
Saat jam pulang, Iyash merasa begitu lelah, dia ingin langsung sampai ke rumah tanpa harus mengayuh sepeda, berjalan kaki atau apapun. Rasanya di siang yang terik itu dia ingin memiliki anak buah dari jenis Jin seperti yang dimiliki Aladin. Namun, berandai tak ada gunanya, dia harus tetap mengendarai sepedanya.
“Duluan,” kata Iyash sembari melewati Aruna yang sedang berjalan. Namun tiba-tiba Aruna menarik jok belakang sepedanya.
“Numpang sampai warung Mbah Yanto. Aku malas jalan.” Setidaknya memang Aruna merasa hanya Iyash yang pantas dimintai tolong.
Iyash tersenyum karena akhirnya Aruna tak lagi mendiamkannya. Namun, jika boleh jujur kakinya pegal sekali, tapi dia tak mungkin menolak Aruna. Iyash menoleh dan menatap gadis itu. “Kamu yang goes, aku yang dibonceng, bisa nggak?”
“Turun!” titah Aruna tanpa basa-basi.
Iyash pun turun dan membiarkan Aruna mengambil alih sepedanya. Dia lalu naik saat Aruna sudah siap mengayuh. Akhirnya pemuda itu dibonceng Aruna. Sorak-sorai pengguna jalan menggema mengusik mereka. Namun nampaknya Aruna tak peduli, pun dengan Iyash, dia malah tampak asyik menikmati terpaan rambut Aruna yang terbawa angin hingga mengenai wajahnya.
Aroma manisnya leci menguasai penciumannya. "Siang-siang begini masih tetap wangi," kata Iyash.
Aruna tersenyum. Iyash tidak tahu semenjak dekat dengannya Aruna selalu berdandan sebelum pulang, menambah tabir surya dan menggunakan lotion beraroma leci di tangannya. Setidaknya untuk menghindari rasa terbakar dari matahari, bonusnya ya wangi.
Sesampainya di depan warung Mbah Yanto, Iyash turun dari sepeda, pun dengan Aruna. “Makasih, Yash.”
“Hmm.”
Ketika Aruna berbelok ke warung Mbah Yanto, Iyash berselonjor di bawah pohon. Sungguh dia lelah dan kehilangan banyak tenaga, apalagi pas jam istirahat dia hanya minum air putih saja.
Saat Aruna kembali Iyash terkesiap. "Belum pulang?" tanya Aruna seraya duduk di sebelahnya. Kemudian memberikan sebungkus roti dan segelas air mineral.
“Aku tahu kamu bawa sepedaku ke bengkel,” kata Aruna.
Iyash terdiam, dia hanya menatap wajah teduh Aruna.
Aruna lekas mengalihkan pandangannya. “Aku lihat kamu kembali ke warung Mbah Yanto. Pas di sekolah Seruni bilang kalau dia lihat kamu bawa sepedaku ke bengkelnya. Dan barusan Mbah Yanto bilang kalau kamu bawa sepedaku ke bengkel.”
Jantung Iyash menggelepar. Dia pikir tidak akan ada banyak yang melapor pada Aruna.
“Habis berapa, nanti aku ganti?”
“Nggak usah,” kata Iyash sembari mengambil roti dan air mineral dari tangan Aruna. “Pakai ini juga cukup.”
“Aku minta maaf karena mengabaikan kamu.”
Iyash menghela napas dan menatap langit biru. “Kalau kamu kasih alasan, aku maafin.” Perlu perjuangan untuk bisa dekat dengan Aruna. Rasanya gila jika Iyash membuang kesempatan itu.
Setelah kejadian di kantin Iyash merasa kalau Aruna memilih untuk kembali memisahkan diri, sedangkan keempat sahabatnya tetap bersama. “Run?”
Namun, Aruna diam dan tak memberi Iyash alasan kenapa Aruna murung lagi dan mengabaikannya?
“Berhenti berpikir kalau nggak ada yang sayang sama kamu,” kata Iyash.
Aruna menarik napas dan tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipi.
“Run?” Iyash memiringkan wajahnya dan menatap Aruna.
“Aku bingung, Yash, aku ingin pergi jauh,” teriak Aruna.
“Sssttt.” Iyash menarik bahu gadis itu. “Kenapa harus pergi, kalau ada aku di sini. Sudah kubilang kalau butuh teman cerita, tinggal cari aku.”
“Makasih.”
“Buat apa ngucapin makasih, maaf, tapi ujung-ujungnya kamu nggak menghargai orang-orang yang sayang sama kamu?”
Seketika napas Aruna bergetar.
