
Meski sudah dilarang oleh suaminya, Dewi tetap pergi ke rumah Ganjar. Entah berapa lama lagi dia mampu bertahan menghadapi hinaan. Apakah dia harus menunggu Ganjar tiada untuk bisa memeluk anaknya?
Alih-alih berdandan seperti wanita sosialita, kini Dewi justru pergi dengan sangat sederhana, bahkan tanpa dipoles make up sedikitpun. Dia tak malu menunjukkan lingkar hitam di sekitar matanya. Cincin berlian yang sebelumnya melingkar di jari manis, dia tanggalkan, pakaian mahal yang biasa dipakai, berganti dengan pakaian sederhana, bukan untuk diakui dia berdandan seperti itu, tapi mungkin selama ini dia lupa dari mana dirinya berasal.
Keluarga Ganjar tengah disibukkan untuk semua persiapan pernikahan yang akan dilaksanakan besok malam. Ashilla semakin gugup menghitung waktu.
“Aku iri karena kamu masih bisa merasakan gugup menjelang pernikahan,” kata Aruna di sofa ruang keluarga.
Ashilla tersenyum, namun tanpa melihat ke arah adiknya, pandangannya tetap tertuju pada layar televisi. “Aku juga nggak nyangka bisa sampai di titik ini.”
“Semua orang pasti akan menemui jodohnya.”
“Oh iya, Faran kapan ke sini?” tanya Ashilla.
“Mungkin besok.”
“Besok?” Ashilla lekas menoleh dan menatap Aruna.
“Iya, aku belum tanya. Tapi, bisa aja malam ini.”
“Tanyain dong, masa besok,” bujuk Ashilla.
“Nggak ah,” tolak Aruna gengsi.
“Irgh, jadi istri kok gengsian, kalau rindu bilang aja rindu.”
“Biasa aja.”
“Bohong, ih pipinya merah,” goda Ashilla seraya menyikut lengan Aruna.
Aruna tersenyum.
“Oh iya, kamu harus ke rumah sakit, ‘kan ngambil hasil lab?”
“Iya, nanti siang aja.”
Saat tengah asyik mengobrol di ruang keluarga ditemani acara televisi, tiba-tiba mereka mendengar suara bell berdenting. “Mungkin itu Om Ben, biar aku buka dulu,” kata Ashilla seraya bangkit.
“Bukannya tadi Opa bilang siang atau sore?” tanya Aruna.
“Ah, itu juga Opa bilang mungkin, bisa aja salah, ‘kan? Lagian Om Ben suka datang tiba-tiba, dia, ‘kan udah dari kemaren di Indonesia, cuma menginap di rumah Sam.” Ashilla terlalu bersemangat menyambut saudara sepupu ayahnya yang sudah lama tinggal di Malaysia.
“Welcome, Om Be-” Senyumnya memudar menatap wajah wanita setengah baya yang berdiri di depan pintu.
Ashilla tergemap dan mematung saat wanita itu memeluknya. “Tolong beri ibu waktu untuk menjelaskan semuanya.”
“Siapa, Shill?” tanya Aruna.
Dewi melepaskan pelukan dan tergemap melihat dua orang dengan wajah yang sama.
Ashilla mengedarkan pandangan. Keadaan rumah tampak sepi, dia lekas menarik tangan Dewi dan mengajaknya ke kamar sebelum Ganjar atau Miranti mengetahuinya.
“Shill, kamu mau apa?” tanya Aruna seraya mengikutinya. “Shilla.” Aruna mematung saat Ashilla mengunci pintu kamar. “Shill.” Aruna mengetuk-ngetuk daun pintu.
Dewi termangu menatap Ashilla.
Ashilla berdecak, dia tak mungkin membiarkan Aruna ribut diluar, bisa-bisa Miranti dan Ganjar akan curiga. Dia lekas membuka pintu dan menarik tangan Aruna untuk mengajaknya masuk. Namun, Aruna malah mematung.
“Jangan pernah lakukan ini,” kata Aruna.
“Kenapa? Dia ibuku dan aku mau membicarakan banyak hal dengannya.”
