Behind The Lies

Behind The Lies
Berhasil Melewati Masa Kritis



Dua minggu Iyash terbaring koma di rumah sakit. Syukurlah kemarin dia berhasil melewati masa kritisnya. Kondisinya cukup memprihatinkan lantaran pergerakannya terbatas dan dia belum bisa duduk, sehingga masih harus berbaring dan berlatih menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit.


Kecelakaan yang dialami Iyash cukup parah, dia mengalami kerusakan pada sistem limbik di dalam otaknya, sehingga dia lupa tentang beberapa hal dalam hidupnya, termasuk kejadian sebelum kecelakaan. Dia juga tidak bisa mengatur emosinya, dia masih suka bingung jika ditanya, entah itu tentang hidupnya atau orang lain.


Dokter berkata kalau amnesia yang dialami Iyash bersifat sementara. Dia akan sembuh perlahan seiring dengan pulihnya cedera otak dan trauma yang dialami Iyash.


Bagi Ira ada sedikit keuntungan dengan rusaknya sistem limbik di otak Iyash karena mungkin dia tak perlu menjelaskan apapun tentang Aruna karena Tuhan ternyata punya cara sendiri untuk menyayangi Iyash dan menjauhkannya dari Aruna.


Kemarin setelah Iyash sadar Hasa sempat bertanya, “Apa yang harus kita katakan pada Iyash tentang Aruna?”


Hasa tidak tahu bagaimana istrinya memohon agar Aruna pergi dari hidup Iyash. Karena waktu itu dia ada proyek ke luar kota dan mengajak Rasya untuk turun dalam bisnisnya. Sedangkan Iqbal sedang melaksanakan KKN di pelosok Sukabumi, sehingga tak ada yang tahu kebenarannya, tiba-tiba saja mereka mendengar kalau Aruna sudah meninggal.


“Sebaiknya kita tidak bicara apapun tentang Aruna,” tutur Ira.


“Tapi, Ma, Iyash perlu tahu.”


“Apa yang perlu Iyash tahu, dia saja tidak ingat kejadian itu.”


“Jelaskan saja yang sebenarnya, Ma, biar Iyash nggak bingung.”


“Nggak, Pa. Gimana kalau nanti Iyash malah menyalahkan dirinya sendiri. Mama nggak mau melihat dia bersedih.”


“Ma, Iyash mungkin akan bersedih selama satu atau dua hari, setelah itu dia akan baik-baik saja.”


“Nggak, cuma Mama yang kenal Iyash.”


Hasa berdecak. “Aku Papanya.”


“Tapi, tahu apa kamu tentang dia?


Keduanya terdiam. Ira kemudian menghela napas. “Mama tidak akan mengatakan apapun,” sambung Ira setelah beberapa detik. “Mama bukan orang bodoh, Pa. Mama tidak bisa mengambil keputusan yang gegabah.”


Hasa tergemap.


“Kalau anak kita hancur, terluka, memang Papa mau tanggung jawab? Kenapa Papa nggak berpikir dan fokus pada kesehatan Iyash saja?” Sepertinya Ira belum puas meluapkan emosinya.


“Iya-iya. Mama benar, yang terpenting untuk saat ini Iyash sembuh dulu.” Akhirnya Hasa mengalah. Entah apa yang dipikirkan pria lima puluh tahun tersebut, hingga bersikukuh untuk menyampaikan kabar duka itu pada anak bungsunya yang bahkan masih belum benar-benar sembuh. Perawatan Iyash masih panjang, dia harus melakukan terapi berjalan, konsultasi dengan psikologi dll.


Ira juga tidak memberikan buku Aruna yang dititipkan padanya oleh Gusman. Biarlah untuk saat ini dia tidak menepati janji. Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Iyash.


Ketika Angkasa, Adisty, Sarah Martin, Kevin dan Lisa datang, Ira mewanti-wanti mereka untuk tidak mengungkit tentang kecelakaan itu, terutama tentang Aruna.


“Gue ada sih piaraan, dia kalau disuruh nyiksa orang, bisa,” kata Adisty.


“Nggak usah didengerin, Yash. Cablak banget lu.” Angkasa memukul kepala Adisty.


Iyash tersenyum.


“Gue cuma mau ngasih solusi, kalau ada yang jahatin lu ngomong sama gue, Yash, gue kirim piaraan gue saat itu juga.”


“Maksud lo anjing herder?” tanya Sarah.


“Uh lebih buas dari itu.”


Martin menggeleng. “Kita ini jenguk yang sakit, omongan lu nggak berguna banget sih, Dis,” cela Martin.


Adisty tertawa. “Nih, gue kasih tahu, kalau nggak bisa lindungi diri sendiri, jangan sok-sokan lindungi orang. Mending kayak Papa gue punya tiga preman.”


Semua orang terdiam dan Ira lekas melakukan tindakan dengan berdehem karena bisa saja kalimat ceplas-ceplosnya Adisty membuat Iyash mengingat sesuatu tentang Aruna.


