Behind The Lies

Behind The Lies
Jeda



“Main apa lagi?” tanya Sarah.


“Makan dulu deh, gue laper,” kata Martin seraya bangkit.


“Nah boleh tuh,” Kevin pun mengikuti Martin beranjak dari kursinya.


“Ya udah sambil makan aja,” kata Adisty.


Perlahan para tamu reuni itu pun meninggalkan meja dan mengambil makanan di stand yang lain. Sementara Ashilla dan Angkasa masih duduk di tempat mereka masing-masing. Ashilla memeluk lengan Angkasa dan menyandarkan kepala di bahu pria itu.


“Sayang, kamu mau makan apa, biar aku ambilkan?” tanya Angkasa lembut sembari menepuk-nepuk punggung tangan Ashilla.


Ashilla menjauhkan kepala dari bahu Angkasa, dia kemudian menoleh ke belakang dan mengedarkan mata ke beberapa meja tempat tersajinya makanan. “Aku mau zupa-zupa soup.”


Angkasa tersenyum. “Oke, sebentar ya.” Dia mengusap puncak kepala sang kekasih, kemudian bangkit, saat hendak melangkah, dia kembali berbalik dan menatap Ashilla. “Ada yang ketinggalan,” katanya, lalu membungkuk dan mengecup puncak kepala wanita kesayangannya.


Ashilla tersenyum.


Sementara itu dari kejauhan Iyash memperhatikan mereka, namun, saat Ashilla menatap ke arahnya, dia lekas berbalik dan mengobrol dengan Kevin dan Martin sembari memegang piring berisi nasi dan lauk pauk.


“Gimana kerjaan, Yash, lancar?” tanya Kevin.


“Lancar. Lu sendiri gimana?”


“Bosan, rutinitas gue gitu-gitu aja, pergi ke kantor balik sore, kadang malam, kayaknya gue pengen buka bisnis aja deh.”


“Wah bagus, tapi nggak bisa main-main loh itu,” kata Iyash.


“Join gue aja yuk, Vin,” ajak Martin pada Kevin.


“Bisnis apa dulu, kalau sekiranya cuma main-main, sayang waktunya.”


“Lu lupa gue punya kafe, meski masih kecil-kecilan, tapi lumayan,” jawab Martin.


‘Wah iya, gue lupa. Boleh tuh, sekalian ajak Iyash gabung.”


“Gue? Nggak, ah.” Iyash pura-pura menatap ke arah lain dan berakhir pada Angkasa yang baru kembali membawa dua mangkuk zupa-zupa pada Ashilla.


“Sayang.” Angkasa meletakkan bawaannya di meja. “Nih, masih panas. Kalau kamu mau yang lain bilang aja.”


“Iya nanti kalau yang ini sudah habis. Makasih ya.”


Ashilla lekas menyantap hangat-hangat makanan tersebut.


“Tadi, Ocha telepon, dia minta aku kembali Senin,” kata Angkasa


“Serius?” tanya Ashilla dengan sendok tertahan di bibir.


Angkasa mengangguk.


“Yah.” Ashilla mengedikkan bahu, kemudian menghela napas. Dia lalu kembali melanjutkan menyantap makanan bertekstur creamy di dalam dan crunchy di luar itu.


Angkasa tersenyum saat melihat perubahan ekspresi Ashilla. “Nanti aku sering-sering hubungi kamu.”


Ashilla mengangguk tanpa menoleh ke arah pria itu.


“Besok jalan yuk,” ajak Angkasa.


“Gimana besok, aku, ‘kan kerja,” jawab Ashilla.


“Kamu marah?”


“Ya lagian kamu tuh–”


Angkasa meletakkan telunjuk di bibir Ashilla. Dia kemudian menggeleng. “Habis kontrak yang ini, aku janji aku akan berhenti dan menetap di Jakarta.”


“Aku pengennya percaya.”


“Kamu nuduh aku bohong? Kamu bisa tanya Bunda.”


Ashilla cemberut.


“Sayang, please. Besok tuh Jumat, Sabtu, Minggu.” Angkasa menatap jari-jemarinya yang dia gunakan untuk menghitung hari. “Tuh, Senin aku balik lagi. Sia-sia seminggu hari aku di sini.”


“Ya, iyalah, sebagian waktu kamu habiskan di rumah sakit.”


Angkasa menghela napas. “Nggak ada yang tahu, namanya juga musibah.”


“Ck.”


“Iya, ‘kan? Keburukan yang tidak terduga itu namanya musibah.”


“Betul,” sahut Iyash seraya duduk di sebelah Angkasa dan menatap lurus ke depan.


Angkasa menoleh sekilas, kemudian kembali menatap Ashilla. Tentu saja Ashilla tampak tak nyaman, bahkan dia kehilangan nafsu makannya.


“Yash, Papa nanyain kamu,” kata Adisty yang baru saja berdiri di dekat Iyash.


