Behind The Lies

Behind The Lies
Membawakan Calon Untuk Edgar



Tebakan Aruna salah, Mila tak punya keinginan untuk membicarakan dirinya di belakang, dia lebih suka menyindir orang di depannya secara langsung.


“Shill, persiapan kamu gimana, udah seratus persen?’ tanya Ben.


“Udah, Om, besok pagi kita semua berangkat ke hotel.”


“Kenapa nggak dari sekarang biar punya lebih banyak waktu untuk prepare,” kata Mila.


“Kita ada team dan semuanya sudah diurus. Lagi pula aku nungguin Asa, biar dia bisa sekolah dulu.”


“Kita kalau mau berangkat sekarang juga bisa sebenarnya, tapi di sana mau ngapain, Papa butuh lebih banyak waktu buat istirahat,” kata Miranti.


Tak berapa lama anak sulungnya Ben datang bersama istri, kedua anaknya dan juga wanita yang sempat Mila ceritakan.


Miranti dan Ashilla menyambut kedatangan mereka.


“Apa kabar, Sam? Sehat?” tanya Miranti.


“Baik, Bund.” Sam kemudian menatap kedua anak laki-lakinya. “Salim sama Bunda.” Nampaknya Miranti benar-benar menolak tua, semua orang memanggilnya Bunda, tak ada cucu yang memanggilnya Nenek.


“Ini loh, Mir. Namanya Marissa. Dia anaknya Rahma, adikku. Cantik, ‘kan?”


Marissa tersenyum seraya mengangguk dan berjabat tangan dengan Miranti, Ashilla dan Ganjar.


“Ini Bundanya Edgar, cowok yang Tante ceritain itu.”


“Penulis itu, ‘kan?”


Miranti mengangguk.


“Saya baca semua bukunya, Tante,” ungkap Marissa.


“Oh begitu?”


Marissa mengangguk.


“Duduk sini, Cha,” pinta Mila, dia bahkan melupakan menantu dan cucunya sendiri.


“Aduh masa dibawah?” tanya Miranti.


“Ya gimana, sofanya, ‘kan udah nggak muat, Mir,” kata Mila.


Ashilla termangu, terkadang Mila memang ada benarnya, dia selalu jujur meski menyakitkan. “Aku bantu Bi Sumi buatkan minum,” kata Ashilla seraya bangkit.


“Pengantin mau kemana, duduk aja di situ,” ucap Sam yang sedang duduk lesehan di karpet.


Ashilla tersenyum, namun tetap pergi ke dapur.


"Icha ini desain interior, baru lulus kemarin, ya, ‘kan, Cha?” kata Mila.


Miranti tersenyum kaku. “Memang kamu mau dijodohkan sama Edgar? Ih, dia mah udah berumur.”


“Berumur juga dia mah ganteng, Cha.” Di sini justru Milalah yang ngotot ingin menjodohkan Edgar.


“Maaf nih bukannya menolak, tapi gimana ya, Marissa ini, ‘kan masih muda banget, apalagi baru lulus kuliah, mending fokus kerja aja dulu. Edgar mah nyarinya istri, malu ah kalau pacar-pacaran di usia segitu.”


“Jangan gitu, Mir, kalau Edgarnya mau gimana?”


“Aku takut Edgar ngecewain Marissa.”


“Maaf, Tante, memang Kak Edgar usianya berapa?” tanya Marissa.


“Kamu jangan bilang-bilang, kalau ketemu dia, pura-pura aja nggak tahu,” kata Miranti pelan.


Marissa tersenyum. Nampaknya Miranti sangat menyenangkan dijadikan mertua.


“Dia tiga puluh tiga tahun.”


“Oh.”


“Masih muda, usia segitu lagi matang-matangnya justru,” sambar Mila.


Miranti menghela napas. Dengan mengatakan begitu dia bermaksud untuk membatalkan perjodohan itu lantaran Edgar baru saja naksir pada anaknya Dokter Mirza.


“Assalamualaikum.” Panjang umur, baru saja dibicarakan Edgar sudah pulang dan sedang berjalan dari pintu menuju ruang keluarga.


“Waalaikumsalam,” jawab Miranti. “Tuh, ‘kan datang. Duh.” Dia mulai khawatir, Edgar bisa marah kalau tahu dirinya sempat punya rencana untuk menjodohkannya.


Miranti lekas bangkit dan pergi ke arah Edgar sebelum anak bujangnya itu datang ke ruang keluarga. “Asa mana?” tanyanya pura-pura.


“Masih di sekolah lah, Bund,” jawab Edgar.


Miranti terus mendekat. “Kenapa nggak ditungguin?” Dia mengedipkan mata memberi isyarat.


Edgar mematung seraya mengedikkan dagu.


“Ada Tante Mila bawa perempuan,” bisik Miranti di telinga sang anak.


“Iya, kenapa nggak ditungguin?” Miranti mengulangi pertanyaannya dengan agak keras.


“Lama, Bund,” jawab Edgar malas. Dia sebenarnya tidak suka ibunya bersikap begini. Padahal biarkan saja, lagipula dia sudah biasa menjadi olok-olokan keluarga besar ibunya lantaran belum juga menikah.


Edgar kembali melangkah, namun, kali ini hendak pergi ke kamar.


“Mau kemana?” tanya Mila.


