
Malam hari saat Ashilla sedang membacakan buku untuk Asa, Tiba-tiba dia mendapat telepon dari suster Rika. “Sebentar,” ucapnya pada Asa sembari mengacungkan telepon.
“Kenapa,Sus?” tanya Ashilla seraya bangkit dari ranjang.
“Bu, De Lilyana demam, sekarang sedang di rumah sakit.”
“Astaga.” Ashilla kemudian menoleh pada Asa.
“What happened, Mom?” tanya bocah itu sembari terus menatap ibunya.
Ashilla mengacungkan telapak tangan.
“I-Iyash?” tanya Ashilla tergagap.
“Pak Iyash ada proyek di Bekasi.”
Ashilla menghela napas. “Oke, saya ke sana sekarang.” Dia kemudian menutup panggilan, lalu menatap Asa. “Mom has to go now.” Dia mengecup kening Asa. “I am so sorry.”
“Go.”
“Asa nggak apa-apa Mama tinggal?”
“It’s okay, Mom.”
Ashilla tersenyum. Dia lalu membelai puncak kepala Asa. “Besok kita jalan-jalan.”
Asa mengangguk. Dia kemudian menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. “Be carefull.”
Ashilla mengangguk. Kemudian pergi meninggalkan Asa sendiri di kamarnya. Di ruang tamu dia melihat Miranti baru saja kembali dari dapur. “Mau kemana?”
“Ada perlu, Ma.”
“Kerjaan?”
“Bukan, tapi sosial.”
“Oke, hati-hati.”
“Shilla berangkat. Titip Asa, ya, Ma.”
Miranti mengangguk. Yang membedakan ibu dengan kakeknya adalah, jika Miranti akan membebaskannya dan mempercayainya seratus persen, sedangkan Ganjar akan terus mengintrogasinya sampai jelas kemana tujuan dan untuk apa. Jika Ashilla memberi jawaban yang tidak jelas, maka dia tak akan mengizinkannya pergi.
Ashilla melesat pergi dengan mobilnya menuju rumah sakit tempat Lilyana dilahirkan. Dia tidak berpikir apapun selain dia yang harus segera sampai ke sana. Tepat pukul sepuluh lebih dua puluh menit akhirnya dia sampai di rumah sakit. Sudah empat hari dia tak bertemu dengan bayi itu, terakhir ketika dia datang ke rumah Iyash, itupun ketika Lilyana sedang tidur.
Ashilla langsung menelepon Suster Rika. “Di mana?” tanyanya.
“Di ruang mawar lantai satu, Bu, dekat ruang UGD.”
Ashilla lekas berlari, jantungnya berdegup kencang karena terbayang lagi ketika si ibu bayi tersebut meninggal dunia.
Sesampainya di depan kamar ruang mawar, dia kembali menelepon suster Rika. “Nomor berapa?”
Suster Rika keluar dari kamar nomor tiga. “Di sini, Bu.”
“Kamu ngasih tahu setengah-setengah,” rajuk Ashilla seraya masuk ke kamar nomor tiga.
“Maaf, Bu.”
Tampak bayi yang baru berusia satu minggu itu terlelap dengan kedua mata tertutup untuk melindungi matanya dari sinar fototerapi.
“Lily kenapa?” tanya Ashilla seraya menatap Suster Rika.
“Kadar Bilirubinnya tinggi, Bu. Dari kemarin dia nggak mau minum susu. Pas tadi sore dia kejang,” ungkap Suster Rika.
“Ya ampun.”
Tiba-tiba kedatangan Iyash membuat jantung Ashilla berdegup kencang. “Assalamualaikum,” kata pria itu seraya terus melangkah.
“Waalaikumsalam,” jawab Suster Rika, sementara Ashilla menjawabnya dalam hati seraya menatap bayi yang memiliki bobot tiga kilogram itu.
Iyash menatap Lily lama sekali seolah dia tak menyadari ada Ashilla di sana yang juga sedang bersedih untuk keadaan bayi itu.
“Sus, Dokter bilang apa?” tanya Ashilla dan barulah Iyash sadar usai mendengar suara wanita itu. Iyash lekas menoleh dan menatapnya lekat. Ashilla langsung mengalihkan pandangan dan pura-pura tak melihat Iyash.
Jantung Ashilla mencelus. “Semoga aja nggak sampai parah ya, Sus.” Ashilla terus menatap sang bayi.
