Behind The Lies

Behind The Lies
Bukan Hari Terburuk



Senin pagi di perusahaan konstruksi milik keluarga Iyash, tengah duduk seorang  gadis berkulit putih dan berwajah polos. Ini adalah kali pertama dirinya melamar pekerjaan setelah lulus dari desain interior. Kalau kedua orang tuanya tidak memiliki koneksi, dia pasti akan kesulitan mencari pekerjaan, meski hari ini dia juga belum tentu diterima bekerja di perusahaan itu.


“Marissa Indrawan,” panggil seorang wanita yang berdiri di depan pintu ruangan Direktur utama perusahaan.


Dengan penuh percaya diri Marissa bangkit. Dia adalah orang terakhir yang dipanggil, namun dia sangat yakin kalau dia akan diterima bekerja di sana, mengingat ini adalah perusahaan sahabat ibunya.


Marissa tersenyum dan masuk ke dalam ruangan.


“Duduk,” kata seorang pria tanpa menatap bagaimana rupa wanita tersebut.


Namun, Marissa malah tercengang dan mematung di dekat kursi tanpa berniat duduk. Dia tidak menyangka orang yang akan mewawancarainya adalah pria yang dia temui Sabtu malam di pernikahan Ashilla.


“Kenapa masih berdiri?” tanya iyash sembari mengangkat wajah dan menatap gadis itu. Namun, tiba-tiba Iyash dikejutkan dengan wajah wanita yang Sabtu malam menumpahkan kopi ke jasnya. “Kamu?” Dia lekas bangkit. “Mau apa kamu di sini?”


“Mau wawancara,” jawab Marissa ketus. “Om Hasa mana?” tanyanya kemudian.


Iyash berdecak dan kembali duduk. “Saya yang menggantikannya,” kata pria itu angkuh.


“Hah?” Marissa mengernyit.


“Kalau kamu tidak suka, silakan pergi,” kata Iyash tegas.


Marissa termenung. Sudah cukup jauh dia datang, setidaknya mencoba dulu, meski keadaan ini menyebalkan.


“Jangan buang-buang waktu, pekerjaan saya masih banyak,” kata Iyash tanpa menoleh.


Marissa menghela napas dan perlahan dia duduk di depan meja Iyash.


Pria berwajah tegas, namun enak dipandang itu kemudian membuka berkas milik wanita dua puluh dua tahun tersebut. “Marissa Indrawan.” Iyash kemudian membaca berkas itu tanpa melewatkannya sedikitpun. “Hah?” Tiba-tiba raut wajahnya berubah kesal. “Kamu membuat cv seperti ini?”


“Maksudnya?” Marissa lekas bangkit dan melongok berkas miliknya.


“Pengalaman berharga, pernah menjadi juara satu ajang pencarian bakat menyanyi?” Kening Iyash bertaut, dia bahkan mengulangi kalimat tersebut sampai dua kali,  kemudian menatap gadis itu. “Kamu gila?”


“Loh.” Marissa mundur. “Gila gimana? Saya juara satu ajang pencarian bakat menyanyi yang ditayangkan di salah satu televisi nasional. Cuma kamu yang menganggap saya gila dengan pencapaian saya.”


Iyash menjatuhkan berkas itu ke meja dengan kasar sampai Marissa terkesiap. “Kami mencari desainer interior, bukan penyanyi kelas teri, kamu pikir ini studio rekaman?”


Jantung Marissa mencelus.


“Perlu kamu tahu, yang ditulis di dalam surat lamaran kerja itu ya seharusnya pengalaman kerja, bukan pengalaman berharga!” Iyash kemudian bangkit. “Keluar kamu!” titahnya sembari menunjuk pintu.


Kedua mata Marissa membola. Dadanya bergemuruh kesal.


“Kalau memang kamu jago nyanyi, kenapa nggak jadi penyanyi, kurang laku kamu dipasaran?” tanya pria bermulut pahit itu.


Marissa membasahi tenggorokan. Mata elang itu terus menatapnya tajam.


