Behind The Lies

Behind The Lies
Butuh Waktu



Setelah acara santunan selesai, akhirnya Ashilla menyadari kalau dia memang tidak melihat Iyash. “Pak, dari tadi saya tidak melihat Iyash, kemana ya?” tanyanya pada Marwan.


Entah Ashilla sadar dengan kecemburuan Angkasa atau tidak. Dia malah sibuk mencari pria lain ketimbang memperhatikan pacarannya sendiri yang sedari tadi ada di sampingnya.


“Nak Iyash sakit. Tadi kami mendapat kabar kalau dia tidak bisa masuk karena katanya semalam dia masuk angin,” tutur Marwan.


“Oh.” Ashilla lekas menoleh pada Angkasa. “Pantas nggak kelihatan,” ucapnya kikuk.


Angkasa hanya bisa meneguk liur. Dia semakin khawatir dan takut rasa sayang Ashilla akan beralih pada Iyash.


Marwan sendiri tersenyum melihat kekikukan Ashilla. “Ada pesan? Biar nanti Bapak sampaikan.”


“Emh … kebetulan calon suami saya ini temannya Iyash, sudah lama nggak ketemu dan rencananya dia mau ngajak ngopi sebentar sebelum kembali ke New York.”


Angkasa mengangguk ramah. Syukurlah dia merasa lega karena meski Ashilla terus menyebut nama Iyash setidaknya wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai calon suami.


“Oh begitu. Nanti Bapak sampaikan.”


“Nggak usah, Pak. Biar hari ini kami ke rumahnya,” kata Angkasa.


“Kamu serius?” Tentu saja Ashilla senang karena dia akan melihat wajah itu lagi.


Angkasa terdiam beberapa detik. Nampaknya dia salah karena telah mengatakan hal yang seharusnya tak dia katakan. Ashilla pasti akan terus memintanya jika dia meralat kalimat tersebut.


“Dia masih tinggal di rumah yang dulu, ‘kan, Pak?” tanya Angkasa mengalihkan pertanyaan Ashilla.


“Iya, dari dulu di sana, keluarga Pak Hasa tidak pernah pindah.”


“Baik, makasih, Pak.”


“Sama-sama.”


“Pak kalau begitu kami pamit,” kata Ashilla.


“Iya, sampaikan terima kasih kami pada Pak Ganjar.”


Ashilla mengangguk. Dia kemudian berpamitan dan pulang setelah mengucap salam.


Angkasa sendiri diam dan tak mengungkit apa yang dikatakannya pada Marwan. Dia pura-pura fokus pada kemudinya, padahal kepalanya sibuk mencari alasan untuk menghindar dan mengalihkan perhatian Ashilla.


“Sayang, sebaiknya kita bawa apa ke rumah Iyash?”


Jantung Angkasa mencelus. Ashilla kalau ada maunya akan memanggilnya demikian. Dia tahu betul kalau Ashilla benar-benar ingin pergi ke rumah Iyash.


“Lain kali aja deh, Sayang, ya?” Angkasa menjeda kalimatnya. “Kamu, ‘kan tahu, aku harus mempersiapkan kepergianku besok.”


Ashilla berdecak. “Terus kenapa kamu harus bilang begitu ke Pak Marwan? Kalau ternyata kamu memang nggak ada niat.”


“Bukan begitu.”


“Terus apa?”


“Sayang, tapi–”


“Ah.” Ashilla menghela napas. “Baru kali ini kamu nggak sesuai dengan apa yang kamu katakan.”


Kedua mata Angkasa membola. “Ya– ya udah, kita pergi ke sana,” kata Angkasa kaku. Di sinilah harga dirinya sebagai laki-laki dipertaruhkan karena Ashilla selalu melihat laki-laki dari ucapan dan juga tindakan.


Wanita itu tersenyum dan bergelayut manja di lengan Angkasa seperti biasanya. Kalau Angkasa mengabulkan keinginannya, dia akan melupakan hal lain dan akan bersikap seperti itu lagi.


“Enaknya kita bawa apa ya?” tanya Ashilla lagi.


“Nggak usah bawa apa-apa.”


“Masa jenguk orang yang sakit nggak bawa oleh-oleh.”


“Oleh-oleh. Dia bukan anak kecil.”


Ashilla seketika menjauhkan tangannya dari lengan Angkasa. Dia duduk tegak dan menatap pria itu. “Kamu–”


“Aku cemburu,” tukas Angkasa cepat.


Ashilla tersenyum tipis. Entah kenapa dia suka melihat Angkasa seperti ini.


“Kalau begitu aku akan dekati Iyash, biar kamu cemburu terus,” goda Ashilla sembari mencubit dagu Angkasa.


Pria itu sedikit berpaling. “Sayang, jangan,” rajuknya pelan.


“Iya nggak akan.” Ashilla kemudian mencubit hidung Angkasa.


“Duh, nanti ada komedonya,” keluh pria berkulit putih itu.


“Kamu juga suka gitu sama aku.” Kali ini Ashilla yang merajuk.


“Iya-iya. Kamu bawa coklat aja. Iyash suka, apalagi roti sobek selai coklat sama susu. Tuh, ‘kan dia kayak anak kecil.”


“Nggak kok. Aku juga suka roti sama susu, emang kamu nggak?” bela Ashilla.


“Ya udah kamu bawa itu aja.”


“Oke. Nanti berhenti di mini market.”


