
Aruna terbangun tepat pukul dua dini hari dalam kesunyian yang mengerikan. Syukurlah dia berhasil selamat dari kecelakaan maut yang dialaminya. Sedangkan Gusman masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Ketika mendapat kabar kalau anak semata wayangnya mengalami kecelakaan, dia langsung merasa gundah, dia merasa seperti ditampar bertubi-tubi. Andai Gusman mengalahkan traumanya dan menemani Aruna selama beberapa hari di Jakarta, meski dia tak dapat mengubah kejadian yang sudah Tuhan tetapkan.
Aruna termenung, dia merasa kosong sampai beberapa detik. Namun, kemudian dia teringat pada satu nama sebelum kecelakaan itu terjadi.
“Iyash,” gumamnya seraya bangun. Dia lekas turun dari ranjang dan berjalan sempoyongan sembari menuntun tiang infus.
“Kamu mau kemana?” tanya perawat yang kebetulan hendak masuk.
“Iyash. Teman saya, apa dia baik-baik saja?”
Perawat lekas mengambil kursi roda dan meminta Aruna untuk duduk. “Mari saya antar.”
Perlahan Aruna duduk. Beruntung dia hanya mengalami sedikit luka, benturan di kepalanya tak terlalu berdampak serius, sementara Iyash terbaring koma. Perawat itu mendorong kursi rodanya dan berhenti di depan pintu kamar rawat Iyash. Aruna lekas berdiri dan mengintip dibalik kaca sebelah pintu masuk.
Air matanya menetes melihat Iyash terkapar dengan bermacam-macam alat medis di tubuhnya. Lehernya disangga neck collar, kepalanya dililit perban, napasnya dibantu oksigen, sementara layar monitor menunjukkan detak jantungnya.
“Iyash akan sehat kembali, ‘kan?” gumam Aruna.
Perawat itu berdiri di sebelahnya. “Kemungkinannya sangat tipis.”
Perlahan Aruna mundur dan duduk kembali di kursi roda sembari menangis. Ini semua salahnya, jika saja malam tadi dia tetap berdiri di posisinya tanpa harus berlari keluar. Menahan rasa sakit sampai acara tersebut selesai, mungkin lebih baik dari apa yang terjadi sekarang.
“Saya antar kamu ke kamar,” kata perawat tersebut sembari kembali meraih handle kursi roda. “Pagi nanti akan dilakukan tes lebih lanjut. Semoga tidak ada masalah dengan luka di kepalanya.”
Aruna terus menangis dan lekas naik ke atas ranjang begitu sampai di kamarnya.
“Banyak-banyak berdoa ya,” kata perawat tersebut sembari menyelimutinya.
Air mata Aruna kembali tergenang, dadanya terasa sesak. Dia berjanji akan melakukan apapun asal Iyash kembali sehat.
***
Pukul enam Gusman sampai di rumah sakit. Tanpa berpikir apapun lagi, dia langsung mencari kamar Aruna. Setelah sampai Gusman melangkah pelan ke dekat ranjang anak gadisnya. “Nak.”
“Ayah.” Aruna lekas bangun dan memeluk sang ayah. Dia menangis sekencang-kencangnya.
“Ssstttt ….” Gusman menepuk-nepuk punggung sang anak. “Ini sudah menjadi bagian dari takdir, Nak.”
Aruna terus terisak dalam pelukan sang ayah.
“Iyash gimana? Dia baik-baik saja?”
Tentu saja Aruna menggeleng. “Ini semua salah Runa.”
Gusman mengernyit. “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?” Dia mengusap punggung Aruna. “Menyalahkan diri sendiri tidak ada gunanya, lebih baik kamu berdoa untuk kesembuhan Iyash.”
“Dada Aruna sesak,” keluh gadis itu.
Gusman melepaskan pelukan dan mengusap kening Aruna yang penuh dengan keringat.
“Sakit,” lirih Aruna seraya menunjuk dadanya sendiri. Bagaimana tidak, ini bukan tentang kecelakaan, tapi tentang kejadian sebelumnya. Di depan mata Iyash dirisak preman tanpa bisa melawan, lalu pertengkaran yang menyakitkan.
Gusman hanya bisa menghela napas. “Ikhlaskan. Jangan jadikan ini sebagai kesalahan karena tak semua bisa kamu kendalikan.”
Nasihat mungkin memang terdengar mudah, tapi kenyataannya sulit untuk diterapkan, apalagi Aruna tengah merasa rendah diri sejak beberapa hari ini.
Tak berapa lama dari diamnya Aruna, sebuah ketukan membuat Gusman menoleh ke arah pintu, Aruna sendiri langsung menahan isakannya.
Ira berdiri di ambang pintu. Air mata terus mengucur. Perlahan kedua kakinya melangkah bergantian mendekat ke arah Aruna. Namun, tiba-tiba Aruna dan Gusman tersentak melihat ibu dari Iyash itu berlutut di depan ranjangnya.
“Saya mohon. Tinggalkan anak saya,” pinta Ira tanpa melihat wajah Aruna. “Tinggalkan dia dan jangan pernah kembali.”
Aruna terperangah. Dadanya semakin terasa sakit. Dia lekas turun dan membantu Ira untuk berdiri. “Tante.” Namun, Ira menahan dan menggenggam tangannya.
“Bukan demi saya, tapi demi Iyash. Tolong biarkan Iyash hidup tenang dan jangan ganggu dia untuk menggapai cita-citanya.”
