
Iyash dan Aruna kebingungan mencari tempat bermalam. Beruntung petugas rumah sakit mengizinkan mereka untuk ikut bermalam di sana dan di tempatkan di mushola rumah sakit. Berkali-kali Aruna mengucap terima kasih karena Jakarta tak seburuk yang dia pikirkan.
“Kalau tujuan kita baik, niat kita baik, Allah pasti pertemukan kita dengan orang baik,” kata Iyash.
Aruna hanya mengangguk. Dia menatap Iyash yang sudah merebahkan tubuh di sebelahnya dengan jaket dan tas sebagai alas kepala. Sementara dia sendiri memilih duduk dan menulis diary tentang perjalanan hari itu yang melelahkan. Dia berharap matahari menjemputnya dengan sejuta harapan dan kepastian.
***
Pukul empat dini hari Iyash terbangun dan untuk pertama kali yang dia lihat adalah Aruna tidur di sebelahnya. Bibirnya tersungging tipis. Dalam hati dia berdoa semoga Tuhan memberikan semua yang Aruna inginkan. Perlahan Iyash duduk. “Run, bangun.”
Aruna belum terbangun, sehingga Iyash terpaksa menepuk-nepuk pipi gadis itu. “Aruna, aku mau ke kamar mandi, harus ada yang jaga barang-barang kita,” bisik Iyash.
Perlahan Aruna membuka mata. Dia termangu menatap Iyash dan tak langsung menyahut, dia seperti sibuk mengingat sampai beberapa detik. Kemudian dia duduk sembari menghela napas. “Jam berapa?”
“Jam empat. Kamu tunggu di sini, aku mau ke kamar mandi dulu, bentar lagi subuh.”
“Hm.”
Iyash lekas pergi dan meninggalkan Aruna yang masih duduk sembari mengedarkan pandangan dan berhenti di tempat bekas Iyash tidur. Dia melamun cukup lama sampai Iyash kembali.
“Giliran kamu.”
“Kamu nggak mandi?” tanya Aruna.
“Nggak usah mandi, ribet, malas buka baju.” Iyash bahkan membiarkan wajahnya basah. “Jangan lama.”
“Iya.” Aruna pergi ke kamar mandi, sementara Iyash merapikan semua barang-barangnya. Dia termangu menatap buku diary Aruna yang terbuka, di sana terselip foto sebuah keluarga, Iyash yakin kalau foto itulah yang Aruna tunjukan pada perawat kemarin malam. Iyash merapikan buku diary tersebut dan memasukkannya ke dalam tas Aruna. Setelah semua rapi, dia kemudian duduk.
“Iyash, aku haid,” kata Aruna terbata. Iyash tengadah dan menatap Aruna hingga beberapa detik, seolah dia sedang mencerna maksud Aruna. “Aku nggak sholat, aku tunggu di luar,” sambung Aruna sembari mengambil tas miliknya. Namun, kemudian dia kembali, tapi Iyash masih termangu. “Aku pegangin tas kamu juga. Aku tunggu di teras.”
“Oh. Iya-iya.”
Adzan subuh pun berkumandang, setelah itu Iyash melaksanakan shalat berjamaah bersama beberapa orang petugas rumah sakit dan orang yang menjaga kerabat atau keluarga yang sakit.
Setelah selesai shalat, Iyash keluar dari mushola dan duduk di sebelah Aruna. Dia tengadah menatap langit yang masih gelap itu. “Sebelumnya aku nggak pernah tidur dengan perempuan manapun di dunia ini selain kamu.” Tiba-tiba Iyash berkata demikian. “Aku lupa kalau kita sudah dewasa,” sambungnya.
Aruna tak menanggapi karena dia tahu kalau semalam mereka hanya sedang terdesak.
“Sejak kapan kamu haid?”
“Tadi, pas aku ke kamar mandi. Semalam belum kayaknya.”
“Semalam aku tahu, kamu, ‘kan masih shalat. Maksudku umur berapa kamu mulai dewasa?” Mendadak Iyash penasaran akan hal itu.
Aruna sendiri merasa malu karena dia tak pernah membicarakan ini bahkan dengan ayahnya sendiri.
“Tiga belas? Dua belas? Atau jangan-jangan sembilan tahun?” tebak Iyash.
Aruna berdecak. “Tiga belas tahun,” jawab Aruna singkat.”
“Hm. Berarti empat tahun yang lalu.”
Aruna mengangguk. Dia nampak tak keberatan membicarakan ini bersama Iyash, lagi pula mereka sudah sama-sama belajar tentang kedewasaan laki-laki dan perempuan.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Iyash.
Tiba-tiba Aruna mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tasnya. “Aku masih ada roti, kamu mau?” tanyanya sembari menganjurkan roti dengan taburan wijen tersebut.
