
“Yash,” panggil Nenek Alma. “Ini barang-barang Aruna yang tidak sempat dibawa ke Jakarta. Kami harus mengosongkan rumahnya untuk pegawai baru.“Kamu bisa periksa ini. Siapa tahu ada hal penting yang kamu butuhkan.”
Iyash meletakkan ranselnya dan berjongkok di depan kardus yang baru saja diletakkan Sugeng. Jantungnya berkali-kali mencelus, dia tidak menyangka akan kehilangan Aruna dengan cara seperti ini.
“Bawa semuanya aja, biar Iyash yang simpan.”
Sugeng mengangguk dan memasukkan kardus tersebut ke dalam bagasi mobil. Dia siap mengantar Iyash kembali ke Jakarta. Iyash tidak dibolehkan naik kereta karena Nenek Alma merasa khawatir dengan kondisi Iyash saat ini. Patah hati mungkin membuat Iyash tidak bisa fokus dengan dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, Iyash tampak murung dan menjadi pendiam. Sampai keesokan harinya dia baru mau bicara dan itupun soal kematian Aruna.
“Kenapa Mama nggak bilang yang sebenarnya?”
Ira terkejut dan langsung mematikan televisi. “Bilang apa?” Kemarin Ira sempat kesal karena Iyash mengabaikan pertanyaannya.
“Soal Aruna.”
“Mm–” Kening Ira mengernyit.
“Kenapa Mama tidak memberitahuku kalau Aruna sudah meninggal.”
“Oh.” Ira menjeda keterkejutannya. “Untuk apa? Itu tidak akan merubah keadaan.”
“Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu.”
“Sesuatu?” cibir Ira. “Melakukan apa, Iyash? Kamu sendiri kesulitan. Setelah kecelakaan itu kamu harus melakukan segala sesuatunya dari nol, bahkan untuk berjalan.”
Jantung Iyash mencelus mendengar kalimat sarkas ibunya, tapi Ira memang tak salah dan seharusnya Iyash sadar akan hal itu.
Ira mendekat dan menepuk dada anaknya. “Ini yang terbaik.”
“Terbaik apa, Mama?”
“Terus kamu mau menyalahkan Mama? Apa dengan menyalahkan orang lain semua keadaan akan membaik? Apa semua akan sesuai dengan keinginan kamu? Ingat, Yash, kita hanya manusia.”
Iyash menyeret kaki dan mundur sampai punggungnya menabrak dinding. Kemudian menjatuhkan tubuhnya dan meluruskan kaki. Semua kesedihan berkumpul dalam dadanya. Ingatannya mungkin tak sempurna, namun dia sangat yakin kalau dia pernah bahagia bersama Aruna.
Melihat Iyash seperti itu Ira merasa kasihan. “Yash.” Dia kemudian mendekat. “Mama turut berduka, Mama menyesal dengan keadaan ini, tapi Mama juga tidak tahu harus berbuat apa. Mama tidak memberitahumu karena takut kesehatan kamu malah semakin memburuk.”
Iyash tengadah menatap sang ibu. “Dimana Aruna dimakamkan, Ma?”
“Mama nggak tahu,” kata Ira pelan sembari berjongkok di depan Iyash. “Pak Ridwan tidak mengatakan apapun.”
“Kenapa Mama bisa nggak tahu?”
“Yash, waktu itu tidak ada yang menjaga kamu. Mama tidak bisa meninggalkan kamu, Pak Ridwan urus semuanya sendiri.”
“Mama nggak peduli, Mama benar-benar nggak peduli,” tuduh Iyash seraya menggeleng.
“Iya!” aku Ira. “Mama memang tidak peduli karena yang ada dipikiran Mama saat itu hanya Iyash, Iyash dan Iyash. Putra kesayangan Mama!”
Iyash termangu.
“Kamu mungkin hanya melihat kesalahan Mama saja, tapi kamu tidak melihat apa yang Mama lakukan untuk kamu. Semua demi kebaikan kamu, Yash.”
Iyash mungkin tak melihat betapa khawatirnya sang ibu.
“Waktu itu Mama menjaga kamu sendirian. Papa dan Kak Rasya harus pergi ke luar kota, Mas Iqbal KKN, keluarga dari Surabaya belum datang. Mama tidak mungkin mengandalkan Opa dan Oma kamu, kamu tahu sendiri waktu itu Oma sedang sakit.”
Iyash bangkit dari duduknya.
“Menyalahkan orang tidak ada gunanya, Yash.” Sedetik setelah Ira menyampaikan rasa kecewanya, dia pergi ke kamar. Sedangkan Iyash masih mematung dan bingung harus melakukan apalagi setelah ini.
Iyash berbalik dan melenggang pergi meninggalkan ibunya.