“Kalian sudah selesai menjenguk?” tanya Ira. “Soalnya Iyash harus istirahat.”


“Iyash belum ngantuk kok, Ma.”


“Tapi, kata Dokter kamu harus banyak istirahat.”


“Iya, Yash. Sebaiknya lo tidur deh, besok gue ke sini lagi,” kata Adisty.


Ira tertunduk seraya menghela napas. Dia ingin melarang anak itu datang lagi, tapi bagaimana, ayahnya Adisty adalah temannya.


“Ya sudah-sudah, sekarang biarkan Iyash istirahat ya,” kata Ira.


“Baik, Tante.”


“Makasih udah pada datang,” kata Ira.


“Iya, sama-sama.”


“Cepat sembuh, Yash,” kata Martin. “Katanya mau ke Spanyol, gabung club Barcelona.”


“Apaan sih, Iyash mau ke Valencia tau,” kata Adisty bangga karena merasa paling tahu tentang Iyash.


“Ah bohong lu, Real Madrid kali,” sambung Kevin.


“Ayo lu juga balik.” Martin merangkul bahu Angkasa.


“Kalian duluan aja, gue ada perlu sama Tante Ira.”


“Ngapain lo?” tanya Adisty sinis. “Lo mau ngerepotin Tante Ira, hm? Kalau butuh tempat tinggal mending lo nginep di rumah gue aja, dasar gembel.”


“Anjing lo.” Angkasa kembali memukul kepala Adisty.


“Ish!” Adisty hendak membalas, namun Ira langsung memisahkan keduanya.


“Sudah-sudah. Malah ribut di sini.”


“Maaf, Tante. Ya udah deh, sekalian gue bilang, gue mau pamit karena gue mau kuliah di Amrik,” kata Angkasa.


“Yah. Nggak jadi di sini?” tanya Kevin.


Angkasa menggeleng.


“Iyalah, Aruna udah nggak ad–” Semua orang menatap Sarah karena dia baru saja keceplosan. Sementara Sarah juga terkejut dengan perkataannya sendiri.


Ira membuang muka kesal, padahal dia sudah membuat perjanjian dengan mereka jangan sampai ada yang menyebut nama Aruna, dasar bocah-bocah labil!


“Aruna?” tanya Iyash seketika. “Kalian kenal?”


“Nggak kok. Eh, Aruna mana nih?” Sarah kelihatan gugup dan semua orang diam karena merasa kalau Sarah harus bertanggung jawab dengan perkataannya sendiri. “Nggak kok, gue salah ngomong.”


“Nggak jelas,” dengkus Adisty, dia kemudian menarik tangan Sarah. “Pulang cepat, kayaknya lu harus gue kasih pelajaran.”


“Yah, Dis, gue keceplosan,” kata Sarah sembari menyeret kaki. Tentu saja semua orang tahu dia keceplosan.


“Yash, gue balik ya,” kata Martin lebih hati-hati.


“Gue juga.” Kevin pun demikian. Sementara Lisa hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Sedangkan Angkasa masih di sana.


Angkasa menghela napas. Dia kemudian tersenyum menatap Iyash. “Lu tahu, ‘kan gue nggak pengen kuliah, gue nggak pengen kerja, tapi, lu pernah bilang kalau gue harus ambil sesuatu yang menarik minat gue.”


Iyash lupa pernah mengatakan itu pada Angkasa.


“Sekarang gue ngerti apa yang gue mau, Yash.”


“Kenapa harus Amerika?” tanya Ira.


“Iya, Tante. Biar bisa ketemu Taylor Swift.”


“Ah, kamu ini.”


Iyash tersenyum.


“Tante, doakan aku ketemu jodoh di sana ya,” pinta Angkasa.


Ira tertawa. “Bule?”


“Nggak perlu bule, yang penting dia cantik dan baik hati.”


“Nah kenapa minta ketemunya di sana?”


“Kalau di sini takut dapat yang kayak Adisty.” Angkasa bergidik.


“Astaga jahat lu,” komentar Iyash.


“Lu juga, ‘kan? Sampai pindah ke Surabaya.”


“Ssttt … sudah-sudah,” sela Ira. Angkasa seketika diam karena mungkin saja dia akan keceplosan seperti Sarah.


“Yash, gue minta maaf ya, kalau ada salah. Gue pamit. Semoga lu cepet sembuh.” Angkasa kemudian menatap Ira. “Tante, aku pamit ya, nanti pulang dari Amerika, aku bawain Tom Cruise.”


Ira kembali tertawa sembari memukul lengan Angkasa, sedangkan Iyash hanya tersenyum.


Padahal perpisahan mereka waktu itu cukup baik. Namun, entah apa yang terjadi sampai Iyash menuduh Angkasa yang bukan-bukan.


“Kalau begitu aku pamit, Tante. Nanti malam aku pergi ke Amerika.”


“Iya, kamu hati-hati ya.”


Angkasa mengangguk.


“Hati-hati Ang, semoga cita-cita lu tercapai.”


“Lu juga, Yash.”