
Di jam makan siang Ashilla pergi ke baby shop bersama Iyash, dia membeli perlengkapan bayi, mulai dari popok, susu, pakaian, dll. Semua ini karena Iyash, andai pria itu tak sembarang mengambil langkah, mungkin dia tak perlu melakukan ini, namun walau bagaimanapun Iyash sudah sangat membantu, sehingga dia tak merasa sendiri dalam kasus ini.
Sedari tadi di dalam baby shop Iyash tak berhenti memperhatikan Ashilla yang sibuk memilih semua keperluan bayi, seolah wanita itu sudah memiliki pengalaman akan hal ini. Semua yang dia lihat siang itu adalah pemandangan yang sangat memukau, sayangnya wanita itu bukan siapa-siapa, hanya orang yang Iyash anggap sebagai Aruna. Namun, seperti yang Angkasa katakan, memiliki kesamaan bukan berarti itu Aruna.
“Menurut kamu mending putih atau pink?” tanya Ashilla.
Iyash tak menyadari kalau Ashilla baru saja bertanya.
“Mending ini atau ini?” tanya Ashilla sekali lagi sembari menunjukkan pakaian di kedua tangannya.
“Hm, pink kayaknya lebih cocok buat Lily.”
“Nggak deh, bagusan putih.” Ashilla kembali meletakkan kembali baju berwarn pink.
“Kalau menurut kamu begitu, kenapa tanya aku?”
“Biar kamu nggak kayak ekor,” jawab Ashilla sembari kembali melangkah dan mulai memilih sepatu.
“Ya aku harus bgaimana?”
Kali ini Ashilla menoleh dan berdiri tegak di depan pria itu. “Ya bersikap seperti kamu ayahnya. Bukannya itu yang kamu mau?”
Iyash tergemap hingga beberapa detik.
Ashilla berdecak kesal.
Iyash melangkah maju kemudian mengambil semua barang secara asal hingga memenuhi stroller yang sedari tadi di dorongnya.
“Maksud kamu apa?”
“Bersikap seperti ayah,” gumam Iyash.
“Bukan berarti kamu memborong seisi toko.”
“Begini salah, begitu salah. Mau kamu apa?”
“Udah ah.” Ashilla mengambil alih stroller dan membawanya ke kasir. Dia malas memilah kembali barang yang sudah Iyash pilih.
Iyash mengikuti wanita itu. Namun, tiba-tiba dia mendapat panggilan dari kantor. Sementara Ashilla membayar semua barang tersebut. Dia tak berani meminta Iyash membayarnya walau hanya setengah karena Iyashlah yang sudah melunasi biaya rumah sakit.
“Shill, aku harus kembali ke kantor sekarang. Ada rapat penting, kamu nggak apa-apa sendiri?”
“Aku yang harus tanya, kamu nggak apa-apa naik taksi?”
“Aku laki-laki, sudah terbiasa di kota besar.”
Ashilla termangu.
“Aku pamit.” Iyash melengos pergi, namun itu membuat Ashilla merasa ada yang hilang.
“Mbak, ini struk sama kembaliannya,” kata kasir.
“Oh iya, makasih.”
Ashilla lekas pergi keluar sembari membawa semua barang-barang dibantu salah satu pelayan di baby shop tersebut. Dia berharap Iyash masih ada di depan dan belum mendapat taksi agar dia bisa mengantarnya. Entah dari mana asal mula pikiran tersebut, sayangnya siang itu Iyash cepat berlalu, hingga Ashilla kembali ke kantor sendiri.
***
Sepulang dari kantor Ashilla memutuskan untuk pergi ke rumah Iyash, namun dia malu jika harus datang sendiri, maka dari itu dia memutuskan untuk menelepon Iyash terlebih dahulu.
“Datang aja, nanti aku bilang sama orang rumah,” kata Iyash di telepon.
“Orang rumah itu maksudnya mama kamu?”
“Memangnya siapa lagi?” Iyash malah balik bertanya.
Ashilla mendengkus kesal. Dia malas sekali membayangkan wajah ketus ibunya Iyash. “Aku nunggu kamu aja.”
“Aku lama.”
“Nggak apa-apa, kalau nggak sekarang ya besok aja.”
“Lily butuh susu dan barang-barang lainnya.”
“Ya udah aku izin dulu. Kita ketemu di rumahku aja.”
“Hm.” Meski malas, namun Ashilla tak mungkin mundur, dia malas memperpanjang kejadian ini, jika bisa selesai hari ini itu akan sangat menguntungkan.
