Behind The Lies

Behind The Lies
Mengalah Pada Keinginan



Iyash menjawab panggilan Nadine seraya berjalan keluar dari halaman rumah Ganjar. “Kenapa, Nad?”


“Adisty itu siapa?”


“Kamu nelepon cuma mau nanyain Adisty?”


“Iya, tadi dia ke rumah.”


“Dia temanku.”


“Kamu banyak berteman dengan perempuan, pantas banyak yang terbawa perasaan,” kata Nadine di ujung sana.


Iyash terpegun.


Sementara itu Aruna mengintip di balik jendela. Dia baru saja terbangun saat mendengar suara Faran berbicara dengan seorang pria, dia ingin memastikan kalau orang itu bukan Iyash, namun dia terkejut karena ketajaman telinganya tak pernah salah. Dia masih sangat mengenali suara pria itu.


Iyash memutar badan dan melihat sekali lagi kediaman rumah Ganjar, siapa tahu ada Aruna di sana. Namun, Aruna malah bersembunyi dari pria itu.


“Sayang,” panggil Faran seraya membuka pintu.


Aruna melonjak kaget. “Mas.”


“Kaget ya? Maaf.” Faran tersenyum kering seraya mendekat. Dia kemudian menatap keluar jendela sementara Iyash sudah melesat dengan motornya. “Tadi ada orang ke sini, mau ketemu Ashilla.”


Aruna ikut menatap keluar jendela.


“Semalam Mas ketemu orang itu di restoran, kayaknya dia lagi cari seseorang sampai lupa lihat jalan.”


“Sok tahu,” komentar Aruna.


“Iya, soalnya kami nggak sengaja tabrakan. Mas buru-buru karena dapat telepon dari kamu. Sedangkan orang itu bilang lagi mencari seseorang jadi nggak merhatiin jalan.”


Jantung Aruna mencelus. Mukanya bersemu merah. Dia tahu kalau Iyash pasti mencari dirinya dan sekarang dia juga menyusulnya ke sini.


“Ada-ada aja, kita malah ketemu di sini,” kata Faran.


Faran memeluk Aruna dari belakang, kemudian menjatuhkan dagu di bahu wanita itu. “Gimana sekarang? Masih pusing?”


“Nggak sih, udah agak mendingan.”


“Masih ngerasa mual?”


Aruna kembali menggeleng.


“Pokoknya ingat sebelum makan, minum obat maag dulu.”


“Pesanan aku mana?”


“Di meja makan. Tadi, Mas udah minta Bi Sumi buat siapkan.”


“Opa gimana?” tanya Aruna.


“Alhamdulillah tadi udah siuman. Opa nanyain kamu.”


Aruna termangu. “Mas bilang apa?”


“Mas ceritain semuanya.”


“Terus Opa bilang apa?”


“Opa pengen ketemu. Kalau kamu sudah sehat, Nanti siang kita ke sana.”


Aruna tak mungkin menolak karena dia juga harus memperbaiki hubungannya dengan Ganjar.


“Aku belum ngobrol lagi sama Ashilla.”


“Dia ke kantor berangkat dari rumah sakit.”


“Berat jadi Ashilla.”


“Dia kuat, sama seperti kamu.” Faran mengeratkan pelukannya.


Aruna tersenyum. “Mas,” panggilnya tanpa mengubah posisi dan tetap menatap ke luar jendela.


“Hm?”


“Rekomendasi aku dicabut,” adu Aruna.


“Kenapa?” tanya Faran prihatin.


“Seharusnya hari ini aku persentase.” Aruna kemudian mengedikkan bahu. “Tapi–”


“Semua rencana kamu nggak akan berjalan jika tidak ada campur tangan Tuhan.”


Aruna mengangguk setuju. “Apa sebaiknya aku resign ya?”


“Kalau menurut Mas gimana?”


“Tujuh tahun kita hidup seperti ini. Untuk kali ini Mas berharap kita bisa menjalaninya dengan normal. Mas capek menekan semua rasa takut, khawatir dan resah setiap jauh dari kamu. Yang Mas rasakan bukan lagi rindu, Sayang.” Faran menghela napas.


“Aku sudah memikirkan ini sejak dua minggu yang lalu.”


“Memikirkan apa?”


“Aku mau resign dan ikut Mas ke Bali.”


“Kamu serius?”


Aruna mengangguk. Pada akhirnya dia mengambil jalan berbeda dari inginnya selama ini. Dia merasa kasihan pada Faran yang sudah sangat sabar menunggunya.


 “Sebenarnya aku masih ingin melakukan banyak hal.”


Faran tersenyum. “Kamu masih bisa melakukan semuanya. Ibu pasti senang mendengar keputusan kamu.”


Aruna tersenyum. Mengalah pada keinginan bukan suatu kekalahan. Justru dengan membuat orang-orang yang menyayanginya bahagia adalah suatu kebanggaan.


“Sudah saatnya aku menjiwai peranku sebagai istri kamu.”


“Terima kasih. Mas mungkin terlalu cepat meminang kamu.”


