Behind The Lies

Behind The Lies
Pria di Restoran



Miranti menggeleng dan perlahan melepaskan genggaman tangan pria itu. “Anak kamu atau bukan, aku sudah susah payah membesarkannya sendirian.”


“Mir, sekian lama aku mencari kamu, aku berharap bisa bertemu, tolong izinkan aku bertanggung jawab atas semua yang terlewat dalam hidupku.”


“Aku sudah ikhlas dan aku sudah bahagia bersama anak dan juga cucuku,” kata Miranti. Dua detik kemudian dia berbalik dan masuk ke dalam mobil.


Sementara itu jantung Ashilla mencelus mendengar sebuah kenyataan yang dia sendiri tak mengerti kenapa harus seperti ini?


Hasa sendiri berbalik karena hendak kembali ke dalam restoran, namun dia mematung dan pandangan matanya bersirobok dengan Ashilla. Dia tak berani menyapa, pun dengan Ashilla yang merasa sangat asing dengan pria tersebut. Ashilla lekas mengambil langkah dan berjalan ke dekat mobilnya.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan sedangkan mobil Miranti berlalu dari tempat itu, satu keluarga turun dari mobil dan mendekat pada Hasa. “Papa nunggu di luar?”


 Ashilla lekas menoleh dan jantungnya mencelus kala melihat wanita yang baru saja memanggil ‘Papa’ pada Hasa dan itu adalah ibunya Iyash, sedangkan satu orang laki-laki adalah kakaknya Iyash beserta anak dan istrinya.


“Iyash nanti dari proyek langsung ke sini,” kata Ira.


Jantung Ashilla berdebar dan menyesakkan. Dia lekas masuk ke dalam mobil sebelum Ira menyadari keberadaannya. Namun, dia tak langsung melaju dan malah berdiam diri di belakang kemudi, meski keluarga itu sudah masuk ke dalam restoran.


Tak berapa lama Ashilla melihat motor Iyash berhenti di depan restoran, jantungnya berdegup tak karuan. Jika ibunya pernah ada hubungan dengan ayahnya Iyash, lalu apa hubungannya dengan Iyash?


Iyash tak menyadari keberadaan Ashilla, dia lekas masuk ke dalam resto, tak biasanya sang ayah mengajaknya berkumpul di siang hari, mungkin karena makan malam sering terlewat. Keluarganya sudah berkumpul di dalam. Ada kedua orang tuanya, Rasya, Priska, Queensha dan si kecil Prince.


 “Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Belum terlambat, ‘kan?” tanya Iyash seraya duduk.


“Baru mau mulai,” jawab sang ibu. “Di luar sudah agak mendung, kamu nggak kehujanan?”


Iyash menggeleng.


“Punya mobil, tapi jarang dipakai,” kata Rasya.


“Nanti kalau sudah berkeluarga baru dipakai,” jawab Iyash.


Sementara Hasa nampak melamun merenungkan kejadian beberapa menit yang lalu. Perempuan yang bersama Miranti adalah orang yang sangat mirip dengan Aruna yang pernah dia dengar ceritanya dari sang istri. Ira waktu itu bercerita tentang kekasih Angkasa yang sangat mirip dengan Aruna.


“Papa kenapa?” tanya Iyash.


“Nggak apa-apa. Yuk langsung pesan aja.”


Iyash mengangguk dan mulai melihat-lihat menu siang itu di restoran favorit mereka. Setelah mencatat pesanan pelayan pun pergi meninggalkan meja tersebut.


“Kamu bilang, nanti kalau sudah berkeluarga mobilnya dipakai? Memang calonnya sudah ada?” tanya Ira penasaran.


“Ada.”


“Kenalin dong,” goda Ira.


“Iya nanti cepat atau lambat Iyash kenalin.”


Ira tersenyum, pun dengan Hasa yang tampaknya masih mengawang dan belum sepenuhnya menikmati acara tersebut, sementara Rasya dan Priska sedang mencoba menenangkan Queensha dan Prince yang sedang berebut kertas menu. Queensha sedang senang-senangnya membaca sedangkan prince, bocah satu tahun itu sedang senang-senangnya merebut apa saja yang dipegang kakaknya.


***


Malam hari Ashilla tampak lesu, apalagi Miranti menghindari kejadian siang tadi. Wanita itu sibuk mengemas pakaian karena besok dia harus kembali ke New york. Kejadian siang tadi bukan alasan kembalinya Miranti ke sana, tapi sebelumnya dia sudah membicarakan ini dengan Ashilla dan Ganjar juga, bahkan Asa pun sudah tahu.