Sementara Iyash menarik napas sembari terus menatap wanita itu. “Kemana aja kamu?” tanyanya.
Ashilla lekas menoleh. “Aku?”
“Ya memang siapa?”
“Aku kerja, kamu tahu, ‘kan tujuan aku ke Jakarta untuk meneruskan perusahaan Opa.”
“Seharusnya kamu juga nggak lari dari tanggung jawab kamu sebagai ibunya Lily.”
“Aku nggak lari, akhir-akhir ini aku sibuk dan aku punya prioritas lain.”
“Siapa, Angkasa?”
“Kalau Angkasa prioritasku. Aku nggak akan jadi ibu angkatnya Lily.”
“Ya terus apa?”
Ashilla terdiam beberapa detik. Namun, hatinya menjawab kalau prioritas utamanya adalah Asa.“Aku minta maaf karena belum sempat mampir ke rumah Lily yang baru.”
“Iya kenapa?”
Ashilla menghela napas. “Dua hari yang lalu Bunda datang dari New York.”
“Oh.” Pria berhidung mancung itu pun langsung duduk.
Ashilla mungkin tidak menyadari kalau hidung Iyash dengan hidung anaknya berbentuk sama dengan tulang hidung yang tidak terlalu tinggi di bagian atas, namun di bagian tengah hingga ke ujungnya lebih meruncing.
“Seharusnya itu tidak menjadikanmu alasan untuk menghindar dari kenyataan kalau kamu punya tanggung jawab mengurus bayi ini.”
“Aku nggak lari,” kilah Ashilla kesal. “Aku memang belum sempat aja, Yash.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Aku bingung harus bilang apa?”
Iyash berdecak. “Aku lupa nggak semuanya harus aku tahu.” Dia persis seperti seorang pacar yang sedang marah.
Ashilla sampai mengernyit seraya menelan ludah. “Besok aku nggak bisa ke sini, kamu nggak keberatan, ‘kan kalau kamu jagain Lily?”
“Kamu mau kemana?”
Sungguh Ashilla merasa Iyash posesif, namun mungkin itu hanya perasaannya saja karena dia melihat banyak foto Aruna di rumah Iyash dan Iyash menganggapnya sebagai Aruna, mungkin hanya itu.
“Mumpung di sini ada Bunda. Jadi aku mau jalan-jalan.”
“Oh.”
Ashilla mengangguk. Dia nampak seperti berhati-hati mengeluarkan kalimat di depan Iyash. Entah mungkin takut salah, atau sedikit meleset atau apapun yang jelas Ashilla tak bisa lupa dengan kejadian waktu di rumahnya pria itu.
Ashilla kemudian menatap arlojinya. “Sudah tengah malam, mungkin aku harus pulang.”
“Nggak kamu di sini aja.”
“Tapi.”
“Malam-malam seperti ini bahaya kalau kamu pulang sendiri, terlalu banyak angka kriminal di Negara ini.”
Ashilla menghela napas. Dia sudah berjanji pada Asa kalau dia akan pulang. Namun, dia juga tak bisa menentang Iyash, tatapan pria itu membuatnya merasa terintimidasi. Sekali lagi, mungkin karena kejadian empat hari yang lalu di rumah pria itu.
Tiba-tiba Lily menggeliat sembari merengek, kemudian terdengar jeritannya. “Suster Rika, susunya mana?” teriak Ashilla.
“Suster Rika keluar,” kata Iyash. “Dia mungkin ke mushola, tadi sempat bilang belum sholat.”
Ashilla lekas mengambil botol susu dan mencucinya dengan air hangat dari dispenser, kemudian menuangkan susu sesuai takaran. Dia sudah hafal tanpa perlu melihat saran penyajian, kalau bukan karena adanya Asa, dia tidak tahu bagaimana merawat bayi dan membuat susu.
Bayi itu tampak kuat menyusu dari botol yang dipegang Ashilla. Sementara Iyash asyik memandangi wanita yang tampak keibuan itu. Perlahan bibirnya tersungging, hatinya terasa damai, lubang yang dulu membuat dadanya sesak perlahan terisi oleh wanita di depannya, sehingga jika dia merasa rindu, dia tak perlu bermimpi untuk bisa bertemu, dia tinggal datang atau mungkin meneleponnya, meski setelah kejadian di rumah tempo hari, dia dan Ashilla tak pernah lagi bertukar pesan atau bertanya kabar.