Behind The Lies

Behind The Lies
Serba Mendadak



Pukul tiga sore sebelum adzan ashar berkumandang, semua anak dan cucu Nenek Alma sudah berkumpul di rumah. Ira tak hentinya mengenalkan Marissa pada semua orang. Namun, Marissa sendiri belum tahu akan ada pernikahan di rumah itu. Meski beberapa orang menggoda dirinya.


“Ini calon kamu, Yash?” tanya Irwan, anak kedua Nenek Alma.


Iyash hanya tersenyum, itupun begitu tipis seperti ingin menyangkal semua drama yang dia setujui sebelumnya.


Sedangkan Marissa tampak begitu kesal. Dia kemudian menatap sang ibu. Dia benar-benar menganggap kalau mereka hanya sedang bercanda. Dia juga mengira ini ulah Nenek Alma, berawal dari Nenek mengenalkannya pada Dokter Seto sebagai calon istri Iyash. Meski demikian, hal itu tak membuat Marissa menjadi kaku, dia tetap Marissa yang begitu mudah berbaur. Memiliki pribadi yang hangat dan menyenangkan adalah kelebihannya.


Tiba-tiba saat Marissa sedang bermain dengan anaknya Iqbal. Rahma menariknya ke kamar. “Mama mau bicara sama kamu.”


Kedua wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Marissa pikir ibunya akan bertanya tentang semua orang yang menyebutnya sebagai calon istri Iyash.


“Mama Icha juga bingung,” tiba-tiba Marissa mengawali pembicaraan dengan kebingungan. “Tiba-tiba semalam Nenek mengenalkan Icha sebagai calon istri Kak Iyash pada Dokter Seto.” Marissa sangat yakin kalau sang ibu akan bertanya hal itu.


“Kamu senang?” tebak Rahma.


“Nggaklah. Dari semalam Icha mau bilang kalau Nenek salah paham.”


“Cha.” Rahma meraih kedua tangan anaknya.


Marissa termangu.


“Soal Om Rudi, Mama hanya mengarang,” aku Rahma.


“Hah?”


“Dua hari yang lalu Om Rudi memang datang ke rumah, tapi itu Mama yang minta. Mama meminta Om Rudi untuk menjadi wali nikah buat kamu.”


“Ma?” Marissa semakin bingung mendengar perkataan sang ibu.


Rahma mengangguk.


“Kamu, ‘kan tahu, Papa besar di panti asuhan dan cuma Om Rudi satu-satunya sahabat Papa yang Mama tahu, selain Om Hasa.”


Marissa mengangguk karena memang dari sanalah sang ayah dan Ira mulai berteman. Ira sendiri adalah anak dari pemilik panti asuhan dan Restu adalah salah satu anak yang kurang beruntung itu.


“Tapi, kenapa harus Om Rudi, kenapa bukan Om Hasa aja, bukannya dari dulu Om Hasa yang mengambil alih tanggung jawab Papa?” tanya Marissa.


“Itu nggak mungkin, Cha.” Rahma memberi jeda dan dia semakin erat menggenggam tangan Marissa. “Karena kamu akan menikahi anaknya.”


Jantung Marissa mencelus sampai dia tak bisa berkata apapun.


Rahma membelai pipinya. “Kamu berhak marah karena semua serba mendadak.”


Marissa memang ingin marah karena semua melampaui batas hidupnya. Namun, dia tak bisa berteriak atau memaki. Tubuhnya membeku dan mulutnya terkunci, hanya dada yang bergemuruh menahan gejolak tersebut.


Rahma meletakkan tangan Marissa di dada kirinya. “Mama takut suatu saat nggak bisa menyaksikan kamu menikah.”


“Kenapa Mama bilang begitu.” Marissa menarik tangannya dengan cepat.


“Cha, sakit Mama semakin parah dan jantung Mama bisa kapan aja berhenti.”


“Papa yang sehat dan nggak sakit sama sekali aja bisa tiba-tiba meninggal.”


“Iya, justru itu.”


