
Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menggunakan kereta sudah pasti sangat melelahkan. Iyash memang tak perlu beradaptasi lagi kerana dia sudah cukup sering berlibur di sana, hanya saja liburan kemarin dia memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya karena Angkasa akan pindah ke Singapura.
Menetap selama tiga tahun di Surabaya tentu memiliki tantangan tersendiri untuknya. Malam itu, dia menatap lurus ke luar jendela kamar yang akan dia tempati selama berada di sana.
Di bawah langit gelap, Iyash melihat perempuan itu lagi. Dia sempat meragukan kalau itu adalah Aruna, yang sering digoda sebagai pacar Mas Iqbal. Namun, setelah diingat-ingat kembali perempuan itu memang Aruna. Terakhir Iyash melihatnya setahun yang lalu.
Dari dulu kulit Aruna memang sudah bersih, namun sekarang dia semakin terlihat bersih dan Aruna memang pandai merawat diri. Dia menggunakan bahan alam untuk merawat kulitnya.
Iyash terpaku melihat Aruna yang sedang berdiri di seberang jendela kamarnya. Sama sepertinya Aruna juga sedang menikmati cahaya bulan di depan jendela kamar. Iyash tidak menyangka kalau jendela kamar yang ditempatinya menghadap langsung ke jendela kamar Aruna. Siluet dan lekuk indahnya membekas dalam ingatan Iyash. Untuk pertama kalinya Iyash memuji perempuan. “Cantik.”
Tak bisa rasanya jika hanya dipandang, dia segera mengambil kamera hadiah kelulusan dari sang ayah. Dia mencuri beberapa jepret untuk diabadikan. Sial, lagi-lagi Aruna menyadarinya dan dia langsung menutup jendela.
“Tuhan, makhluk seperti apa dia, kenapa membuatku penasaran?” gumam Iyash.
Bibirnya tersungging tipis dan dia mengempas tubuh ke ranjang. Untuk pertama kalinya Aruna menjemputnya dalam mimpi.
***
Iyash melaksanakan shalat subuh di Masjid dan dia tak sengaja bertemu Aruna di sana, berbalut mukena putih. Lagi-lagi Iyash memuji gadis itu dalam hatinya. Di matanya, Aruna selalu tampak lebih cantik dari yang lain, meski jarang tersenyum. Ya, jarang tersenyum dan terkesan judes. Namun, itu membuat Iyash semakin penasaran dan ingin melihat senyum gadis itu sekali saja.
Pukul enam pagi setelah selesai mengikuti kajian di Masjid, Iyash langsung berjalan-jalan menikmati suasana pagi pedesaan.
Bias Biru di langit bertemu dengan hijaunya pegunungan. Berkali-kali Iyash memuji keindahan tersebut sembari mengarahkan kamera pada pemandangan pagi itu. Burung kutilang liar berkicau di atas pohon mahoni dan dia berhasil memotretnya tanpa mengejutkan burung tersebut.
Samar-samar cahaya matahari perlahan terbit, hangatnya belum begitu terasa karena dia masih merasa dingin. Mungkin dengan banyak bergerak akan membuat tubuhnya sedikit menghangat.
Pagi itu, Aruna melintas dengan sepeda di depannya, Iyash tak ingin kehilangan jejak, dia segera memotret, sayangnya kabut membuat samar lensa kamera, sehingga gambar Aruna dalam foto itu terlihat buram dan tak begitu jelas.
Iyash lekas berlari mengejar perempuan itu. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat Iqbal berada di samping Aruna. Dia tercenung ketika melihat Aruna berhenti mengayuh dan menemani Iqbal berjalan. Jujur dia merasa cemburu karena Iqbal bisa dekat dengan Aruna, sedangkan dirinya untuk maju selangkah saja susah.
Iyash kembali berjalan sembari mengarahkan kameranya pada Aruna. Gerak langkah perempuan itu cukup pelan, begitupun dengan roda sepeda yang dituntunnya. Kakinya menginjak bebatuan dan rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu di sepanjang jalan.
Iyash terus mengambil gambar, dari mulai punggung sampai langkah kaki gadis itu. Cita-citanya bukan menjadi paparazi, hobinya memang mengumpulkan semua yang dianggapnya indah dan Aruna mungkin salah satunya.
