Behind The Lies

Behind The Lies
Mengumpulkan Puing-Puing Ingatan



Ashilla berdiri di depan pintu kamar Aruna. “Run,” panggilanya seraya mengetuk.


Aruna mengerjap dan segera menggasak pipinya yang basah. Kemudian dia berjalan dan membukakan pintu. “Ashilla.” Keduanya berpelukan.


Ashilla tersenyum. “Terima kasih sudah datang.”


Aruna menggeleng seraya mengurai pelukannya. “Aku akan pulang ke tempat yang seharusnya. Untuk apa aku lama tinggal di Negeri orang sementara keluargaku di sini.”


Ashilla kembali tersenyum. “Kamu menangis?”


Aruna segera menyeka pipinya. “Aku cuma ingat ayah.”


“Aku yakin ini bukan soal ayah, ‘kan?”


“Maksudnya?”


Ashilla menarik tangan Aruna dan mengajaknya ke ruang tamu yang kebetulan hanya beberapa langkah saja dari kamar yang ditempati Aruna.


Langkah kaki Aruna terhenti saat melihat Iyash tengah duduk di sofa.


“Maksud kamu apa, Shill?” tanya Aruna tanpa menoleh. “Kamu pikir aku menangis karena dia?”


“Run, tolong dengarkan aku.”


Aruna lekas menatap saudara kembarnya. “Aku harap kamu nggak ikut campur dengan masalahku. Lebih baik kamu fokus pada pernikahan kamu saja, aku kesini bukan karena dia, tapi karena kamu dan Opa.”


Jantung Iyash mencelus dan dia segera bangkit.


“Kamu dengarkan aku. Aku tahu hidupku sudah cukup rumit dan aku hanya ingin satu masalahku selesai,” kata Ashilla.


“Apa masalahmu dengan Iyash?” tanya Aruna.


Ashilla terdiam beberapa detik, sampai akhirnya Iyash datang mendekat. “Semua itu salahku. Aku mengira kalau dia adalah kamu. Aku sering membuat Ashilla dan Angkasa salah paham.”


“Sekarang kamu sudah tahu, jadi berhentilah dan jauhi kami,” kata Aruna tegas.


Iyash menggeleng. “Aku tidak bisa, Run.”


“Kenapa? Lagi pula kamu juga sudah melanjutkan hidup kamu, iya, ‘kan?” Aruna memberi jeda. Dan dalam jeda itu Iyash sadar kalau kalimat yang dilontarkan Aruna barusan adalah tenang Nadine.


“Semua tidak seperti yang kamu pikirkan.”


“Ya, kamu benar. Tapi aku mohon. Lebih baik kamu pergi.”


“Aku nggak akan pergi!” teriak Iyash geram. Pasalnya berulang kali Aruna mengusir dirinya tanpa memberi penjelasan apapun.


“Nggak usah teriak!” pekik Aruna lebih keras. “Terakhir kamu berteriak padaku, mobil kamu menabrak truk dan kita kecelakaan,” ungkap Aruna.


Seketika Iyash tergemap. Mendadak dia seperti tak mendengar apapun lagi selain kalimat Aruna barusan yang terus terngiang di telinganya.


Ashilla terperangah menatap Aruna dan Iyash bergantian. Dia tidak menyangka kalau keduanya akan saling meluapkan amarah seperti ini. Dia pikir mereka akan saling mengungkapkan perasaan masing-masing dan saling memaafkan.


“Sekarang lebih baik kamu pulang,” pinta Aruna. Namun, Iyash masih mematung dan tak mendengarnya. Entah apa yang membuat Aruna menjadi sekeras ini. Dia bahkan tak memberi Iyash kesempatan sedikitpun.


“Run, kenapa kamu harus bersikap seperti ini. Kasihan Iyash, dia seperti orang gila menunggu kamu sampai selama ini.”


“Dia memang gila karena sudah membuang waktunya untuk perempuan sepertiku,” kata Aruna tertahan.


Ashilla termangu. Keningnya mengernyit mendengar Aruna merendahkan dirinya sendiri di depan Iyash, mengingat selama ini Aruna begitu bangga dengan semua pencapaian dan kerja kerasnya.


“Aku–” Tenggorokan Iyash tercekat.


“Apalagi yang kamu tunggu? Nggak ada gunanya kamu di sini,” kukuh Aruna.


“Jelaskan semuanya, atau aku tidak akan pergi sejengkal pun.”


Iyash menoleh dan menatap Ashilla. Wanita berambut panjang itu salah, tentu saja Iyash ingin menjalani kehidupannya yang dulu bersama Aruna.


Aruna tergemap. Dia bahkan melupakan hal itu. Dia pikir surat terakhirnya tidak akan membuat Iyash menjadi seperti ini.


Aruna terkejut saat tiba-tiba Iyash berlutut di depannya. “Kecelakaan itu membuatku kehilangan sebagian ingatan yang kumiliki. Aku bahkan nggak bisa ingat sebagian kenangan kita.”


“Baguslah,” tukas Aruna cepat. Dia menghilangkan empatinya untuk Iyash, padahal hatinya terluka dan tak menyangka semua akan seperti ini. “Kamu nggak perlu repot-repot melupakan semuanya, bahkan sebelum kamu melakukannya, Tuhan sudah lebih dulu mengabulkan permintaanmu.”


Iyash terperangah menatap Aruna. Kepalanya terangkat dan dia melihat betapa angkuhnya wanita itu.


