
Iyash membantu Aruna berdiri. “Tolong berhenti menangis, orang panti mungkin berpikir aku yang sudah membuat kamu menangis.”
Aruna menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
“Aku akan ajak kamu ke dalam.” Iyash membuka jasnya dan menyampirkannya di kedua bahu Aruna. “Tolong jangan salah paham, aku cuma takut kamu kedinginan.”
Aruna hanya diam dan membiarkan Iyash memakaikan jas marun itu padanya. Setelahnya pria itu mengetuk pintu samping panti seraya mengucap salam.
“Sudah ibu bilang dingin,” omel Yanti seraya membuka pintu. “Loh, ada Ashilla. Masuk-masuk.”
“Maaf karena semua orang akan memanggil kamu dengan nama itu.”
Aruna mengangguk. Namun, dia tidak mungkin pura-pura menjadi Ashilla, apa jadinya wanita yang dipingit dan hendak menikah malah keluar malam-malam bersama pria lain, meski yang dilakukannya juga tidak benar, apalagi dia adalah wanita bersuami.
“Kenapa? Basah begini?” tanya Yanti khawatir. “Yash, ambilkan handuk.”
Iyash mengangguk dan pergi ke belakang.
“Maaf, Bu, saya Aruna adiknya Ashilla.”
“Oh ….” Kening Yanti mengernyit. “Jadi, Mas Gusman punya anak kembar?”
Aruna mengangguk.
“Hmm, ibu pikir kamu Ashilla. Dia sering kesini bikin acara santunan, awalnya cuma Pak Ganjar, tapi sejak sakit-sakitan Ashilla yang menggantikannya. Kami senang karena Pak Ganjar tetap menjadi donatur di panti ini bahkan sejak panti ini berdiri.”
“Tapi, Bu, kenapa ada Iyash, apa dia donatur juga?” tanya Aruna penasaran.
Yanti tersenyum. “Kok malah ngobrol di depan pintu. Sini-sini duduk, Nak.” Yanti mengajak Aruna ke sofa dan tak berapa lama Iyash kembali membawa handuk yang biasa dipakai dirinya ketika di sana. Bagi Iyash panti asuhan itu adalah rumah kedua.
“Ni, pakai handukku.”
Aruna terperangah menatap pria itu.
“Nggak apa-apa pakai aja, ini bersih kok, baru habis di laundry.”
Aruna meraih handuk tersebut.
“Kamu bisa kenal, Yash? Sengaja mengincar adiknya?” goda Yanti.
Aruna lekas tertunduk dan mengeringkan rambut. Sementara Iyash tampak salah tingkah.
“Iyash ini cucu dari pemilik panti ini,” kata Yanti.
Aruna langsung menatap pria itu. Ternyata dunia begitu sempit, apa jangan-jangan sudah lama Iyash tahu tentang asal-usul keluarga ayahnya? Tidak-tidak, Aruna tak ingin banyak pikiran, dia tak peduli dengan apa yang sudah berlalu.
“Tapi, kabar buruknya, dia paling susah deketin cewek.” Yanti tersenyum. “Orangnya kaku,” tambahnya berbisik.
Aruna membasahi tenggorokan dan kembali tertunduk, sedangkan Iyash sendiri malah tak berkedip menatapnya.
“Sudah lama kenal?” tanya Yanti.
“Kami teman SMA,” jawab Iyash.
“Teman SMA? Ah, jangan-jangan dia pacar kamu yang kamu buatkan taman itu, iya, ‘kan?”
Aruna dan Iyash seketika tergemap.
“Maaf-maaf, ibu terlalu banyak bicara, jadi ngelantur kemana-mana,” tambah Yanti ketika melihat Aruna dan Iyash sama-sama kikuk. “Ya sudah ibu tinggal dulu. Nanti Mariam buatkan teh panas untuk kalian.” Yanti bangkit.
“Saya nggak minum teh,” kata Aruna.
“Oh.” Yanti kemudian menatap Iyash sekilas. Pria itu sering menceritakan kalau dulu pacarnya sangat menyukai teh yang dicampur dengan kayu manis, rupanya dia salah karena mengira wanita itu adalah pacarnya Iyash, pikir Yanti.
“Air putih hangat aja, Bu, terima kasih.”
