Behind The Lies

Behind The Lies
Memutuskan Pergi



Aruna kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah ayahnya. “Kita bisa, ‘kan kembali ke rumah sakit?”


Gusman menoleh cepat. “Untuk apa? Kamu mau dihina lagi sama ibunya Iyash?”


Aruna menggeleng, dia kemudian memberikan sebuah kotak berwarna putih yang dikunci menggunakan kode angka. “Tolong berikan ini pada Iyash.”


Gusman tak langsung meraihnya. “Bagaimana mungkin, apa kamu tidak berpikir kalau itu bisa saja tidak sampai pada Iyash?”


“Pasti sampai,” kata Aruna yakin. “Ini hanya buku, ayah.”


“Tapi–”


“Ayah tolong.”


Gusman menghela napas. Dia segera meraih kotak berisi buku diary tersebut. Aruna yakin tak ada yang bisa membukanya karena hanya dirinya dan Iyash yang tahu bagaimana cara membuka kotak itu.


“Ya sudah, Yan, kembali ke rumah sakit.”


“Baik, Mas.” Yayan lekas menancap gas dan mobil melesat kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Gusman pergi sendirian karena Aruna memilih menunggu di mobil. Terlintas dalam benak Gusman untuk kembali dan tak memberikan kotak tersebut pada Iyash. Dia bisa saja berbuat seperti itu, namun Gusman tak ingin mengkhianati anaknya sendiri.


Gusman mengetuk pintu, kemudian masuk ke dalam. “Sore, Bu.”


“Mau apa lagi, Pak Ridwan?”


“Saya mau mengembalikan ini.” Gusman meletakkan uang sepuluh juta yang sempat diberikan Ira pada anaknya. “Kami tidak membutuhkan ini.”


“Apa itu artinya Aruna tidak akan pergi dari hidup Iyash?”


“Kami akan tetap pergi.”


“Ke mana Pak Ridwan akan membawa Aruna?”


“Ke tempat ayah saya,” jawab Gusman tanpa memberi tahu tempatnya.


Ira hanya mengangguk dan tak bertanya lagi ke mana atau di mana lebih tepatnya. Dia tak ingin tahu lebih jauh, yang jelas dia sudah meminta Aruna untuk pergi dan tidak kembali pada Iyash.


“Tolong tepati janjinya ya, Pak, saya hanya tidak ingin Iyash memikirkan hal lain selain hidup dan cita-citanya.”


Gusman mengangguk. “Tapi, sayangnya, ibu tidak bisa mengatur isi pikiran seseorang termasuk anak sendiri.”


“Saya tidak peduli, yang saya inginkan Aruna menjauh dari anak saya.”


“Ibu tenang saja, saya juga berharap hal yang sama. Jika suatu saat Aruna menikah, dia harus mendapatkan ibu mertua yang sayang dan menerima dirinya seperti anak sendiri.”


Ira merasa tertampar.


Sebenarnya Gusman tidak ingin kejadian pada Dewi terulang pada Aruna, Dewi pernah tidak diterima dan bahkan pernah merasa terhina oleh kedua orang tuanya. Gusman ingin anaknya lebih beruntung dari dirinya dan juga Dewi. Aruna lahir bukan untuk disakiti. Begitu pikir Gusman.


“Ini milik Iyash, Aruna ingin mengembalikannya. Tolong diberikan ya, Bu, sudah cukup ibu mengkhianati anak ibu, untuk hal yang satu ini, tolong ibu jangan khianati Iyash lagi.”


Ira merasa terhina dengan kalimat Gusman. Dia lekas menyambar kotak tersebut dari tangan Gusman.


“Kami janji kami akan pergi, tapi ibu juga harus janji kalau kotak itu sampai ke tangan Iyash.”


“Memang ini apa isinya?” tanya Ira penasaran.


“Itu, ‘kan milik Iyash, jadi, saya tidak tahu apa isinya.”


Ira mengangguk. “Ya sudah, saya jadi menghemat sepuluh juta setelah membayar biaya rumah sakit anak kamu.”


“Terima kasih, Bu. Saya permisi.” Gusman melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.


Terkadang harta membuat seseorang menjadi egois, harta yang jatuh pada orang yang tidak tepat akan menjadikannya sombong.


***


“Ini cucu Oma,” kata Lestari sembari memeluknya. “Sudah besar.”


Ganjar hanya tersenyum dan membelai puncak kepala Aruna. “Ajak masuk, Ma.”