“Eh ada Tante Mila,” kata Edgar pura-pura tidak tahu. Dia mendekat dan menyalami wanita itu.


“Apa kabar, Gar?” tanya Ben.


“Eh, Om.” Edgar kemudian menyalami Ben, Sam dan istrinya.


“Makin ganteng kamu. Buruan nikah, nih Tante bawa calon istri,” kata Mila seraya menarik tangan Marissa. “Namanya Marissa, cantik, ‘kan?” Persis seperti menawarkan barang dagangan.


Kasihan sekali Marissa, masih muda sudah kehilangan harga diri, pikir Ashilla yang baru saja datang membawakan beberapa gelas air minum.


Edgar tersenyum. “Cantik sih, Tan, tapi terlalu muda.” Alih-alih seperti wanita yang baru lulus kuliah, Marissa malah lebih terlihat seperti gadis yang baru keluar SMA, selain badannya mungil, wajahnya juga terlalu polos untuk dikatakan dewasa.


Jantung Marissa mencelus. Secara tidak langsung Edgar baru saja menolaknya.


“Kak Edgar sukanya yang lebih tua, Mengincarnya teman-teman Bunda malah,” sambar Ashilla seraya meletakkan nampan di meja.


Edgar tertawa ringan.


“Ada-ada aja kamu. Keponakan Tante memang baru lulus kuliah, tapi dia sudah siap menikah, iya, ‘kan, Cha?”


Marissa justru terperangah, detiknya seperti berhenti melihat tawa ringan Edgar.


“Cha?” Mila menyikut Marissa dan menyadarkannya dari lamunan.


Marissa mengerjap. “Iya, Tante?”


“Tuh, ‘kan? Apa Tante bilang, dia sudah siap menikah.”


“Nggak juga sih,” tolak Marissa. Meski dia terpesona dengan ketampanan Edgar, tapi dia tidak mau mengorbankan masa depannya. “Aku nggak kepikiran ke sana,” tambah Marissa kaku.


Ashilla menggeleng. Rasanya Mila memang terlalu memaksakan kehendak dan berpikir kalau Marissa dan Edgar mau dijodohkan seperti itu.


Seketika semuanya terasa hening. Mila menatap Miranti, sedangkan Edgar malah berpura-pura mengecek pesan masuk di ponselnya.


“Bu, makan siangnya sudah siap,” kata Bi Sumi.


Baguslah. Kedatangan Bi Sumi membuyarkan kekakuan yang terjadi beberapa saat lalu. Miranti segera mengajak tamunya untuk makan siang.


Beruntung Ganjar menyediakan kursi makan yang jumlahnya dua belas, sehingga saat ada tamu seperti ini mejanya muat untuk menampung semua tamu dan mengajaknya makan bersama.


Beberapa kali Marissa melirik Edgar, namun pria itu tak menunjukkan minatnya, tapi jujur Marissa penasaran kenapa di usia sematang itu Edgar belum memiliki pasangan, sedangkan penampilannya tak begitu buruk, cukup memikat para perempuan?


Edgar duduk di sebelah Ashilla dan Miranti, diapit dua wanita yang sudah sangat mengenal dirinya, sedangkan Marissa ada di jajaran keluarganya Mila. Berkali-kali pandangan Marissa dan Edgar tak sengaja bertemu. Namun dengan segera keduanya tertunduk kikuk.


“Kamu sibuk apa? Om dengar kamu mau gantiin Ashilla di perusahaan?” tanya Ben pada Edgar.


“Belum tahu, Om, sekarang sih masih sibuk nulis buat projek baru.”


“Oh ya?” Mila kembali antusias untuk mencarikan Marissa dan Edgar titik agar keduanya bertemu. “Marissa suka banget baca buku kamu.”


“Oh ….” Edgar tetap makan tanpa melihat Marissa. “Aku nggak nulis romance loh.”


Jantung Marissa mencelus. Apa Edgar pikir para wanita hanya menyukai romansa?


Mila kembali menatap Miranti.


Miranti tahu kalau Mila inginkan bantuannya agar Edgar tak bersikap dingin seperti itu. MIla mungkin berpikir kalau Edgar terlalu menutup diri, sehingga para perempuan enggan mendekatinya.


“Nggak semua perempuan suka romansa loh, Gar,” kata Miranti. “Ada kok yang suka horor, misteri, thriller, apalagi ya, hm … fantasi–”


“Adventure,” sela Marissa. “Aku suka cerita Markus di Maroko. Nggak ada yang ngira kalau hilangnya Markus memang disengaja. Kejutan yang luar biasa meski nyawa taruhannya.”


Seketika Edgar terperangah menatap Marissa. Dia pikir Mila tak serius dan hanya mencari cara agar Marissa bisa dekat dengannya.


“Aku suka resetnya, semua tampak detail,” tambah wanita itu. “Apalagi si penulis selalu menyelipkan masalah tentang keluarga, jadi semuanya terlihat nyata.”


“Hm, Edgar ini kalau satu novel belum selesai, dia nggak akan pulang,” kata Miranti.


Edgar terperangah menatap Marissa.


“Justru aku nggak pernah baca cerita tentang percintaan. Buang-buang waktu.” Marissa kembali makan.


Edgar membasahi tenggorokan.


Mila tersenyum tipis melihat Edgar tak berkutik seperti itu. Sepertinya dia tak sia-sia membawa Marissa.