
Satu Minggu kemudian setelah Angkasa sembuh total dan bekas luka di wajahnya memudar, dia mengajak Ashilla ke acara reuni SMP yang diadakan di rumah Adisty.
Ashilla melangkah keluar dari lobi sembari membalas pesan Angkasa, tiba-tiba mobil berhenti di depannya. Perlahan kaca mobil turun dan menampilkan wajah Angkasa. Ashilla termangu melihat penampilan Angkasa yang mengenakan atribut Thor. “Pesta kostum?” tanyanya dengan kening mengernyit.
Angkasa mengangguk seraya tertawa. “Aneh nggak sih?” tanya laki-laki itu.
“Aneh, lagian ngapain sih, kaya bocah?”
Angkasa kembali tertawa. “Mua gimana lagi, aturannya begitu.”
“Kenapa memang kalau dilanggar kamu dihukum?”
“Nggak juga, cuma takut ngecewain yang punya acara.”
Ashilla masih mematung di depan pintu mobil.
“Kenapa nggak masuk?”
Ashilla pun lekas masuk dan duduk di sebelah kekasihnya. “Seumur hidup aku belum pernah hadir ke acara reuni,” katanya sembari mengenakan sabuk pengaman.
“Kenapa? Padahal seru.” Angkasa mulai mengemudi. “Kita bisa mengenang masa lalu.”
Ashilla menggeleng.
“Terakhir kali reuni itu pas acara ulang tahun Adisty sepuluh tahun lalu.”
“Lama ya?”
“Kami sama-sama sibuk. Mumpung aku ada di sini, jadi pengen hadir. Aku juga udah siapin kostum buat kamu.”
“Aku nggak mau pakai,” tolak Ashilla cepat, padahal dia sendiri belum melihat kostum tersebut.
“Kenapa?” Sekilas Angkasa menoleh. “Nggak usah malu, kita semua juga pakai kok. Teman-temanku juga di sana pakai.”
“Nggak malu, tapi aneh aja. Aku nggak mau.”
“Harus mau.” Angkasa bersikukuh.
“Nggak! Kalau kamu maksa aku nggak mau ikut. Kamu pergi sendiri aja.”
“Nggak kok, aku bercanda. Serius, aku nggak nyiapin kostum apa-apa buat kamu. Ini aja aku nyewa.”
Ashilla menatap pria yang sedang mengemudi itu. “Iyash ada?”
Seketika Angkasa menoleh. “Kamu kok nanyain dia?”
“Dia teman SMP kamu, ‘kan?”
“Iya, tapi kenapa kamu harus nanya dia?”
“Pengen tahu aja.”
Angkasa menghela napas. Entah kenapa dia takut Ashilla berpaling darinya. Dengan cepat dia menggenggam tangan Ashilla. Dia ingin berkata kalau Ashilla punya dirinya.
Ashilla tersenyum dan membalas genggaman tangan itu dengan menyandarkan kepala di bahu Angkasa. Tak berapa lama setelah melewati dua pertigaan akhirnya mereka sampai di depan rumah Adisty. Semua kendaraan sudah berjejer di halaman rumah tersebut.
“Di sini?”
“Iya,” jawab Angkasa seraya membuka sabuk pengaman. Dia kemudian turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuk Ashilla. Apa yang dilakukan Angkasa membuat teman-teman perempuannya menjerit iri.
Dia menautkan jemari di jari-jari tangan Ashilla, sementara satu tangannya melambai pada yang lain.
“Angkasa,” panggil teman-teman perempuannya bersamaan. “Model internasional.”
“Gue kira datang sendiri,” kata Sarah seraya mendekat.
“Ngapain sendiri, ‘kan udah nggak jomblo.” Angkasa kemudian menatap Ashilla. “Sayang, ini Sarah.”
“Hai.” Ashilla mengulurkan tangan, namun Sarah mengabaikannya dan memilih pergi begitu saja. Ashilla merasa gondok seraya menurunkan tangan.
“Udah nggak apa-apa,” kata Angkasa sembari menggenggam erat tangan kekasihnya. Dia kemudian berjalan dan mengenalkan Ashilla sebagai calon istrinya pada siapapun yang ditemuinya.
“Cewek Angkasa cantik sih, tapi nggak menarik. Kalau dilihat lama ngebosenin,” kata Sarah pada teman perempuannya yang lain.
“Iya, biasa aja,” sahut temannya yang lain. “Mungkin kurang seksi.”
Ashilla hanya bisa menelan ludah. Angkasa sendiri mungkin tak mendengar para perempuan karena pria itu tampak sibuk mengobrol dengan teman-teman yang lain.
“Angkasa,” sapa Adisty sembari memeluk Angkasa sekilas. “Gue seneng lo dateng.” sambut Adisty ramah. Namun, dia tak menatap Ashilla.
“Makasih, Dis,” kata Angkasa.
Ashilla lekas mengarahkan pandangan ke tempat lain dan di pinntu utama dia terkejut ketika melihat kedatangan Iyash dengan blazer coklat, seperti yang dia temui di resto seminggu yang lalu.
