
“Oke, kali ini mungkin kamu nggak bohong, tapi kamu pergi ketemuan sama dia, ‘kan?” tuduh Faran lagi seraya mendekat.
“Mas.” Aruna menghela napas.
“Jawab.”
“Aku pergi sendiri, naik taksi. Kamu bisa cek cctv mall kalau nggak percaya.”
“Nggak usah sok-sokan nyuruh cek cctv.” Faran menunjukkan layar ponselnya. “Kamu nggak bisa mengelak.”
Aruna tergemap saat melihat foto yang ditunjukkan Faran, di sana terlihat Iyash sedang memayunginya yang baru turun dari taksi.
“Dapat foto itu dari mana?” tanya Aruna panik.
“Kamu kaget karena Mas bisa tahu?”
“Mas.”
“Maaf, mas membuka kardus dan melihat semua isinya,” aku Faran seraya duduk.
Aruna termangu dan tak berhenti berkedip menatap suaminya.
“Kamu meneleponnya dan dia memintamu datang. Iya, ‘kan?”
“Mas, kamu buka HP aku?” tanya Aruna sembari duduk di sebelah sang suami.
“Iya.”
Faran memang melihat panggilan keluar dari ponsel Aruna dan sebuah pesan yang meminta Aruna untuk datang ke sebuah tempat. Faran merasa penasaran dan mencoba menelepon nomor itu menggunakan nomornya. Dia terkejut ketika panggilannya tersambung pada seorang pria. Akhirnya Faran terpaksa menunda penerbangannya ke Bali. Dia menyewa satu kamar hotel, kemudian sorenya dia datang ke tempat itu dan menunggu sampai Aruna datang.
Jantung Aruna mencelus. “Kenapa harus buka HP aku, Mas? Aku aja nggak pernah cek HP kamu.”
“Karena Mas nggak aneh-aneh.”
“Aku juga nggak aneh-aneh.”
“Oh, Jadi, kamu anggap ini biasa, terus Mas nggak boleh marah saat istri Mas sendiri ketemuan sama mantan pacarnya? Berduaan.” Air mata kecewa melintas di kedua pipi Faran. “Kurang Mas apa selama ini, Run?” tanya Faran putus asa.
Aruna menggeleng. “Mas ….”
“Kamu masih mengharapkan dia?”
Aruna menggeleng. “Nggak, Mas.”
“Terus kenapa kamu harus pergi menemui dia?”
“Aku cuma ….”
“Mas sakit hati saat tahu istri Mas pergi menemui laki-laki lain. Mas ingin turun dari mobil dan menghentikan kamu.”
“Terus kenapa Mas nggak lakukan itu?” Aruna menggenggam tangan suaminya. “Aku tahu aku salah, kenapa Mas nggak hentikan aku?”
Faran membasahi tenggorokan. Dia juga salah, sudah tahu apa yang dilakukan istrinya tidak benar, tapi dia tetap membiarkannya. Dan setelah melihat Aruna ada di sana, dia malah pergi meninggalkan tempat itu.
“Aku menemui Iyash untuk–”
“Jangan sebut nama pria lain di depan suamimu, Aruna,” tukas Faran seraya menarik tangannya dari genggaman sang istri.
Jantung Aruna mencelus. Dia merasa bersalah sekaligus sakit hati melihat Faran seperti ini. “Aku menemuinya bukan berarti aku ingin kembali padanya.” Suara Aruna gemetar. “Dia harus tahu kalau aku udah nggak sendiri. Dia harus berhenti menunggu masa lalu yang tidak akan pernah bisa menjadi masa depannya.”
“Oh begitu, terus kenapa kamu harus pergi sendiri? Kenapa nggak ajak Ashilla? Atau ajak Mas aja sekalian.”
“Aku minta maaf, aku akui aku salah,” kata Aruna pasrah. “Aku tidak berpikir praktis dalam hal ini,” aku Aruna lelah.
Faran bangkit dan pergi meninggalkan kamar tanpa menjawab permintaan maaf Aruna.
Sementara itu di waktu yang sama Miranti sedang mencoba memberi pengertian pada Ashilla. Dia pikir inilah puncak rasa lelah Ashilla selama ini. Dia tahu kalau Ashilla sudah cukup banyak mengalah.
“Bunda minta maaf, ini juga salah Bunda. Bunda minta kamu mengurus perusahaan Opa, padahal waktu itu Bunda bisa paksa Edgar.”
Ashilla masih duduk tertunduk di tepi ranjang. Dadanya bergemuruh menahan rasa kesalnya selama ini.
