Behind The Lies

Behind The Lies
Berdampak Buruk



Setelah kejadian semalam, kesehatan Ganjar menurun. Semalaman dia tak dapat tidur dan terus memikirkan Miranti dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya Edgar. Andai saja sejak dulu dia tahu siapa yang telah menghamili putrinya dan lari dari tanggung jawab, dia bersumpah tak akan membiarkan pria itu hidup tenang atau bahkan pergi sejengkal pun. Sekarang semua sudah berubah, dia tak bisa berbuat apa-apa karena dia menyadari satu hal kalau dia sudah tak dapat lagi mencampuri urusan anak-anaknya.


Pagi hari Miranti datang ke kamar sang ayah untuk membangunkannya. Meski pagi itu waktu baru menunjukkan pukul setengah enam dan bahkan matahari pun belum terlihat bayangannya. Namun Ganjar tak pernah bangun sesiang ini.


“Pa,” panggil Miranti seraya mengetuk pintu. Namun, sang ayah tak menyahut. “Pa,” panggil Miranti sekali lagi. Namun, tak ada suara apapun dari dalam. “Pa.” Akhirnya Miranti membuka pintu tersebut.


Ganjar terbujur lemah di atas ranjang.


Miranti mendekat dan langsung menggoyangkan badan sang ayah. “Pa ….” Ganjar tak merespon dan itu membuatnya panik.


“Edgar,” panggil Miranti seraya keluar dari kamar Ganjar. “Edgar.” Namun, tak ada sahutan dari anak semata wayangnnya.


Miranti pun lekas pergi ke kamar Aruna.


“Run,” panggilnya panik.


“Iya, Bund?” tanya Aruna seraya membuka pintu.


“Faran mana?”


“Di kamar mandi,” jawab Aruna seraya menoleh ke belakang.


“Lama nggak?”


“Kayaknya lama deh. soalnya Bunda tahu sendiri kalau Mas Faran udah di kamar mandi, apalagi tadi dia mengeluh sakit perut, pasti lama.”


“Ya udah.” Miranti lekas ke dapur sembari memanggil-manggil Yayan. “Yan. Yayan ….”


“Kenapa, Bund?” Aruna segera menyusul Miranti.


“Opa ngedrop,” kata Miranti tanpa menoleh pada Aruna.


“Yan,” teriaknya kencang.


“Kenapa, Mbak?” tanya Yayan kaget.


“Siapkan mobil, kita harus bawa papa ke rumah sakit.”


Jika Miranti berkata seperti itu, Yayan yakin kalau sudah terjadi sesuatu pada tuannya. “Baik, Mbak.” Dia lekas keluar dan menyiapkan mobil.


Sementara Aruna segera kembali ke kamar dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas, masih lama, nggak?”


“Lama, duh, aku mulas banget. Kamu pakai kamar mandi yang lain aja.”


Aruna menghela napas dan kembali ke dapur. Miranti terlihat begitu panik.


“Bi, siapkan sarapan, bawa ke mobil,” kata Miranti pada Bi Sumi.


“Baik, Bu.” Bi Sumi segera memenuhi perintah Miranti.


Miranti benar-benar sibuk, dia berjalan cepat ke kamar Edgar. “Edgar, bantu Pak Yayan ngangkat Opa ke mobil.”


Tak ada sahutan dari dalam.


“Edgar.” Miranti mendorong pintu. Dia tercenung menatap kamar dalam keadaan kosong dan kasur yang tampak begitu rapi. Dia sangat yakin kalau Edgar pergi sejak semalam.


Miranti menghela napas dan lekas keluar dari kamar Edgar. Dia melihat Yayan tengah menggendong Ganjar yang pagi itu sudah tak sadarkan diri.


“Hati-hati, Pak,” kata Aruna sembari membukakan pintu mobil. Dia kemudian menoleh pada Miranti yang baru saja keluar. “Bund, nanti aku sama Mas Faran nyusul ke rumah sakit.”


“Iya.” Miranti masuk ke dalam mobil.


“Bapak kenapa, Mbak?” tanya Yayan sembari mendudukkan Ganjar di jok belakang tepat di sebelah Miranti.


“Nggak tahu, jangan banyak nanya, cepat jalan,” titah Miranti.


Sikap Miranti pagi ini membuat Yayan bertanya-tanya, sepanik dan sekhawatir apapun Miranti akan tetap bersikap baik dan ramah, bukan ketus seperti sekarang ini.


Tepat pukul lima lewat empat puluh menit, Yayan mengendarai mobil menuju rumah sakit. Sementara Miranti sibuk melakukan panggilan pada Edgar, namun sang anak tak menjawabnya meski panggilan tersebut tersambung.


