
Beberapa menit setelah makan Aruna merasa mual, sehingga dia hanya diam saja ketika Faran mengajaknya bicara.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Faran memastikan kalau apa yang dilihatnya salah. Wajah Aruna terlihat pucat. Keringat dingin terbit di kening dan kedua pelipisnya. Faran memeriksa kening wanita itu. Tidak panas, malah sebaliknya. Tangan Aruna juga bahkan terasa sangat dingin.
“Astaghfirullah.” Faran menarik bahu Aruna dan meminta wanita itu bersandar di bahunya. Namun, perasaan mual dan ingin muntah malah semakin mendera, padahal dia sudah berusaha menahannya, tapi tetap saja ingin keluar, seolah perutnya menolak apa yang baru saja dia makan.
Faran terkejut. “Pak, berhenti dulu, Pak,” pintanya pada Yayan. Dia tak masalah sepatunya terkena muntahan Aruna, yang terpenting setelah ini Aruna merasa lega.
Setelah Yayan berhenti, Aruna lekas keluar dan berlari ke dekat pohon. Dia kembali memuntahkan isi perutnya sampai tenggorokannya terasa pahit.
Faran berdiri di sebelahnya dan memijat kedua bahu wanita itu. Sementara Yayan membersihkan bekas muntah Aruna di dalam mobil.
Aruna terlihat lemas dan lesu. Keringat semakin banyak muncul.
“Kamu harus minum.” Faran kembali ke mobil dan mengambil satu botol air mineral. “Sayang, minum dulu,” katanya usai membukakan tutup botol air mineral tersebut.
Aruna meminum air itu, lalu dia termenung di depan muntahannya sendiri. Sepertinya Tuhan baru saja menghukumnya lantaran dia sudah membohongi Faran. Dan sekarang dia benar-benar sakit.
“Aku lemas, Mas,” keluhnya.
“Kamu bisa berdiri?” tanya Faran.
Aruna menggeleng. “Aku lemas banget.”
“Tunggu sebentar.” Faran lekas melihat keadaan mobil yang sedang dibersihkan Yayan. “Gimana, Pak?”
“Masih kotor, Den.”
“Aduh maaf ya, Pak,” kata Faran tak enak hati.
“Nggak apa-apa, Den, sebaiknya Den Faran bawa Non Aruna naik taksi aja, mobilnya biar Pak Yayan cuci.”
“Ya sudah.” Faran lekas kembali pada Aruna.
“Den, ini taksinya,” kata Yayan. Dia kemudian membuka bagasi dan memindahkan barang-barang Faran ke dalam bagasi taksi.
“Sini, Sayang.” Faran membungkukkan tubuh dan Aruna langsung mengaitkan kedua tangannya di leher Faran.
“Mas, aku minta maaf,” kata Aruna penuh rasa bersalah. Wanita itu meminta maaf karena dia merasa bersalah lantaran sudah membohongi suaminya sendiri.
“Nggak usah minta maaf. Namanya juga sakit.” Faran mengangkat tubuh Aruna dan berjalan ke dekat taksi.
Faran menurunkan Aruna di dalam taksi. Dia kemudian menatap Yayan. “Pak Yayan, kalau begitu kami pulang duluan ya.”
Pak Yayan mengangguk, sementara Faran segera menemani Aruna di dalam taksi. “Non, semoga cepat sembuh.”
“Makasih, Pak,” kata Aruna lemas sembari bersandar di sandaran kursi.
Faran mengusap dan memijat kening Aruna. “Ini yang sakit?” tanyanya.
Aruna mengangguk. Entah kenapa efek dari kebohongannya berdampak besar, bahkan sebelumnya dia tak benar-benar merasa pusing, tapi sekarang kepalanya malah terasa jauh lebih sakit.
“Pak pelan-pelan ya,” pinta Faran pada sopir taksi.
“Baik, Pak.”
Pijatan Faran begitu lembut dan nyaman, sehingga membuat Aruna terlelap.
Tiba-tiba ponsel Aruna berdering. Aruna terbangun dan hendak merogoh tas.
“Sini biar Mas aja, kamu mending tidur lagi.”
Aruna mengangguk dan kembali terpejam.
“Ashilla.”
“Mas aja yang jawab.”
Faran lekas menjawab panggilan tersebut. Belum sempat dia menjawab Ashilla sudah mengajukan pertanyaan.
“Run, di mana?”
“Ini Faran.”
“Eh, Mas, sudah sampai?”
“Sudah, tadi di jemput Aruna ke Bandara, tapi dia sakit kayaknya masuk angin. Jadi, sekarang mau pulang ke rumah dulu. Besok baru bisa ke rumah sakit lagi.”
