Behind The Lies

Behind The Lies
Jangan Nama Itu



Pagi-pagi sekali Ashilla berangkat ke rumah Angkasa menggunakan mobilnya. Kemarin dia sudah berjanji untuk mengantar Angkasa ke bandara. Sebelum melakukan penerbangan Angkasa beberapa kali mengecup keningnya.


“Aku sebenarnya ingin lebih lama sama kamu. Tapi, ini urusan pekerjaan,” kata pria itu beberapa menit sebelum pergi.


“Aku ngerti, udah nggak usah dipikirin, aku di sini aman,” kata Ashilla sembari menahan tangan Angkasa di kepalanya.


Angkasa tersenyum seraya mengedikkan bahu. Kemudian dia menjatuhkan tangan ke bahu Ashilla, lalu merangkulnya. “Aku masih kangen sama kamu.”


“Aku juga.”


Angkasa menoleh. “Sayang.”


“Iya?”


“Jaga diri kamu baik-baik selama aku pergi. Jangan biarkan laki-laki lain masuk ke hati kamu.” Angkasa sebenarnya cemas meninggalkan Ashilla. Dia takut Iyash menjadikan ini kesempatan untuk mendekati kekasihnya.


“Kenapa bilang begitu?”


“Nggak, aku takut aja ada yang mendekati kamu.”


“Harusnya aku yang bilang begitu, setiap hari kamu dikelilingi wanita.”


“Aku setia. Aku sudah berkomitmen dengan diriku kalau hanya kamu wanita yang kutunggu saat ini. Kalau bukan, sudah dari dulu aku menikahi yang lain.”


“Hmm.”


“Jangan sampai ada yang menyakiti kamu.”


“Iya.”


“Sampai ketemu bulan depan,” kata Angkasa sembari memeluknya sekilas. “Aku janji akan cuti lebih lama.” Dia mengakhiri perpisahan itu dengan kecupan sampai beberapa kali.


“Hm. Udah ah, malu.”


Tak berapa lama Angkasa melambaikan tangan dan Ashilla hanya bisa menatap sembari melepas kepergiannya. Setelah dari Bandara dia lekas melanjutkan perjalanan ke kantor.


Tiba-tiba pesan masuk dan seketika bibirnya tersungging kala melihat foto selfi Angkasa di dalam pesawat. [Sayang, aku sudah di pesawat. Siap terbang.]


[Kamu hati-hati.]


[Kamu juga, jaga diri baik-baik.]


Saat tengah asyik mengemudi, tiba-tiba seorang pria bertubuh gemuk dengan pakaian lusuh berwarna merah berdiri tepat di depan mobilnya. Ashilla panik dan lekas menginjak rem. Pria itu mengetuk kaca mobil dengan keras. Ashilla tak tahu apa yang terjadi, hanya terdengar suara teriakan minta tolong usai dia menurunkan kaca mobil.


“Mbak, tolong ada yang butuh tumpangan ke rumah sakit. Di sana ada ibu hamil yang mau melahirkan.”


“Hah?” Ashilla langsung melongok keluar.


“Mbak? Bisa bantu, ‘kan?”


“Iya-iya.” Ashilla bahkan tak berpikir apapun selain membantu. Wanita hamil tersebut dibopong ke dalam mobilnya. “Ini suaminya mana?” tanyanya takut.


“Suami saya …. Aaaahhh!” Tiba-tiba jeritan wanita itu melengking memutus kalimat yang hendak diucapkan. Ashilla panik dan lekas memutar kemudi sembari mencari tahu rumah sakit terdekat lewat google maps.


“Duh ….” Tak dapat dipungkiri Ashilla sangat cemas, seharusnya dia datang rapat, namun, kejadian pagi ini benar-benar di luar kendalinya.


Jeritan di jok belakang membuatnya semakin tak karuan. Dia lekas berhenti di depan sebuah rumah sakit. Ashilla meminta para petugas rumah sakit tersebut untuk membantu ibu hamil itu keluar dari mobilnya dan langsung membawanya ke ruang bersalin sementara Ashilla sendiri duduk menunggu dengan perasaan takut dan resah. Entah kenapa padahal dia sendiri tak mengenal wanita itu sama sekali.


Ashilla lekas menghubungi Novia untuk memberi tahu kalau dia datang terlambat. Perlahan kakinya berjalan sedikit menjauh dari ruang bersalin, lalu melakukan panggilan. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya.


“Shilla?”


Beberapa kali, namun dia tak begitu mendengarnya.


“Hai ….”


Seketika wanita itu terperangah melihat Iyash berdiri tegak di depan matanya sembari tersenyum.


“Hai ….”


“Siapa yang sakit? Opa?”