Tampak bersemangat, Ashilla turun dari mobil dan masuk tanpa menunggu Angkasa. Wanita itu langsung pergi ke lemari tempat roti, kemudian dia mengambil dua bungkus roti sobek selai coklat, kemudian dia pergi ke lemari tempat susu UHT dan memilih dua rasa, coklat dan tawar.


Angkasa sendiri sibuk memilih makanan untuknya dan juga minuman bersoda kesukaannya. Dia membiarkan Ashilla memilih, setelah selesai wanita itu langsung mengantri di kasir dan benar-benar melupakannya.


Saat berdiri di depan kasir Ashilla menatap deretan coklat batang dan dia ingat apapun tentang Iyash ketika melihat coklat. Maka dari itu mengambil beberapa batang coklat dan menyertakannya ketika membayar. Saat berbalik dia langsung berpapasan dengan Angkasa. “Sayang? Aduuuh, aku lupa,” katanya seraya memukul keningnya sendiri.


“Apa?”


“Bentar.” Ashilla lekas berlari dan mengambil snack kentang kesukaannya beserta sebotol yogurt, kemudian kembali pada Angkasa. “Aku ingatnya cuma ini, pas lihat kamu bawa snack sama soda, aku ingat kalau aku juga mau ini.” Ashilla memberikan makanan yang belum dibayar itu pada Angkasa. “Tolong bayarin ya, aku tunggu kamu di mobil.”


“Iya.”


“Makasih.” Ashilla pun pergi keluar dan menunggu di depan mobil. Sementara Angkasa termenung memikirkan ekspresi Ashilla yang tampak bahagia, persis seperti seorang perempuan yang akan bertemu dengan orang yang disukainya.


“Udah?” tanya Ashilla saat dirinya baru saja keluar dari minimarket.


“Kalau belum aku nggak akan keluar.”


“Ketus banget,” komentar Ashilla sembari mengikuti Angkasa ke mobil.


Angkasa berbalik. “Sayang.” Dia menarik tangan Ashilla dan meletakkan di dada. “Sakit.”


Ashilla berdecak dan menjauhkan tangannya dari dada Angkasa. “Aku ke sana sama kamu, intinya di sini adalah aku mengantar kamu bertemu dengannya untuk meminta maaf da ber–”


“Terima kasih … nggak usah di ulang,” tukas Angkasa memangkas kalimat Ashilla.


Ashilla melewati Angkasa dan masuk ke dalam mobil. “Seharusnya kamu nggak usah cemburu,” katanya sesaat setelah Angkasa masuk dan mengambil kemudi.


“Habisnya ekspresi kamu berlebihan.”


“Nggak, biasa aja, cuma perasaan orang cemburu.”


Angkasa mendengkus.


“Cepat jalan,” pinta Ashilla.


“Iya.” Mobil pun melaju meninggalkan halaman minimarket menuju rumah Iyash. “Apa aku batalin aja pergi ke New Yorknya?”


“Kenapa? Katanya dipercepat, kok tiba-tiba batal.


“Gimana dong?” Angkasa mengedikkan bahu. “Aku khawatir kamu dekat sama Iyash.”


Ashilla tergelak. “Kalaupun memang dekat, nggak akan bisa mengalahkan kedekatanku sama kamu.”


“Kalau ternyata dia bikin kamu nyaman?”


Ashilla tergemap.


“Kamu nggak bisa jawab.”


“Sekhawatir itu?”


“Iyalah. Apalagi dia terus menyebut kamu Aruna.”


“Kalaupun iya, dia akan menjadi temanku dan kamu akan tetap menjadi pacarku.”


“Pacar, kapan aku jadi suami kamu,” gumam Angkasa.


“Setelah kamu menikahi aku.”


Angkasa menoleh sekilas. “Kalau begitu ayo kita menikah,” ajaknya.


Seketika Ashilla terdiam.


“Aku sudah bicarakan ini sama Opa. Opa juga nanya kapan kita siap? Ya, aku jawab bulan depan pun aku siap,” tambah Angkasa yakin.


Ashilla berdecak dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Nampaknya dia malas membicarakan tentang ini lagi.


“Setiap hubungan memiliki tujuan. Jika bukan pernikahan lalu apa? Kita nggak mungkin selamanya kayak gini.” Angkasa terus meyakinkan Ashilla.


“Hm.” Ashilla masih menatap keluar jendela.


“Setiap ditanya begitu, kamu nggak punya jawaban. Memang aku bukan tujuan kamu?”


“Aku butuh waktu,” kata Ashilla pelan.


“Kamu tinggal jawab, aku tujuan kamu apa bukan?”


“Iya.” Ashilla menoleh. “Kamu tujuan aku, aku juga pengen nikah sama kamu, tapi masalahnya, aku belum siap.”


“Apa yang membuat kamu merasa kalau kamu belum siap?” tanya Angkasa lebih pelan. “Apa kamu masih belum yakin sama aku?”


Ashilla menghela napas. “Rumah tangga itu perjalanan seumur hidup. Kamu tahu aku pernah–”


“Iya. Tapi–” Angkasa mencekat kalimatnya sendiri seolah dia tahu jawaban apa yang akan didapatnya.


Ashilla sendiri kembali menghela napas, seolah pertanyaan Angkasa adalah beban untuknya. “Aku belum siap menceritakan masa laluku sama kamu.”