
“Kenapa kita jadi lebih sering bertemu?” tanya Iyash.
“Kamu hanya akan bertemu dengan siapa yang ingin kamu temui dan kamu hanya akan melihat siapa yang ingin kamu lihat.”
Iyash tertawa mendengar jawaban Ashilla. Akan tetapi wanita itu memang ada benarnya, karena dia hanya ingin melihatnya.
“Kalau kita bertemu dengan orang yang tidak ingin kita temui? tanya Iyash lagi.
“Menghindar. Itu, ‘kan yang biasa dilakukan manusia?”
Sejak datang beberapa menit yang lalu, Ashilla tak langsung mengajaknya masuk dan malah mengobrol di taman depan menikmati semilir angin malam. Kemarin malam di telepon Ashilla meminta Iyash mencarikan guru les untuk Asa, namun, malah Iyash yang bersedia menjadi guru les anaknya.
Seharusnya Ashilla tak melakukannya. Dia bisa saja mencari guru les dengan bertanya pada pihak sekolah, bukan pada Iyash.
“Lily nanyain kamu,” kata Iyash, dia kemudian menirukan suara anak kecil. “Kenapa Mamaku nggak pernah datang lagi, memang dia nggak sayang lagi sama aku?”
Seketika Ashilla tersenyum. “Kamu sadar nggak sih,” lalu kemudian dia tertunduk seraya menggaruk alis, “dia terlalu jauh dan aku belum bisa menyempatkan waktu ke sana.”
“Kalau dia tinggal di sini, kamu nggak keberatan?”
Seketika Ashilla terperangah menatapnya. “Aku sih nggak, tapi, ‘kan ini rumah Opa.”
“Oh, kalau gitu aku akan memberitahu Opa. Mungkin nanti Asa jadi ada temannya?”
“Kayaknya memang harus dibicarakan, takutnya Asa juga keberatan.”
“Bukannya anak itu harus mengikuti apa kata orang tua? Asa seharusnya nggak akan nolak karena kamu nggak perlu meminta persetujuannya?”
“Kok gitu? Asa juga manusia loh, kita nggak bisa bertindak seenaknya, meski sebagai orang tua. Aku nggak mau dibilang otoriter.”
“Itu bukan otoriter, kamu cukup menjelaskan dan keputusan akhir ada di kamu, lagi pula mau tidak mau Lily juga anak kamu dan mereka akan menjadi saudara, ‘kan?”
Ashilla seketika tergemap. Namun, bukan itu masalah sebenarnya, tapi dia memang belum siap membicarakan tentang Lily. “Eh tapi, nggak deh, lebih baik Lily tetap di sana, biar nanti aku yang jenguk ke sana.”
“Kata kamu jauh?”
“Iya, tapi–” Ashilla menjeda kalimatnya. “Aku belum membicarakan ini sama Angkasa.”
Iyash mengangguk dan telinganya tiba-tiba panas mendengar nama itu.
“Ngomong-ngomong perkembangannya gimana?” tanya Ashilla.
“Perkembangan apa?”
“Keluarga Lily?”
“Belum.”
“Kenapa lama? Jangan-jangan–”
“Mama,” panggil Asa di depan pintu, membuat Ashilla mengurungkan apa yang seharusnya dia sampaikan pada Iyash.
“Hai … kenalin, guru les kamu.” Ashilla menoleh pada Iyash.
“Mom?” Asa tampak keheranan. Dia meminta Ashilla membungkuk karena dia ingin membisikan sesuatu pada sang ibu. Tentu saja Ashilla langsung memenuhi keinginan Asa, manakala anak itu menggerakkan satu tangan di depan wajah sembari menutup mulut. “Kenapa Om Iyash, memang nggak ada yang lain?” bisik Asa.
Masih dalam keadaan membungkuk Ashilla menoleh pada pria yang berdiri tegak di sebelahnya. “Dia memang bukan guru, dia arsitek, tapi kamu tahu katanya dulu dia juara kelas dan juara olimpiade tiga tahun berturut-turut,” kata Ashilla pelan dan bukan berbisik sehingga Iyash mendengar apa yang dikatakan Ashilla pada Asa.
Iyash tersenyum menatap ibu dan anak itu. Namun, dari tatapan Asa menunjukkan kalau dia tidak suka dengan kehadiran Iyash, karena dia pikir kalau kedatangan pria itu bukan untuk mengajarinya belajar, tapi hanya ingin mendekati ibunya.
“Asa nggak mau belajar sama Om Iyash,” tolak Asa.
