
Faran dan kedua orang tuanya sampai di kediaman Ganjar ketika Aruna masih belum pulang dari rumah sakit. Faran sedikit terkejut karena rumah tampak ramai. Dia segera bercengkrama dengan semua tamunya Ganjar, sampai akhirnya setelah lima menit dia sadar kalau istrinya tidak terlihat. “Aruna mana?” tanya pria itu sembari mengedarkan pandangan.
“Oh iya, tadi, dia ke rumah sakit. Apa jangan-jangan dia jemput kamu ke Bandara,” kata Miranti. “Shill, coba kamu telepon, kasih tahu Faran udah di rumah.”
“Dia nggak tahu aku datang hari ini, Bund.” Faran kemudian menatap kedua orang tuanya. “Maksudnya aku mau kasih dia kejutan.”
Semua orang terdiam melihat wajah khawatir Faran, dia takut kejadiannya seperti waktu itu.
“Dia sama Yayan kok, Ran,” kata Miranti.
“Bund, nomornya nggak aktif,” ucap Ashilla.
“Duh, itu anak kebiasaan,” dengkus Miranti. “Coba kamu telepon Yayan.”
Ashilla menghela napas. Dia ingin menolak, tapi melihat rasa lelah bercampur khawatir di wajah Faran membuatnya merasa kasihan. Maka dari itu dia segera mendial nomor Yayan.
“Pak Yayan di mana?” tanya Ashilla usai panggilannya terjawab.
“Masih di rumah sakit.”
“Masa ngambil hasil lab aja lama?”
“Pak Yayan nggak tahu, Non,” jawab Yayan. “Dari tadi, Non Aruna memang belum keluar.”
“Hah?” Ashilla panik dan dia lekas pergi meninggalkan ruang keluarga. Hal itu malah membuat Faran semakin khawatir. Pria itu segera mengikutinya. “Saya nggak mau tahu, Pak Yayan cari ke dalam dan kasih HPnya ke dia, Pak Yayan tahu kami panik karena nomor dia nggak bisa dihubungi.”
“Baik, Non."
"Kenapa, Shill?" tanya Faran.
Ashilla terkesiap, dia kemudian berbalik.
"Kenapa?"
"Aruna masih ngantri."
"Dia pergi siang, 'kan? Ini udah hampir maghrib."
"Iya," kata Ashilla pelan. Dia kemudian mendekatkan ponselnya kembali ke telinga. "Gimana, Pak?" tanyanya pada Yayan.
"Belum ketemu, Non."
"Astaghfirullah." Ashilla mulai kesal.
Faran mengedikkan dagu pada Ashilla. Namun, wanita itu malah menggeleng.
"Aku harus nyusul,” kata Faran.
“Buat apa?” tanya Ashilla. “Tungga aja di sini, dia sama Pak Yayan kok.”
“Tapi, aku nggak bisa duduk tenang nungguin dia, Shill.”
“Kamu jangan lupa, dia udah dewasa, Ran.” Terkadang memang Ashilla memanggil Faran dengan sebutan begitu, tapi, kadang dia mengikuti Aruna memanggilnya ‘Mas’.
Faran menarik napas. “Tapi, kalau terjadi apa-apa sama dia gimana?”
“Yakin aja, dia nggak akan kenapa-kenapa.”
“Kenapa kamu bisa yakin, apa karena dia bersama Pak Yayan?”
Faran pikir dia tak bisa hanya mempercayai Ashilla ataupun Yayan, dia harus melihatnya sendiri, dia harus tahu apa yang Aruna lakukan di rumah sakit sampai selama ini.
“Bukan. Karena dia bukan anak kecil lagi,” kata Ashilla.
Jantung Faran mencelus. “Aku khawatir bukan berarti aku menganggap dia masih kecil.” Faran kemudian pergi meninggalkan Ashilla.
“Bund, pinjam mobil,” kata Faran.
“Mau kemana?” tanya Miranti khawatir.
“Nyusul Aruna.”
“Dia di rumah sakit sama Pak Yayan, tenang aja.”
“Kenapa bisa sampai selama ini? Aku khawatir terjadi sesuatu sama dia, Bund.”
Miranti terdiam beberapa detik.
“Kuncinya mana, Bund?”
“Tunggu aja sampai ada kabar dari Yayan. Takutnya kamu pergi, Aruna pulang.”
“Bunda kamu benar,” kata Ayu ibundanya Faran.
“Tapi, Bu ….” Faran menghela napas.
“Kamu tunggu saja. Ibu tahu kamu khawatir, tapi kamu juga baru datang.”
Semua orang terdiam menatap Mila, Ashilla dan Miranti merasa kalau kali ini Mila keterlaluan. Mila memang tidak akan tahu kalau Faran memang seperti itu, apalagi sebelumnya Aruna sempat sakit.
