Behind The Lies

Behind The Lies
Kebenaran



Iyash menyadari perubahan raut wajah Aruna. Dia segera mengambil alih dan menyampaikan tujuan mereka datang ke tempat tersebut di pagi-pagi buta seperti itu. “Ibu tahu, di mana Bu Dewi sekarang?”


“Yang saya dengar Dewi melanjutkan pendidikannya. Dia kuliah di Singapura, dibiayai sama suaminya yang sekarang.”


Dada Aruna terasa sesak. Dia sudah tidak tahan ingin menangis, namun, entah apa yang harus ditangisi dari kejadian itu.


“Kita ngobrol di rumah ibu. Nggak baik ngobrol di jalan.”


Mereka pun mengangguk dan langsung mengikuti ibu itu menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, wanita yang baru saja memperkenalkan diri sebagai Yuli itu tak langsung mengajak mereka mengobrol, dia malah pergi ke dapur meletakkan belanjaannya, lalu kembali  dengan membawa dua cangkir teh beserta beberapa bungkus roti. “Ayah kamu sehat?” tanyanya sembari duduk.


“Baik,” jawab Aruna singkat.


“Setelah Gusman pergi meninggalkan kampung ini, ayahnya mencarinya ke sini. Kalau saja waktu itu ibu tahu kemana Gusman pergi.”


Aruna nampak tak paham dengan apa yang dikatakan wanita tersebut. Dia terus menatap Iyash. Iyash sendiri merasa sedih dengan keadaan Aruna, dia hanya bisa mengangguk sembari menggenggam tangan kecil gadis itu. Tangan dingin yang penuh rasa kecewa.


“Sekarang kalian tinggal di mana?”


“Di Surabaya, Bu.”


“Kapan pulang ke Jakarta?”


“Nggak pulang, kami harus kembali ke Surabaya pagi ini juga,” jawab  Iyash sembari mengingatkan Aruna karena mungkin mereka akan ketinggalan kereta.


“Ibu tahu kenapa ayah dan ibu saya berpisah?” tanya Aruna.


Bu Yuli tak langsung menjawab. Dia merasa kalau itu bukan urusannya. “Ibu tidak tahu, Nak.”


Jantung Iyash mencelus melihat wajah Aruna memerah padam menahan semua perasaan marah, kecewa dan mungkin dia baru saja membenci keadaan.


“Apa karena Ayah miskin?” tebak Aruna dengan suara bergetar dan tidak bisa membahagiakan ibu saya.”


“Ibu benar-benar tidak tahu, Nak. Yang jelas kamu harus mengerti kalau ini terlalu sulit untuk ayah kamu.”


Aruna tertunduk dan itu membuat Iyash bingung, dia hanya bisa menepuk bahunya untuk mengembalikan kekuatan dan kepercayaan diri Aruna.


“Ibu minta maaf,” kata Bu Yuli. “Dulu ibu menawarkan diri untuk membantu Gusman merawat kamu, tapi Gusman tidak ingin tinggal di Jakarta, dia memilih pergi entah kemana. Mungkin menyembuhkan diri dari semua luka yang ibu kamu berikan.”


Aruna kian tertunduk, tetes demi tetes air mata jatuh mengenai lututnya.


“Ibu masih ingat saat tengah malam kamu menangis bersahutan dengan suara hujan, saat ibu masuk, Gusman pun sedang menangis di sebelah kamu. Ibu tanya Dewi kemana, dia cuma bilang kalau Dewi pergi mencari kebahagiaannya sendiri. Dia sudah tidak bahagia dengannya. Sekarang Ibu bersyukur karena dia berhasil membesarkan kamu.”


Aruna terisak. Kali ini dia paham apa yang sebenarnya terjadi. Kebohongan itu, bukan sepenuhnya salah sang ayah.


. “Kami pulang.” Aruna lekas bangkit sembari  menatap Iyash. Namun, Bu Yuli menahan tangannya.


“Jangan bilang kamu bertemu ibu di sini,” kata Bu Yuli.


Aruna terdiam dan menghela napas, kemudian dia mengangguk. Iyash pun lekas bangkit menyusulnya.


“Lebih baik kamu tidak bicara apa-apa soal ini sama ayah kamu, ibu hanya takut dia menjadi semakin sedih.”


Bu Yuli membelai puncak kepala Aruna. “Kamu memang cantik, persis seperti ibu kamu, tapi ibu percaya kalau kamu memiliki sifat ayah kamu,” tambah wanita paruh baya tersebut.


