
Ashilla menggenggam tangan Angkasa, ketika spin kembali berhenti pada pacarnya lagi.
“Lu lagi. Siapa yang mau nanya?” tanya Adisty pada yang lain.
“Gue,” sahut Iyash. “Sejauh mana lu mengenal Ashilla? Sebutkan tiga hal yang orang lain nggak tahu tentang dia!”
Ashilla semakin tak karuan dan ingin segera pergi, entah kenapa dia harus tertahan di tempat terkutuk seperti itu.
Angkasa menarik napas dan menatap pacarnya itu. Nampaknya Ashilla sudah tidak peduli dengan apa yang akan Angkasa katakan. “Gue yakin di sini, nggak ada yang tahu Ashilla lebih dari gue.”
“Ya iyalah lu pacarnya,” sambar Kevin.
“Langsung aja,” pinta Iyash.
Ashilla tertunduk saat Angkasa menatapnya.
“Tiga hal terlalu sedikit untuk menggambarkan betapa rumitnya wanita ini.”
Seketika Ashilla mengernyitkan dahi dan menatap Angkasa.
Angkasa malah tersenyum. “Dia penyabar, dia nggak bisa marah dan dia pemaaf.”
Adisty menghela napas. Dia kemudian menyodorkan dua gelas bir. “Minum.”
“Gue udah jujur, masa masih disuruh minum juga?” tanya Angkasa.
“Gue nggak puas sama jawaban lo.”
“Anjing,” dengkus Angkasa.
Ashilla lekas membasahi tenggorokannya. Entah kali ke berapa jantungnya mencelus dan dadanya terasa sesak. Lebih lama di sana mungkin dia akan terkena serangan jantung. Ashilla tidak ingin menyakiti diri sendiri lebih lama lagi, namun dia yakin kalau dua bir yang diminum Angkasa itu adalah untuk menjaga rahasianya dan tak ingin membuatnya malu.
Usai menenggak dua gelas bir, Angkasa memutar spin dan spin berhenti pada Martin. “Tin, katanya lu hom?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Gosip doang. Gue masih suka cewek. Kalau lu nggak percaya bisa tanya Lisa.”
“Kok gue, ya mana gue tahu,” kata Lisa.
“Guys, gue balik duluan ya, anak gue rewel, istri tiba-tiba sakit,” kata Alvin. nampaknya pria itu hanya beralasan agar bisa lebih cepat pergi dari tempat terkutuk itu.
“Ih dasar bapak-bapak,” ledek Adisty. “Lo ambil bingkisannya di meja ya.”
“Oke. Bye semua,” kata Alvin seraya pergi.
Spin kembali berputar dan berhenti pada Iyash. Semua orang menatapnya, namun, pemuda itu tetap santai, tak sepanik Ashilla setiap spin berputar.
“Yash, lo masih perjaka atau udah nggak?” tanya Angkasa.
Ashilla terkejut mendengar pertanyaan Angkasa. Dia tidak menyangka kalau Angkasa akan ikut-ikutan bertanya hal pribadi seperti itu.
Namun, Iyash malah tertawa. “Gue emang bukan orang suci, lu tahu, ‘kan gue nggak pernah minum alkohol, sekalinya gue minum keperjakaan gue hilang.”
Sontak semua orang tergelak, jawaban Iyash memang ambigu, nampaknya dia menghindari pertanyaan tersebut.
“Jadi, jawaban lu apa?” tanya Angkasa penasaran.
“Gue udah jawab,” kata Iyash.
“Kurang jelas,” kata Angkasa.
“Masa gitu aja lu nggak ngerti, keperjakaan Iyash ada pada segelas alkohol.” Martin mengakhiri perkataannya dengan tawa. Disusul tawa-tawa lainnya, namun, tidak dengan Adisty dan Angkasa, pun dengan Ashilla yang memasang wajah tegangnya sejak awal permainan.
“Udah-udah,” interupsi Adisty sembari memutar spin kembali dan anak panah tiba-tiba berhenti pada dirinya sendiri. “Gue.”
“Gue yang nanya.” Nampaknya Iyash sudah menyiapkan pertanyaan. “Bilang kalau lu yang udah rusak rem mobil gue sampai gue dan Aruna kecelakaan.”
“Gue udah bilang, lu juga nggak akan mau bongkar aib lu sendiri.”
“Emang gue nggak ngelakuin apa-apa, Iyash.”
“Gue nggak percaya.”
