Behind The Lies

Behind The Lies
Semua Tak Lagi Sama



Tepat pukul dua siang, Aruna terbangun dari tidurnya. Sore ini dia akan mengunjungi kakeknya di rumah sakit, beruntung tadi Ashilla memintanya untuk beristirahat sebelum ke rumah sakit karena benar saja, dia sangat lelah dan tubuhnya terasa pegal.


Usai mandi dia merasa lebih segar. Setelah selesai bersiap dia keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan, lalu membuka tudung saji. Makanan yang tersedia di meja tak sedikitpun menarik minatnya. “Bi,” panggil Aruna pada Bi Sumi.


“Iya, Non.” Bi Sumi lekas keluar dari kamar. Dia tak terus-menerus mengurus pekerjaan karena jika sudah selesai dia bisa sedikit bersantai.


“Saya nggak makan makanan berkuah santan, tolong bibi buatkan saja telur ceplok sama acar wortel, saya sudah lapar.”


“Baik, Non.”


“Jangan terlalu banyak, buat untuk makan siang saja, karena saya tidak akan mengulangi menu yang sama."


"Iya, Non."


"Setelah itu saya mau ke rumah sakit. Pak Yayan di mana?”


“Di mushola.”


“Ya sudah, cepat buat, saya tunggu di ruang tamu.”


“Baik, Non.” Bi Sumi berjalan ke dekat kompor dan mulai memasak.


Sementara perlahan Aruna pergi ke ruang tamu dan duduk seraya memeriksa ponsel, ketika hendak membalas beberapa pesan masuk, tiba-tiba bell berdenting. Wanita berbluese longgar tanpa lengan itu bangkit dan berjalan ke dekat pintu. Baru saja memegang knop pintu, bell kembali berbunyi.


“Cari siap–” kalimatnya tersendat kala melihat wajah itu lagi.


Iyash mematung di depan pintu. Tadi dia ke rumah sakit, namun tak menemukan Aruna di sana, sehingga dia memutuskan ke sini.


Aruna sendiri termangu. Sama halnya dengan Iyash yang tampak bingung harus berkata apa.


“Maaf,” ucap keduanya bersamaan setelah sama-sama terdiam selama beberapa detik.


Aruna kemudian tertunduk. “Aku … hhhhh ….” Dia lalu menarik napas dalam dan entah di detik ke berapa Iyash mendekapnya ke dalam pelukan.


“Aku minta maaf, Run. Maaf atas semua yang aku lakukan.”


Dada Aruna sesak mendengar Iyash berkata demikian. Aruna tak ingin Iyash menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian sepuluh tahun yang lalu, karena itu adalah kesalahannya.


“Ini semua salahku, sampai aku nggak berani menunjukkan wajahku di depan kamu,” isak Aruna pelan.


Iyash menggeleng. “Kenapa harus pergi? Kenapa?”


Aruna tak berani menjawab pertanyaan itu, dia mendorong tubuh Iyash agar menjauh dan berhenti memeluknya.


“Aku selalu yakin kalau kamu akan kembali. Hatiku selalu menolak kabar buruk itu.” Iyash menggenggam pipi Aruna. “Aku senang kamu baik-baik saja.” Dia kemudian menunjuk dadanya sendiri. “Aku sakit saat saat mendengar kamu sudah meninggal.”


Aruna lekas tertunduk dan terus meneteskan air mata. Dia merasa kejadian itu seperti baru terjadi kemarin.


“Run, please, jangan pergi lagi.”


Aruna menarik napas dan menjauhkan wajah dari tangan Iyash. “Aku nggak punya alasan untuk tetap di sini.”


“Aku. Jadikan aku sebagai alasan,” pinta Iyash.


Dulu Aruna pergi untuk kebahagiaan Iyash, sekarang pun hal yang sama akan dia lakukan, apalagi Iyash sudah memiliki pengganti dirinya.


Aruna kembali menarik napas. Rasanya bongkahan batu itu masih menghimpit dadanya. Dulu Iyashlah yang dia punya, bahkan dia menempatkan Iyash lebih dari dirinya sendiri. Dia lebih percaya Iyash daripada ayahnya. Namun, dia sadar kalau bayangannya saja pergi ketika dia dalam kegelapan, lalu kenapa dia harus bergantung pada orang lain? Karena setelah Ira memintanya pergi, dia menemukan hidupnya yang lain yang jauh lebih baik.


“Sebaiknya kamu pulang. Anggap kita nggak pernah ketemu.” Suara Aruna tercekat. “Anggap kamu nggak kenal aku.”


Iyash tercengang. Dia seperti baru saja dihempaskan ke ujung langit. Dia mengharapkan pertemuan ini, tapi Aruna tidak.


“Kenapa?” Suara Iyash bergetar.


“Maaf ….” Aruna hendak menutup pintu, namun, Iyash menahannya.