Lidah Aruna terasa kelu. Tenggorokannya tercekat, sementara air mata terus membanjiri kedua pipinya.
“Iyash masih terlalu kecil untuk dibebani. Dia butuh bantuan untuk mengurus hidupnya sendiri dan sekarang malah sok-sokan ingin mengurus hidup kamu.”
Aruna merasa tertampar. Ayahnya sudah memperingatkan ini dengan halus, namun dia tak mau mengerti, tapi kini dia paham dengan kalimat sarkas Ira.
Wanita itu melepaskan genggaman tangannya dari Aruna dan menatap pria berkumis tipis itu.
“Cinta? Apa anak bapak harus mengambil keuntungan dari anak saya dengan dalih cinta?” ucap Ira seraya bangkit. Sedangkan Aruna tertunduk karena kalimat Ira benar-benar telah menampar dirinya.
“Saya tidak akan pernah merestui mereka. Sejak Iyash bersama anak Anda. Dia banyak berubah, bahkan dia sering membohongi kami. Cinta yang mengubah seseorang menjadi berperilaku negatif adalah penyakit.”
Jantung Gusman mencelus. Kilas balik tentang dirinya dan Dewi kembali membebani isi kepala yang seharusnya sudah dia lupakan. Sungguh dia tidak ingin Aruna mengalami hal yang sama seperti apa yang dirinya alami.
Ira mendecih. “Apa-apa Aruna. Sedikit-sedikit Aruna. Iyash hampir lupa dengan tujuannya sendiri. Dia harus tes untuk mengikuti pendidikan di luar negeri. Kalau sampai batal, saya nggak bisa memaafkan kalian.”
Gusman langsung menatap Aruna. Baru beberapa menit lalu dia mengeluh sakit dada karena sesak. Sekarang pasti anaknya itu semakin merasa kesakitan.
“Seharusnya Anda sadar diri, Anda tidak membesarkan anak Anda untuk menjadi beban orang lain, ‘kan? Kenapa anak saya harus menanggungnya? sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tuanya malah ditimpakan pada anak saya.”
“Cukup!” Aruna segera bangkit. “Jika ini untuk kebaikan Iyash–”
“Jangan kembali,” tukas Ira seraya meletakkan segepok uang di atas ranjang. “Ongkos buat kalian pergi. Semua biaya rumah sakit sudah saya bayar.”
Sakit di dada Aruna perlahan menghilang seiring dengan keikhlasan hatinya merelakan Iyash. “Bilang kalau saya sudah meninggal,” kata gadis itu yakin.
Gusman tercengang lantaran perkataan Aruna mengingatkannya kembali pada Dewi. “Run, kamu nggak bisa–”
“Bisa, ayah. Biar Iyash melupakan Aruna.”
“Tapi nggak harus dengan cara seperti itu.”
“Harus dengan cara apa lagi? Semua demi kebaikan Iyash.” Aruna berpaling dan menyembunyikan kepedihannya.
“Ini belum tentu yang terbaik.”
“Ini keputusan yang terbaik,” sambar Ira. “Saya setuju. Kini tujuan Iyash hanya satu, memikirkan dan mewujudkan cita-citanya. Tak ada lagi tentang kamu.”
Jantung Aruna seperti dihantam benda berat, sesak yang tadi sempat reda, kini terasa kembali menyiksa.
“Terima kasih.” Ira melenggang pergi meninggalkan kamar rawat Aruna.
Gusman merobohkan tubuh ke kursi. “Kenapa, Run?”
Aruna membasahi tenggorokan menatap sang ayah yang tampak begitu bersedih untuk lukanya. Aruna lekas berbalik dan naik ke atas ranjang. Dia kemudian menangis sembari meringkuk.
“Ayah kecewa sama kamu.”
“Ini yang terbaik,” lirih Aruna.
“Bukan perpisahan kamu dengan Iyash yang membuat ayah kecewa, tapi kamu yang ingin dianggap meninggal.”
“Itu semua biar Iyash nggak nyari Aruna.”
“Percaya diri sekali kamu.” Gusman bangkit dan menatap punggung sang anak dengan penuh amarah. “Dengan kamu pergi pun belum tentu Iyash mencari kamu.” Gusman mendengkus. “Ini ingin dianggap mati.”
Seketika Aruna tergemap. Dia kemudian bangun dan duduk. “Tenang, Ayah, Aruna tidak akan mengulangi kesalahan Ayah.”
“Tidak perlu bawa-bawa kesalahan Ayah. Kamu tidak akan paham, seumur hidup pun tidak.”
Aruna terpegun. Mungkin Gusman memang benar. Tak ada yang bisa memahami duka orang lain.
“Keadaannya jelas berbeda.”
“Cuma ini yang bisa Aruna lakukan.”
“Dengan pura-pura tiada, lalu bagaimana jika suatu saat kalian ditakdirkan untuk bertemu kembali? Kebenaran apa yang ingin kamu sampaikan?”
Aruna termangu dan lagi-lagi sang ayah memang ada benarnya.
“Sebaiknya kalau ingin pergi, pergilah tanpa harus meninggalkan tanda tanya besar di hati Iyash. Dunia ini luas, kita bisa tinggal di manapun.”
Aruna tertunduk dan kembali terisak. Entah keputusannya benar atau tidak yang jelas untuk saat ini mungkin dia merasa inilah yang terbaik.
***