“Sebagai Kakak, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kamu tidak melihat wajah bahagia Aruna tadi, dia bahagia untuk pernikahan kamu, Shill.”
Lagi-lagi Ashilla tak menjawab.
“Bunda tahu kamu capek. Bunda memang egois karena lagi-lagi Bunda minta kamu buat menelepon dan mencari Aruna. Maaf karena Bunda terlalu mengandalkan kamu dalam hal apapun.” Miranti menggenggam tangan Ashilla.
Ashilla menyeka kedua pipinya.
“Yuk, minta maaf sama Aruna untuk bentakan kamu. Kasihan dia, kamu, ‘kan tahu dia gimana. Besok acara penting buat kamu, masa nanti di foto keluarga kalian cemberut,” bujuk Miranti.
“Aku butuh waktu, Bund.”
“Okay.” Miranti bangkit. “Bunda harap besok semua sudah baik-baik saja.” Dia kemudian membelai puncak kepala Ashilla, lalu pergi meninggalkan kamar wanita itu.
Saat keluar dari kamar Ashilla, Miranti tak sengaja berpapasan dengan Faran. “Mau kemana? Ayo makan, tadi Aruna beli makanan banyak.”
“Iya, nanti, Bund.” Faran kemudian pergi ke halaman belakang dengan wajah murung.
Miranti menghela napas seraya menggeleng.
Faran berhenti dan berdiri di depan kolam ikan, cahaya rembulan malam itu terpantul di atas permukaan air. Dia merenung meratapi dirinya sendiri. Dia mungkin bisa menahan amarah ketika Aruna melakukan kesalahan lain, tapi entah kenapa kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya, bahkan dia tidak percaya pada istrinya sendiri.
Aruna sendiri tak bisa untuk terlihat baik-baik saja, dadanya sesak, di tengah bahagia yang dia rasakan saat ini, dia justru harus menahan lukanya ketika Faran marah. Ini memang salahnya karena harus menemui Iyash sembunyi-sembunyi seolah hendak mengenang masa lalu.
“Run,” panggil Miranti di depan pintu. “Yuk, makan, yuk. Ibu sama ayah kamu udah nunggu.”
Aruna menyeka air mata di pipinya. “Iya, Bund. Aku ganti baju dulu.”
“Kamu nggak apa-apa, ‘kan?” tanya Miranti seraya mendekatkan telinga ke daun pintu.
“Aku nggak apa-apa kok.”
“Ya udah cepat ya.”
“Iya.” Aruna lekas bangkit dan pergi ke kamar mandi. Dia cuma mencuci wajah, tangan dan kakinya, lalu mengganti pakaiannya. Setelah beberapa menit bersiap, dia lekas keluar dari kamar dan pergi menuju ruang makan, di sana sudah ada kedua orang tua Faran, Ganjar, Asa, Ashilla, sedangkan Miranti pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang belum tersaji di meja.
Tak berapa lama Edgar datang. “Dek, makasih hadiahnya, padahal aku nggak ulang tahun loh.” Edgar kemudian duduk.
“Sama-sama, Kak.” Aruna masih berdiri.
“Eh, Faran mana?” tanya Edgar.
“Di belakang,” sahut Miranti sembari membawa piring dan meletakkannya di meja. “Run, panggil dulu gih, kasihan belum makan dari tadi.”
“Iya, Bund.” Sejujurnya Aruna ingin menolak, tapi mau bagaimana lagi, Faran suaminya dan dia tidak ingin orang lain tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi saat ini.
Aruna meninggalkan meja makan dan pergi ke belakang. Di sana tampak Faran sedang berdiri di depan kolam. “Mas,” panggilnya seraya mendekat. “Makan dulu yuk, aku udah beliin makanan kesukaan kamu.”
Faran tak menoleh.
Dada Aruna terasa sesak, sehingga suaranya terdengar pelan, tinggi sedikit saja, suaranya akan terdengar bergetar diiringi tangis. “Mas.” Aruna kembali mendekat. “Kamu boleh marah sama aku, aku tahu aku salah, tapi kamu nggak bisa menghukum semua orang.” Akhirnya air mata tetap terjatuh dari sudut matanya. “Ayah ibu dan semuanya nunggu kamu di meja makan,” tambahnya.
Faran membasahi tenggorokan. Dia kemudian berbalik dan pergi melewatkan Aruna, bahkan dia tak menatap istrinya sama sekali.
Dada Aruna semakin sakit. Dia tidak ingin rumah tangganya berantakan. Dia ingin semuanya baik-baik saja. Namun, sepertinya Faran tak bisa memaafkannya.