
Dua pasang kaki melangkah beriringan di bawah derasnya hujan. Payung hitam menaungi keduanya.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu,” kata Iyash.
Aruna tak bertanya apapun. Dia malah memikirkan hal lain.
Iyash membawanya ke taman dan menunjukkan cahaya warna-warni yang menghiasi taman basah itu. Tepat di tengah taman tersebut ada sebuah gazebo yang di dalamnya terdapat sofa abu-abu berbahan kulit sintetis, lantai batu kotak-kotak dengan rumput di sekelilingnya. Lampion-lampion yang menggantung di atas atap kayu itu menyala setiap malamnya.
Aruna terperangah melihat betapa cantiknya taman yang dikelilingi dengan bunga-bunga berwarna putih tersebut. Dia menghiraukan hujan dan pergi meninggalkan payung yang dipegang Iyash. Bibirnya tersungging, kepalanya tengadah seraya tersenyum menatap langit basah itu.
Iyash ikut tersenyum melihat Aruna sore itu. Dia membiarkan payungnya terbang terbawa angin, lalu berlari ke arah Aruna. “Aku sudah menepati janjiku.”
Aruna terdiam dan menatap pria itu.
“Kamu pernah bilang kalau nanti aku jadi arsitek, kamu minta dibuatkan taman, iya, ‘kan?” Iyash mengedarkan pandangan dan Aruna mengikuti arah pandang pria itu. “Ini tamannya.”
Aruna terperangah. Iyash kemudian menarik tangannya dan mengajaknya ke gazebo. “Aku sengaja membuat taman ini di panti. Biar kalau aku kangen sama kamu, aku tinggal datang ke sini.”
Aruna terenyuh. Untung Iyash tak melihat air mata yang terjatuh dari kedua matanya.
“Maaf butuh waktu lama untuk menunjukkan ini.”
Aruna hanya mengangguk. Sore itu Iyash tak mendengarnya banyak bicara. Keadaan membuat wanita itu tak bisa mengenang banyak hal dengan Iyash. Yang dia pikirkan saat itu, dosakah dia pergi bersama pria lain?
“Kenapa nggak minta dianterin Pak Yayan?” Iyash kemudian menatap wanita yang sedang menganjurkan telapak tangan dibawah tetesan hujan. “Padahal dia tahu tempat ini.”
Aruna tak menyimak perkataan Iyash, dia malah terlalu asyik menikmati hujan. Senyum di wajahnya terlukis menemani keindahan sore itu.
Iyash terpukau dan terus menatapnya sampai tak sadar kedua sudut bibirnya ikut tersungging.
Aruna terus tersenyum dan tidak menyadari kalau sejak tadi Iyash memperhatikannya. Dia kemudian menghela napas. “Aku masih ingat terakhir kali menikmati hujan bersama kamu, Mas.” Aruna menoleh dan seketika senyumnya memudar saat yang dia lihat ternyata bukan Faran.
Seketika bibir Iyash berhenti tersungging. Jantungnya mencelus dan dadanya terasa sakit.
“Maaf,” kata Aruna seraya mundur. Sama seperti Iyash dadanya juga berdegup kencang.
Iyash mematung. Entah sejak kapan Aruna melupakan sosok dirinya.
Aruna membasahi tenggorokan. “Iyash, aku–”
“Aku tahu, kamu sudah menikah.” Iyash tersenyum getir. “Selamat, Run.”
Mulut Aruna terbuka dan hendak menyampaikan sesuatu.
“Ashilla bilang kalau pernikahan itu amanat Pak Ridwan.”
Aruna mengusap kasar kedua matanya yang terus mengeluarkan air mata sampai membuat pandangan matanya kabur. “Maaf, Yash, maaf.”
Iyash meraih kedua tangan wanita itu. “Kita sahabat, aku hanya ingin hubungan kita kembali baik, seperti sebelum aku menyatakan cinta sama kamu.”
Aruna malah semakin sedih mendengar Iyash berkata demikian.
“Tidak ada kata maaf dan terima kasih dalam persahabatan.” Iyash memberi jeda. “Please, Run.”
Aruna membasahi tenggorokan.
“Kalau kamu perlu izin suami kamu untuk bersahabat denganku, lakukan, kamu tinggal telepon dia dan katakan semuanya.”
Jantung Aruna mencelus. Dia menjauhkan tangannya dari Iyash kemudian menggeleng.
“Kenapa, Run?”
Aruna mengempas bokong ke sofa. Dia menutup wajahnya dan menangis.
Aruna terdiam dan menahan isakan.
“Aku rindu senyum kamu.” Iyash mengajak bersahabat, tapi dia lupa menempatkan perasaannya sendiri. “Please, tersenyum lagi, kumohon.”
“Aku harus pulang.” Aruna bangkit. Namun, Iyash menahan tangannya.
“Tujuan kamu datang ke sini untuk apa, Run? Kamu bukan mau pamer hubungan kamu dengan dokter itu, ‘kan?”
Aruna tergemap dan menatap tangan Iyash.