“Kenapa?” tanya Ashilla yang sudah menegakkan tubuh sejak tadi. “Kemarin kalian cukup akrab, ‘kan, seharusnya itu jadi lebih mudah buat Asa.”
“Nggak! Om Iyash cuma mau deketin Mama,” jawab Asa tegas.
Seketika kening Iyash mengernyit.
“Asa ….” Ashilla merengut. Dia tidak nyaman dengan apa yang dikatakan Asa pada Iyash. “Yash, atas nama Asa aku minta maaf.”
“Kenapa? Lagi pula yang dikatakan Asa memang benar,” jawab Iyash terang-terangan.
Asa dan Iyash saling tatap. “Kenapa Bunda minta tolong Om Iyash buat ngajarin Asa?” tanya bocah itu.
“Mama cuma minta caariin guru les dan ternyata Om Iyash bersedia.”
“Apa karena Mama nggak keluar uang, maksud Asa this is free?”
Ashilla menggeleng. “Astaga. Bukan begitu. Mungkin lebih ke kalau ada apa-apa enak ngomongnya. Kalau butuh bantuan apapun ya gampang karena kita sudah kenal, begitu, Sayang,” kata Ashilla lembut.
Asa menghela napas. “Ya sudah, Mama yang minta,” kata Asa keberatan.
“Jadi, gimana?” tanya Ashilla memastikan dan agar Asa memberi jawaban jelas, bukan jawaban terpaksa seperti itu. “Asa mau cari guru yang lain?”
“Iya,” jawab Asa tegas.
Ashilla menarik napas dan menoleh pada Iyash. “Maaf, sudah membuang waktu kamu.”
“Nggak kok,” kata Iyash kikuk. Tentu saja dia membuang banyak waktu. Dia bahkan rela meninggalkan proyek untuk malam ini.
Asa berjingkat dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dia kesal bukan main. Entah kenapa, tapi nampaknya dia tidak suka karena Iyash bertujuan mendekati ibunya.
“Karena kamu sudah jauh datang, aku buatkan teh.” Ashilla mengajak Iyash masuk dan meminta pria itu duduk di sofa. “Tunggu sebentar.”
Iyash mengangguk. Setidaknya malam ini dia berhasil dekat, meski kesempatan lainnya gagal.
Tak berapa lama Ashilla datang dan membawakan teh untuknya. “Aduh, aku jadi nggak enak,” kata Ashilla seraya duduk.
“Nggak apa-apa, nggak usah dipikirin.”
Dari kejauhan Asa mengintip kedekatan Iyash dengan ibunya. Dia masih ingat saat Iyash bilang kalau Iyash menyukai ibunya. Dan kejadian kemarin adalah hal yang paling jelas sebelum ini.
“Silakan dicicipi,” pinta Ashilla.
“Makasih.” Iyash mengambil cangkir tersebut dan mendekatkan ke mulutnya. Tiba-tiba dari jauh Asa melempar bola tepat mengenai cangkir tersebut, hingga airnya tumpah mengenai paha Iyash.
“Astaga!” Kali ini Ashilla marah. “Kamu kenapa, Asa?” teriaknya seraya bangkit dan menoleh pada Asa. “Mama udah setuju kalau kita cari guru lain, tapi kamu nggak bisa bersikap seperti ini!”
“Errgghh ….” Asa berlari dan pergi ke kamar. Dia benar-benar kesal.
Ashilla hendak menyusul anak itu, namun Iyash menahannya.
“Nggak apa-apa,” kata Iyash meskipun kepanasan. “Aku ngerti kok.”
Ashiilla menghela napas. “Aku minta maaf. Aku nggak tahu kenapa Asa jadi kayak gini, kemarin waktu ketemu kamu, dia baik-baik aja, ‘kan?”
Iyash mengangguk. “Aku kayaknya pulang aja.”
“Yakin?”
“Iya, mau gimana lagi.” Iyash menatap kedua pahanya.
“Ya ampun aku minta maaf.”
“Iya-iya, nggak apa-apa.
Ashilla kembali menghela napas. Dia mengikuti Iyash berjalan ke luar rumah. Pria itu naik motor dan celananya basah. “Kamu yakin pulang sekarang?”
“Iya,” jawab Iyash singkat.
“Nggak akan masuk angin lagi?”
“Mana ada, aku kuat kok.”
“Makasih udah datang dan maaf untuk kejadian ini.”
“Nggak apa-apa, sudah biasa jika hal terjadi di luar kendali.”
Ashilla mengangguk. Iyash cukup berbesar hati menerima apa yang dilakukan Asa terhadapnya.