
Sejak pertengkarannya dengan sang ibu, Iyash mengurung diri dan Nadine terpaksa beradaptasi sendiri, mau tidak mau dia berusaha mendekatkan diri dengan keluarga Iyash, lagi pula ibunya Iyash cukup ramah padanya. Bahkan malam ini dia makan malam dengan kedua orang tua Iyash. Menunggu pria itu mungkin akan membuatnya sakit. Untung bekal makanannya masih ada, sehingga tadi siang dia hanya memakan roti yang dia bawa sebagai bekal.
“Iyash kalau marah memang begitu, besok juga baik lagi,” kata Ira.
Nadine tersenyum kikuk.
“Kok Iyash nggak pernah cerita tiba-tiba mengenalkan calon istri?” tanya Hasa.
“Ya bagus dong, Pa. Artinya Iyash siap membangun rumah tangganya sendiri.”
“Mama yakin?”
Nadine terbatuk dan hampir tersedak.
“Minum dulu, minum dulu.” Ira lekas memberikan segelas air.
Nadine cukup terkejut karena sejak kedatangannya Ira terus saja menganggap kalau dirinya adalah calon istri dari Iyash, sementara Iyash sendiri tidak mengkonfirmasi apapun, tentu saja itu membuat Nadine bingung.
“Sudah berapa lama kenal Iyash?” tanya Hasa.
“Kami bertemu di Spanyol dan sama-sama belajar di kampus yang sama.”
“Oh.”
Obrolan cukup intens, meski Nadine tak begitu banyak bicara. Bagi Nadine ini adalah kali pertama dia bertemu dengan kedua orang tua dari pria yang disukainya. Dia orang yang sulit jatuh cinta, sehingga sekalinya menjatuhkan hati, dia akan terus pada satu orang, sama halnya dengan Iyash.
“Memang sejak kapan kalian pacaran?” tanya Hasa lagi setelah menelan makanan terakhir.
“Nad, pergi yuk,” ajak Iyash di depan tangga. Nadine dan kedua orang tuanya menoleh, sehingga pertanyaan Hasa masih menggantung, padahal sejak siang Ira juga menanyakan hal yang sama, namun, belum mendapat jawaban.
“Kemana?” tanya Nadine pelan seraya tengadah menatap Iyash yang kini sudah berdiri di sampingnya. Suara Nadine enak didengar dan begitu lembut, pergerakannya pun terkesan lambat. Iyash baru menemukan wanita seperti itu.
“Yash, kasihan Nadine lagi makan,” kata Ira seolah tak terjadi apa-apa padahal Iyash masih kesal padanya.
“Yuk, Nad.”
“Tapi, makanku belum habis.”
“Udah nggak apa-apa.” Iyash langsung menarik tangan Nadine. Sementara Nadine sendiri terperangah menatap Ira dan Hasa bergantian. “Kalau kamu masih lapar, kita cari makan di tempat lain.”
“Om, Tante, saya minta maaf.” Nadine kemudian bangkit.
“Nggak apa-apa, mungkin Iyash kangen sama kamu,” kata Ira. Sedangkan Hasa terus menatap Iyash yang menghindari kontak mata dengannya.
“Permisi.” Dia mengikuti Iyash, sementara Iyash terus menggenggam tangannya sampai keluar. Inilah yang dia rasakan selama ini kenyamanan yang iyash berikan tanpa sadar.
“Yash, jangan bawa motor, takutnya nanti Nadine masuk angin,” ingat Ira.
Iyash mengabaikannya, tanpa diingatkan pun dia juga tidak akan membawa motor, lagi pula dia ingin bersantai dengan mengendarai mobil.
“Iyash serius, ‘kan?” tanya Hasa yang masih duduk di depan meja makan.
“Mama harap begitu.” Ira kembali menatap pintu yang baru saja dilalui anaknya. “Nadine gadis yang baik, lembut, Mama suka. Dia juga anak yang sopan, iya, ‘kan, Pa?”
“Hm.”
“Kalau Iyash nikah sama Nadine, nanti cucu kita lucu, rambut coklat terang, matanya hazel kaya Mamanya.”
“Hazel?” Kening Hasa mengeryit.
“Iya. Lihat saja bola matanya.”
“Hm.”
“Ayahnya orang Makassar, rencananya nanti Iyash mau mengantar Nadine bertemu ayahnya. Katanya sudah belasan tahun mereka nggak ketemu.” Ira begitu antusias menceritakan tentang Nadine kepada suaminya. “Bagaimana kalau kita ikut mereka sekalian bertemu besan.”