“Bund, diundur aja ya, Shilla masih butuh Bunda,” kata Ashilla sembari melangkah masuk ke kamar Miranti.


“Terlalu lama, Shill.” Miranti memasukkan pakaian ke koper.


“Belum juga seminggu. Baru tiga hari, masa pulang?”


“Kita sudah bicarakan ini sejak awal.”


“Bund, please.”


“Nggak bisa, Shill,” kata Miranti sembari tetap mengemas dan tak melihat Ashilla.


“Setidaknya Bunda jelaskan kejadian tadi.”


Seketika Miranti menoleh. “Nggak ada yang perlu dijelaskan, dia bukan Papa kamu.”


Ashilla tergemap.


“Itu masa lalu dan Bunda malas membahasnya karena bisa berpengaruh pada masa kita saat ini.”


Ashilla menghela napas. “Apa itu Papanya Kak Edgar?”


“Shilla!” bentak Miranti.


Ashilla terkesiap.


Miranti sudah meminta Ashilla diam dan tak membahasnya, tapi kenapa Ashilla malah terus memaksanya?


“Maaf, Bund.” Ashilla langsung memeluk Miranti. Selama ini dia berusaha untuk tidak membuat Miranti marah karena walau bagaimanapun hanya Miranti yang dia miliki. “Maaf, Shilla janji nggak akan mengungkit orang itu lagi.”


Miranti mengangguk seraya menepuk punggung Ashilla. “Sometimes we need ourselves more than anyone else.”


Ashilla mengangguk.


“Jangan sampai keberadaan kamu di sini mengubah tujuan kamu.”


Ashilla kembali mengangguk dan perlahan Miranti melepaskan pelukan. “Men are not everything.” Miranti menggenggam pipi sang anak. “Kamu harus buktikan kalau kamu kuat tanpa mereka.”


“Jika kamu menemukan masa lalu kamu di sini, ingatlah tak seharusnya kamu kembali ke masa itu,” tambah Miranti.


Ashilla tercenung.


“Bunda berangkat malam ini.”


“Besok aja,” rengek Ashilla.


“Terkadang kamu lebih manja dari anak kamu sendiri.” Miranti mencubit hidung anaknya sampai memerah. Dia kemudian pergi dari kamar sambil menyeret koper. Perlahan Ashilla melangkah mengikutinya.


“Opa dapat kabar cucu Pak Yayan masuk rumah sakit karena kejang-kejang,” kata Ganjar saat melihat Miranti menyeret koper.


Miranti menghela napas dan menoleh pada Ashilla. “Kamu terpaksa harus mengantar Bunda.”


Ashilla sudah cukup membujuk wanita itu, namun penerbangannya tak bisa ditunda. Asa berlari memeluk pinggang Miranti.


“Nanti Bunda ke sini pas ulang tahun Asa,” kata Miranti pada bocah itu.


Miranti tersenyum seraya mengangguk. Asa pun melepaskan pelukannya.


“Asa tunggu di rumah. Mama mau nganter Bunda ke Bandara.”


Asa mengangguk. Sementara Miranti sedang pamit pada sang ayah. Ganjar sudah terbiasa ditinggal pergi dan dia tak berusaha menahan Miranti di sini.


Ashilla membantu ibunya membawa koper keluar, kemudian memasukkannya ke bagasi dan Miranti sudah duduk di depan. Ashilla pun duduk di sebelahnya dan siap dengan kemudi, perlahan di menoleh pada sang ibu. “Sure, Bund?”


“Ya.”


Mobil pun melesat pergi meninggalkan halaman rumah Ganjar. Tiga hari berkumpul cukup  memberi kesan indah di hati masing-masing. Meski saat ini ada sesuatu yang mengganjal di hati Ashilla terkait pertemuan sang ibunda dengan ayahnya Iyash.


“Maaf, membahas kejadian tadi lagi, tapi ini benar-benar mengganjal, Bund.”


Miranti menghela napas. “Ya udah apa?”


“Pria di restoran tadi siang, itu–” Ashilla menoleh sekilas ke arah Miranti untuk memastikan kalau wanita itu mendengarnya. “Dia … ayahnya Iyash.”


“Apa?”


Ashilla mengangguk. “Shilla juga kaget, Bund.”


Miranti mengempas punggung ke sandaran kursi. “Sebaiknya kamu jauhi Iyash.”


“Loh kenapa? Nggak ada hubungannya sama masa lalu Bunda, ‘kan?”


“Agar nggak ada orang ketiga antara kamu dan Angkasa.”


Jantung Ashilla mencelus.


“Ini bukan sekedar saran, ini permintaan.”


Ashilla menghela napas, kemudian mengangguk.