“Terserah.” Adisty menenggak segelas bir, lalu kembali memutar spin dan anak panah berhenti pada Ashilla. Sontak Ashilla terlonjak kaget.
“Huh, cewek yang merasa jadi ratu. Siapa yang mau nanya nih?” tanya Adisty.
“Gue,” sahut Angkasa.
“Hah?” Kedua mata Ashilla membulat. “Jangan yang aneh-aneh,” bisiknya.
Angkasa menghadap Ashilla. “Tenang, Sayang.” Dia kemudian menarik tangan wanita itu. Kemudian membelai pipi Ashilla yang terasa dingin. “Kamu tegang banget.”
“Udah kalau gitu, gue aja,” kata Sarah. “Shill, lo masih perawan, ‘kan?”
Jantung Ashilla kembali mencelus. Dia tiba-tiba memegang dada kiri yang terasa sesak.
“Kenapa lo, nggak mau jawab? Ya udah kalau gitu gue kasih tantangan,” kata Adisty sembari menatap Ashilla. “Lo cium bibir Angkasa di depan kita, atau lo minum.”
Angkasa menatap tajam Adisty. “Dis?”
“Kira-kira dia bakal cium Angkasa nggak ya?” Suara-suara tersebut mengganggu batin Ashilla.
“Cium, cium, cium, cium.”
Dentum dibalik dada Ashilla semakin kencang tak karuan. Dia mengedarkan pandangan, semua sorakan, senyum dan tawa orang-orang membuatnya takut. Namun, satu orang yang menggeleng dan nampak tidak setuju dengan tindakan tersebut. Iyash. Setidaknya pria itu membuat Ashilla yakin kalau kumpulan orang-orang tersebut tak semuanya toksik.
Dengan cepat Ashilla bangkit. “Sayang, aku nggak bisa,” katanya dengan napas terengah.
Angkasa ikut bangkit. “Iya, nggak apa-apa, Sayang, aku ngerti.”
“Kalau gitu lo minum,” titah Adisty sembari mengambil segelas bir dan meletakkannya di meja dengan keras, sehingga ketukannya membuat Ashilla terkesiap dan itu membuat Iyash teringat pada Aruna.
Angkasa tak kelah terkejut dan terlihat begitu marah. “Buat lu aja, Dis, cewek gue nggak biasa minum-minuman haram.”
“Sok suci banget, Anjing!” Adisty malah terlihat semakin geram.
“Lu kenapa sih, Dis?” tanya Iyash tak kalah kesal.
“Oh lo juga mau belain dia, hm?”
Adisty kembali menatap Ashilla yang perlahan meninggalkan kursi. “Mau kemana lo?”
“Aku nggak bisa kumpul sama orang-orang yang nggak berakhlak,” kata Ashilla.
“Anjing! Sok suci lo,” cerca Adisty.
Ashilla lekas mengambil langkah dan tak menghiraukan cercaan Adisty. Saat dia melewati wanita itu, Adisty langsung menendang tulang keringnya, hingga Ashilla kehilangan keseimbangan dan jatuh tercebur ke kolam.
“Sayang?” teriak Angkasa kaget. Bersamaan dengan itu, jeritan semua orang membuat Ashilla panik. Dia merasa akan mati di dalam air saat itu juga. Dia tak mampu menjerit, berteriak bahkan meminta tolong, dia hanya berusaha agar tubuhnya tidak tenggelam dan tetap mendapat oksigen.
Angkasa sibuk membuka kostum yang menempel di tubuhnya, sementara Iyash sudah lebih dulu menceburkan diri ke kolam untuk mengirim bantuan pada wanita itu.
Entah berapa lama Ashilla ada di dalam air yang jelas dia merasa kalau dirinya sudah terlalu lama dan hampir kehabisan napas, sampai kemudian dia merasa seseorang meraihnya dan membawanya ke darat, tubuhnya melayang dan saat membuka mata dia melihat wajah Iyash, bukan Angkasa. Ternyata pria yang menyelamatkannya dari kematian adalah Iyash.
Kolam renang Adisty terdapat beberapa anak tangga, sehingga Iyash tetap bisa menaiki anak tangga sembari menggendong Ashilla ke atas. Perlahan Iyash menurunkan tubuh Ashilla di atas kursi yang dibawa Martin.
Ashilla terbatuk dan napasnya masih terasa berat. “Tenang,” kata Iyash sembari berjongkok di depannya, “kamu tarik napas dan keluarkan perlahan,” kata Iyash. Ashilla dengan tenang mengikuti arahannya. “Ada yang sakit?” tanya pria itu.