Aruna tak menjawab, dia lekas pamit begitupun dengan Iyash. Sepanjang jalan Aruna terus menangis. Iyash semakin bingung menghadapinya.


“Run, udah dong nangisnya malu.”


“Yash, ternyata rumah tangga itu rumit. Kalau begitu aku nggak mau menikah,” isaknya setelah cukup reda. Beruntung mereka ada di dalam taksi, sehingga yang mendengar tangisannya hanya Iyash dan sopir taksi itu sendiri.


“Kamu kok jadi ngelantur kemana-mana, lagi pula kita masih terlalu kecil untuk memikirkan itu,” omel Iyash.


Seketika Aruna merengut. Tiba-tiba ponsel Iyash berdering nyaring. Pemuda itu tergemap menatap nama sang Nenek yang tertera di layar ponsel.


Aruna tak kalah terkejut, seketika dia berhenti menangis dan mencoba untuk tetap tenang.


“Halo, Nek,” kata Iyash pelan.


“Kamu di mana, Yash?”


“Iyash masih di rumah teman,” bohong pemuda tujuh belas tahun tersebut.


“Jangan bohong kamu.”


“Kok bohong?” Iyash malah mengernyit dan menatap Aruna. Dia lalu menutup ponsel dengan telapak tangannya. “Kayaknya Nenek curiga,” bisik Iyash.


Aruna membelalakan mata. Dia lekas duduk tegap dan merapatkan telinga ke kepala Iyash agar bisa mendengar Nenek Alma bicara.


“Dari kemarin katanya kamu nggak masuk sekolah dan nggak ada teman yang ulang tahun, kamu bohong sama nenek?” cecar Nenek Alma di telepon.


Iyash tergemap. Kedua matanya membola menatap Aruna.


“Sekarang jawab jujur. Apa kamu pergi sama Aruna?”


Kedua mata Iyash kian membulat.


“Iyash, kamu mau Nenek laporkan ke orang tua kamu?”


“Nenek, Iya, Nek. Iyash minta maaf.”


“Kenapa kamu bohong?”


“Iyash cuma mau bantu Aruna, Nek,” katanya sembari  melirik Aruna yang masih merapatkan telinga ke kepalanya.


“Ridwan bilang kalau Aruna pergi ke Jakarta karena ada study tour, tapi ternyata di sekolah nggak ada acara study tour ke Jakarta. Sementara kamu bilang kamu mau menginap di rumah teman dan justru teman-teman kamu yang ke sini karena mereka ingin tahu kenapa kamu sama Aruna tidak masuk sekolah?”


Jantung Iyash mencelus. Dia menarik napas pelan. “Nanti Iyash jelaskan, Nek.”


“Sekarang kalian di mana?”


“Di taksi, kami mau ke stasiun.”


“Kami tunggu kalian di rumah. Hati-hati di jalan. Nanti Mas Sugeng jemput kalian biar bisa cepat sampai ke rumah.”


“Iya. Nek.” Iyash termangu saat Nenek Alma langsung menutup panggilan. “Habis aku, kayaknya Nenek marah,” gumam Iyash.


Aruna menarik napas dan melirik Iyash dengan ekor matanya. “Memang sudah marah, ‘kan?” tanya Aruna tenang.


“Kamu kok bisa tenang begitu, sedangkan dari tadi kamu nangis?”


“Kamu lebih suka lihat aku nangis?”


“Nggak.” Iyash menghela napas. “Nggak gitu.” Dia menghempas punggung ke sandaran kursi mobil.


Sesampainya di stasiun mereka membeli makanan untuk bekal di kereta. Setelah mendapatkan dua bungkus nasi rames mereka langsung masuk dan mencari tempat duduk. Di dalam kereta Aruna tak makan, dia malah sibuk menuliskan tentang perjalanannya hari ini.


Iyash pun sibuk memotret dengan kameranya. Dia hanya berusaha untuk tidak membebani pikirannya dengan kemarahan Nenek Alma. Setelah masuk jam makan siang barulah mereka makan.


Tiba-tiba pesan masuk dari Nenek Alma. “Nanti Mas Sugeng jemput kalian.”


Lagi-lagi jantung Iyash mencelus, rasanya seperti Nenek Alma ada di depannya. Selama ini Nenek Alma tak pernah marah. Iyash menoleh pada Aruna yang masih tampak asyik menulis. Dia hanya bisa menghela napas karena perjalanan pulang menjadi tidak menyenangkan.


 ***