Behind The Lies

Behind The Lies
Merasa Dimiliki



Ashilla masih tampak murung. Angkasa tak pernah melihatnya seperti ini, apalagi ini adalah hari bahagianya. 


“Sayang,” panggil Angkasa seraya naik ke ranjang. “Kamu mau kemana?”


Ashilla menggeleng. 


“Kalau kamu mau kita bisa siapkan penerbangan, kamu mau ke Bali pakai tiket dari Aruna?” 


Ashilla kembali menggeleng. 


“Oh, kamu mau ke Bangkok aja, pakai tiket yang dari Papa?”


Ashilla tercenung menatap Angkasa. 


“Sayang,” bujuk Angkasa. 


“Aku nggak mau pulang ke rumah Opa.” Suara Ashilla bergetar. “Bawa aku pergi, aku nggak mau lagi tinggal di sana.” Air mata jatuh perlahan dan Angkasa segera menyekanya dengan ibu jari. 


Pria itu kemudian mengangguk. “Untuk sementara kita akan tinggal di rumah Papa. Kamu nggak keberatan, ‘kan?” 


Ashilla mengangguk. Yang penting dia tak lagi tinggal dengan Ganjar.  


“Sekarang kamu siap-siap, kita harus sarapan bareng sama keluarga besar.”


Ashilla malah menahan tangan Angkasa. “Aku takut.”


    “Karena Opa?” tebak pria berhidung bangir itu. 


    Ashilla termangu.


    “Menurutku, nggak usah terlalu dipikirkan, kamu sendiri yang bilang kalau sejak dulu Opa membenci ibu kamu, jadi, kejadian semalam bukan salah kamu.” 


    Ashilla menghela napas. “Sebenarnya aku sakit hati dengan hinaan Adisty.” 


    Angkasa membelai rambut panjang istrinya. “Jangan diambil hati. Biasanya orang yang berkata buruk tentang orang lain itu adalah orang yang sedang membuat penggambaran tentang dirinya.”


    Ashilla tersenyum perlahan. Dia lalu menjatuhkan kepala di bahu Angkasa. “Janji, kamu nggak akan ninggalin aku.” 


    “Aku nggak ada alasan untuk melakukan itu.” Angkasa membelai pipi istrinya. 


    “Maaf untuk semalam.” 


    Angkasa tersenyum. 


    “Kita bisa lakukan sekarang,” bisik Ashilla. 


“Kamu serius?” Angkasa langsung menegakkan tubuhnya. Namun, saat baru saja hendak mengecup bibir sang istri, seseorang mengetuk pintu kamarnya. 


Ashilla tersenyum sedangkan Angkasa malah terlihat tak senang. Meski begitu dia tetap mengecup bibir istrinya sekilas. 


“Hai, Niel?” 


Jantung Ashilla mencelus. 


“Maaf mengganggu,” kata Daniel di depen pintu. 


“Iya?” 


“Aku lupa ngasih ini.” Daniel menganjurkan kotak karton berwarna ungu pada Angkasa.


“Wah.” Angkasa mengambil kado itu dari tangan adik tirinya, lalu dia menoleh ke belakang. “Sayang, kita dapat kado dari Daniel.” 


Ashilla tersenyum kikuk. 


“Makasih, ya, Niel.” 


“Iya sama-sama. Kalau begitu aku permisi.” 


“Daniel,” panggil Miranti tiba-tiba. “Kita sarapan dulu.” 


Daniel mengangguk. 


Miranti kemudian menatap Angkasa. “Sarapan dulu, ajak Ashilla.” 


“Iya, Bund.”


Miranti pergi, begitupun dengan Daniel. Sedangkan Angkasa kembali menutup pintu. Lalu menghela napas. “Kita sarapan dulu,” katanya sembari meletakkan kotak kado di atas meja. Dia lalu kembali duduk di atas kasur. 


“Nanti aja, aku belum lapar,” kata Ashila. 


“Tapi, yang lain pasti nunggu kita.”


“Biarin aja.” Ashilla lalu menyandarkan kepala dan memeluk lengan Angkasa. 


Angkasa tersenyum. Dia kemudian mengecup puncak kepala sang istri. Lalu meraih pipinya dan menegakkan kepala Ashilla. Dia mendekatkan wajah dan mengecup bibir sang istri, lama. Kedua mata Ashilla terpejam dan membiarkan Angkasa mendapatkan haknya sebagai suami. Pria itu menurunkan bibir ke leher dan meninggalkan jejak di sana, kemudian turun ke bahu. ******* Ashilla membuat Angkasa semakin bergairah. 


Sementara itu, di restoran hotel semua orang sudah berkumpul untuk sarapan. Sekaligus ada beberapa hal yang ingin Ganjar sampaikan, namun ditunggu-tunggu Angkasa dan Ashilla belum juga turun. 


“Iya, Pa.” 


“Kenapa belum datang?” 


“Nanti aja, Pa. Sekarang lebih baik kita makan.” 


Ganjar berdecak kesal.