“Tapi, Shill–”
“Aku nggak akan melarangmu, kalau kamu mau mendengar semua penjelasannya, masuk, tapi kalau nggak mau, nggak usah ribut nanti Bunda sama Opa tahu.”
“Memang kenapa kalau mereka tahu?” tanya Aruna.
“Mereka akan mengusirnya. Kamu nggak akan tahu betapa sakit hatinya saat Bunda mengatakan kalau wanita itu hanya orang gila yang kehilangan anaknya.”
Aruna tergemap. “Ya wajar, dulu dia dengan mudahnya meninggalkan aku,” kata Aruna lirih.
“Tapi, tidak denganku. Dia harus tahu kelahiranku.”
“Shill–”
“Aruna, please. Lawan rasa trauma kamu, sampai kapan kamu mau menghindar dari masa lalu? Mau tidak mau, dia ibu kita. Wanita yang sudah–”
Aruna lekas masuk untuk menghentikan Ashilla bicara. Saudara kembarnya itu segera mengunci pintu.
Aruna memalingkan wajah ketika Dewi menatap dirinya dan Ashilla.
“Hai,” sapa Ashilla kaku. “Aku Ashilla dan–” dia lekas menoleh pada Aruna. “ini Aruna. Kami dilahirkan dengan jarak waktu yang cukup dekat. Lima menit.”
“Diam, Run, kalau kamu nggak bisa berkata baik, sebaiknya kamu diam dan dengarkan saja apa yang akan dibicarakan wanita yang sudah mela–”
“Cukup. Melahirkan bukan berarti dia ibu kita,” kata Aruna keras kepala.
Jantung Dewi mencelus.
“Jangan gitu, Run, gimana rasanya kalau kamu punya anak, terus tidak diakui sama anak kamu sendiri, hati-hati segala sesuatu ada timbal baliknya.”
Jantung Aruna mencelus. “Kamu nggak akan ngerti, Shill.”
“Aku memang nggak ngerti apa-apa, bahkan ketika aku lahir ke dunia pun aku sudah tidak memiliki hak sebagai anak.”
“Kalian berdua anakku?” tanya Dewi lirih.
Ashilla mengangguk. Dia kemudian menoleh pada Aruna. “Ayah yang sudah menyembunyikan ini semua.” Ashilla kembali menatap Dewi. “Di hari ketika Dokter mengharuskan Ibu untuk operasi, ayah datang ke sini meminta bantuan Opa. Opa meminta salah satu dari kami.”
Jantung Dewi mencelus. “Kenapa Gusman merahasiakan ini?”
Ashilla menggeleng.
“Jadi, kamu anakku?” Dewi meraba pipi Ashilla.
Ashilla mengangguk seraya menjatuhkan air mata.
Dewi pun memeluk Ashilla sembari menangis. “Maafkan ibu, Nak.”
Ashilla kembali mengangguk. Tentu saja dia berpikir kalau ini bukanlah kesalahan Dewi. “Datanglah ke pernikahanku dan Angkasa, Bu.”
“Jadi, wanita yang akan dinikahi Angkasa, itu kamu?”
Ashilla tersenyum.
“Selamat ya,” kata Dewi sembari menggenggam kedua pipi Ashilla. Dia kemudian menoleh pada Aruna yang berdiri menghadap jendela, sehingga membelakangi mereka, padahal Aruna sedang menyembunyikan tangisnya.
Dewi mendekat pada Aruna. “Ibu terpaksa meninggalkan kamu, andai waktu itu ibu–”
“Aku tahu,” potong Aruna.
“Tidak, baik kamu ataupun Gusman, kalian berdua tidak tahu kebenarannya.” Dewi berjalan ke dekat ranjang dan duduk.
“Kamu tidak tahu betapa miskinnya kami waktu itu, Ibu bukan bermaksud untuk mengungkitnya lagi. Untuk ke Dokter saja kami lewatkan setiap bulannya, sehingga ibu tak tahu kalau ibu hamil anak kembar.”
Perlahan Ashilla duduk di sebelah Dewi, sementara Aruna masih berdiri menghadap jendela.