“Oh ya udah, istirahat aja, semoga cepat sembuh.”
“Iya.”
“Sekarang aku mau ke rumah sakit lagi. Kasihan Angkasa di sana sendirian.”
“Kamu hati-hati. Jaga kesehatan juga, jangan sampai ikut-ikutan sakit.”
“Hmm ….” Ashilla menutup panggilan.
Faran sudah jauh lebih dulu mengenal Ashilla, tapi dia menganggap Ashilla sebagai adiknya, namun setelah dia bertemu dan mengenal Aruna, ada perasaan berbeda, entah kenapa, mungkin karena cinta tak memandang fisik, sehingga dia bisa jatuh cinta pada wanita yang berwajah mirip dengan wanita yang sudah dia anggap seperti adik.
Faran memasukan kembali ponsel Aruna ke dalam tas. Namun, dia tercenung melihat sebuah kotak di dalam tas wanita itu. Dia kemudian menatap Aruna untuk menanyakannya, tapi akhirnya dia mengurungkan niatnya lantaran tak ingin mengganggu istrinya yang sedang beristirahat. Faran kembali menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi berhenti. “Di sini ya, Pak?” tanya sopir.
“Iya.” Faran kemudian menatap Aruna. “Sayang, sudah sampai,” katanya pelan.
Perlahan Aruna membuka mata, kemudian mengangkat kepalanya. Dia menghela napas panjang. Lantaran kembali merasakan sakit di ubun-ubun.
“Kamu tunggu sebentar.” Faran turun dan mengeluarkan semua barang dari bagasi dibantu sopir taksi. “Makasih, Pak.”
“Sama-sama.”
Faran membuka pintu mobil untuk Aruna. Saat dia hendak menggendongnya, Aruna menolak. “Aku bisa jalan kayaknya.”
“Ya udah.” Aruna turun dengan perlahan dibantu Faran.
“Hati-hati.” Faran terus memegangi tangan dan bahu wanita itu sampai di depan pintu.
“Assalamualaikum,” kata Faran seraya membuka pintu. “Bi,” panggilnya pada Bi Sumi. Meski Aruna hampir tidak pernah ke sana, tapi Faran selalu datang ke rumah itu tiga bulan sekali untuk mengunjungi Ganjar, sehingga dia sudah sangat mengenal penghuni rumah tersebut. Sedangkan ke Jerman mengunjungi Aruna dia lakukan satu bulan sekali.
“Kamu tunggu di sini.” Faran memintanya duduk di sofa. “Mas mau bayar taksi dulu .”
Aruna mengangguk lesu.
Faran segera kembali dan membayar taksi yang mereka tumpangi, kemudian kembali pada Aruna sembari membawa koper dan tasnya.
“Mau tidur sekarang?” tanya pria itu.
“Aku mau ganti baju dulu.”
“Ya udah yuk.” Faran kembali membantunya berdiri dan menuntunnya ke kamar. Sesampainya di kamar Aruna langsung pergi ke kamar mandi. “Mas temani ya.” Faran memang terlalu khawatir, bahkan dia takut kalau Aruna akan pingsan di kamar mandi.
Aruna tak menolak saat Faran membantunya membuka pakaian. “Baju gantinya di mana?” tanya pria itu.
“Di lemari.” Sesampainya Aruna di rumah itu pagi tadi, dia langsung memindahkan pakaiannya dari koper ke dalam lemari.
“Sebentar Mas ambil.”
Faran lekas pergi dan mengambil pakaian tidur Aruna. Sementara Aruna sendiri malah menangis sembari membersihkan diri. Dia terharu melihat perhatian Faran. Dia juga menyesal karena sudah membohongi pria itu sampai mengganggu makan malamnya.
“Sayang,” panggil pria itu sembari masuk dan membantu Aruna berpakaian.
“Maaf ngerepotin,” gumam Aruna.
“Ssssttt … nggak-nggak. Masa ngerepotin, Mas, ‘kan suami kamu.” Faran kemudian berjongkok untuk memakaikan celana pada wanita itu. “Jangan bilang gitu lagi, Mas nggak suka.”
Aruna semakin terenyuh.
Setelah selesai Faran membantu Aruna kembali ke ranjang dan tidur. “Istirahat ya.” Dia menarik selimut untuk menyelimuti istrinya itu.
“Mas.” Aruna menahan tangan Faran. “Makasih,” desisnya pelan.
Faran mengangguk, kemudian mengecup keningnya.
“Tolong minta Bi Sumi buatkan es lemon.”