“Kamu bilang kalau teman-teman kamu nggak tulus sama kamu, padahal itu cuma anggapan kamu aja, Run, mereka juga sedih lihat kamu kayak gini.”
Aruna menghela napas. “Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri, Yash, setiap di rumah aku ingat terus dengan kebohongan Ayah.”
“Terus apa masalah kamu di sekolah?”
Aruna menggeleng. “Aku cuma nggak percaya diri di depan mereka. Aku sedih karena Ibuku tidak menerimaku di hidupnya. Kamu nggak akan tahu rasanya seperti apa dibuang dan tidak diinginkan oleh ibu kandung sendiri."
"Sebelum aku tahu rahasia ini. Aku hanya ingin sendiri, dan sekarang aku–" Aruna terdiam menatap Iyash.
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa cerita masalahku sama mereka. Sedangkan bersama kamu aku lupa masalahku.”
Iyash tersenyum. Dia benar-benar merasa menjadi lelaki bagi Aruna. " Terus kenapa hari ini kamu menjauhiku?"
“Aku nggak bisa sama kamu terus, Yash.”
Jantung Iyash tiba-tiba mencelus mendengar Aruna berkata demikian. “Kenapa?”
“Karena Naya suka kamu.”
“Kamu sendiri?”
Aruna tergemap. Dia terdiam menatap Iyash.
Perlahan Iyash mendekat, kemudian berbisik, “Aku suka sama kamu, Run, dari pertama ketemu sampai sekarang, perasaanku masih sama.”
Jantung Aruna berdegup. Dia lekas mundur dan sedikit menjauh dari Iyash. Namun, Iyash menahan tangannya. “Aku serius,” tambah pemuda itu.
Jantung Aruna berdegup tak karuan. “Selama ini aku memanfaatkanmu, Yash.”
“Aku nggak peduli. Aku tahu kalau kamu juga merasakan hal yang sama.”
“Iyash, tapi–” Kalimat Aruna terhenti, kedua matanya membulat saat Iyash mengecup keningnya.
“Aku sayang sama kamu, Run.” Iyash mengakhiri kecupannya dengan kalimat tersebut. “Aku nggak mau kamu sedih lagi.”
Aruna tertunduk malu.
"Aku mau kita lebih dari sekedar teman, aku mau kita pacaran.” Iyash menggenggam kedua tangan Aruna. "Please."
Seketika kedua pipi Aruna memerah.
“Please,” mohon Iyash sekali lagi.
“Kita masih terlalu kecil, Yash.”
“Aku nggak peduli.”
Jantung Aruna kian berdegup, hingga dia tak bisa mengendalikannya.
“Kalau kamu menolak, aku pindah ke Jakarta dan nggak akan pernah kembali ke sini,” ancam Iyash.
Aruna tersenyum, kemudian mengangguk.
Pemuda berusia tujuh belas tahun itu bangkit dan melompat kegirangan. Seketika dia lupa dengan rasa lelah yang tadi sempat dia keluhkan.
Aruna tersipu dan dia pun lekas bangkit, lalu berjalan ke dekat sepedanya, kemudian pergi menuntun sepedanya menuju arah pulang.
“Aruna,” panggil Iyash seraya mengambil sepeda dan berlari mengejarnya. Dia kemudian berjalan di sebelah gadis itu.
Aruna tertunduk dan terus berjalan. Dia malu menunjukkan wajahnya pada Iyash. Meski sebenarnya dia bahagia melihat ekspresi Iyash, namun rasa malunya justru lebih besar daripada bahagianya.
“Hhhhhhh … aku bahagia,” kata Iyash sembari terus mengimbangi derap langkah Aruna.
Aruna kembali tersipu.
“Aku benar-benar bahagia, Run. Kamu cinta pertama sekaligus pacar pertama aku.” Mendadak Iyash menjadi kekanak-kanakkan. Padahal bagi Aruna, Iyash juga pacar pertama sekaligus cinta pertamanya, namun Aruna terlalu malu untuk mengatakan itu.
Mereka tidak tahu kalau sedari tadi Gusman menyaksikan apa yang sedang terjadi diantara Aruna dan Iyash. Dia bahkan tahu kalau Iyash mencium kening anaknya. Namun, dia sakit hati karena Aruna lebih terbuka pada Iyash ketimbang pada dirinya. Sejak Aruna kembali dari Jakarta, hubungan dengan anak semata wayangnya masih belum membaik. Dia ingin Aruna menanyakannya secara langsung, sedangkan Aruna sendiri ingin sang ayah menjelaskan semuanya tanpa perlu ditanyakan lagi karena masalahnya sudah jelas.