Aruna kembali tersenyum. “Setiap aku mengingatnya, aku langsung ingat ayah.”


“Mas juga. Mas nggak akan berdiri di sini kalau ayah tidak mengizinkan.”


Tentu saja, perjuangan Faran tak sesulit perjuangan Iyash. Bahkan sampai detik ini Iyash masih berjuang. Faran mungkin termasuk pria yang beruntung, tapi semua orang tak pernah tahu bagaimana perjuangan Faran untuk bisa menemukan cinta sejatinya.


***


Sore hari Ashilla pulang ke rumah lantaran dia sudah merindukan tidur di atas ranjang. Dia membiarkan Miranti dan Edgar yang berjaga di rumah sakit. Sebenarnya di sana tak boleh ada yang berjaga lebih dari satu orang. Namun, sejak Ganjar masuk rumah sakit Ashilla selalu di temani Angkasa dan kali ini Miranti ditemani Edgar.


Akan tetapi anak tunggal Miranti itu malah sibuk dengan laptopnya. Dia bahkan bersikap acuh tak acuh pada Ganjar.


“Papa harus gimana biar kamu mau memegang perusahaan?” tanya Ganjar pada Miranti. Selalu itu yang dia khawatirkan Edgar sampai menggeleng. Betapa kecintaan Ganjar begitu besar terhadap harta sampai rela kehilangan anak demi mempertahankan keduniawiannya.


“Ajal Papa semakin dekat.” Ganjar menghela napas. “Perusahaan kacau dipegang Ashilla.”


Miranti membasahi tenggorokan. “Aku akan minta Edgar buat gantikan Ashilla.”


“What?” Edgar seketika mengabaikan laptopnya. “Are you kidding me?”


“Hati-hati Edgar. Jaga bicara kamu,” sela Miranti. “Kali ini Bunda serius.”


“Tapi, Bund.”


“Kamu penulis dan kamu bebas bekerja di manapun, untuk sekarang Bunda minta kamu tinggal di sini dan mulailah menggantikan Opa.”


“Oke, tapi Bunda juga tinggal di sini dan tinggalkan karir Bunda di Amerika,” tantang Edgar. Dia yakin kalau ibunya tidak akan mau karena sama egoisnya seperti Ganjar, Miranti juga lebih mencintai karirnya di Amerika, semua ambisi itu menurun juga pada Aruna, namun kali ini Aruna mengalah karena ada sesuatu yang meluluhkan egonya.


Miranti seketika tergemap dan kehilangan beribu kata bantahan yang bisa menolak keinginan Ganjar dan Edgar, lagi pula alasan Miranti menunjuk Edgar hanya agar dia bisa kembali ke New York.


Kalau Miranti berkata tidak, tentu saja hal itu menguntungkan Edgar karena pria itu pasti akan ikut kembali dengannya ke Amerika.


“Bunda nggak bisa, ‘kan?” tebak Edgar. Miranti tak langsung memberi jawaban, sehingga Edgar menyimpulkan kalau Miranti memang tidak bisa meninggalkan karirnya. “Kalau begitu tunggu Asa dewasa aja,” cetus Edgar.


Seketika dada Ganjar kembali berdenyut. “Kamu lupa siapa yang membiayai kamu, Mir? Untuk bisa tinggal di sana sebelum karir kamu melejit tidak mudah, kamu butuh Papa.”


“Iya, Pa.” Miranti kemudian menatap Edgar. “Iya, kalau begitu aku akan tinggal di sini dan membantu Edgar mengelola perusahaan.”


Kali ini dada Ganjar terasa lega. Justru jantung Edgar yang baru saja mencelus. Edgar pikir ibunya tidak akan menyerah pada keinginan Ganjar, mengingat sejauh ini Miranti sudah bisa mengandalkan diri sendiri untuk hal apapun.


“Bunda yakin?” tanya Edgar. Dia kemudian menatap Ganjar. “Opa percaya sama aku?”


“Mau tidak mau. Ashilla sudah gagal dan kamu harapan Opa satu-satunya.”


“Kenapa tidak Aruna?”


“Kenapa harus dia? Kalau Ashilla saja sudah gagal apalagi dia? Gusman mungkin berhasil membesarkannya, tapi tidak mengokohkan mentalnya. Masih mending kalian. Opa akan anggap sedekah dengan membiayainya kuliah, jadi dia tak perlu terlibat dalam perusahaan.”


Dari balik pintu jantung Aruna mencelus. Dia menatap Faran yang berdiri di sebelahnya. Dia hendak pergi, namun Faran menahannya seraya menggeleng.


“Opa bisa menganggap sedekah dan mengikhlaskan semuanya, lalu kenapa aku dan Ashilla harus membayarnya?” tanya Edgar.


“Bukan membayar, Edgar, tapi mengembangkan,” ujar Ganjar.


“Ya aneh aja. Kami seolah harus mengganti apa yang Opa kasih. Memang Aruna tidak dibesarkan dengan harta Opa, tapi dia juga berhak mendapat waris karena dia juga cucu Opa. ”


“Cukup, Edgar. Opa masih hidup,” kata Ganjar terengah.