“Boleh. Kebetulan aku lapar.” Iyash membuka bungkusan tersebut dan memberikan pada Aruna setengah. “Kamu juga harus makan.”
Aruna mengangguk dan memakan roti tersebut. Sementara Iyash mengunyah sembari terus menatap ke arahnya.
“Kamu tahu, aku seperti mimpi bisa dekat sama kamu. Kupikir kamu memang judes.”
“Aku tahu,” sahut Aruna tanpa menoleh.
“Ya, kamu memang benar.”
Iyash menyenggol Aruna dengan sikunya. “Aku bercanda, Run.”
“Serius juga nggak masalah, toh memang kenyataannya seperti itu,” kata gadis itu seraya bangkit. “Aku minta maaf karena merepotkan kamu, soalnya aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa.”
Iyash tersenyum, dia pun berdiri sembari mengambil tasnya yang teronggok di lantai. “Tapi aku suka direpotin sama kamu. Karena kamu nggak tahu harus minta tolong sama siapa, itu artinya orang yang ada di pikiran kamu cuma aku, iya, ‘kan?” Iyash memberi jeda sembari mengambil langkah. “Senangnya,” tambahnya seraya menatap langit.
Aruna tergemap menatap punggung pemuda itu. Semalam mereka sempat menanyakan alamat rumah yang ingin Aruna datangi. Kebetulan Satpam tahu alamat tersebut, sehingga Aruna memutuskan untuk menemui Satpam yang bertugas semalam.
“Kamu mau kemana, Run?” Iyash mengejar gadis itu.
“Aku mau menagih janji pada Satpam yang katanya mau mengantar kita ke sana.”
“Ngapain? Kita bisa berangkat sekarang, Run, alamat itu dekat, kita cuma perlu satu kali naik angkot.”
Seketika langkah kaki Aruna terhenti dan dia menoleh menatap Iyash. “Kamu yakin?”
“Iya. Semalam aku ngobrol, pas kamu lagi ke toilet yang kamu bilang kamu mulas. Aku ngobrol sama Satpamnya.”
“Ya udah kita berangkat sekarang.”
Iyash menghela napas lega, lagi-lagi dia bangga karena berhasil memenangkan hati Aruna. Setidaknya Aruna tak meminta Satpam itu untuk mengantar mereka. Jika seperti itu lalu apa gunanya dia ada di sini?
Di sepanjang jalan dalam angkutan umum, Aruna terlihat cemas dan takut kalau apa yang akan dia dapatkan tak sesuai dengan apa yang dia inginkan selama ini.
Iyash yang duduk di depan Aruna terus memperhatikan gadis berambut panjang itu. “Kamu tenang, kita akan mendapat jawabannya hari ini,” kata Iyash.
Aruna menarik napas seraya mengangguk. Tak perlu waktu lama akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Aruna turun lebih dulu dan Iyash menyusul sembari membayar ongkos. Aruna menghela napas, kemudian menoleh padanya. “Yash, bener di sini?”
Sebenarnya Iyash tidak tahu, namun, dia takut mengecewakan Aruna. “Dari pada salah, mending kita tanya orang sini aja.”
Iyash lekas berjalan dan Aruna mengikutinya. “Bu, Bu,” panggil Iyash pada orang yang kebetulan lewat.
“Iya?” Wanita bertubuh gemuk itu menoleh.
“Kami sedang mencari alamat.” Iyash menoleh pada Aruna dan gadis iitu langsung memberikan buku diarynya. “Alamat ini, Bu, apa Ibu tahu?”
Hanya sekitar lima detik wanita itu mengangguk usai membaca alamat yang tertera di atas kerta. “Iya, Dek, memang di sini tempatnya. Adek-Adek ini mau mencari siapa?”
Aruna lekas mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya. “Ibu kenal sama orang ini?”
“Ini?” Wanita itu malah menatap Aruna cukup lama.
“Itu foto kedua orang tua saya,” kata Aruna.
“Bayi ini kamu?”
Aruna mengangguk.
“Kamu Aruna anaknya Gusman sama Dewi?”
“Gusman?” Kening Aruna mengernyit, dia kemudian dia menatap cukup lama.
“Pria ini bukannya Pak Ridwan ya, Bu?” tanya Iyash penasaran.
“Ini tetangga saya dulu, namanya Gusman dan ini istrinya, Dewi.”
“Oh, jadi bukan Pak Ridwan ya, Bu?” Iyash hanya ingin memastikan dan wanita tersebut menggeleng, dia lalu kembali menatap Aruna. “Ya ampun kamu sudah besar. Setelah berpisah dari ayah kamu, Dewi jadi orang kaya, bahkan dia melunasi semua utangnya sama saya, termasuk uang untuk menebus kamu dari rumah sakit.”
Jantung Aruna mencelus, dia hanya bisa membasahi tenggorokannya tanpa mengerti apa maksud dari perkataan wanita itu.