“Biarin aja. Namanya juga pengantin baru, sekali-kali kita harus memaklumi mereka,” kata Miranti. Dia kemudian mengedarkan pandangan. Tampak semua orang tengah sibuk memilih menu makanan, sedangkan Ganjar malah ingin berkhotbah. 


Miranti kembali menatap sang ayah. “Papa mau pesan apa?” 


“Papa mau nasi kebuli.” 


    “Ya udah Mira pesenin.” 


“Sayang, kamu mau makan apa?” tanya Faran pada Aruna.  


“Aku mau yang enak,” kata Aruna. 


“Semuanya juga enak.” Faran memperlihatkan daftar menu. 


“Ini aja.” Aruna menunjuk salah satu gambar. Lidahnya tiba-tiba terbit melihat sayap ayam disiram saus madu.


Faran mengangguk dan menuliskan pesanan Aruna. 


Sementara itu tak ada yang memperhatikan Asa, semua orang sibuk sendiri. Edgar sibuk membalas pesan masuk, sampai lupa memesan. Miranti sibuk menelepon Angkasa, namun tak diangkat. Faran sibuk mengobrol dengan Aruna. Pun dengan Ayu dan Kamal. Sedangkan Daniel duduk menunggu Angkasa. Dia tidak mengenal siapapun dan dia harap Angkasa akan segera datang sehingga tak membuatnya merasa asing di sini. 


“Bunda,” panggil Asa. 


Miranti berbalik dan berjalan ke arahnya. “Kenapa, Sayang?” 


“Mama mana?” tanya Asa mulai kesal.


“Nggak tahu. Papa Angkasa di telpon juga nggak dijawab.” 


Asa menghela napas. 


“Run,” panggil Miranti. 


“Iya, Bund?” Aruna menegakkan tubuhnya. 


“Bantu Asa pesan makanan,” titah Miranti.  


“Oh iya.” Aruna menatap Asa. “Sini-sini. Anak Mama Shilla mau makan apa?” Aruna perlahan bangkit dan meninggalkan kursi. Asa duduk di sebelah Ganjar, sedangkan Aruna sendiri cukup jauh, sehingga dia harus memutari meja untuk bisa sampai pada bocah itu. 


Sementara itu Daniel terus menatap ke arah mereka. Dia tak salah dengar kalau bocah itu adalah anaknya Ashilla. 


“Om,” panggil Aruna pada suaminya. “Asa mau nugget katanya.” 


 “Yang mana?” tanya Faran seraya bangkit dan mendekat. 


“Ini.” 


“Oh.” Faran langsung menuliskannya di kertas. “Minumnya apa?” 


Asa tengadah dan menatap Aruna. “Nuna, aku boleh minum yang dingin?” tanya bocah itu.


Aruna tersenyum. “Nggak boleh. Nanti Mama marah. Susu aja ya?” 


“Ya udah. Susu strawberry.” 


Aruna kemudian menatap sang suami. “Tulis, Sayang,” titahnya. 


Faran tersenyum dan langsung menulisnya di sana bersama pesanan yang lain. “Udah?” 


“Udah ah, jangan kebanyakan takut nggak habis.” Aruna kemudian kembali ke kursinya yang kebetulan ada di sebelah ibu mertua. 


“Ini udah? Nggak ada lagi yang mau pesan?” tanya Faran pada yang lain. 


“Aku belum,” kata Edgar. Dia kemudian mendekat pada Faran yang saat ini sedang duduk di sebelah Asa, dua kursi itu dikosongkan untuk Ashilla dan Angkasa, namun sampai detik ini pengantin baru itu masih menikmati keindahan yang terlewat semalam. 


Miranti kembali duduk dan tak lagi memikirkan apakah Ashilla dan Angkasa akan makan bersama atau tidak. 


Edgar sudah memesan roti bakar dan secangkir kopi. Sama seperti yang dipesan Daniel, namun berbeda dari segi rasa dan selera kopinya. 


Sampai makanan tersaji di meja, tak ada tanda-tanda Angkasa dan Ashilla akan turun dan makan bersama. Sepasang pengantin baru itu malah melanjutkan kegiatannya di kamar mandi sembari mandi bersama. 


Wajah ceria Ashilla adalah obat bagi Angkasa. Dia tak ingin lagi melihat istrinya murung dan bersedih seperti semalam. Apapun yang Ashilla minta dia bersumpah akan mengabulkannya. 


    Air mengucur dari shower dan membasahi puncak kepala Ashilla. Angkasa berjalan ke arahnya dan memeluknya dari belakang. “I love you,” bisiknya. 


    Ashilla tersenyum dan berbalik. “I love you too,” jawabnya seraya mengalungkan tangan di leher Angkasa. 


    Angkasa tersenyum dan kembali mengecup bibir istrinya. Ashilla benar-benar terbuai. Dia merasa dimiliki secara utuh, perasaan itu pernah hadir ketika dia dibuai oleh ayahnya Asa. Namun, kali ini berbeda. Angkasa tak akan lari dari tanggung jawabnya sebagai pria.