“Baik, ya sudah ibu tinggal ya.” Yanti pergi ke dapur.
“Sudah berapa lama kamu nggak minum teh?” tanya Iyash penasaran. “Setau aku dulu kamu pecinta teh?”
“Itu dulu,” jawab Aruna singkat.
“Oh, apa Dokter itu yang melarang kamu dengan alasan kesehatan?”
Aruna langsung menatap pria yang duduk disebelahnya itu. “Dia suamiku, dan perlu kamu tahu, dia tidak pernah melarangku dalam hal apapun. Dia tak pernah mengatur hidupku.”
Iyash terpegun, kemudian mengangguk. Meski perih, namun bibirnya tetap tersungging.
Panjang umur bagi Faran, baru saja dibicarakan Aruna langsung mendapat telepon darinya. Panggilan itu membuatnya terkejut, sampai terdiam beberapa detik menatap layar ponsel.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Iyash.
Aruna mengerjap dan langsung menggeser tombol jawab, selah pertanyaan Iyash adalah perintah.
“Mas,” panggil Aruna gugup.
“Kamu di mana, Sayang?” tanya Faran lembut.
“Hah?” Aruna mengernyit. Kenapa Faran bertanya seperti itu apa jangan-jangan pria itu tahu kalau dirinya tidak di rumah?
“Kamu nggak jawab telpon Bunda, nggak jawab telepon Ashilla. Mereka panik nyariin kamu. Kamu mau nyusul Mas ke Bali?”
Jantung Aruna mencelus. “Hah, nggak kok, Mas, masa aku nyusul ke Bali.”
“Nah itu, Mas bilang nggak mungkin, kamu pasti bilang kalau pergi. Tapi, dari tadi mereka telepon kamu.”
“Maaf aku nggak dengar ada telepon, hujannya deras.”
“Sekarang kamu di mana?” tanya Faran khawatir.
“Aku … Aruna mengedarkan pandangan dan berhenti di Iyash. “Aku cuma jalan-jalan, Mas, cari makanan yang enak.”
Aruna tertunduk dan tersenyum seraya meraba tengkuk lehernya sendiri. Terdengar dengan jelas kalau Faran begitu khawatir. “Mas–”
“Katanya di sana hujan?”
“I-iya.”
“Kamu nggak kehujanan?”
Aruna menggeleng pelan, namun bibirnya terkunci. Tentu saja kebohongannya dirasakan Faran.
“Aku nggak mau kamu sakit lagi.”
“Aku nggak apa-apa kok, Mas.”
“Iya, Mas percaya.”
“Mas, udah dulu ya, aku lagi di jalan, mau pulang, nanti kalau udah sampai aku telpon lagi.”
“Iya, hati-hati. Jangan lupa kabarin Bunda sama Ashilla, mereka khawatir.”
Aruna langsung menutup panggilan.
“Pinter banget bohongnya,” komentar Iyash.
“Terus aku harus bilang, kalau aku di sini sama kamu?” Aruna memasukkan ponselnya ke dalam tas, kemudian bangkit. “Aku harus pulang.”
“Tapi, ini hujan. Nggak akan ada taksi yang lewat,” kata Iyash.
“Aku bisa pesan online.”
“Lama.” Iyash segera bangkit. “Aku antar kamu pulang.” Dia lalu berjalan menuju pintu keluar.
Aruna lekas mengikutinya. Namun, saat hendak keluar Yanti datang membawakan dua gelas air hangat. “Loh mau kemana?”
“Aku mau antar Aruna pulang, Bu,” jawab Iyash.
“Tapi, ini masih hujan.” Yanti meletakkan baki di meja.
“Keluarganya khawatir.”
“Kenapa harus khawatir, dia aman di sini. Kamu telepon Pak Ganjar, beri tahu kalau cucunya di sini.”
Seketika Aruna menoleh dan menatap Iyash sekilas, kemudian kembali menatap Yanti. “Saya permisi, Bu.” Aruna berjalan lebih dulu melewati Iyash.
“Mari, Bu.” Iyash menyusulnya dan menarik tangan wanita itu untuk mengajaknya ke tempat parkir. Dia membuka pintu mobil dan meminta Aruna masuk.
Aruna terperangah.