Ashilla malah semakin terperangah. Entah ada apa dengan dirinya, dia seperti ingin melihat Iyash lebih lama.


“Shilla?” Iyash menjentikkan jari.


“Aku abis nganter orang melahirkan, tapi nggak tahu siapa.”


“Kok bisa?”


“Iya, dia cuma butuh bantuan. Kamu sendiri masih sakit?”


“Iya, sampai aku harus datang ke sini.”


“Aku turut prihatin.”


“Iya, nggak apa-apa, makasih bingkisannya.”


Iyash tersenyum.


“Aku harus telepon orang kantor dulu,” kata Ashilla seraya menunjukkan ponselnya.


Iyash mengangguk.


Novia sudah menunggu di ujung telepon sejak tadi. Ashilla tak menyadari itu karena dia terkesima dengan kehadiran Iyash yang tiba-tiba.


“Aku ada masalah, nggak bisa datang cepat, agak telat, paling jam sepuluh atau nggak jam sebelas.”


“Tapi, Bu ini–”


“Iya, tolong kamu handle dulu.”


“Baik, Bu.”


“Makasih, Nov.” Ashilla lekas menutup panggilan dan kemudian kembali pada Iyash. “Mau langsung pulang?” tanyanya pada pria itu.


“Nggak. Takutnya kamu butuh bantuan.”


“Aku?”


“Iya, tadi aku dengar di telepon katanya kamu ada masalah?”


Ashilla menghela napas. “Aku nggak kenal wanita itu, tapi dia tiba-tiba–”


“Pendarahan.” Perawat dari ruang bersalin berhamburan keluar. “Pendarahan.”


Ashilla lekas pergi ke depan ruang bersalin dan menunggu pasien itu di sana di temani Iyash.


Setengah jam kemudian Dokter keluar. “Ibu yang tadi bawa pasien yang mau melahirkan, itu ‘kan?”


Ashilla mengangguk.


“Puji Tuhan, bayi perempuannya lahir sehat, sempurna tanpa kekurangan apapun. Namun, kami mohon maaf, ibu dan saudara kembarnya tidak tertolong.”


Jantung Ashilla mencelus.


“Mohon maaf sepertinya kami terlambat melakukan tindakan, pasien mengalami pendarahan dan Tuhan berkehendak lain.”


Bokong Ashilla terempas ke kursi. Dia memang tidak mengenal wanita tersebut, namun, masalahnya bukan itu, tapi karena dia baru saja dihadapkan pada masalah besar, kemana dia harus mengantarkan jenazah dan bayinya pulang? Ashilla hanya bisa menghela napas seraya mengusap kasar wajahnya sendiri, sementara Iyash merasa kasihan melihat wanita itu sampai dia bingung harus bagaimana.


“Kami butuh data diri pasien.”


Ashilla menggeleng. “Saya tidak mengenalnya, Dok, saya hanya menolong dan mengantarnya ke sini.”


Dokter dan perawat itu saling tatap. Dokter pun kembali berkata sembari menatap Ashilla yang tengah tertunduk. “Anda bisa menghubungi polisi untuk meminta bantuan.”


Ashilla menghela napas seraya mengangguk.


“Kamu jangan khawatir, aku siap bantu,” kata Iyash menawarkan bantuan. Bukankah dia merasa kalau dengan dipertemukannya dia dengan Ashilla pagi ini artinya memang Tuhan ingin dia membantu wanita itu.


“Kami membutuhkan nama untuk bayinya,” kata Dokter.


Ashilla nampak berpikir. “Harus kuberi nama siapa?” dengkusnya pelan. Dia kemudian menatap Dokter laki-laki tersebut. “Kalau Dokter punya anak perempuan mau diberi nama siapa?”


Dokter malah tersenyum menatapnya.


“Siapa, Dok?” tanya Ashilla lagi.


“Aruna.”


Jantung Iyash mencelus. “Nggak, jangan nama itu.”


“Iya, itu nama mantan pacar teman saya.” Entah sejak kapan mereka berdua berteman.


Iyash membasahi tenggorokan kala mendengar Ashilla berkata seolah itu bukan dirinya.


“Hm.” Dokter kemudian menoleh menatap Perawat disampingnya. Namun, perawat malah mengedikkan bahu.


“Lily aja, Dok,” kata Ashilla.


“Lily?”


“Ya. Lilyana.”


“Kenapa?”


“Nggak tahu, saya cuma ingat nama itu.”


“Oke. Tolong dicatat, Sus.”


“Baik, Dok.”


“Saya tinggal dulu.” Perawat beserta Dokter pun pergi meninggalkan Ashilla dan Iyash di depan ruang bersalin.