“Bukan itu maksud Icha,” sanggah Marissa cepat. “Mama nggak boleh putus asa.” Napasnya tercekat.


“Rasa takut yang Mama rasakan itu wajah, Cha. Cuma kamu satu-satunya harapan Mama, Mama takut kamu jatuh cinta pada orang yang salah.”


“Nggak, nggak, nggak.” Marissa bangkit dan mundur. “Icha nggak mau nikah sama Kak Iyash.”


“Mama sudah tahu bagaimana Iyash. DIa anak yang baik, sopan.”


“Tapi, dia kasar.”


Rahma menggeleng. “Mama menjenguknya saat dia kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Waktu Papa masih ada. Pacarnya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Dia marah dan membenci hidupnya sampai selama itu, Cha.”


“Mama, Icha nggak bisa.” Suara Marissa mulai bergetar. “Icha udah nganggap Kak Iyash seperti Kakak Icha sendiri. Lagi pula Tante Ira udah menganggap Icha seperti anak perempuannya, ‘kan? Jadi kayaknya–” Marissa menarik  napas untuk menyembunyikan amarah dan rasa sedihnya sendiri.


“Cha.”


“Icha nggak perlu jadi menantunya,” tambah wanita itu pelan.


“Kalau ini permintaan terakhir Mama. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rahma.


Marissa tak bisa menjawab, dia hanya bisa membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa begitu kering.


“Kalau ini masalah cinta, Mama yakin kamu bisa mencintai dia, kelembutan hati kamu bisa mengalahkan kerasnya dia.”


Marissa menggeleng. “Apa rencana ini sudah lama?” tanya Marissa pelan.


Rahma mengangguk dan itu membuat jantung Marissa kembali mencelus. “Kapan?” tanyanya seraya duduk kembali di sebelah sang ibu.


“Sebelum Papa meninggal. Papa sempat bilang sama Om Hasa untuk mencarikan kamu suami yang baik suatu saat nanti, tapi seminggu yang lalu Om Hasa bilang buat apa mencari yang belum pasti, kamu bisa menikah dengan anaknya.”


“Mama ….” Marissa berdecak kesal.


“Mama minta maaf, Cha.”


“Iya, tapi Mama udah setuju.”


“Kenapa, Ma?” Marissa menarik napas untuk meredakan sesak di dadanya.


“Mama cuma mau kamu hidup bersama orang yang tepat.”


“Kenapa Mama bisa yakin kalau Kak Iyash orang yang tepat?”


“Mama rasa kalian sudah ditakdirkan satu sama lain. Kalau tidak, mungkin Iyash sudah menikah dengan pacarnya yang ternyata masih hidup atau dengan wanita lain.”


“Hah?” pekik Marissa terkejut.


Rahma mengangguk. “Iya, Cha, pacar yang dia anggap sudah meninggal ternyata masih hidup dan dia sudah menikah dengan pria lain.”


“Mama ini nggak mungkin.”


“Nggak ada yang nggak mungkin kecuali kamu menjilat siku kamu sendiri,” kekehnya.


Marissa cemberut, sedangkan Rahma malah menertawai leluconnya sendiri. Jika seperti itu sulit dipercaya kalau Rahma memang sakit.


“Cha, ini serius.” Namun, Rahma masih tergelak. Kalau seperti ini siapa yang akan percaya. “Menikah ya sama Iyash. Om Hasa sudah melamar kamu kemarin untuk anaknya. Ini juga sebagai bentuk balas budi kamu sama Om Hasa.”


“Mama, ‘kan, janda? Gimana kalau Mama aja yang menikah sama Kak Iyash.” Kali ini Marissa yang tak bisa menahan tawanya sendiri.


“Icha.” Bukannya marah, Rahma malah kembali tertawa.


“Mama.” Marissa pun masih tak bisa menahan tawanya sendiri. “Icha akan lakukan apapun untuk membatalkan semuanya.”


Rahma menggeleng, namun dia tak menghentikan tawanya. “Kamu tidak bisa semua sudah terlambat. Malam ini adalah acaranya.”