“Cepat, nanti kamu basah lagi,” kata Iyash.
Aruna lekas masuk dan duduk di sebelah pria itu. Tiba-tiba kepalanya pusing teringat kecelakaan itu lagi. “Aku mau naik taksi aja.”
“Kenapa sih, kamu nggak mau–” Kalimat Iyash tercekat saat melihat Aruna keluar dari mobilnya. “Aruna!”
Aruna pergi ke teras dan memesan taksi melalui aplikasi online. Untung kemarin sempat mengunduh aplikasi tersebut atas usul Faran.
Tangan Aruna gemetar. Bukan kedinginan, tapi karena dia belum sepenuhnya keluar dari trauma itu. Iyash merebut ponsel dari tangannya.
“Kenapa susah-susah? Aku bisa antar kamu pulang.”
Aruna menggeleng. “Balikin, Yash,” pinta Aruna. Namun, Iyash malah menjauhkannya. “Balikin!” teriak Aruna kesal. “Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu maksa?”
“Aku cuma khawatir.”
“Bukan. Kamu ingin aku bergantung sama kamu seperti dulu. Kamu akan bangga saat merasa dibutuhkan olehku, iya, ‘kan?”
Iyash membasahi tenggorokan.
“Seharusnya aku sadar kalau kamu tidak berubah. Kamu berteman dengan banyak perempuan dan membiarkan mereka bergantung sama kamu. Kamu pikir segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan aturan kamu?” Aruna menggeleng. “Kamu narsistik.”
“Aruna!” bentak Iyash.
Aruna terkesiap.
“Cukup, kamu nggak tahu apa-apa tentang aku,” kata Iyash seraya mengacungkan telunjuknya.
“Kamu juga nggak tahu apa-apa tentang aku,” balas Aruna seraya mundur karena dia tidak suka saat ada orang yang mengacungkan telunjuk padanya. “Aku harap aku nggak pernah ketemu kamu lagi.”
Iyash mendekat dan meletakkan ponsel di atas telapak tangan Aruna. “Pulang sendiri. Seharusnya aku tahu kalau kamu tetap wanita keras kepala yang maunya menang sendiri, sok jagoan, tapi sebenarnya cengeng dan nggak bisa apa-apa. Itulah kenapa ayah kamu menikahkan kamu dengan dokter itu karena dia tahu kamu nggak bisa hidup sendiri. Benalu akan menempel dari satu dahan ke dahan lain.”
PLAK! Telapak tangan Aruna menyambar pipi Iyash untuk pertama kalinya.
Iyash terperanjat. Pipinya berdenyut nyeri dan panas. Namun, yang membuatnya terkejut bukan karena rasa sakit yang dia rasakan, tapi karena ini adalah pertama kalinya dia mendapat tamparan dari perempuan. Aruna adalah cinta dan luka pertama baginya.
“Kamu sudah menghinaku, Yash. Seharusnya aku nggak pernah menemui kamu lagi. Aku pikir aku bodoh dengan meminta kamu menjauh, ternyata keputusanku sudah benar.”
Kedua tangan Iyash mengepal kuat. Entah kenapa dia tak bisa sesabar dulu menghadapi Aruna? Sekarang dia mudah marah saat orang lain menolak bantuannya.
“Perlu kamu tahu, ayah menikahkanku dengan Faran karena ayah tahu kalau aku nggak akan pernah bisa hidup dengan pria pemarah seperti kamu.”
Iyash meninju dinding di dekat kepala Aruna. Sampai wanita itu menjerit ketakutan. Napas Iyash memburu dan dia langsung berbalik tanpa melihat wajah Aruna lagi. Dia hendak masuk ke dalam mobil, namun teringat sesuatu, kemudian merogoh saku dan kembali pada Aruna, dia lalu meletakkan selembar foto di atas telapak tangan wanita itu.
“Aku lupa kalau aku cuma mau ngasih ini.”
Aruna masih tertunduk dan tak berani menunjukkan wajah pucatnya, sampai pria itu berlalu bersama mobilnya.
Aruna terduduk dan menangis saat melihat foto di tangannya. Foto yang Iyash ambil di Jerman ketika dia dan Faran merayakan ulang tahun pernikahannya yang kedua.