketika kedua mata Iyash membola dan tentu saja dia menggeleng.


“Dia benar-benar bayi yang kamu tolong, Shill.”


Ashilla menggeleng. “Kamu pasti bohong. Mana buktinya kalau itu memang bayi yang aku tolong?”


“Kamu bisa datang ke rumah sakit dan tanya langsung sama Dokter.”


Ashilla memang melewatkan satu hal yang seharusnya dia lakukan.


“Dan kamu bisa datang ke kantor polisi sebelum kamu mempercayai hal tersebut.” Iyash menatap Angaksa. “Bisa saja ada yang sudah dengan sengaja menyabotase semuanya.”


Ashilla menoleh pada Angkasa. Tentu saja Angkasa tidak mengerti lantaran dia tidak tahu menahu tentang masalah ini.  Ashilla memang cerita padanya tentang wanita yang melahirkan, namun dia tidak tahu kalau Ashilla dan Iyash menjadi orang tua angkatnya.


“Sudah?” tanya Angkasa. “Sayang, sekarang kamu jelaskan semuanya,” pintanya pada Ashilla.


“Nggak ada yang perlu dijelasin, dia tahu semuanya,” tuduh Iyash pada Angkasa.


“Cukup! Gue nggak ngerti apa yang kalian omongin. Gue juga nggak ngerti kenapa tiba-tiba lu nuduh gue, seakan-akan gue ada dibalik kegagalan lu mendekati Ashilla.”


Jantung Iyash mencelus.


“Lu mungkin lupa ada Adisty.”


Seketika Ashilla menatap Angkasa.


“Mungkin lu bisa kroscek kebenarannya sama bestie lu itu.”


Iyash terdiam beberapa saat, dia kemudian menatap Ashilla. “Kalau kamu memang nggak mau merawat Lily, kamu bilang.”


“Aku udah bilang sejak awal dan kamu pura-pura tidak mendengar, sehingga kamu terus memaksa.”


“Aku nggak maksa, tiba-tiba kamu bilang iya.”


Ashilla tergemap.


“Sayang?” Angkasa menarik tangan Ashilla. “Aku sudah bilang agar kamu menjauhi Iyash.”


“Dia bahkan memintaku untuk menjadi guru les anaknya,” tuduh Iyash.


“Nggak. Iyash yang menawarkan diri.”


“Nggak akan ada yang percaya karena sejak awal kamu sudah berbohong pada dunia,” kata Iyash. Sedetik setelahnya pria itu pergi meninggalkan kediaman Ganjar. Motor menggeber dan tak sengaja dia berpapasan dengan Ganjar dan Asa, namun Iyash pura-pura tidak melihat mereka.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Shill?”


Ashilla menggeleng.


“Apa?” Angkasa menarik Ashilla ke ruang keluarga. “Kenapa kamu membohongiku?”


“Aku nggak bohong. Aku cuma nggak bilang kalau aku jadi ibu angkat bayi itu.”


“Terus guru les itu apa maksudnya?”


“Kamu harus percaya kalau aku cuma minta Iyash untuk mencarikan guru les buat Asa, tapi dia tiba-tiba bilang bersedia dan membanggakan segudang prestasi yang pernah dia dapatkan.”


“Terus?”


“Asa menolak dan tidak mau belajar dengan Iyash.”


Angkasa menghela napas lega. “Syukurlah.” Pria itu memutar badan dan kembali duduk di tempatnya. Kopi yang tadinya panas sudah sangat dingin dan dia akan mual jika tetap meminumnya.


Ganjar dan Asa, baru saja masuk ke dalam rumah. Dan mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi. “Tadi ada Iyash?” Hanya itu yang membuat Ganjar penasaran.


“I-iya, Opa.”


“Ada apa?”


“Mengundang kami makan malam di rumahnya,” bohong Ashilla. Seketika Angkasa terbelalak mendengar kebohongan Ashilla. Dia menoleh dan menatap lekat wanita yang masih berdiri tersebut.


“Ada acara apa? Ulang tahun?” tanya Ganjar lagi.


“Nggak tahu. Dia cuma bilang begitu.”


“Astaga!” gumam Angkasa kesal.


Ashilla lekas menyadari kekesalan Angkasa dan dia memilih pergi ke kamar.


“Shill, Opa sama Asa nggak diundang?”


“Nggak, Opa, cuma anak muda,” sahut Ashilla dari kamar.


Angkasa semakin gemas. Kenapa Ashilla bersikap seolah semua selesai dengan kebohongan?