“Yash,” panggil Ira.
Iyash tetap mengabaikan sang ibu dan dia pergi ke kamar.
***
Keesokan paginya sebelum Iyash kembali ke Spanyol, dia datang menemui Sarah, setidaknya dia Sarah tidak akan menyembunyikan apapun darinya. Semalam dia menemukan bukti dari hasil pemeriksaan dan hari pertama dia masuk ke rumah sakit. Kecelakaan itu terjadi di malam ulang tahun Adisty.
“Kaget gue, Adisty nggak tahu lo balik,” Sarah duduk di depan meja. “Apa kabar, Yash?”
“Baik.”
“Pesan aja.”
Sarah mengacungkan telunjuk dan seketika pelayan datang membawakan buku menu. “Es lemon.”
“Ada lagi?”
“Udah itu aja, cepat ya, haus.”
“Baik.” Pelayan itu pun pergi usai meminta Sarah menunggu.
“Ada apa, Yash?” tanya Sarah.
“Nggak sibuk, ‘kan?”
“Nggak.” Sarah tersenyum sinis. “Kenapa? Kalau gue bilang gue sibuk, lo mau ganti kerugian waktu gue?”
Iyash tersenyum kecut. “Lu tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu, ‘kan?” tanya Iyash langsung tanpa basa-basi.
“Kecelakaan?” Sarah tampak gugup.
Pelayan datang dan meletakkan pesanan Sarah di meja, sedangkan kopi Iyash sudah tak lagi panas.
“Ngomong aja, gue udah dengar Aruna meninggal. Sekarang yang gue pengen tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan.”
“Kenapa lo tanya gue?”
“Cuma lu yang bisa meluangkan waktu. Gue bisa aja tanya Angkasa, tapi gue yakin dia lebih nurut sama nyokap gue.”
Sarah mengangguk. “Kenapa nggak tanya Adisty?”
“Lo tinggal jawab aja.”
Sarah terdiam menatap wajah Iyash. Dia hanya tidak mengira kalau Iyash akan menjadi keras seperti ini.
“Jawab.”
“Gue nggak tahu lebih jelasnya kayak apa, tapi malam itu gue liat lo disiksa preman.”
Iyash mengernyit. Dia melihat bayangan itu, tapi dia pikir itu hanya bagian dari mimpi.
“Angkasa sudah merencanakan ini sama Adisty,” bohong Sarah.
“Maksudnya?”
“Dia suka cewek lo, Yash.”
Angkasa memang menyukai Aruna, tapi fitnah yang dituduhkan Sarah hanya karena dia merasa sakit hati lantaran Angkasa menolak cintanya berulang kali.
“Minuman yang gue berikan sama Aruna, udah dicampur obat perangsang. Angkasa punya niat buruk sama Aruna.”
Seketika kedua mata Iyash membola. Kepalanya mendidih mendengar penjelasan Sarah. “Lu?”
“Bukan gue, tapi Angkasa, gue bisa apa kalau dia yang minta.” Nyaris tanpa rasa bersalah Sarah menuduh Angkasa berbuat sehina itu. Entah apa yang dipikirkan Sarah, kenapa harus melontarkan fitnah keji, apa dia tidak berpikir dua kali, bagaimana kalau Iyash membawa kasus ini ke meja hijau?
“Jangan bilang lo tahu dari gue, Yash.”
Iyash terdiam menatap Sarah. Dia mencari kejujuran dari kedua mata wanita itu. Namun, saat ini Iyash telah dibutakan. Pikirannya sedang kosong dan itu membuatnya mudah untuk diisi, meski oleh hal buruk sekalipun.
“Gue nggak minta lo percaya, yang penting gue udah kasih tau semua yang gue tau.” Sarah segera menyeruput minumannya, padahal dia berusaha menghindari tatapan Iyash.
“Angkasa nggak mungkin–”
“Mungkin, semua jadi mungkin kalau soal cewek,” tukas Sarah tak mau kalah. “Udah gue bilang, ‘kan, dia mau ambil jurusan sastra saat tahu Aruna masuk ke sana, padahal awalnya dia nggak berniat kuliah di sini, tapi setelah Aruna meninggal, dia kembali pada keputusannya untuk kuliah di Amerika.”
“Sar, lu–”
“Terserah gue udah kasih tau semuanya.” Sarah bangkit. “Thanks, minumannya.” Dia kemudian pergi dan membiarkan Iyash tercenung di tempat duduknya sendiri.
Dada Iyash semakin bergejolak. Dia ingin menghancurkan semua benda yang ada di depannya. Namun, sebisa-bisa dia mencoba untuk tidak melakukannya karena mengamuk bukan tindakan pria dewasa.
***