“Es?” Faran mengernyit.
“Mulutku pahit, Mas, nggak enak.”
“Kalau mau lemon, lemon aja nggak usah pakai es.” Faran bangkit. “Tunggu, Mas minta Bi Sumi buatkan.”
Aruna mengangguk. “Mas.”
Faran menoleh.
“Pakai es ya, dikit aja, aku mau yang seger.”
“Nggak. Jangan dibiasakan. pakai air biasa juga seger.” Tiga detik setelahnya dia keluar.
Aruna termangu. Mungkin sebaiknya dia tidak keras kepala, dia tidak boleh membantah, atau Tuhan akan membalasnya lagi karena menyakiti suami sesaleh Faran.
Faran berjalan ke dapur seraya memanggil Bi Sumi.
“Den Faran. Bibi kira siapa.”
“Apa kabar, Bi?”
“Baik, Den. Aden mau sesuatu?”
“Iya, tolong buatkan air lemon buat Aruna, biasa aja nggak usah pakai es, gulanya ganti pakai madu, jangan terlalu manis. Dua sendok juga cukup.”
“Siap, Den.”
“Ashilla di rumah sakit?”
“Iya, kayaknya Den Faran sampai, Non Ashilla berangkat.”
“Hm.” Faran memutar pandangan. “Asa di mana?”
“Tidur, tadi nangis kepingin ikut Mamanya,” kata Bi Sumi.
Faran tersenyum, pasti lucu membayangkan Asa merengek. “Ya sudah. Bawa ke kamar ya, Bi.”
“Baik, Den.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Faran ke ruang tamu untuk mengambil tas dan juga kopernya, lalu membawanya ke kamar. “Bi Sumi sedang buatkan,” kata Faran pada Aruna. Dia kemudian terdiam beberapa saat sembari membuka koper dan memilih pakaian. “Tunggu ya, Mas mau mandi dulu,” tambahnya seraya bangkit.
Aruna mengangguk.
Ketika Faran sedang di kamar mandi, Bi Sumi datang mengetuk. “Ini, Non.”
“Masuk, Bi.” Aruna mengambil segelas lemon di atas nampan yang disodorkan Bi Sumi. “Makasih, Bi.”
“Sama-sama, Non.”
“Tunggu, gelasnya bawa lagi.” Aruna segera menenggaknya hingga habis, kemudian mengembalikan gelas tersebut pada Bi Sumi.
Bibi permisi.” Setelah Bi Sumi keluar, Aruna langsung memejamkan mata. Sehingga saat Faran selesai mandi dan berpakain tidur, dia melihat istrinya sudah terlelap.
Saat hendak naik ke tempat tidur, tiba-tiba ponselnya berdering dan panggilan masuk dari sang ibu.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam, kapan sampai, Nak?” tanya sang ibu nun jauh di sana.
“Dua jam yang lalu.”
“Gimana Aruna, sehat? Ibu mau bicara sama putri ibu.”
Faran tersenyum, dia kemudian menatap Aruna yang tampak begitu nyenyak. “Aruna sakit, Bu. Sekarang dia sudah tidur,” jawab Faran pelan.
“Ya ampun. Sakit apa?”
“Sepulang dari Bandara kami ke restoran, tapi dia minta pulang karena kepalanya sakit. Di jalan dia muntah-muntah.”
“Hm, kasihan anak ibu. Mungkin dia masuk angin.”
“Iya, kayaknya.”
“Sudah kamu periksa?”
“Belum, dia keburu tidur.”
“Ya sudah sekarang lebih baik kamu juga tidur. Maaf ibu ganggu malam-malam begini.”
“Iya, Bu.”
“Kalian harus jaga kesehatan. Jangan biarkan Aruna makan sembarangan.”
“Iya.” Faran kembali tersenyum. “Makasih, Bu.”
“Salam ibu sudah kamu sampaikan?”
“Sudah. Setelah Opa membaik kita akan ke Bali.”
“Baguslah. Ibu tunggu, semoga Pak Ganjar lekas membaik.”
“Bu.”
“Iya?”
“Ashilla mau menikah, nanti ibu sama ayah datang ya.”
“Insya Allah. Ibu usahakan.”
“Ibu jangan khawatir. Nanti Faran pesankan tiket.”
“Iya. Sudah ya. Salam buat Aruna, cepat sembuh. Besok telpon ibu.”
“Iya, Bu.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Faran menutup sambungan dan meletakkan ponsel di meja. Dia kemudian mengecup kening Aruna lalu tidur di sebelahnya. Dia memeluk istrinya itu seraya bergumam, “I Will always love you.”