Behind The Lies

Behind The Lies
Gagal Menikmati Kebahagiaan



Saat Yayan kembali dari dalam rumah sakit menuju parkiran, dia terkejut melihat Aruna sudah berdiri di dekat mobilnya. Beberapa belanjaan tergeletak dekat kaki wanita itu.


“Astaghfirullah, Non dari mana?” tanya Yayan panik.


Aruna malah tersenyum. “Tadi, aku belanja dulu, Pak. Ke mall.”


“Astaghfirullah, kenapa nggak bilang?” Yayan mengambil semua belanjaannya dan memasukkannya ke bagasi.


“Tadi, lihat Pak Yayan tidur nyenyak banget, nggak tega kalau aku ganggu istirahatnya.”


“Terus, Non naik taksi?”


“Iya. Ya ampun aku minta maaf.”


“Nggak-nggak, seharusnya Pak Yayan yang minta maaf.” Yayan membukakan pintu mobil untuk cucu tuannya. “Maaf, tapi Pak Yayan panik.”


Aruna mengangguk. “Maaf udah bikin Pak Yayan panik, saya pikir nggak akan lama, taunya kena macet malah sampai gelap kayak gini, mana HPnya mati lagi.”


Aruna kemudian masuk ke dalam mobil. Yayan juga masuk dari pintu kemudi. “Non, tadi Non Ashilla nelepon. Kalau begitu saya kabari dulu.”


“Pinjam HP nya, biar saya yang bicara,” kata Aruna.


Yayan lekas memberikan ponselnya pada Aruna, kemudian dia melajukan mobilnya. Dari spion berkali-kali dia melihat wajah Aruna yang begitu merona, cerah dan tampak begitu bahagia, padahal semua orang tengah mengkhawatirkannya.


“Aku udah di mobil, arah pulang sama Pak Yayan,” kata Aruna setelah panggilannya terjawab.


“Kamu dari mana aja, Faran sama kedua orang tuanya datang.”


“Hah? Habis dari rumah sakit aku ke pusat perbelanjaan.”


“Kok Pak Yayan nggak tahu?”


“Iya, soalnya aku nggak sama Pak Yayan, tadi pas keluar rumah sakit Pak Yayan tidur, aku nggak enak banguninnya, soalnya nyenyak banget.”


“Kita ngobrol di rumah aja,” kata Ashilla sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon.


Aruna tergemap, namun bibirnya tetap tersungging. Entahlah hari ini dia benar-benar bahagia sampai membeli banyak barang seperti itu.


“Pak, makasih HP nya.”


“Iya, Non.” Yayan menerima ponselnya.


“Katanya Mas Faran, ayah sama ibu datang, nanti mampir restoran ya, saya mau beli makanan kesukaan mereka.”


“Iya, Non.”


Mobil terus melesat menerjang hujan yang perlahan mulai turun membasahi aspal. Sesampainya di restoran Aruna langsung pergi tanpa mengenakan payung, sehingga bajunya sedikit kebasahan. Takut kena marah keluarga yang lain, Yayan segera menyusul membawakan payung.


“Bapak mau pesan apa? Biar saya pesankan.”


Yayan menggeleng.


Melihat deretan menu makanan, Aruna malah bingung harus membeli apa, alhasil dia memborong semuanya dan meminta diantar ke mobil.


Lewat pukul tujuh malam akhirnya Aruna sampai di rumah. Yayan menurunkan semua belanjaan dari mobil. Wajah ceria dan rasa bahagia yang tergambar membuat semua orang urung mengomel terutama Miranti, dia malah heran karena Aruna berbelanja banyak sekali.


“Pak Yayan, makanannya langsung dibawa aja, minta Bi Sumi siapkan untuk makan malam,” kata Aruna.


“Kamu habis dari mana?” tanya Miranti heran.


“Habis dari rumah sakit, aku pergi ke mall.” Aruna masuk ke dalam rumah.


“Sama Yayan?” tanya Miranti sembari mengikutinya.


“Nggak, Pak Yayan ketiduran, aku nggak enak banguninnya.” Sudah tiga kali Aruna mengumandangkan itu sebagai alasan.


Entah apa yang membuat Aruna sebahagia itu sampai dia tidak menyadari kalau seisi rumah menunjukkan wajah khawatir sekaligus terheran-heran melihat tingkahnya malam itu.


“Ibu,” panggil Aruna seraya memeluk ibu mertuanya erat.


Ayu tersenyum dan membalas pelukannya. “Kamu udah bikin Faran khawatir.”


Aruna tersenyum. Dia kemudian bersalaman dan mengecup punggung tangan ayah mertuanya. “Ayah, sehat?”


“Sehat. Alhamdulillah. Mas Faran mana?”


“Di kamar,” jawab Ayu.