“Kamu salah kalau berpikir aku sudah mendapat pengganti kamu.” Iyash kemudian bangkit. “Wanita yang kamu lihat di Bandara, dia hanya temanku.”
Iyash terdiam dan dia mulai lelah karena Aruna tak mengatakan apapun untuk menanggapi semua perkataannya sejak datang ke tempat itu. Dia merasa kalau Aruna tidak menghargainya.
“Eh, tapi apa peduli kamu, kita, ‘kan hanya sahabat,” kata Iyash pelan seraya melepaskan genggaman tangannya. “Hebat ya Dokter itu, bisa sabar menghadapi kamu,” tambah Iyash seraya berdiri dan menghadap ke arah lain. “Tuhan memang tahu apa yang terbaik buat kamu.” Dia menoleh sekilas. “Dan yang terbaik itu bukan aku.”
Aruna menarik napas, kemudian berjalan beberapa langkah dan membelakangi Iyash. “Kamu benar. Seharusnya aku nggak datang ke sini, seharusnya aku bisa menjaga kehormatan suamiku, aku tidak boleh menemui kamu secara personal seperti ini.”
Kali ini Iyash yang meneteskan air mata. “Kamu sudah seperti bulan dan sampai kapan pun aku tidak bisa meraihmu lagi.”
Aruna tertunduk dan menahan isakannya lagi.
“Jika kamu sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi, kenapa kamu harus sesedih ini?” tanya Iyash.
“Aku rindu sahabatku,” kata Aruna. “Aku rindu saat dia bilang, ‘kalau kamu butuh teman cerita, kamu bilang, ‘kan ada aku’.” Tenggorokan Aruna tercekat.
Iyash mengambil beberapa langkah ke dekat Aruna. “Kalau begitu kamu bilang dan katakan semuanya.”
Aruna berbalik dan menatap pria itu. “Aku nggak pernah melupakan kamu. Sampai detik aku memutuskan untuk pergi ke Indonesia, di kepalaku ada kamu. Setiap aku mengingat Jakarta semua yang terbesit tak lagi monas, tapi kamu.”
Iyash menatap getir wanita itu.
“Dan Tuhan langsung mempertemukan kita, seolah aku baru saja memintanya.”
Iyash terperangah.
“Berkali-kali aku minta maaf sama kamu karena aku merasa bersalah. Bukan pertemuan ini yang aku janjikan, Yash.” Aruna kemudian merogoh tas dan mengeluarkan buku diarynya.
Iyash termangu saat melihat Aruna membuka jilid buku tersebut dan mengeluarkan kertas robek yang terselip diantara pembungkus jilid berwarna putih itu.
“Ini yang sebenarnya aku tulis untuk pertama kali setelah kecelakaan itu.” Aruna menunjukkan kertas tersebut, dia kemudian membacakannya.
Iyash tergemap.
“Aku minta maaf untuk malam terburuk yang pernah kita lalui. Ini semua salahku, aku bahkan tak berani melihatmu terkapar lemah di ranjang rumah sakit.”
Aruna memberi jeda. Tenggorokannya tercekat.
“Aku minta mama kamu untuk bilang kalau aku sudah meninggal. Kamu nggak perlu menyalahkan dia. Semua kulakukan demi kamu dan Mama kamu. Semoga kita akan bertemu lagi di waktu yang benar-benar tepat. Kamu wujudkan cita-citamu, bahagiakan kedua orang tuamu. Aku juga akan melakukan yang terbaik untuk hidupku. Jangan khawatirkan aku, ayah membawaku ke rumah kakek dan kamu tahu, dia orang kaya.”
Iyash termangu. Bendungan di kedua matanya kembali terjatuh.
Aruna terus terisak, tapi tak menghentikannya untuk membaca surat yang dia tulis sepuluh tahun lalu itu.
“Yash, kamu harus jago berkelahi, taekwondo, karate, thifan atau apapun itu pelajarilah, bukan untuk melindungi aku, tapi untuk melindungi diri kamu sendiri. Kejadian kemarin juga mengajarkanku, kalau aku juga harus bisa melakukan semua itu. Tuhan akan pertemukan kita di saat kita sudah sama-sama hebat, siapa tahu kita bisa bertanding di ring.” Suara Aruna semakin pelan, kalimatnya sempat tercekat di tenggorokan. “Haha tidak.” Dia menarik napas dalam. “Itu tinju.”
Aruna kembali menarik napas. “Semoga kita akan bertemu lagi di belahan bumi yang sudah Allah tetapkan. Aku ingin pertemuan kedua kita menjadi hal yang istimewa seperti pertama kamu memberikan–” Aruna menjatuhkan tubuhnya ke lantai basah dan tertunduk seraya menangis.
Iyash ikut menangis sambil menjatuhkan lutut di depan wanita itu, dia kemudian memeluknya erat. “Aku sudah berulang kali membacanya. Itu yang membuatku yakin kalau kamu akan kembali.”
Jantung Aruna mencelus.