Behind The Lies

Behind The Lies
Dimarahi



Sepuluh jam akhirnya mereka sampai di stasiun dan mencari keberadaan Sugeng, sopir Juragan Hartanto.


“Sekarang gimana?” tanya Iyash sembari terus melangkah.


“Gimana apanya?”


“Kamu udah nggak sedih lagi, ‘kan?”


Aruna menghela napas.


“Ingat, kalau butuh teman cerita, cari aku aja.”


“Iya.”


“Jangan sedih lagi, wajah kamu jadi jelek.”


Aruna menoleh menatap Iyash yang juga sedang menatapnya, kemudian dia membuat kedua bola matanya berkumpul di tengah dan jadi juling.


Iyash tertawa sembari mengusap wajah gadis itu dengan telapak tangannya. “Jadi makin jelek.”


Aruna tersenyum dan menatap ke arah lain. Kini mereka sudah berdiri di pinggir jalan menunggu Sugeng. Aruna menarik tangan kiri Iyash untuk melihat arloji pemuda itu. Dia kemudian menghela napas.


Tak sampai lima menit Sugeng datang dan mereka langsung masuk ke dalam mobil. “Gimana, Mas, study tournya?” tanya Sugeng.


“Nggak ada yang study tour,” jawab Iyash ketus.


“Terus kalian berdua saja, pacaran?” selidik Sugeng sembari melaju pelan.


“Iya. Kami pacaran,” jawab Aruna tak kalah ketus.


Seketika Iyash menoleh. Jantungnya berdegup kala Aruna berkata demikian. Namun, dia tahu kalau Aruna hanya bercanda.


“Jauh ya pacaran sampai ke Jakarta. Sudah bosan di kampung?”


“Bosan. Banyak orang munafik di kampung. Setidaknya kalau di kota mereka tidak akan mencampuri urusan kami,” kata Aruna lagi. Sementara Iyash hanya terdiam dan tertunduk. Meski belum menikah, Sugeng jauh lebih tua dari mereka, itulah alasan Iyash tidak meladeninya.


“Run-Run.” Sugeng geleng-geleng kepala. “Kasihan ayahmu kena bohong. Kamu ndak mikir opo, hm?”


“Bukan urusan Mas Sugeng, toh, jalan saja, ndak usah banyak komentar.”


“Laki sama perempuan ndak boleh pergi berduaan.”


“Iyo yang ketiganya Mas Sugeng.”


“Setan! Opo Mas Sugeng-Mas Sugeng?”


Iyash menggeleng saat Aruna terus beradu argumen dengan Sugeng. Dia hanya tidak menyangka setelah menganal Aruna ternyata gadis itu jauh dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.


“Sekali lagi kalian berduaan, pergi jauh, tidur bareng, hamil kamu.” Sugeng seolah menyumpahi Aruna.


“Hati-hati kalau ngomong, Mas,” kata Iyash tegas. “Saya dari tadi diam karena Mas Sugeng lebih tua dari saya. Saya menghargai, tapi kalau Mas seperti itu, Mas nggak pantas dapat penghormatan dari kami.”


Sugeng tiba-tiba tergemap. Sesampainya di depan rumah Juragan Hartanto mereka lekas  turun, saat Aruna hendak pulang ke rumahnya tiba-tiba Nenek Alma memanggil.


“Aruna, ke sini dulu sebentar kami mau bicara.”


Jantung Aruna mencelus. Bukannya langsung masuk, Aruna malah mematung dan menatap Iyash yang juga masih berdiri di depan rumah. Sama seperti Iyash, Aruna juga sebenarnya takut, apalagi setelah melihat wajah Nenek Alma yang biasanya ramah, sekarang berubah menjadi garang.


Perlahan Iyash melangkah masuk diikuti Aruna. Walau bagaimanapun mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka lakukan. Sesampainya di ruang tamu mereka terkejut melihat semua orang berkumpul, termasuk Ridwan yang juga sudah ada di sana.


Dua lembar surat study tour palsu teronggok di meja. Padahal Iyash tidak pernah menunjukkannya, sepertinya Nenek Alma menemukan kertas tersebut di rak bukunya.


“Duduk!” titah Nenek Alma.


Iyash dan Aruna pun terpaksa duduk di sofa yang sama dan bersebelahan.


“Jelaskan pada kami, kalian dari mana?” tanya Juragan Hartanto tegas dan berwibawa.


Mereka malah terdiam.


Jantung Iyash mencelus, sungguh dia bingung harus menjawab apa karena yang berhak menjawabnya adalah Aruna. Sejatinya Iyash hanya menemani.


Mirasih terpejam sembari menghela napas. “Aruna, kamu meminta Iyash mengantar kamu ke Jakarta untuk apa?”