“Tunggu, kenapa bisa sampai selama itu?”
“Kedua orang tuanya bercerai.”
“Punya adik atau Kakak?”
“Anak tunggal.”
“Nanti kalau mereka menikah, Mama memang nggak keberatan Iyash tinggal di luar negeri ikut istrinya?”
Ira malah tertawa. “Yang ada Nadine tinggal di sini, walau bagaimanapun istri itu ikut suami.”
“Mama sendiri nggak mau ikut Papa ke Surabaya.”
“Itu, ‘kan beda lagi. Perusahaan keluarga Mama siapa yang mau melanjutkan?”
Kemarin malam Ira menangis karena rahasia besar dirinya. Namun, beruntung dia bisa menjelaskan, sehingga Ira bersedia memaafkan dan memberinya kesempatan.
***
Dua puluh menit mengemudi belum ada obrolan apapun, Nadine masih takut dengan bentakan Iyash sore tadi. Dia hanya tidak menyangka kalau Iyash bisa sekasar itu pada ibunya, jika pada ibunya saja seperti itu, Iyash akan dengan mudah melakukannya pada wanita lain.
“Mama mengira kita pacaran,” kata Iyash mengawali pembicaraan.
Nadine mengangguk.
“Biarin aja.”
“Hah?” Nadine mengernyit. Tentu saja dia tidak paham dengan maksud perkataan pria itu.
Iyash menoleh sekilas. “Bilang aja udah dua tahun kita pacaran.”
Jantung Nadine mencelus. “Kenapa harus bohong?”
“Biar Mamaku senang.”
Nadine masih heran dan mengernyitkan kening. “Tadi kamu bertengkar dan bahkan bisa begitu kesal sama Mama kamu, tapi sekarang kamu ingin membuat Mama kamu senang?”
“Kamu tinggal lakukan saja,” titah Iyash.
“Tapi, ini kebohongan. Nanti kalau Mama kamu tahu, dia akan kecewa.”
Iyash berdecak, dia juga kecewa dengan apa yang ibunya lakukan. “Kumohon, kamu cuma perlu berpura-pura jadi calon istriku. Itu saja!”
“Kamu pikir mudah?”
“Please, Nad.”
“Gimana kalau nanti orang tua kamu menikahkan kita.”
Iyash terdiam sampai beberapa detik.
“Aku tahu kamu tidak akan melakukannya,” dengkus Nadine pelan.
“Kita bisa cari cara lain kalau suatu saat kita harus menikah,” gumam Iyash.
“Cara?” Nadine berdecak dan segera menegakkan tubuhnya.
“Kita bisa pura-pura putus dan kembali berteman.”
Nadine menghela napas. “Aku nggak bisa, Yash,” tolak Nadine.
“Cuma pura-pura!”
“Justru itu, aku nggak bisa!” Andai pria bodoh itu mengerti kalau untuk pura-pura Nadine tak bisa, tapi jika sungguhan tentu saja Nadine bisa melakukannya tanpa ditanya.
“Please, Nad.”
“Yash, tapi–”
“Kamu tenang aja, aku akan bertanggung jawab dengan kebohonganku sendiri.”
“Terus dengan hatiku, apa kamu juga akan bertanggung jawab?”
Iyash tergemap.
“Tentu saja tidak, iya, ‘kan?” tebak Nadine. “Untuk hatiku.” Dia menunjuk dadanya sendiri. “Aku harus bertanggung jawab sendirian.”
“Maksud kamu apa? Aku nggak akan menyakiti kamu.”
“Justru dengan berpura-pura kamu sudah menyakiti aku.”
“Terus kamu maunya apa? Serius? Gila kamu, kita cuma teman.”
Nadine tergemap. Iyash baru saja menyakiti dan menghina perasaannya. “Besok aku mau pulang ke Makassar,” kata Nadine pelan.
“Astaga.” Seketika Iyash menghentikan laju kendaraannya. “Terus aku harus bilang apa sama Mama?”
“Kamu nggak usah bilang apa-apa, biar aku aja yang bilang semuanya.”
“Nggak, nggak bisa.”
“Cukup, Yash. Kamu nggak bisa seenaknya.”
Iyash menghela napas dan kembali mengemudi. Sudahlah dia akan cari cara lain, terserah Nadine bersedia atau tidak yang jelas dia akan tetap membuat Nadine berpura-pura di depan kedua orang tuanya. Dia pastikan kalau Nadine akan ikut permainannya.