
Faran terbangun mendengar suara ribut di tengah malam. Rupanya Miranti dan Edgar datang, dia menatap Aruna yang terlihat begitu nyenyak, sampai dia tak berani membangunkannya.
Faran keluar dari kamar untuk menyambut wanita yang sudah dianggap sebagai ibu olehnya.
“Faran? Duh kami berisik ya sampai kamu bangun?” tanya Miranti.
“Nggak kok, Bund. Kebetulan mau ambil minum di dapur.” Faran lekas memeluk Miranti. “Apa kabar?”
“Baik, kamu sendiri?”
“Alhamdulillah.” Faran kemudian menatap Edgar dan memeluknya sekilas. “Apa kabar, Ed?”
Anehnya Edgar malah mengedikkan bahu sampai membuat Faran tersenyum. “Aku mending di Bali daripada di sini.”
“Hush.” Miranti memukul lengan sang anak. “Kamu ini tidak menghargai. Coba tinggal di sini sebulan, baru kerasan.”
“Boleh, tapi nggak sama Opa.”
“Jangan gitu, Opa lagi sakit. Lagian sekarang Opa sudah banyak berubah. Tanya aja sama Ashilla.”
Edgar tersenyum kering. Dia pernah tinggal di rumah itu ketika seusia Asa dan dia tidak tahan dengan sikap otoriter kakeknya. Dia harus mengikuti semua aturan yang diterapkan Ganjar, dan Ganjar tak segan-segan memarahinya bahkan untuk masalah kecil, seperti lupa mematikan lampu kamar, lupa menjemur handuk, lupa menyimpan gelas, lupa merapikan kasur, semua hal yang sengaja Edgar lupakan karena berpikir apa gunanya pembantu.
“Gimana Aruna?” tanya Miranti. “Yayan tadi cerita katanya dia sakit.”
Faran mengangguk. “Aku juga kaget, Bund. Dia sampai muntah-muntah, aku ikutan lemas lihatnya.”
“Sudah kamu periksa?”
“Belum, tadi habis ganti pakaian langsung tidur.”
“Kira-kira kenapa?” tanya Miranti lagi. Dia hanya ingin mendengar pendapat Faran yang merupakan seorang Dokter.”
“Mungkin masuk angin,” jawab Faran.
“Ah. Dokter juga pakai kata mungkin.” Miranti tertawa.
“Bunda ih, Dokter juga manusia,” tukas Edgar. “Memangnya Bunda bertindak seperti Tuhan sampai menetapkan kalau Aruna hamil.”
“Ish … Edgar, kamu terlalu serius. Bunda cuma nebak doang.” Miranti kemudian tersenyum menatap Faran. “Tapi, Bunda benar-benar berharap begitu sih.”
Jantung Faran mencelus. Sungguh setiap tahunnya dia juga berharap demikian. Setiap usia pernikahannya bertambah dia selalu dihadapkan dengan rasa kecewa, lantaran Aruna tak pernah berhenti mengkonsumsi pil KB. Ini bukan hanya tentang ambisi, tapi juga tentang Aruna yang selalu meragukan dirinya sendiri. Masa kecil dan trauma membuatnya tidak percaya diri untuk menjadi ibu.
Tahun kemarin Faran sampai putus asa lantaran dia berpikir kalau selama ini dia berjuang sendirian. Namun, walau bagaimanapun dia sudah menerima Aruna dan bersedia menunggu Aruna sampai benar-benar siap memiliki momongan.
“Sudah ah, jangan dipikirkan, mungkin Aruna memang hanya masuk angin.” Miranti kemudian melenggang pergi ke kamarnya, sedangkan Edgar akan tidur di kamar Asa. Namun, bukannya tidur, dia malah mengajak Faran mengobrol di ruang keluarga. Sudah cukup lama mereka tak bertemu dan syukurlah sekarang bisa saling berbagi pengalaman masing-masing. Tertawa sampai lupa waktu.
“Ini mie sama kopinya, Den,” kata Bi Sumi sembari meletakkannya di meja.
“Makan, Ran.” Beberapa saat lalu dia meminta Bi Sumi membuatkan mie dengan dua telur dan satu gagang sawi hijau dan segelas kopi.
“Nggak makasih.”
“Den Faran mau Bibi buatkan apa?”
“Nggak, saya minta air hangat aja, Bi.”
“Baik, Den.”
“Tiga hari yang lalu aku ke Orlando,” kata Edgar seraya menyantap mie. “Nggak bisa pulang.”
“Kehabisan ongkos?” tebak Faran.
Edgar tertawa. “Bukan. Ketemu teman lama, jadinya aku diajak berkeliling, terus menginap di rumahnya.”