Iyash menoleh. “Om Roy sudah pulang dari Jerman?”


“Udah, baru aja.” Adisty menatap ke pintu. “Tuh ke sini.”


“Wah ada pesta,” kata pria berkemeja putih dengan bawahan coklat muda. “Sejak kapan?”


“Alhamdulillah.” Roy menepuk bahunya. “Gimana, Yash, proyeknya? Lancar?”


“Alhamdulillah lancar, Om.”


Dari jauh Ashilla menatap Iyash yang terlihat sangat akrab dengan ayahnya Adisty. Angkasa lekas bangkit dan mengajaknya untuk berdiri. “Kemana?” tanya Ashilla.


“Nyapa Om Roy,” kata Angkasa. Mau tak mau Ashilla bangkit dan meraih tangan Angkasa, kemudian berjalan mengikuti pria itu.


“Malam, Om.”


“Hei, Angkasa. Apa kabar?”


“Baik, Om.” Angkasa mengecup punggung tangan Roy.


“Ini siapa, ini?”


Angkasa segera merangkul pinggang Ashilla. “Ashilla, calon istri saya, Om.”


Ashilla mengangguk ramah dan menyalami pria paruh baya tersebut. “Ashilla, Om.”


“Wah, Angkasa, kamu mau mendahului Adisty?” tanya Roy. Pria itu kemudian menatap anaknya. “Tuh, Dis, Angkasa udah punya calon, kamu kapan?”


“Tanya Iyash dong, Pa, kapan mau halalin aku,” seru Adisty.


Iyash langsung salah tingkah dan sesaat mereka terdiam. Beberapa detik kemudian Roy tertawa. “Papa nggak bisa menukar anak Papa dengan harta.”


“Nggak ditukar, Pa. Emang Iyash nggak mau kalau nggak dapat harta Papa?” tanya Adisty.


Iyash malah tersenyum.


“Sudah, kalian lanjutkan pestanya, have fun ya.” Roy melambaikan tangan pada yang lain yang sedang menikmati makanan. Dia kemudian kembali ke dalam rumah dan tak melihat lagi wajah kesal Adisty.


“Aku mau menikahi kamu, tapi tujuh puluh persen harta Papa kamu buat aku, Dis,” kata Iyash.


“Menang banyak dong lu,” cibir Angkasa sembari berlalu dan kembali ke tempat duduknya bersama Ashilla. Namun, sesekali Ashilla menolah pada Iyash.


“Sayang.”


Ashilla tampak tak fokus, bahkan ketika Ashilla memanggilnya dua kali.


“Kamu–”


“Iya, kenapa?” Ashilla lekas menatap Angkasa.


“Kamu yang kenapa?”


“Aku?” Ashilla menggeleng. “Nggak kenapa-kenapa.”


Angkasa menghela napas.


“Kamu dekat banget ya sama Adisty?”


“Lumayan.”


“Sampai kenal sama Papanya?”


Angkasa terdiam hingga beberapa detik.


“Nggak pernah ada hubungan spesial?”


“Dia temanku, wajar aku kenal Papanya.”


“Mamanya?”


“Nggak terlalu sih. Mama kandung Adisty udah lama meninggal. Yang tinggal sekarang itu Mama tirinya.”


“Oh.”


“Aku ambilin kamu minum,” kata Angkasa seraya bangkit.


Ashilla mengangguk dan membiarkan Angkasa pergi. Tak berapa lama Iyash duduk dan menoleh ke arahnya.


“Hai, kejutan banget ada kamu di sini,” kata Iyash.


Ashilla hanya tersenyum. Dia kemudian menoleh pada Angkasa yang hendak berjalan ke arah mereka. Namun, langkah kaki pria itu terhenti saat Lisa dan Sarah menghampiri.


“Angkasa sweet banget ih ya ampun, gue iri,” kata Lisa dan Ashilla mendengarnya dengan jelas.


“Iri tanda tak mampu,” sahut Sarah.“Sa, kalau lo lagi nyari selingkuhan, gue siap 24 jam sediain waktu buat lo,” tambah Sarah dengan suara yang sengaja dikeraskan.


Jantung Ashilla mencelus. Dia kemudian berpaling dari dua wanita yang mengerumuni Angkasa.


“Murah benget sih lo,” cibir Lisa.


Angkasa malah tersenyum menanggapi candaan teman-temannya. Dia kemudian pergi dan duduk di sebelah Ashilla. “Sayang,” katanya sembari meletakkan gelas di atas meja.


“Oh, jadi dia yang namanya Sarah? Wanita yang sering melakukan panggilan video itu. Dia juga yang pernah kamu salah sebut ketika bersamaku, iya?” tanya Ashilla pelan sembari mengambil air mineral dan menusuknya dengan sedotan.


“Iya, gitu?” Angkasa pura-pura tidak ingat.


Ashilla menghela napas. Kemudian dia menghabiskan air mineral tersebut untuk meredam amarah di dadanya.