“Sini, Sayang.” Lestari merangkul bahu Aruna dan mengajaknya masuk. “Duduk di sini. Kamu sudah makan?”


Aruna mengangguk.


“Ayah kamu sudah cerita semuanya?”


Aruna menatap sang ayah. Entahlah, ayahnya tak pernah terbuka tentang hal apapun, entah bagian mana yang terlewat dan semuanya itu berapa banyak? Aruna tidak mengerti.


Lestari tersenyum lembut. Dia kemudian mengambil album foto dari bawah meja. Lalu membuka lembar pertama. Aruna mengernyit melihat foto seorang anak yang mirip dengan dirinya. “Mirip kamu, ‘kan?” Lestari terus membuka setiap lembarnya.


Saat bagian foto menampilkan seorang remaja berseragam SMA. Aruna lekas menahan tangan Lestari dan menatap gambar tersebut cukup lama.


“Dia ini saudara kamu.”


Aruna terkejut dan lekas menatap sang ayah.


“Namanya Ashilla, sejak empat bulan lalu dia tinggal di New York bersama Bude kamu, Kakaknya Ayah. Rencananya Ashilla mau kuliah di sana.”


Aruna tergemap. Kedua matanya berembun. Hidup macam apa ini, selain dipisahkan dari ibunya, dia juga berpisah dari saudaranya sendiri.


“Ayah minta maaf,” kata Gusman. Dia menarik napas dan bangkit membelakangi Aruna. Selalu saja seperti itu, seolah air matanya adalah aib yang tidak boleh diketahui sang anak.


“Dulu ketika ibu kamu hamil, kami tak punya biaya untuk pergi ke Dokter memeriksakan kandungan setiap bulan. Sehingga ibu kamu tidak tahu kalau anak yang dikandungnya adalah dua putri yang cantik.”


Gusman tersenyum getir. “Waktu kelahiran tiba, ibu kamu harus dioperasi. Ayah datang ke sini meminta bantuan dan menceritakan semuanya.”


“Opa minta maaf,” sambung Ganjar. “Opa meminta salah satu dari kalian karena Opa yakin Gusman tak akan bisa membesarkan kalian berdua secara bersamaan.”


Jantung Aruna mencelus.


“Ashilla lahir dua menit lebih dulu dari kamu,” kata Gusman. “Setelah kelahiran itu ayah tak pernah melihatnya lagi.”


Aruna tertunduk dan menangis. Untuk kali kedua dia menyesali kelahirannya. Kenapa dia harus lahir dari keluarga yang berantakan seperti ini? Keluarga yang tidak ingin dirugikan oleh anggota keluarga yang lain. Keluarga yang terlalu mendewakan harta.


“Kamu akan tinggal di sini,” kata Lestari.


“Aruna nggak mau tinggal di sini, Ayah.”


Lestari dan Ganjar terhenyak mendengar Aruna berkata demikian.


“Tapi, kenapa? Kami keluargamu, Nak,” kata Lestari sedih.


“Maaf, tapi Runa sudah bilang sama ayah kalau Runa ingin pergi dari Jakarta.” Aruna kemudian menatap sang ayah. “Runa sudah berjanji, ‘kan, Ayah.”


“Iya-iya.” Gusman mencoba menenangkan Aruna. “Maksud Oma sementara, kamu ‘kan harus kuliah.” Gusman menatap kedua orang tuanya.


“Iya, ayah kamu benar. Kamu bisa kuliah di New York bersama Ashilla. Minggu depan kamu bisa pergi,” kata Ganjar.


“Kenapa harus minggu depan?” Aruna bangkit. “Besok. Aruna mau pergi besok.”


Semua orang terdiam kaget.


“Mmm, kamu. ‘kan belum sehat, sebaiknya kamu di sini dulu untuk beberapa hari sampai keadaan kamu membaik, lagi pula bikin paspor tidak satu hari selesai, Nak,” kata Lestari tenang.


Aruna termangu. Entah kenapa dia harus terburu-buru untuk pergi.


“Sekarang lebih baik, kamu istirahat. Nanti biar Opa yang urus keberangkatan kamu sama ayah kamu,” kata Ganjar.


Lestari mengangguk setuju. Dia kemudian bangkit dan mengajak Aruna. “Kamu bisa tidur di kamar Ashilla.”


Ketika masuk ke dalam kamar. Aruna termenung. Kenapa harus dirinya yang menanggung semua ini. Hidup susah dan mendapat banyak hinaan. Apa ayahnya pikir semuanya selesai dengan kata maaf?