Ashilla sendiri terkejut mendengar Aruna berkata demikian. Dia tidak menyangka kalau saudaranya akan bersikap angkuh seperti ini. Sebelum ke Jakarta Aruna sempat memintanya untuk merahasiakan kalau mereka adalah kembar dan Aruna bahkan meminta Ashilla untuk menjadi sebagian dari dirinya yang lain, hanya untuk memastikan kalau Iyash masih mengingatnya. Lalu apa maksud semua ini?


“Itu bukan penjelasan,” kata Iyash geram seraya bengkit berdiri.


Aruna merasa seperti ditantang. Mungkin jika dia menjelaskan semuanya, Iyash akan pergi dan berhenti mendekatinya.


Aruna menunjuk dadanya sendiri. “Aku bisa apa saat ibumu bilang aku hanya beban?” Kedua mata Aruna berembun dan suaranya bergetar pilu.


“Aku bisa apa saat dia menyalahkanku atas semua yang terjadi?” Akhirnya setitik embun itu jatuh dari sudut mata Aruna.


“Aku bisa apa saat ibumu menghinaku dan memintaku pergi dari hidupmu?”


Jantung Iyash mencelus. Dadanya bergejolak. Dia merasa seperti ditampar ribuan kali.


“Bahkan Tuhan pun tidak memberiku kesempatan untuk menunggu sampai kamu siuman.” Akhirnya Aruna mengalah pada keangkuhannya sendiri. Dia kembali menunjuk dadanya yang sedari tadi terasa sesak. “Aku … aku hanya beban untuk kamu. Aku yang membuat kamu kecelakaan. Kita bertengkar dan itu semua gara-gara aku.”


Iyash tergemap dan menyeret mundur kakinya.


Aruna menarik napas dalam, kemudian menatap Ashilla. “Aku menyimpan semua beban itu sendirian. Kenapa dia bisa lupa?” tanya Aruna seraya menunjuk Iyash. “Kenapa Tuhan cuman menghukum aku? Susah payah aku berusaha untuk lupa, tapi sampai detik ini–” Aruna menunjuk kepalanya sendiri, “ingatan buruk itu masih mengganggu pikiranku, hatiku dan bahkan kehidupan yang kujalani selama ini.”


Ashilla menggeleng dan langsung memeluk Aruna dari samping. “Cukup, Run. Cukup.” Dia tahu betul bagaimana perjuangan Aruna untuk bangkit dari semua luka yang dirasakannya.


Kenapa harus jawaban pahit yang Iyash dapatkan? Otaknya benar-benar buntu. Dia tidak menyangka kalau semua ini terjadi karena ulah ibunya sendiri, pantas saja tak ada yang tahu ke mana Gusman membawa Aruna. Ibunya bahkan bersikap tak peduli dan menganggap kalau kematian Aruna bukan hal yang penting.


“Aku minta maaf karena memaksa kamu untuk mengatakan semuanya. Aku minta maaf kalau kamu merasakan luka itu lagi,” sesal Ashilla.


Sementara Iyash kehilangan ribuan kalimat yang sudah dia siapkan ketika tahu Aruna kembali.


Ashilla mengajak Aruna kembali ke kamar. “Tenangkan diri kamu. Setelah kamu benar-benar baik, kamu bisa jenguk Opa di rumah sakit.”


Aruna duduk di ranjang, sementara Ashilla pergi keluar dan kembali menemui Iyash yang masih mematung.


“Kamu sudah mendengar semuanya dan kamu boleh pergi,” kata Ashilla di depan Iyash.


“Shill, apa aku mimpi?” Dengan bodohnya Iyash malah bertanya demikian.


“Tolong kamu hargai Aruna. Susah payah dia bangkit, bahkan di tahun pertama kehidupannya setelah kecelakaan itu, dia takut untuk memejamkan mata dan tidur, sementara aku yakin kamu masih bisa tidur dengan nyenyak.”


Jantung Iyash mencelus. Ya, Ashilla benar, bahkan dia terus mengirimkan surat ke Surabaya untuk Aruna, semua itu karena dia mengira kalau Aruna baik-baik saja.


“Pergilah, atau nanti akan ada yang marah,” pinta Ashilla.


Iyash termangu dan seketika dia teringat pada Nadine, mungkin Aruna mengira kalau dia sudah menemukan pengganti dirinya, padahal tidak sama sekali. Aruna mungkin berpikir kalau dia dan Nadine bukan sekedar teman.


“Dengar, aku ingin mengulang semuanya dari awal, aku ingin menebus rasa sakit hati Aruna. Bilang sama Aruna kalau aku masih mencintainya.”


“Dari mana kamu tahu. Kenapa kamu yakin kalau kamu masih mencintainya, apa karena galeri di kamar kamu? Yang kamu rasakan dulu cuma cinta monyet,” kata Ashilla.


Awalnya Ashilla kagum karena penantian panjang Iyash, namun setelah tahu kalau Iyash kehilangan sebagian ingatannya dan menuntut penjelasan Aruna. Dia mengambil kesimpulan kalau Iyash hanya ingin mengumpulkan puing-puing ingatannya saja.


“Kamu benar, selama sepuluh tahun ini bahkan aku nggak pernah merasa kesepian, selain hanya ada rasa penasaran untuk jawaban yang aku inginkan dari semua pertanyaan dalam hidupku.”


Ashilla tergemap. Mungkin Iyash baru saja menyangkal perasaannya sendiri. Namun, dia tidak bisa menerka, lagi pula baik Aruna ataupun Iyash mereka punya pilihan dan jalan masing-masing untuk bisa bahagia dengan cara mereka sendiri.