“Ben, pulang yuk ah, besok kita langsung ke hotel aja,” ajak Mila.
Ben mengangguk. Sore itu juga mereka bersiap pulang dan berpamitan. Sementara Sam dan istrinya sudah pulang lebih dulu karena anak bungsu mereka rewel, sedangkan anak sulungnya tetap di sini bersama Mila.
Miranti mengantar tamu-tamunya ke depan. “Aku minta maaf atas ketidaknyamanan ini,” kata Miranti pada Mila dan Ben.
“Nggak apa-apa, Mir. Aku udah biasa nonton sinetron kok,” kekeh Mila.
Miranti tersenyum seraya menggeleng.
“Marissa masih sama Edgar?” tanya Miranti.
“Biarin aja, nanti minta Edgar anterin pulang. Bilang aja kalau Rega udah rewel.” Mila terkekeh. “Anak kecil biasa jadi korban.”
Miranti membungkukkan badan. “Dasar nenek macam apa mengorbankan cucunya yang lucu ini.” Miranti mencubit pipi anak sulungnya Sam yang seumuran Asa. “Besok ketemu lagi. Tos dulu.” Miranti menunjukkan telapak tangannya pada bocah yang dipanggil Rega tersebut.
Rega memukulkan telapak tangannya pada telapak tangan Miranti.
“Aduh.” Miranti tertawa. Dia kemudian menegakkan tubuhnya. “Mil, makasih ya.”
“Sama-sama. Udah ah, kami pulang ya.”
Miranti mengangguk dan Mila memeluknya sekilas.
“Bye, Mir,” pamit Ben.
“Bye. Hati-hati.”
Mila melambaikan tangan begitupun dengan Miranti. Setelah tamunya pergi, dia kembali masuk ke dalam.
Faran tampak murung dan itu membuat Ayu khawatir.
“Belum ada kabar?” tanya Miranti.
Faran menggeleng.
“Bunda tahu kamu khawatir, tapi, nggak usah berlebihan juga. Kamu, ‘kan tahu, Pekerjaan membuat Aruna menjadi wanita yang nggak bisa diam lama di rumah. Wajar dia belum kembali sampai saat ini, mungkin bertemu teman lama di sana,” kata Miranti.
Itulah yang paling Faran takutkan, dia takut Aruna bertemu dengan Iyash. “Seharusnya dia izin dulu sama aku, Bund, aku, ‘kan suaminya.”
“Semua orang di sini tahu kalau kamu suaminya,” kata Ashilla.
Faran menatap Ashilla. Semua orang di sini memang tahu dia suaminya Aruna, tapi pria yang Aruna temui beberapa hari yang lalu mungkin tidak tahu kalau Aruna sudah bersuami.
“Kamu lupa kalau Aruna sudah biasa pergi sendiri, bahkan mungkin dia tak pernah izin sebelumnya,” tambah Ashilla.
Seketika Faran pergi meninggalkan ruang keluarga dan Ashilla segera menyusulnya.
“Ran, tunggu.”
Faran berdiri di depan pintu kamar kemudian berbalik.
“Jadi, kamu takut Aruna bertemu mantannya?”
Faran tergemap dan lekas menoleh.
“Kamu udah ketemu dia, ‘kan? Kamu masih berpikir Aruna mencintainya? Kamu takut dia kembali? Apa itu sebabnya kamu sekhawatir ini? Kamu tidak mengizinkan Aruna pergi sendiri di Jakarta, sedangkan kamu nggak pernah khawatir saat dia di Jerman.”
Faran menghela napas. “Aku tahu kalau kiriman yang Aruna terima itu dari mantannya.”
“Kamu membukanya?” tuduh Ashilla.
“Semalaman aku nggak tidur, Aku membaca buku diary dan melihat semua foto-foto mereka. Akhirnya aku tahu, orang yang kutemui di restoran itu adalah dia. Orang yang datang ke rumah ini adalah dia. Dan aku tahu dia datang dan mencari Aruna.”
Ashilla termangu. “Apa lagi yang kamu tahu?”
“Saat aku terbang ke Bali, Aruna pergi menemuinya.”
“Sok tahu,” dengkus Ashilla, padahal dia terkejut karena Faran tahu semuanya.
Faran mengerutkan kening. “Jangan pura-pura, aku yakin kamu juga tahu.”
Ashilla tergemap.
“Aruna nggak pernah menyembunyikan apapun, aku tahu saat dia berbohong.”
“Ya, tapi bukan berarti dia pergi sama Iyash, ‘kan?”
“Kamu sudah menjawabnya.”
Jantung Ashilla mencelus. Dibalik wajah dan sikap tenang Faran, rupanya ada obsesi yang sama besarnya seperti yang dimiliki Iyash.
Faran lekas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, sementara Ashilla mematung dan masih terkejut karena ternyata Faran tahu apa yang sebenarnya terjadi.