“Beri aku satu alasan,” pinta Iyash. “Kenapa aku harus berpura-pura?”


“Karena semua tak lagi sama.”


“Sepuluh tahun aku menunggu kamu.”


“Nggak ada yang minta. Ibu kamu sudah bilang kalau aku sudah tidak ada, kenapa kamu masih menungguku.”


“Surat terakhir kamu!” Iyash menahan tangan Aruna, ketika wanita itu hendak kembali menutup pintu. “Lembar terakhir diary kamu, yang kamu tulis sehari setelah kita kecelakaan, sedangkan ibuku bilang kamu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.”


 Aruna termangu. Dia menoleh ke belakang karena takut Bi Sumi mendengar teriakan Iyash. Dia lekas keluar dan menutup pintu. “Sekarang mau kamu apa?”


“Ikut aku.” Iyash menarik tangan Aruna dan membukakan pintu mobil untuknya. Namun, Aruna tak paham dengan maksud pria itu.


“Maksud kamu apa?”


“Masuk, aku ingin tunjukan sesuatu.”


Aruna mematung. Seketika dia teringat dengan kecelakaan itu lagi. “Aku nggak mau.” Aruna menggeleng seraya mundur.


“Kamu harus ikut aku, agar kamu tahu kalau aku sudah menepati janjiku.”


Aruna kembali menggeleng. “Aku nggak mau.”


“Kamu harus mau.” Iyash kembali menarik tangan Aruna.


“Kamu kenapa, Yash?!” teriak Aruna sembari mengempaskan tangan Iyash, namun pria itu malah mencengkramnya kuat. “Aku bilang nggak mau, nggak mau. Kamu nggak bisa paksa aku karena kita sudah bukan siapa-siapa lagi.” Air mata terjatuh menyentuh kedua pipi Aruna.


Iyash terperangah seraya melepaskan genggaman tangannya.


“Dulu aku memang memanfaatkan kamu karena aku tak mampu berdiri sendiri. Sekarang aku bisa tanpa kamu. Dia membuka lebar kedua tangannya. “Kamu lihat. Aku bukan Aruna yang dulu.”


Jantung Iyash mencelus. Dia merasa terhina dengan perkataan Aruna.


“Lebih baik sekarang kamu pulang dan berpura-puralah tidak mengenalku. Berpura-puralah kalau kita tak pernah memiliki hubungan apapun.”


Kedua mata Iyash membola. “Aku telah membuang sepuluh tahun waktuku untuk menunggu kamu. Aku berharap bisa memperbaiki semuanya seperti dulu.”


“Seperti dulu yang mana?” Aruna memberi jeda pada kalimatnya. “Kamu lupa kalau aku pernah minta maaf dan kamu bersumpah tidak akan memaafkanku.” Aruna menunjuk dadanya sendiri. “Panah berapi itu tertancap di sini.”


Gelegar petir seperti baru saja menyambar Iyash. Andai dia bisa mengingat apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu, mungkin dia tak akan tersesat seperti sekarang.


Aruna sendiri sengaja bersikap seperti itu karena ada perasaan yang harus dijaga. “Maaf,” kata Aruna pelan. Dia kemudian berbalik dan pergi dari hadapan Iyash.


Aruna menangis tersedu-sedu dan berlari ke kamar. Dadanya kembali terasa sesak, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Seharusnya dia sudah sembuh, dia sudah ikhlas, tapi kenapa rasanya masih terasa begitu menyakitkan? Bahkan berkali lipat dari yang dia rasakan sebelumnya.


Iyash merasa gamang, pikirannya kacau, kepalanya terasa seperti ingin pecah. Dia berjalan lesu meninggalkan teras rumah Ganjar. Namun, tiba-tiba dia tersadar ketika berpapasan dengan Ashilla.


Ashilla berhenti melangkah dan menatapnya. “Kenapa?”


Iyash lekas mendekat. “Aku tidak tahu kalau kalian dua orang yang berbeda, aku minta maaf untuk semua sikapku selama ini.”


Ashilla terpegun. Rupanya Iyash sudah bertemu dengan Aruna. “Terus?”


“Bantu aku untuk bisa kembali dengannya.”


Ashilla mengernyit. “Aku nggak bisa.”


“Setidaknya sekali saja, aku hanya ingin tahu kenapa dia pergi meninggalkanku.”


Jantung Ashilla mencelus. Melihat kesedihan yang berpendar di kedua mata Iyash dia merasa tidak tega. Apalagi melihat obsesinya selama ini “Apa yang bisa aku lakukan?”


Ditanya seperti itu Iyash malah bingung. Dia tak mampu berpikir dan membuat rencana apapun saat ini.


“Kamu tunggu di sini,” kata Ashilla. Wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah, tapi Iyash malah mengikutinya.


“Apa aku boleh masuk?” tanya Iyash.


Ashilla mengangguk. “Masuk dan duduklah. Akan kupanggilkan Aruna.”