
Bias biru dan kicau burung menjadi pengantar kaki Iyash untuk terus mengayuh sepeda. Di tengah perjalanan tiba-tiba dia melihat Aruna sedang kepayahan menuntun sepeda lantaran rantai sepedanya terlepas.
“Kenapa, Run?” tanya Iyash seraya berhenti di sebelah Aruna.
Aruna hanya menoleh dan tak menjawab. Sejak kemarin setelah sindiran dan cibiran teman-teman yang lain, Aruna kembali bersikap dingin. Dia bangkit dan menuntun sepedanya. Iyash pun lekas mengikutinya.
“Kamu naik sepedaku aja, Run. Biar sepedanya di titip di warung,” usul Iyash. Namun, Aruna mengabaikannya.
Gadis itu memang mampir ke warung Mbah Yanto. “Mbah, Runa nitip sepeda ya, rantainya copot,” ucap gadis itu seraya menurunkan standar sepedanya.
“Oh, iya, Nduk. Simpan saja di sana,” kata Mbah Yanto.
“Makasih ya, Mbah, Runa berangkat dulu.” Gadis itu tak menerima tawaran Iyash untuk pergi ke sekolah bersama.
“Iya, hati-hati.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Run,” panggil Iyash. “Udah kamu naik sini, capek loh jalan kaki.” Iyash masih berusaha untuk membuat Aruna luluh. Namun, gadis itu tetap mengabaikannya dan kembali berjalan.
Iyash menghela napas. Dia kemudian berbalik dan kembali ke warung Mbah Yanto.
“Mbah, bengkel yang dekat di sini di mana ya?” tanya Iyash langsung sembari meletakkan sepedanya di sebelah sepeda Aruna.
“Di sana.” Mbah Yanto menunjuk dengan tangan kanannya. “Lurus saja, nggak terlalu jauh dari sini. Bengkel Rejeki, namanya.”
“Siap, Mbah, makasih, saya titip sepeda saya, soalnya saya harus bawa sepeda Aruna ke bengkel.”
“Kamu siapa?” tanya Mbah Yanto.
“Saya Iyash, cucunya Kakek Hartanto.”
“Oh yang dari Jakarta itu?”
“Iya, Mbah.”
Sudah sering Iyash ke warung, tapi Mbah Yanto sepertinya masih tidak mengenalinya. Setiap ke warung selalu anak atau cucu pemilik warung tersebut yang melayaninya.
Dengan penuh semangat Iyash menuntun sepeda Aruna menuju bengkel. Dia tidak bisa membetulkannya, karena dia pikir mungkin saja ada komponen yang perlu diganti dengan yang baru.
Dua puluh menit Iyash sampai di depan bengkel. “Katanya deket,” gerutu pemuda itu sembari meletakkan sepeda Aruna di depan bengkel yang masih tutup. “Assalamualaikum,” teriaknya. “Mas, Mbak, saya mau memperbaiki sepeda.”
Tak berapa lama pemilik bengkel ke luar dari kediamannya. “Kenapa, Dek?”
“Ini rantainya udah jelek, saya mau ganti yang baru.”
“Kamu ke sekolah pakai sepeda perempuan?” goda si pemilik bengkel.
“Iya,” jawab Iyash penuh percaya diri. “Lagi pula ini sepeda nggak ada kelaminnya toh.”
Pemilik bengkel malah tertawa mendengar lelucon pemuda itu. “Mau diambil jam berapa?”
“Jam setengah sepuluh, ya.”
Pria pemilik bengkel itu menatap arlojinya. “Iya, bisa-bisa.”
“Berapa?”
“Nanti saja.”
“Terima kasih, Pak, jam setengah sepuluh, pokoknya jam istirahat saya ambil,” kata Iyash sembari berjalan ke luar bengkel. Dia kemudian berlari menuju warung Mbah Yanto. Bak seorang pelari sejati, Iyash membuktikan kalau kedua kakinya bisa lebih cepat dari yang biasa dia lakukan.
Iyash melesat bersama sepedanya, hingga rambutnya sedikit berantakan terbawa angin. Kilau pomade bercampur dengan keringat di dahinya. Mengebut menuju sekolah menguras banyak tenaga sampai dia merasa kehausan.
Sesampainya di depan sekolah, dia segera meletakkan sepedanya di bawah pohon, lalu berlari ke gedung sekolah lantai dua sambil terengah-engah. Di depan pintu kelas pemuda berkulit putih itu berdiri sembari menghela napas panjang. Beruntung gurunya belum masuk. Saat mendengar suara deheman Bu Rasti, Iyash terkesiap.
“Kamu terlambat?” tanya Bu Rasti seraya masuk.
