
Angkasa dan Ashilla sama-sama terdiam, tak ada yang membahas kejadian tadi, Asa sendiri malah terlihat semakin dekat dengan Daniel, entah bagaimana cara pria itu mendekati Asa, selama ini Asa cukup sulit didekati, tapi bagi Daniel tak sesulit itu. Dia mendekati anak itu seperti dia ingin orang lain mendekatinya waktu kecil, dia juga menghindari segala sesuatu yang tidak dia sukai karena dia sangat yakin Asa persis seperti dirinya. Sejak bertemu Asa kemarin dia tak bisa berhenti memperhatikan Asa.
“Om, besok ajak Asa lari lagi ya,” kata Asa sembari menyantap sarapan paginya.
Daniel tersenyum sambil meletakkan telapak tangan di atas puncak kepala Asa. Meski harus bertemu dengan cara seperti ini setidaknya Daniel masih beruntung.
Ashilla tertunduk dan tampak gugup. Dia bahagia karena sejak awal orang tua Angkasa tak begitu mempermasalahkan Asa, apalagi Laila, dia begitu senang dengan kehadiran Asa di rumah ini. Sejak kemarin dia mempersiapkan kamar untuk Asa, mendekorasi dan membeli semua yang Asa butuhkan. Ashilla tak berpikir apapun selain, dia memang merasa sangat beruntung di terima di rumah di keluarga Angkasa.
“Tadi, jalan-jalan kemana aja?” tanya Laila.
Asa tersenyum. “Keliling komplek, Nek.”
“Besok-besok ajak Papa Angkasa.”
Angkasa tersenyum kaku. Sedangkan Ashilla sendiri terus tertunduk menatap piring yang berisi nasi goreng kari.
“Kalian hari ini mau kemana?” tanya Erik.
“Belum tahu, Pa,” jawab Angkasa.
“Kapan mau berangkat bulan madu?” tanya Laila sembari menikmati sarapannya.
“Nunggu Ashilla siap aja.”
“Jangan ditunda, kalau kamu sudah sibuk bekerja, kamu akan sulit meluangkan waktu untuk bulan madu,” saran Erik.
Angkasa hanya mengangguk.
“Pa, kami mau cari rumah,” kata Ashilla.
Seketika Angkasa menoleh pada istrinya itu, dia terkejut karena tak pernah berpikir Ashilla akan berani mengatakan itu pada kedua orang tuanya. Yang lain pun tak kalah terkejut, begitupun dengan Daniel, padahal sebelumnya dia sudah mengancam Ashilla, kalau berani menjauhkan Asa, dia akan mengatakan semuanya.
Daniel terus menatap Ashilla. Sedangkan Ashilla sendiri pura-pura tak melihatnya.
“Aku dan Angkasa ingin membangun rumah tangga kami sendiri,” tambah Ashilla.
“Kenapa harus secepat itu?” tanya Erik.
“Iya, sebaiknya kalian di sini dulu. Asa juga baru akrab sama Daniel,” kata Laila.
“Tapi, Ma–”
“Kalau mereka mau pergi, biarin aja, Ma, tapi Asa di sini. Aku yang akan merawat dia,” sela Daniel memangkas perkataan Ashilla.
Seketika Ashilla tergemap menatap Daniel dan semua orang terdiam termasuk Angkasa.
Tiba-tiba Laila tertawa renyah. “Kamu lihat, Shill, bahkan Daniel yang tidak suka sama anak kecil sangat menyukai Asa.”
Ashilla membasahi tenggorokan.
“Kalau kalian tidak mau tinggal di sini, nggak apa-apa, biar Asa Mama yang ngurus, lagi pula ada Asa di sini, Mama jadi ingat Daniel waktu kecil.”
Daniel tersenyum, sementara Angkasa semakin tertunduk. Ashilla sendiri malah terlihat marah melihat Daniel.
“Kalau begitu aku mau tinggal di rumah Opa.”
“Hah? Maksudnya gimana?” tanya Erik terkejut.
“Maksud Ashilla, dia akan sering mengunjungi Opa dan mungkin sesekali akan tinggal di sana,” tukas Angkasa.
Ashilla tergemap menatap sang suami.
“Oh begitu, iya nggak apa-apa. Opa kamu juga harus sering dikunjungi,” kata Erik.
“Kalau Aruna masih di sini?” tanya Laila.
“Oh begitu. Di rumah Pak Ganjar jadi ramai, nggak salah juga kalau kalian di sini, rumah ini juga sudah terlalu lama sepi, Papa senang ada anak kecil di rumah, kalau bisa kalian juga cepat punya momongan, biar di rumah ini semakin ramai. Papa juga berharap kalian bisa tinggal di sini setahun dua tahun.”