Ashilla melajukan mobilnya pelan, dia sengaja agar Iyash lebih dulu sampai di rumahnya. Namun, sampai dia berada di depan rumah bernuansa serba putih tersebut Iyash belum juga datang.
Ashilla terpaksa turun dan membawa beberapa barang dari bagasi. Dia pikir biar Iyash yang membawa sisanya. Di depan pintu wanita berbaju merah itu mematung. Entah kenapa dia takut jika ibunya Iyash tak sehangat ketika dirinya datang bersama Angkasa.
Dan dugaannya benar, wajah masam ibunya Iyash membuatnya ingin pulang saja, namun dia sudah terlanjur datang.
“Sore, Tante.”
Ira langsung bergeser tanpa membalas sapaan Ashilla. “Masuk,” katanya ketus.
Ashilla malah mematung.
“Tadi Iyash bilang di telepon kalau pacarnya Angkasa datang untuk menjenguk Lily.”
Entah kenapa rasanya tak enak didengar. Namun, tak urung Ashilla tetap mengucapkan terima kasih. Perlahan dia melangkah masuk, meski dengan perasaan ragu. Sejauh ini apa yang dia rasakan tak pernah meleset, namun ketika berhadapan dengan Iyash dia merasa kalau semua perasaan itu samar.
“Lily mungkin sedang tidur. Kalau kamu mau lihat, lihat saja, tapi jangan berisik,” kata Ira saat Ashilla berjalan di belakangnya.
Ashilla menghela napas, kenapa Ibunda Iyash harus bersikap seperti itu padanya? Bukankah baik datang bersama Angkasa ataupun tidak toh sama saja?
“Seharusnya nggak usah repot-repot, bayi itu juga sepertinya nggak butuh ibu angkat,” sambung Ira di depan sebuah kamar di lantai atas. “Menolong ibunya melahirkan tak menjadikan kamu harus menggantikannya, ‘kan?”
Ashilla menghela napas. “Saya mengerti, Tante.”
“Mengerti saja, tidak cukup.”
“Kamu sengaja mendekati anak saya dengan cara seperti ini?”
Ashilla lekas menggeleng.
“Kamu sudah tahu kalau Iyash dan Angkasa berteman, jangan pernah merusak pertemanan mereka.”
“Nggak, Tante.”
“Sebenarnya yang meminta kamu untuk menjadi ibu angkat bayi itu siapa?”
“Aku!” Tiba-tiba suara di belakang mereka menyambar. Seketika mereka menoleh dan mendapati Iyash di sana. Perlahan pria itu mendekat. “Aku yang minta dia buat menjadi ibu angkatnya Lily. Karena walau bagaimanapun Lily juga butuh ibu.”
“Tapi, Yash, nggak harus dia.” Ira menunjuk Ashilla. “Dia, ‘kan calon istri Angkasa.”
“Angkasa nggak akan keberatan kok, Tante. Nanti kalau kami sudah menikah, Lily akan menjadi anak angkat kami juga.”
“Ini masalahnya, seharusnya kamu tidak sampai sejauh ini, Yash.”
“Ma, aku hanya membantu.”
“Kalian bisa mengirim bayi itu ke panti.”
“Mungkin nanti, Tante, kalau ada perkembangan berita dari polisi,” kata Ashilla. Dia pun sempat berpikir demikian, namun Iyash yang menginginkan agar bayi itu dirawat oleh mereka saja.
“Ma, kalau Iyash punya istri juga nanti dia yang akan menjadi ibu angkat Lily.”
“Masalahnya kapan kamu mau menikah?” desak Ira.
“Belum ada yang cocok aja, Ma.”
“Itu karena kamu menutup hati. Kamu hanya perlu lupakan dia dan buka hati kamu buat yang lain.”
Iyash terdiam, sudah cukup nasehat sang ibu selama ini, memang semua keputusan hanya ada pada diri dan pikiran Iyash saja. Pria itu kemudian menghela napas dan menatap Ashilla. “Terima kasih sudah datang, maaf atas ketidaknyamanan ini.”
Ashilla mengangguk, meski sebenarnya dia terkejut karena sikap Ira terhadap Iyash begitu sarkas dan tak selembut Miranti terhadapnya.
“Ya sudah, Mama tinggal.”
Setelah Ira pergi meninggalkan mereka. Iyash mengajak Ashilla masuk ke kamar Lily. Aroma bayi menyeruak mengirimkan berbagai bentuk memori yang mengingatkannya pada Asa.