Miranti sadar kalau dia telah membuat Edgar kecewa. Padahal dia pikir Edgar sudah cukup dewasa untuk mengerti keadaannya.


“Aku kecewa karena Bunda sembunyikan ini dari aku.” Kalimat itu kembali terngiang di telinga Miranti.


“Kalau Bunda menceritakan semuanya, memang bisa merubah keadaan?” tanya Miranti malam tadi.


“Nggak, tapi setidaknya aku tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


“Iya,” sahut Edgar kesal. “Bunda selalu benar, dan semua yang Bunda lakukan memang benar.”


“Gar, tolong dengar Bunda.” Miranti meminta Edgar duduk di sebelahnya. “Kamu tahu itu adalah hal terberat yang pernah Bunda lewati. Kamu menyaksikan sendiri bagaimana Ashilla waktu itu, Bunda berkali lipat dari apa yang Ashilla rasakan. Bunda harus menerima kenyataan kalau ayah dari bayi yang dikandung Bunda menikah dengan wanita lain. Jika kamu merasa kecewa, Bunda lebih dari itu, Bunda merasa dikhianati.”


Edgar tercenung.


“Bunda cuma nggak mau kamu hidup dalam kebencian, itu saja.”


 “Terus sekarang?”


“Sekarang apa?” Kamu sudah tahu kebenarannya.”


Edgar menghela napas.


“Sekarang terserah kamu. Kamu mau menemui ayah kamu silakan. Bunda tidak akan melarang. Kamu cukup bebas untuk melakukan apa yang kamu mau.”


Malam itu Edgar termenung usai mendengar penjelasan Miranti. Dan pagi ini Miranti termenung melihat keadaan sang ayah yang terduduk tak sadarkan diri, berkali-kali kepala yang terkulai lemah itu bergerak ke kanan dan ke kiri seiring dengan melajunya kecepatan mobil yang dikendarai Yayan.


Miranti belum menjelaskan apapun pada sang ayah. Dia sangat yakin kesehatan Ganjar menurun disebabkan karena kejadian semalam.


“Mbak, apa sebaiknya Mbak telepon Non Ashilla?” kata Yayan sembari melirik ke jok belakang melalui spion.


Miranti langsung melakukan panggilan dengan anak dari almarhum adiknya tersebut.


“Shill,” panggilnya begitu teleponnya terjawab.


“Iya, Bund.”


“Opa ngedrop sekarang mau dibawa ke rumah sakit.”


“Kenapa?”


“Nggak tahu, Opa belum sadar sejak tadi. Bunda khawatir.” Miranti menoleh pada ayahnya.


“Bund.” Resah itu menular pada Ashilla di ujung telepon. “Aku sama Angkasa langsung ke sana setelah mengantar Asa sekolah.”


“Iya. Bunda tunggu.” Miranti menutup panggilan.


Sementara itu, Faran baru keluar dari kamar mandi dan Aruna sedang berdiri di depan pintu. “Kamu kenapa?” Faran mengernyit seraya melewatinya.


“Lama banget,” dengkus Aruna kesal seraya mengikuti sang suami yang kini duduk di tepi ranjang.


“Kan mas bilang lagi mules,” kata Faran seraya meringis dan memegang perutnya sendiri.


“Opa ngedrop dan masuk rumah sakit.”


“Hah? Kenapa nggak bilang?” tanya Faran seraya bangkit.


“Percuma, Mas, ‘kan mulas.”


“Ya udah ayo kita susul ke rumah sakit.” Faran bangkit.


“Aku mandi dulu.” Aruna pergi ke kamar mandi.


“Nggak usah mandi.” Faran menyusulnya.


“Enak aja.” Aruna menutup pintu kamar mandi. Faran tercenung, dia merasa bersalah, pasti tadi Miranti memintanya untuk memeriksa kondisi Ganjar.


“Sayang,” panggil Faran di depan pintu kamar mandi. “Tadi Bunda ke sini?”


“Iya,” teriak Aruna. “Kasihan Bunda sibuk sendiri, Kak Edgar nggak tahu kemana.”


Faran menghela napas.


“Aku susul Bunda sekarang, kamu tunggu di sini ya.”


“Nggak. Enak aja. Terus aku pergi sama siapa?”


“Iya-iya. Jangan lama.”


Namun, Aruna tak bisa melakukannya dengan cepat, meski dalam keadaan panik seperti sekarang. Dia bahkan tak bisa meninggalkan kebiasaannya untuk menggunakan sabun sampai dua kali, setelah membilas yang pertama, dia terbiasa kembali menyabun dan mengulanginya seperti yang pertama.


Faran tahu kalau istrinya memiliki kebiasaan itu sejak lama. Dia tak bisa mengubah itu karena Aruna sendiri tak ingin menghilangkan kebiasaan tersebut.