
Tepat pukul sepuluh lewat beberapa menit, Hasa, Ira dan Rahma sampai di depan rumah Juragan Hartanto. Mereka disambut hangat oleh sang pemilik rumah.
Sementara Rahma tampak kepayahan turun dari mobil. “Mama seperti mau mati,” kata Rahma pada anaknya.
Marissa tertawa melihat ekspresi dan penampilan ibunya yang berantakan.
“Ira minta Mama bertahan satu setengah jam,” keluh Rahma. Bagi seseorang yang memiliki fobia ketinggian, satu setengah jam mungkin terasa sangat lama dan begitu menyiksa. Namun, Rahma harus bertahan demi anaknya.
“Dan Mama berhasil,” sela Marissa sembari memeluk lengan ibunya.
“Jangan gelendotan, Cha, berat, Mama lemas.”
Ira tertawa. “Sini.” Dia menarik tangan Marissa. “Gelendotan sama Tante aja.”
Semua orang tertawa, kecuali Iyash yang terlihat begitu tegang. Dia mungkin takut Marissa tak bisa masuk ke dalam rencananya.
Nenek Alma dan Juragan Hartanto menyambut kehadiran Rahma. Rahma juga menceritakan banyak hal, termasuk ketika dia harus membesarkan Marissa sendirian usai sang suami pergi ke haribaan Ilahi. Tak lupa Rahma menyebutkan jasa Hasa dan Ira dalam membantunya membiayai sekolah dan kebutuhan Marissa.
Sementara di ruang keluarga, Hasa dan Ira tengah mengobrol dengan anak bungsu mereka.
“Gimana, Yash?” tanya Hasa pada sang anak. Kalimat itu tak sengaja terdengar oleh Marissa. Dia tak bermaksud menguping hanya kebetulan saat dia menoleh, Hasa sedang bertanya demikian.
Iyash mengangguk. “Asal kalian tidak berpisah.”
Seketika kedua mata Marissa membola mendengar apa yang baru saja Iyash katakan. Dia pikir mungkin inilah alasan Iyash pergi diam-diam dari rumah sakit.
“Apa Mama terlalu buruk sampai Papa tega meninggalkan Mama?” tanya Iyash.
“Icha,” panggil Rahma ketika Marissa sedang asyik menguping. “Kamu tidur di mana? Mama pengen istirahat.”
“Loh, memang nggak apa-apa? ‘Kan lagi ngobrol sama Nenek.”
“Udah kok,” jawab Rahma.
“Iya, sudah. Kasihan Mama kamu mabuk udara, sebaiknya istirahat,” kata Nenek Alma.
Marissa mengangguk. “Ya udah, ayo. Icha antar Mama ke kamar.” Marissa terpaksa bangkit meninggalkan sesuatu yang mungkin penting untuk dirinya.
“Mama senang dengarnya, akhirnya kamu mau menikah.”
Iyash hanya tersenyum menanggapi sang ibu.
“Om Rudi akan menjadi wali nikah Icha. Papa sudah mengabari semua anggota keluarga, Bude Mirasih dan Pakde Irwan akan ikut berkumpul di sini bersama anak dan cucu mereka, termasuk Mas Iqbal,” tutur Hasa.
Iyash terdiam. Yang tergambar di wajahnya saat ini hanya ketegangan.
“Kamu tenang aja, Nenek doakan semuanya lancar.” Nenek Alma mengusap bahu sang cucu.
Iyash mengangguk. Dia masih gamang dengan keputusannya, namun semua ini dia lakukan untuk menyelamatkan pernikahan kedua orang tuanya.
“Selama Papa menepati janji, aku akan menerima Marissa.”
“Perlakukan dia dengan baik,” kata Hasa.
“Seperti Papa memperlakukan Mama?” tanya Iyash.
Hasa membasahi tenggorokan. Perlakuan Hasa terhadap Ira selama ini bukan tidak baik, hanya saja tidak pantas jika sepanjang perjalanan rumah tangga terus mengharapkan wanita lain. Itu ibarat Ira mendapatkan raga Hasa, namun, nyawanya ada pada yang lain.
“Pernikahan harus dilakukan sepenuh jiwa. Jangan berharap dia membalas semua yang kamu berikan, yang terpenting kamu menjalankannya sepenuh hati dan semaksimal mungkin,” nasehat Juragan Hartanto.
Iyash termenung.
“Sebaiknya sebelum kamu menjalin hubungan dengan yang lain, kamu sudah sembuh dari yang lama,” tambah Juragan Hartanto.
“Sudah, Pak, ini sudah sepuluh tahun, tidak mungkin Iyash masih mengharapkannya,” kata Hasa.