“Hah?” pekik Marissa. Kali ini dia sudah tak bisa tertawa. Artinya dia tak bisa menjadikan ini sebagai lelucon.


Dia termenung dan mencoba berpikir untuk menggagalkan acara malam ini, sedangkan Rahma berdiri dan mengarahkannya ke cermin. “Kamu cantik.” Dia lalu menunjuk dada sang anak. “Dari sini. Kamu tidak punya masalah apapun dengan psikologis kamu, kamu sehat secara lahir dan batin.”


Mendengar Rahma berkata demikian, Marissa malah tersenyum sinis.


“Iyash pernah pacaran dengan wanita bermasalah secara psikis dan tentu saja itu tidak baik,” tambah Rahma.


“Kurasa sebenarnya dia yang sakit secara psikis.”


“Mungkin. Itulah kenapa dia tidak bisa memaafkan dirinya selama ini. Dan sekarang dia butuh perempuan yang bisa berpikir logis bersamanya.”


Marissa lekas memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas. “Kalau Mama sayang Icha, bantu Icha kabur dari sini. Mama nggak mau, ‘kan Icha menikahi pria yang sakit jiwa?”


“Cha, dia nggak sakit, dia cuma butuh kepercayaan dirinya kembali. Dia butuh seseorang untuk bisa membantu mencintai dirinya sendiri.”


Marissa termenung.


“Kalau kamu menikah sama dia. Mama janji kamu bebas melakukan apapun, kalau tidak kerja pun tidak masalah.”


“Mama yang bilang, aku harus mandiri karena ada laki-laki yang tidak tahu diri.” Marissa mempertegas kalimat itu.


“Cha, itu kalau kamu menikah sama wartawan itu, atau sama pilihan Tante kamu. Sedangkan Iyash memiliki masa depan yang jelas.”


“Kak Edgar juga, Ma.”


“Tapi, dia belum tentu mau menikah sama kamu.”


“Memang Mama pikir Kak Iyash mau?” Marissa berdecak. “Icha bukan perawan tua, Ma. Icha bisa mendapatkan yang lebih. Lagi pula siapa yang mau menikah secepat ini?”


“Gini, Cha. Menikahlah dulu, urusan cinta belakangan.”


“Mama ini bukan soal cinta,” sanggah Marissa. “Icha nggak bisa.” Resah membuatnya mondar-mandir tak tentu arah.


“Jangan buat Mama masuk rumah sakit dan kamu terpaksa menikah di depan orang koma.”


“Astaghfirullahaladzim. Mama ini bukan sinetron.”


“Justru sinetron terinspirasi dari kisah nyata.”


“Dan Mama salah satu korban sinetron,” dengkus Marissa.


“Cha, Mama tahu ini berat buat kamu. Tapi, nggak ada pilihan. Ini juga amanat Papa kamu. Papa minta Om Hasa mencarikan calon buat kamu.”


“Ma, kalau Icha tidak menikah dengannya, apa ada pilihan lain?”


“Tentu saja, pilihannya cuma dua, menikah dihadiri Mama, atau tidak.”


Marissa menghela napas panjang. “Mama, itu bukan pilihan.”


“Cha, sama seperti kamu, Mama juga nggak punya pilihan saat Papa pergi. Mama membesarkan kamu sendirian, atau pergi menyusul Papa.”


Marissa tergemap dan akhirnya dia tak bisa mempertahankan keinginannya sendiri.


“Lakukan demi Mama, demi Papa dan demi Om Hasa,” pinta Rahma. Dia kemudian membelai puncak kepala sang anak. Lalu mengecup keningnya. “Kamu bisa menenangkan diri kamu dulu. Acaranya dimulai setelah sholat isya. Jangan coba-coba lari karena penyakit jantung Mama bisa kambuh dan kamu nggak akan bisa melihat Mama lagi.”


 Marissa tertunduk mendengar kalimat terburuk yang pernah sang ibu ucapkan.