Aruna pun terdiam dan menatap Ridwan lama sekali. Tiba-tiba air matanya jatuh terurai.


Mirasih kembali menghela napas. Iyash takut kali ini Kakak dari ayahnya itu membentak karena seperti yang mereka tahu, Mirasih adalah seorang pemarah dan tegas, dia tidak akan mengampuni siapa saja yang berjalan tanpa sesuai dengan peraturan yang dibuatnya. “Yash, kamu mengantar Aruna untuk menemui Masmu?” desak Mirasih.


Jantung Iyash berdegup. Kalau dia jawab iya, Mirasih pasti marah besar, kalau  dia jawab tidak mereka pasti meminta jawaban lain, akhirnya Iyash kembali diam.


“Ck. berarti memang benar.” Mirasih kemudian menatap Aruna. “Aruna, sudah saya katakan jangan pernah mengganggu pendidikan anak saya, dia ke Jakarta untuk belajar, dia memiliki cita-cita. Lagi pula kamu masih terlalu kecil untuk melakukan ini, harusnya kamu fokus pada pendidikan kamu saja, jangan pernah mengganggu anak saya,” cecar Mirasih tegas.


Namun, nampaknya Aruna tak peduli, dia malah diam dan tak membuat pembelaan apa-apa, yang Iyash takutkan itu malah menambah kesedihannya.


“Aruna!” bentak Mirasih hingga mereka berdua terkesiap. “Kamu dengar perkataan saya?”


“Aruna ke Jakarta buat nyari ibunya,” tukas Iyash cepat dan seketika semua orang beralih menatap Iyash. “Maaf, Run, aku terpaksa bilang.”


“Aruna, apa itu benar?” tanya Ridwan.


Aruna mematung. Jiwanya seperti terlempar, padahal sebelumnya dia beradu argumen dengan Sugeng. Akhirnya Iyash yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan Ridwan alias Gusman. “Iya, Pak, saya minta maaf.” Iyash menghela napas. “Aruna hanya meminta bantuan saya dan sudah seharusnya saya membantunya.”


“Karena kamu suka?” tuduh Mirasih.


“Karena Aruna teman Iyash, Bude,” tandas pemuda itu.


  “Teman? Seharusnya kamu nggak ikut campur urusan Aruna terlalu jauh, Iyash,” kata Mirasih lagi. Sementara Nenek Alma, Juragan Hartanto dan Ridwan tampak kecewa.


“Apa salahnya? Kalau bukan Iyash yang membantunya terus siapa? Pak Ridwan?”


 Seketika Aruna mengalihkan pandangannya dan dia menatap Mirasih. “Setidaknya cuma Iyash yang jujur.”


Iyash menoleh dan menatap Aruna yang tak hentinya menyeka air mata.


“Aruna nggak minta lebih, Aruna cuma pengen tahu apakah wanita yang melahirkan Aruna masih hidup atau memang sudah meninggal,” ungkap Iyash.


“Apa hasil yang kalian dapatkan, hm? Kenapa tidak jujur sejak awal? Kenapa harus berbohong?!” Mirasih menggebrak meja.


“Sabar Mir. Mereka masih muda.”


“Justru karena mereka masih muda, Bu, jangan dibiasakan berbohong.” Mirasih menghela napas dan menatap Aruna. “Kamu melibatkan Iyash dalam masalah kamu dan kamu menyuruhnya berbohong?”


Iyash seketika menggeleng. “Itu inisiatif Iyash kok, Bude.”


“Diam kamu! Bude tahu kamu nggak mungkin bohong, apalagi sama Nenek dan Kakek.”


Aruna menghela napas. “Iya. Aruna yang minta Iyash mengarang cerita soal ulang tahun teman.”


“Bagus. Iyash di sekolahkan di sini untuk mendapat lingkungan yang baik, tapi kamu malah memberi pengaruh yang buruk.”


Aruna merasa tertampar. Air matanya kembali melintas di pipi merahnya. Perlahan kemudian dia bangkit, lalu pergi meninggalkan kediaman Juragan Hartanto.


“Bude keterlaluan!” teriak Iyash. Dia pun memilih pergi ke kamar.


Sementara perlahan Ridwan menurunkan lutut di depan mereka. “Saya minta maaf. Saya gagal mendidik Aruna.”


“Lain kali, ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Mirasih.


“Wan, tidak apa-apa. Aruna masih muda, rasa penasarannya besar, jiwanya terlihat bergejolak,” kata Nenek Alma.


“Dia hanya ingin mencari kebenaran untuk hidupnya,” timpal Juragan Hartanto.


Ridwan tertunduk. Perlahan kemudian dia bangkit. “Saya permisi. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”