“Senin mulai sekolah, nggak kerasa ya,” kata Iqbal. Dari jarak yang cukup jauh Iyash berhasil mendengar suara Kakak sepupunya tersebut.
“Iya,” sahut Aruna lembut dan itu membuat jantung Iyash berdesir, itu adalah kali pertama Iyash mendengar suara Aruna, meski hanya satu kata singkat, namun dia tetap suka. Iqbal dan Aruna sendiri tidak begitu menyadari keberadaan Iyash di belakang mereka.
“Kak Iqbal nanti mau kuliah di mana?” tanya perempuan berambut panjang tergerai itu seraya menoleh pada Iqbal.
“Di Jakarta, di sana Kak Iqbal akan tinggal sama orang tua Iyash, adiknya Ibu.”
“Iyash?”
“Sepupu Kak Iqbal yang kemarin datang.”
“Oh.” Aruna tiba-tiba berhenti, begitupun dengan Iqbal.
“Aruna duluan,” kata Iqbal seraya mempersilakan Aruna masuk ke dalam warung sederhana yang sedari tadi ditujunya.
“Oh, kamu cuma nganter Aruna?” terdengar suara seorang perempuan menggoda Iqbal.
Iyash pura-pura tak mendengar dan ikut masuk ke teras warung sembari terus mengarahkan kameranya. Dia mendapati Iqbal dengan lensanya tengah duduk bersama seorang perempuan yang sedang merapikan sayuran dan satu foto pun diambil.
“Yash,” panggil Iqbal.
Iyash terkesiap dan segera menjauhkan lensa kamera dari matanya, kemudian menatap kakak sepupunya itu.
“Sini, aku jajanin,” kata Iqbal.
“Memang boleh?” tanya Iyash ragu.
“Iya. Ambil yang kamu mau.”
Iyash tersenyum simpul, dia merasa kalau kakak sepupunya itu ingin terlihat keren di depan Aruna. Iyash pun berdiri tegak di samping gadis itu. “Pak, bikin susu satu, ya, Mas Iqbal yang bayar,” kata Iyash pada si pemilik warung.
“Sebentar ya,” kata Bapak pemilik warung sembari menghitung uang. “Ini kembaliannya, Run,” ucapnya pada Aruna.
“Makasih, Mbah.” Aruna nampak tergesa. Dia lekas meletakkan barang belanjaan ke dalam keranjang sepeda. “Kak Iqbal, Runa duluan,” ucapnya pada Iqbal.
Aruna pura-pura tidak melihat Iyash. Padahal dari kemarin dia dibuat penasaran dengan tampang anak Jakarta itu. Saat sudah berada di atas sepeda dan siap mengayuh, Aruna menoleh ke warung dan pandangan matanya bersirobok dengan Iyash, hanya beberapa detik setelah itu dia pergi.
“Kamu nggak nganterin Aruna pulang?” tanya perempuan yang sedari tadi masih merapikan sayuran untuk dijual.
“Sssstt.” Iqbal mengacungkan telunjuk ke dekat bibirnya sendiri. Dia tidak ingin Iyash berpikir yang macam-macam. Sepertinya dia juga takut kalau orang lain tahu bagaimana perasaannya pada Aruna. Padahal dari cara dia memandang Aruna saja sudah berbeda, Aruna juga pasti menyadari itu. Namun, Iqbal sendiri masih mengelak.
“May, kenalin ini Iyash, sepupuku dari Jakarta, dia besok mulai sekolah di sini,” kata Iqbal.
Perempuan yang dipanggil May itu tersenyum seraya mengangguk pada Iyash. “Panggil Mbak Maya saja, maaf ndak bisa salaman yo tanganku kotor,” kata Maya dengan logat jawanya.
Iyash mengangguk sembari membalas senyum perempuan itu. Akhirnya dia menghabiskan pagi harinya di warung bersama Iqbal menikmati secangkir susu panas ditemani roti kukus isi kelapa dan gula merah.
Maya sendiri adalah teman sekelas Iqbal di kelas tiga SMA. Iqbal dua tahun lebih tua dari Iyash. Dia memiliki kakak perempuan yang sudah menikah bernama Lula dan seorang adik perempuan yang masih SMP, namanya Alisya. Diantara ketiga anak Mirasih, Iqbal adalah satu-satunya laki-laki dan sepertinya paling disayang diantara yang lain.