“Membuat surat lamaran kerja saja kamu tidak becus!” Iyash melempar berkas ke wajah Marissa. “Saya tahu kamu tidak serius untuk pekerjaan ini, jadi lebih baik kamu keluar dan jangan pernah menampakkan wajah kamu di depan saya!”


“Apa ini karena saya pernah menumpahkan kopi di jas kamu, iya?” Dengan bodohnya Marissa malah bertanya demikian.


Iyash berdecak dan semakin kesal dengan tingkah polos wanita itu. “Karena kamu bodoh dan saya tidak akan mempekerjakan orang bodoh seperti kamu di sini.”


“Hah?” Marissa segera bangkit. “Kamu nggak tahu siapa saya?” teriak Marissa tak terima. “Keluarga saya cukup dekat dengan pemilik perusahaan ini, jadi, jangan mentang-mentang Om Hasa nunjuk kamu sebagai orang kepercayaannya terus kamu bisa seenak perut memperlakukan saya.”


Telinga Iyash panas, kepalanya bahkan seperti ingin meledak mendengar suara cempreng Marissa. Dia menarik tangan wanita itu. “Saya nggak peduli apapun hubungan kamu dengan pemilik perusahaan ini. Sekarang kamu pergi karena perusahaan tidak butuh orang seperti kamu.”


“Hei, kamu nggak bisa seenaknya kayak gini!” Marissa melepaskan cengkraman tangan pria itu.


“Sekarang kamu keluar!” Iyash mengempas tangan Marissa kasar.


Marissa hampir saja terjatuh karena perbuatan kasar Iyash. “Eh, cowok sombong! Awas kamu ya. Saya akan buat kamu menyesal!”


“Sissy!” panggil Iyash pada asisten ayahnya.


Sissy segera medekat. “Iya, Pak?”


“Kamu buka lowongan kerja yang baru, kalau bisa ajukan persyaratan khusus.”


Sissy membasahi tenggorokan. “Pak, sebenarnya semua pelamar diminta untuk mengisi beberapa pertanyaan dan Bapak bisa cek, siapa yang paling bagus jawabannya.”


“Nggak ada yang bagus,” jawab Iyash asal. Dia sendiri belum melihat dan memeriksa lembar kerja para pelamar. Baginya semua serba mendadak. Tiba-tiba pagi tadi dia mendapat telepon dari sang ayah untuk menggantikannya, padahal seharian kemarin dia tidak melihat sang ayah di rumah, dia juga tak bisa berhenti memikirkan percakapan kedua orang tuanya yang memutuskan untuk bercerai.


“Jadi, sekarang buka lagi lowongan pekerjaan, Pak?”


“Terserah kamu.” Iyash hendak menutup pintu ruangannya, namun dia terganggu dengan keberadaan Marissa yang terus menatapnya kesal. “Satu lagi, panggil security dan bawa dia keluar.”


“Hah?” Marissa mengernyit. Perlahan Sissy menoleh dan menatapnya. “Apa kamu?” tanya Marissa nyalang.


Sissy mendelik dan melenggang pergi.


“Saya bisa pergi sendiri.” Marissa berjalan melewati Sissy.


***


Siang hari setelah jam makan siang, Ashilla mengikuti saran Angkasa untuk membicarakan masalah ini secara baik-baik dengan Daniel. Mau tidak mau dia memang harus menghadapi satu hari di mana dia tak pernah ingin melaluinya. Satu yang paling membekas dari perkataan Angkasa adalah, jangan pernah mewariskan satu keburukan pun pada Asa, jika dulu Ashilla sampai tak  tahu siapa ayah dan ibunya, kini setidaknya Asa harus membangun hubungan baik dengan ayahnya sendiri, sehingga ketika Asa mengetahui yang sebenarnya, tidak akan ada kebencian di hatinya. Ashilla juga belajar dari kasus Aruna.


Siang itu Angkasa menemani Ashilla duduk di balkon bersama Daniel, bukan karena ingin ikut campur, tapi karena dia berkewajiban menemani Ashilla. Tak baik membiarkan istri sendiri berbicara dengan pria lain tanpa ditemani.