“Iya, Mama setuju.”
Ashilla dan Angkasa sama-sama termangu. Baru dua hari menjadi sepasang suami istri sudah diminta untuk segera punya momongan, bahkan sejak kemarin Angkasa tak sempat membicarakan hal itu. Untuk saat ini Ashilla sangat sulit diajak berbicara karena sedikit-sedikit marah dan begitu sensitif.
***
Setelah selesai sarapan Asa langsung berangkat sekolah diantar Yayan. Daniel sempat berpesan kalau besok-besok dia yang akan mengantar Asa ke sekolah, meski dia sendiri tak tahu di mana Asa bersekolah.
Angkasa dan Ashilla kembali ke kamar karena ada hal yang perlu mereka bicarakan, sedangkan Erik dan Laila sudah pergi ke kantor dan memulai kembali pekerjaannya setelah beberapa hari tidak masuk karena ikut mengurus pernikahan Angkasa.
“Hari ini aku mau ketemu Bunda.”
“Kamu nggak boleh pergi,” kata Angkasa sembari mengalihkan chanel televisi.
“Kenapa? Yang penting aku udah izin sama kamu.”
“Kamu nggak boleh pergi kemanapun sebelum kamu jelasin semuanya sama aku.”
Ashilla menghela napas dan lekas duduk di sebelah Angkasa. “Aku harus jelasin apa lagi?”
Angkasa menoleh dan menatap isitrinya. “Kenapa kamu nggak pernah bilang soal ayahnya Asa?”
“Aku harus bilang apa? Bagiku dia masa lalu terburuk dan aku nggak mau ketemu lagi sama dia.”
“Setidaknya kalian pernah ada cinta.”
“Memang kenapa? Kamu sama Sarah juga dulu saling cinta, iya, ‘kan?”
Angkasa membasahi tenggorokan.
“Nggak ada gunanya dibahas. Aku cuma lagi cari cara biar Asa nggak tahu siapa ayahnya.”
“Kenapa? cepat atau lambat Asa juga akan tahu, kamu lupa semakin hari dia semakin besar, semakin dewasa dan semakin mengerti dengan keadaan sekitarnya.”
“Terus aku harus gimana?”
“Kamu beri kesempatan Daniel dekat dengan Asa. Asa kenal dia sebagai adikku, sebagai Om nya,” usul Angkasa.
Ashilla termangu. Dia beruntung karena Angkasa tak terus mempermasalahkannya. Jika ini terjadi pada pria lain, entah akan seperti apa.
Angkasa menoleh dan menatap sang istri. “Kamu tinggal bicarakan ini sama Daniel, buat perjanjian, dia sudah bilang kalau dia tidak akan mengatakan semuanya selama kamu tidak menjauhkan Asa darinya.”
Ashilla tersenyum, lalu kemudian menyandarkan kepala di bahu Angkasa. “Aku beruntung karena Tuhan mengirim pria sebaik kamu. Maaf karena selama ini aku selalu meragukan kamu.”
Angkasa tersenyum dan menatap puncak kepala sang istri.
“Aku janji setelah ini aku tidak akan menyembunyikan apapun dari kamu,” tambah wanita itu.”
Angkasa mengangguk. “Sebentar lagi ulang tahun Asa, sebaiknya kamu bicarakan ini sama Daniel, ajak dia membuat rencana. Aku harap kamu bisa menjalin hubungan baik sama Daniel.”
Ashilla menjauhkan kepala dari bahu Angkasa, kemudian dia menatap wajah pria itu. “Kamu nggak takut aku kembali sama dia?”
Angkasa menggeleng. “Kalau kamu kembali sama dia, aku tinggal cari wanita lain.”
“Ih.” Ashilla merengut. Lalu dia kembali menyandarkan kepala di bahu sang suami. Dia menyesal selalu menyepelekan perasaan Angkasa. Bahkan terkadang dia tidak menghargai pria itu.
Angkasa tersenyum. “Aku janji aku akan membuatkanmu rumah, tapi nanti setelah keadaannya membaik.”
Jika Angkasa berkata demikian, Ashilla merasa lebih baik dan tak khawatir lagi. Begitu mudah menghadapi masa lalu Aruna, tapi begitu sulit menghadapi masa lalunya sendiri. Mungkin Ashilla harus belajar lagi untuk lebih mengerti dan memahami keadaan orang lain.