Iyash berbalik dan lekas menggeleng. “Saya lebih dulu loh dari Ibu,” katanya sembari berjalan mundur masuk ke dalam kelas, kemudian duduk di sebelah Aruna, sementara Umam sendiri duduk bersama Naya. Sejak Iyash dan Aruna dekat mereka memang bertukar tempat.
“Siap latihan hari ini?” tanya Bu Rasti.
“Ya, Bu.”
Iyash sibuk mencari bolpoinnya di dalam kotak pensil juga di dalam tasnya. Dia kemudian menoleh pada Aruna. Namun, gadis itu tampak dingin, membuat Iyash enggan bertanya padanya. “Ada yang punya dua bolpoin nggak? Punyaku ketinggalan di rumah.”
Iyash mengedarkan pandangan, namun, tak ada yang memberinya bantuan, saat pandangannya berakhir pada Aruna, gadis itu mengacungkan bolpoin ke depan wajah Iyash. Seketika bibir Iyash tersungging tipis. Dia kemudian mengambil bolpoin dari tangan Aruna. “Makasih ya, Run. Tahu begini aku nggak akan buat pengumuman.”
Aruna mengangguk. Gadis itu kembali menulis.
***
Jam Istirahat, Iyash segera pergi untuk mengambil sepeda Aruna, sehingga tak sempat berkumpul dengan teman-temannya terutama Aruna. Seperti sebelumnya, Iyash menitipkan sepedanya ke warung Pak Yanto, lalu berlari ke bengkel.
Iyash berlari sekencang-kencangnya persis seperti pelari andal untuk bisa sampai ke bengkel dan kembali ke warung Pak Yanto sembari mengayuh sepeda Aruna. Dia senang karena sepedanya sudah berfungsi dengan baik. Setelah itu, dia menitipkan sepeda Aruna di warung Pak Yanto, lalu kembali ke sekolah menggunakan sepedanya sendiri.
Panasnya cuaca siang itu membuatnya kehausan, dia lupa tak membeli air minum. Jarum pendek pada jam tangannya juga sudah menunjukan kalau jam istirahat akan segera berakhir. Dia segera mempercepat laju sepeda. Sesampainya di sekolah rasa lelah membuatnya terengah-engah. Iyash pun memutuskan ke kantin untuk membeli minum.
“Ada Kak Iyash,” kata seorang gadis kelas satu bernama Seruni.
Iyash tak menghiraukan suara itu dan segera menghabiskan minumannya.
“Kak Iyash, tadi Uni lihat Kak Iyash ke bengkel bawa sepeda Kak Aruna.”
Seketika Iyash menoleh pada Seruni. Namun, dia tak menanggapi dan hanya tersenyum.
“Ciee, so sweet banget. Kalian pasangan yang serasi. Jangan bertengkar lagi, kasihan kak Aruna tadi sendirian.”
“Siapa yang bertengkar?”
“Oh nggak ada ya?” Seruni terkekeh. “Mungkin karena tadi Uni nggak lihat Kak Iyash bareng Kak Aruna lagi.”
Iyash tersenyum simpul. Belum lama dia bersama Aruna, tapi saat berjauhan sebentar orang-orang mengira mereka bertengkar.
Iyash bangkit. “Duluan,” kata Iyash. Dia pun lekas pergi ke kelas dan mengempas bokongnya di kursi sebelah Aruna tanpa banyak bicara apa-apa. Napasnya masih terengah-engah, wajar saja karena dia baru melakukan tindakan terpuji dengan membantu Aruna memperbaiki sepeda, meski Aruna sendiri tidak tahu akan hal itu.
Aruna menatap Iyash lama sekali. Namun, saat Iyash menoleh padanya, dia lekas mengalihkan pandangannya ke depan.
“Makasih pulpennya,” kata Iyash sembari meletakkan bolpoin Aruna di meja.
“Pakai aja,” kata Aruna tanpa menoleh. “Hari ini pelajaran Sosiologi. Mungkin akan nulis banyak materi,” sambung gadis itu.
“Aku nggak nulis, pinjam catatan kamu aja.” Kepala Iyash terkulai di atas meja. “Capek,” keluhnya pelan.
“Kenapa?” Kedua mata Aruna membola dan menatap Iyash. Seketika pemuda itu menegakkan kepalanya dan menatap gadis bermata coklat tersebut. Namun, Aruna kembali menatap ke depan. “Ya udah terserah kamu aja,” katanya pelan.
Seketika bibir Iyash tersungging dan kembali tertunduk di atas meja.
“Hari ini Bu Mayang tidak masuk, anak-anak hanya diberi tugas untuk menulis materi,” kata Bayu selaku ketua kelas.
***