Semua orang mungkin berpikir Aruna akan segera pergi ke kamar menemui Faran dan menenangkannya. Namun, tidak, Aruna malah membagikan barang-barang yang dibeli yang dia sebut sebagai hadiah. Entah apa tujuannya, yang jelas hari itu semua orang dibuat penasaran olehnya.


 Aruna memberikan satu orang satu kotak hadiah. Dia memang tidak tahu kalau Faran dan kedua orang tuanya datang sore itu, tapi dia tetap membelikan hadiah untuk mereka dan rencananya akan diberikan jika mereka sudah sampai ke sini. Saat Ashilla menelepon dan memberi tahu kalau Faran sudah datang, kebahagiaannya berlipat ganda dan dia tak sabar untuk berbagi kabahagiaan dengan mereka.


“Ini untuk Ayah.” Dia memberikan satu kotak berwarna biru berisi dasi untuk ayah mertuanya.


“Ini untuk Ibu.” Lalu pada ibu mertuanya. “Semoga suka,” tambahnya. Dia membelikan bross dan juga jilbab yang senada dengan dasi yang dia berikan pada ayah mertuanya.


Aruna mendapat ucapan terima kasih dari kedua mertuanya. Dia tersenyum seraya mengangguk, lalu kemudian menatap Miranti. “Ini untuk Bunda.”


“Kamu kenapa aneh banget?” tanya Miranti seraya menerima kotak yang berisi kalung etnik yang cocok jika dipakai oleh Miranti yang fashionable.


“Aku cuma lagi pengen bagi-bagi hadiah aja.”


“Kan udah hadiah dari Jerman.”


“Yang dari Jakarta belum, Bund.” Bibir Aruna terus tersungging.


“Ini untuk Opa.” Aruna juga memberikan dasi untuk Ganjar.


“Terima kasih, Run.” Ganjar tersenyum.


“Sama-sama, Opa.”


“Ini buat Ashilla dan ini buat Asa.” Aruna langsung memberikan keduanya pada Ashilla.


Ashilla termangu dan tak langsung menerimanya.


“Kenapa, Shill? Kamu terima aja, aku lagi bahagia.”


Ashilla malah semakin mengernyit. “Bahagia kamu bilang? Sementara di sini semua orang panik memikirkan kamu. Kamu bisa nggak sih nggak mikirin diri sendiri terus? Kenapa di hari pernikahanku, kamu nggak bisa bikin aku tenang, sehari saja,” tutur Ashilla kesal.


Perlahan senyum Aruna memudar, dia terkejut karena hanya dirinyalah yang merasa bahagia, sementara yang lain tidak menyukainya.


“Aku capek dengar semua orang bertanya, Aruna mana, Aruna mana? Semuanya seperti tidak memikirkan kalau seharusnya aku ini istirahat, bukannya terus ngurusin kamu.”


Aruna membasahi tenggorokan. Perlahan air mata terjatuh dari sudut matanya.


Ashilla berbalik dan pergi meninggalkan ruang tamu tanpa membawa hadiah dari Aruna. Sementara Aruna langsung menyeka air matanya seraya membungkuk dan mengambil tas yang berisi tiga buah kotak.


“Bund, nitip buat Kak Edgar, Pak Yayan sama Bi Sumi.”


Miranti segera menerimanya. Dia terkejut karena raut wajah Aruna yang semula ceria kini berganti duka. Kalimat Ashilla telah menyakiti dan memudarkan cerianya.


Aruna kemudian pergi ke kamarnya seraya membawa satu kotak untuk Faran. Saat baru saja membuka pintu, Faran sudah berdiri di depannya dengan wajah yang tak biasa, baru kali ini Aruna melihat tak ada kasih sayang di wajah pria itu.


“Dari mana aja kamu?” tanya Faran datar. “Suami pulang bukannya disambut, malah kelayapan.”


Aruna terkejut mendengar Faran sekesal itu. Faran tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya, bahkan tatapannya begitu tajam.


Aruna masuk ke kamar tanpa menjawab pertanyaan Faran. Namun, Faran menahan tangannya.


“Kamu pergi sembunyi-sembunyi dari Pak Yayan biar bisa ketemuan sama mantan pacar kamu itu, ‘kan?” tuduh Faran.


Jantung Aruna berdegup ngilu. Dia tercengang dan tidak menyangka Faran bisa berpikir seperti itu. “Aku pergi karena Pak Yayan tidur di mobil dan aku nggak tega bangunin dia.”


“Bohong,” tuduh Faran tak percaya seraya melepaskan genggaman tangannya dari Aruna.


“Apa Ashilla yang bilang semuanya?”


“Berarti benar,” tuduh Faran.


“Apanya yang benar? Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanya Pak Yayan.”


Aruna terus masuk ke kamar. Kotak hadiah yang seharusnya dia berikan pada Faran malah dia letakkan di meja. Dia sudah tak berniat memberikannya, sikap dan tuduhan Faran membuatnya urung menikmati kebahagiaan itu dengan sang suami.