“Semoga memang begitu. Mama harap kamu bisa menjaga perasaan istri kamu.”
Iyash mengangguk. Namun, dia terlihat tak bersungguh-sungguh dengan anggukannya. Dia hanya teringat bagaimana permintaan itu bisa menjadi sebuah perjanjian. Beberapa Minggu lalu saat dia mendengar kalau kedua orang tuanya akan berpisah, dia berusaha keras menyatukan mereka sendirian. Sementara Rasya tidak sedikit pun membantunya. Karena Rasya tahu apa yang sebenarnya terjadi, itu juga menjadi alasan Rasya memutuskan tidak bergabung dengan perusahaan ayahnya, dia lebih memilih membuka bisnisnya sendiri.
Beberapa tahun lalu, Iyash sempat dijodohkan dengan Adisty oleh ibunya. Namun, Iyash menolak dengan alasan tidak memiliki perasaan apapun pada Adisty. Lalu beberapa bulan lalu, dia membawa Nadine sebagai teman perempuan, namun lagi-lagi dia tidak memiliki niat apapun.
Dan seminggu yang lalu, usai Marissa menyelesaikan tugasnya mendesain interior apartemennya. Tiba-tiba Hasa menyampaikan niatnya.
“Yash, waktu kamu ke toko furniturenya Om Rudi. Papa dapat laporan kalau kamu ke sana bersama calon istri kamu.”
Iyash tercenung. “Marissa maksudnya?”
“Iya. Papa, jadi kepikiran, bagaimana kalau kamu menikah saja dengannya. Lagi pula dulu, sebelum Om Restu meninggal, dia sempat meminta Papa mencarikan suami untuk Marissa suatu saat nanti. Papa pikir, buat apa mencari yang belum pasti. Papa punya anak bujang dan sekarang Marissa sudah dewasa.”
Iyash tak langsung menyetujui, dia bilang, “Kalau Papa mau membatalkan perceraian Papa dengan Mama, mungkin Iyash akan pertimbangkan.”
“Yash, ini juga buat kehidupan kamu. Mau sampai kapan kamu melajang? Kamu mau mencari yang seperti apa?”
“Jangan bilang kamu masih mengharapkan Aruna. Kamu sendiri yang bilang semuanya sudah terlambat. Sekarang sudah saatnya kamu mencari kebahagiaan kamu sendiri,” kata Ira.
“Kalaupun di dunia ini perempuan hanya tinggal Marissa, aku tetap tidak akan menikahi dia, kecuali, Papa sama Mama membatalkan perceraian kalian.”
Ira dan Hasa tergemap. Perlu waktu bagi mereka untuk membicarakan ini. Akhirnya malam di mana Iyash terluka karena melindungi Marissa, mereka sudah membuat keputusan dan mereka langsung menyampaikannya pada Iyash ketika Iyash baru saja selesai operasi, kalau mereka tidak akan bercerai, asal Iyash mau menikah dengan Marissa. Setelah mendengar persetujuan Iyash, mereka kemudian menyampaikannya pada Rahma.
Sekarang setelah keputusan itu dibuat, Iyash malah merasa tidak yakin. Dia sendiri memiliki hubungan yang buruk dengan Marissa, meski sejak kemarin Marissa sudah berusaha bersikap baik terhadapnya.
“Yash, jangan melamun, kakak kamu datang tuh,” kata Ira. “Sama seperti Nenek dan Kakek, dia juga tidak tahu soal perjanjian ini, jadi Mama harap kamu bersikap seperti memang kamu berniat menikahi Marissa sejak lama,” bisik Ira seraya menepuk bahu Iyash.
“Kenapa harus begitu, bukannya Iyash dijodohkan?” tanya Iyash.
“Alasan kamu mau, apa? Bukannya dari dulu kamu selalu bilang kalau kamu tidak mau dijodohkan?” tanya Ira.
Iyash tak menjawab. Dia malah tersenyum pada Rasya yang baru selesai mengobrol dengan Kakek dan Neneknya.
“Lagi sakit, kabur ke sini, ternyata mau nikah di sini, padahal perempuannya orang Jakarta,” kata Rasya pada sang adik.
Iyash hanya tersenyum, kemudian dia memeluk sang kakak. Meski berbeda ayah, nyatanya mereka baru tahu hal itu ketika sudah sama-sama dewasa.
“Icha di mana?” tanya Rasya seraya celingukan. “Udah lama nggak ketemu dia.”
“Ada di dalam lagi sama ibunya,” kata Ira.
“Oh.” Rasya tersenyum, kemudian menatap Iyash. Sedangkan Iyash sendiri menghindari tatapan sang Kakak.