“Sayang.” Angkasa menarik kursi untuk diduduki Ashilla. Kemudian mereka duduk bersebelahan di antara kursi dengan meja berbentuk oval. Entah kenapa kemeriahan malam itu membuat Ashilla tidak nyaman. Dia terus merangkul tangan Angkasa, seolah memang takut ditinggal sendirian di antara keramaian tersebut.
“Dipegang terus, kenapa? Takut pacarnya gue ambil?” celetuk Sarah.
Ashilla menoleh cepat ke arah wanita itu. Sudah beberapa kali Sarah membuatnya gondok, dia sampai hafal suara wanita itu.
Angkasa tersenyum sinis. “Kenapa memangnya, Sar, Kalau cewek gue nyamannya kayak gini?” Angkasa mengedikkan bahu. “Nggak ngerugiin leu juga, ‘kan?”
Sarah mendelik dan melengos pergi ke tempat duduknya. Perlahan orang-orang berdatangan dan memilih tempat duduk masing-masing. Hingga tempat duduk sudah penuh dan hanya menyisakan satu kursi kosong di sebelah Ashilla yang baru saja di duduki Iyash.
Ashilla lekas berpaling dari pemuda itu. Jantungnya berdegup kencang. Jangan sampai Angkasa mendengar suara debar di balik dadanya. Dia juga tidak ingin Angkasa menyadari kegugupannya.
“Angkasa,” panggil Kevin. “Cewek lu cantik, kenalin dong.”
“Ah biasa aja, cewek nggak ramah begitu dibilang cantik,” sahut Sarah.
Jantung Ashilla mencelus. Dia ingin sekali bertanya pada wanita itu. Apa Sarah punya masalah dengannya? Padahal jelas-jelas mereka baru pertama kali bertemu.
“Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat kecantikannya, Sar,” bela Angkasa.
“Angkasa, dari tadi dipegang terus, tapi nggak dikenalik ke kita,” kata Lisa yang kebetulan duduk di sebelah Adisty.
“Oh iya. Kenalin, ini Ashilla, calon istri gue. Anaknya Tante Miranti Faradisa, lu tahu? Fashion desainer tempat gue jadi model,” ungkap Angkasa bangga.
“Oh nyokapnya itu majikan lo?” seloroh Kevin.
“Halah, si Angkasa pacarin si Ashilla kayaknya karena dia anak Miranti Faradisa, kalau bukan mungkin Angkasa nggak bakal lirik dia. Kalau dilihat-lihat si Ashilla ini bukan tipe Angkasa,” kata Adisty.
Jantung Ashilla kembali mencelus. Dia sampai melepaskan genggamannya dari Angkasa saking merasa kesal.
“Memangnya lu tahu, tipe gue, Dis?”
Angkasa lekas menarik tangan Ashilla dan kembali menggenggamnya. Dia tahu kalau Ashilla tidak nyaman berada di sana, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan tempat itu, apa kata teman-temannya nanti.
“Ya, nggak juga sih, tapi kalian nggak cocok dan kelihatan terlalu dipaksain, jadi kesannya jomplang.”
“Yang jomplangnya di bagian mana? Jangan sok-sokan ngomentarin hubungan orang, Dis, kalau lu sendiri belum nyoba gimana indahnya berpasangan,” kata Angkasa tetap tenang.
Ashilla tertunduk seraya tersenyum. Dia tahu kalau Angkasa tidak akan diam saja ketika orang lain memojokkannya.
Adisty berdecak. Sebenarnya dia merasa gondok, namun dia tidak mungkin membuat kekacauan di tempatnya sendiri, bisa-bisa pestanya bubar, seperti sepuluh tahun yang lalu.
Tak ada yang tahu kalau ini adalah acara pertama yang Adisty adakan setelah sepuluh tahun, bahkan selama sepuluh tahun itu dia tak pernah merayakan kembali hari ulang tahunnya.
“Kenapa nggak pakai kostum, Yash?” tanya Martin tiba-tiba di saat orang lain sedang membahas hubungan Angkasa dan Ashilla.
“Nggak sempat, tadi pulang kerja langsung ke sini,” jawab Iyash.
Mendengar suara ramah Iyash, Ashilla ingin menatap pria itu, namun dia tak bisa sehingga yang terlihat hanya tangannya saja. Blazer coklat dan aroma musk yang menguar dari tubuh pria itu mengingatkannya kembali dengan kejadian ketika pertama kali mereka bertemu.
“Nggak apa-apa yang penting kamu datang,” ucap Adisty. Wanita itu kemudian menatap Angkasa dan memberikan isyarat bahwa tak seharusnya Iyash duduk di sana.
Angkasa lekas menoleh pada Ashilla dan Iyash. “Sayang, kamu duduk di sini ya.”
“Kenapa?” Ashilla tengadah menatap Angkasa
“Biar aku di sana aja. Tukeran.”
Ashilla mengangguk dan pindah ke tempat duduk Angkasa. Sementara Iyash merasa dongkol karena Angkasa cukup menguasai wanita yang dia yakin adalah Aruna itu.