“Pasti betah sampai lupa pulang. Kebiasaan.”
Edgar kembali tertawa sembari mengangguk. “Aku tertarik sama kisahnya dan rencananya mau dibuat untuk keperluan kerja.”
“Hati-hati kalau tanpa persetujuan jangan. Aku juga sudah sering bilang begitu sama Aruna.”
“Sayangnya dia setuju.” Edgar tertawa.
Faran mengangguk. Aruna dan Edgar memiliki satu pekerjaan favorit, sama-sama suka membuat novel. Bedanya Edgar fokus pada hobinya itu sampai dia menjadi traveller untuk mereset dan mencari semua bahan untuk ditulis. Sedangkan Aruna menjadi penerjemah dan guide untuk sekalian mereset dan mencari bahan. Sampai sekarang Aruna fokus pada pekerjaan pokoknya sehingga baru menerbitkan beberapa buku saja, sedangkan Edgar sudah puluhan buku. Dia lebih suka dengan genre adventure, sedangkan Aruna lebih menyukai romansa.
Ketika sedang asyik tertawa, tiba-tiba Faran mendengar suara muntah-muntah dari dalam kamarnya. “Aruna.” Dia lekas bangkit. “Sebentar.” Kemudian berlari menuju kamarnya dan Aruna sedang berada di kamar mandi memegangi rambutnya agar tidak terkena muntahan dari mulutnya.
“Sayang.” Faran lekas mendekat dan mengusap-usap punggung sang istri. “Mau air hangat, Mas ambilkan ya?”
Aruna menggeleng. Dia lekas berkumur dan kembali berjalan ke ranjang. Tubuhnya lemas, perutnya sakit dan kepalanya berdenyut nyeri.
“Ya sudah kamu tidur lagi, subuh masih lama.”
Aruna mengangguk. Dia merebahkan tubuh dan Faran menyelimutinya.
“Bunda sama Edgar sudah sampai semalam pukul dua belas.”
“Aku nggak dibangunin?” Aruna membuka mata.
“Mas nggak tega. Kamu tidurnya nyenyak banget. Tapi, Kak Edgar belum tidur, masih ngetik di ruang keluarga.”
“Bukannya tidur malah kerja,” dengkus Aruna seraya hendak turun dari ranjang.
“Mau kemana?” tanya Edgar yang sudah berdiri di pintu.
“Hei, Kak.” Meski jarang bertemu, tapi komunikasi mereka terjalin dengan sangat baik. “Apa kabar?”
“Aku sehat, Dek.” Edgar mendekat, kemudian mengusap puncak kepala Aruna. “Bukannya harus jagain yang sakit? Ngapain malah ikutan sakit?”
Aruna tersenyum lemas.
“Sayang, Mas periksa dulu ya,” kata Faran seraya membuka tas berisi peralatan Dokter dan duduk di sebelahnya. “Biar Mas bisa resepkan obat yang tepat buat kamu.”
Aruna mengangguk dan membiarkan Faran memeriksa tensi darahnya.
“Darahnya rendah, pantesan pucat banget.” Faran kemudian memeriksa debar di balik dadanya. “Coba napas.”
Aruna menarik napas dan mengeluarkannya perlahan.
“Ada yang sakit selain kepala?”
“Perut aku kram.”
“Mana?” Faran memeriksa perut bagian atas. Namun, tangan Aruna malah mengarahnya ke perut bagian bawah. “Ini?” tanya Faran.
Aruna mengangguk.
“Mungkin kamu mau haid.”
“Tuh, ‘kan, Bunda bilang kamu hamil, ternyata kata Dokternya kamu mau haid. Dasar Bunda emang sok tahu,” kata Edgar.
Faran malah termangu menatap wajah pucat Aruna. Aruna sendiri salah tingkah mendengar perkataan Edgar.
“Kamu terlalu stress, jadi asam lambung kamu naik,” ungkap Faran.
Aruna menghela napas seraya mengangguk. Namun, helaan napasnya membuat Faran sedih.
“Nanti Mas ke apotek buat beli obatnya,” lanjut Faran.
Aruna mengangguk.
“Sekarang kamu istirahat lagi.”
Wanita itu kembali mengangguk.
Faran menarik napas seraya bangkit. Kemudian dia menatap Edgar, lalu kembali menatap Aruna. “Mas siap-siap mau ke masjid.”
“Hati-hati,” sahut Aruna seraya memejamkan mata. “Kak,” panggil Aruna pada Edgar. “Nanti ajarin aku nulis fantasi.”
Edgar tersenyum. “Mau bayar berapa,” cetusnya seraya melenggang pergi.
Aruna pun ikut tersenyum. Sedetik setelahnya dia mendengar pintu ditutup.
***