“Aku minta maaf,” kata Ashilla membuka percakapan.


Daniel menatap langit biru, kemudian beralih pada Ashilla. “Aku yang seharusnya minta maaf. Dulu aku tidak bermaksud meninggalkan kamu dan lari dari tanggung jawabku.”


Ashilla lekas menatap Angkasa sekilas. Lalu kemudian dia menatap Daniel kembali.


“Aku tidak ingin membahas masa lalu, bagiku semuanya sudah selesai.”


Jantung Daniel mencelus. “Saat Angkasa mengirim foto calon istrinya, aku sudah ikhlaskan semuanya karena aku tidak yakin bisa kembali lagi, meski hanya sebentar.”


Ashilla terdiam menatap Daniel sampai beberapa detik. “Aku hanya ingin membahas tentang Asa.”


“Iya, maaf.” Daniel menatap Angkasa.


Angkasa tersenyum, kemudian mengangguk.


“Satu Minggu lagi Asa ulang tahun, aku mengizinkan kamu untuk membuatkan pesta untuknya.”


Daniel termangu. “Kamu serius?”


“Ini usul Angkasa, aku nggak mau mempermasalahkan ini lagi. Bener kata dia, buang-buang energi, kalau semua bisa dibicarakan baik-baik kenapa harus menghindar.”


“Angkasa mengajarkan kamu banyak hal ternyata,” kata Daniel.


“Nggak juga,” tukas Angkasa.


 Ashilla tersenyum. Jika semua masalah selesai dengan mudah, kenapa dia tak mencobanya sejak awal.


“Dia yang membuat aku nggak ada waktu mengenang masa lalu.”


Daniel tersenyum kecut. Sementara Angkasa tersenyum bangga. Setidaknya, dia merasa menang dari Daniel, walau dia tahu mungkin saja Daniel akan menjadi duri dalam pernikahannya dengan dalih Asa.


“Oke.” Ashilla bangkit. “Semua sudah selesai.”


“Tunggu,” cegah Daniel. “Kapan kamu akan mengatakan semuanya?”


“Maksud kamu?” Ashilla mengernyit dan kembali duduk.


“Asa harus tahu siapa aku, ‘kan?”


“Tentu saja, Daniel,” timpal Angkasa.


Daniel tersenyum.


“Tapi, nggak sekarang,” tukas Ashilla. “Kamu sudah janji, ‘kan, selama aku nggak menjauhkan Asa dari kamu, semuanya aman.”


Daniel tergemap. Dia lupa pernah mengatakan itu.


“Kamu cuma akan bilang semuanya jika aku menjauhkan Asa.”


Daniel mengangguk. “Oke.” Tak masalah jika tidak sekarang, mungkin dia bisa memberi tahu Asa nanti setelah anak itu semakin merasa nyaman dengannya.


“Berarti selesai. Aku nggak akan melarang kamu mengajak Asa kemanapun. Silakan, tapi sekali saja kamu lakukan hal buruk, atau mempengaruhinya, aku tidak akan mengampuni kamu.”


“Dia anakku, ‘kan? Aku tahu apa yang harus aku lakukan padanya.”


Daniel dan Ashilla sama-sama keras kepala. Angkasa takut keduanya bersaing untuk memenangkan Asa, terutama Daniel, dia takut adik tirinya itu akan menjauhkan Asa dari Ashilla dan juga dari dirinya.


“Ya udah kalau begitu, aku minta alamat sekolah Asa.”


“Mau apa?”


“Jemput dia, mulai besok aku juga akan mengantarnya.”


Ashilla menatap Angkasa.


“Kasih aja. Buat apa dirahasiakan.” Angkasa bangkit, kemudian pergi.


“Kamu dengar, Angkasa yang terbaik,” kata Daniel.


Ashilla membasahi tenggorokan. Dia kemudian memberitahu Daniel tempat sekolah Asa. Sejujurnya  dengan mendekatkan Daniel pada Asa malah membuatnya khawatir, namun dia harus menyadari satu hal kalau Asa adalah darah daging Daniel dan Daniel punya kewajiban untuk membahagiakan Asa.


***