Dewi tertunduk. “Ketika sedang menyusui kamu, Ibu sering menahan lapar. Ibu sedih melihat kamu begitu kurus lantaran serba kekurangan. Ibu datang ke rumah ini untuk meminta bantuan kakekmu, demi kamu ibu rela dihina, dimaki, bahkan dilempari uang, setelah dari rumah ini ibu membelikanmu susu yang banyak agar kamu mendapatkan gizi yang cukup.”
Dewi menahan isakannya. “Kakekmu bilang kalau anak yang ibu besarkan tidak akan mendapatkan harta wijaya sepeserpun, hanya ini yang bisa dia berikan sebagai sedekah, kecuali ibu meninggalkan semuanya.”
Ashilla meletakkan tangan di bahu sang ibu. Aruna berbalik dan menatap wanita itu. Tangis dan duka yang dia lihat di wajah Dewi adalah kebenaran yang dia cari selama ini. Aruna tiba-tiba teringat ketika di rumah sakit saat Ganjar berkata kalau dia tak berhak atas perusahaannya, semua biaya yang sempat Ganjar keluarkan untuk membiayai sekolahnya adalah sedekah.
“Ibu kembali datang ke rumah ini, tapi waktu itu kakekmu bilang, ‘tinggalkan Gusman dan bayinya, aku janji akan mengurus semuanya, bayimu tidak akan kelaparan lagi.”
Aruna tertunduk dan duduk di sebelah sang ibu. Sekarang dia tahu kalau selama ini ibunya pergi bersama luka. Dia pikir ayahnyalah yang terluka, ternyata selain berkorban nyawa, sang ibu juga rela berkorban demi nama baiknya.
“Ibu tidak tahu kemana ibu harus pergi waktu itu.” Dewi menarik napas. “Yang ibu pikirkan hanyalah, jika ibu meninggalkan kamu dan ayah, Pak Ganjar akan menerima kamu sebagai cucunya.”
Jantung Aruna mencelus. “Ternyata aku tetaplah anak ibu karena sampai detik ini Opa tidak mengakuiku,” lirih Aruna.
Ashilla menoleh pada saudaranya. Dia tidak tahu kalau Aruna beranggapan seperti itu.
Dewi menatap Aruna. “Kamu Aruna kecil yang ibu tinggalkan sedang terlelap di atas kasur kapuk yang sudah lepek itu?” Dewi meratap pilu. “Maaf, Nak. Maaf karena sudah–”
Aruna menangis dan memeluk sang ibu dengan erat. “Aku juga minta maaf, Ibu ….”
Ashilla tersenyum dan bangkit, kemudian memeluk kedua wanita itu. Dewi lekas merangkul kedua anaknya. “Terima kasih karena sudah memaafkan ibu.”
Ashilla berjalan ke dekat meja dan mengambil sesuatu dari laci. “Ini buku harian ayah,” katanya seraya mengunjurkan buku tersebut pada Dewi. “Aku memang tidak dibesarkan oleh kalian, tapi aku bahagia karena bisa mendapat kenangan dari ayah. Aku seperti diajak tumbuh bersamanya.”
Dewi meraihnya, kemudian dia mengusap jilid buku tersebut seraya menangis. “Maafkan aku, Gus.”
Seindah dan seburuk apapun masa lalu akan tetap tertinggal di belakang sebagai bayangan. Namun, terkadang kenangan buruk memiliki pengaruh besar bagi kehidupan seseorang di masa depan ketimbang kenangan baik.
Iyash mungkin terpilih untuk melupakan sebagian masa lalunya dengan mudah karena benturan di kepala yang membuat sebagian ingatannya hilang, meski dia tak pernah ingin melupakan satu hal pun dari masa lalunya.
Sedangkan Aruna yang ingin lupa, malah susah lupa. Dia ingin menerima tapi, tak bisa, ingin ikhlas pun, rasanya sulit dan belum bisa sampai pada tahapan itu.
Inilah yang terbaik, Ashilla diberi kebesaran hati untuk menerima semuanya, meski mungkin kecewanya lebih besar.
Sementara Gusman susah payah bangkit bersama kenangan buruknya. Akan tetapi Dewi rela dipandang buruk demi kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.