Behind The Lies

Behind The Lies
Mendapat Hukuman



Keesokan paginya mereka menginjakkan kaki di gedung sekolah. Semua orang menatap ke arah mereka, bahkan ketika Iyash berjalan di belakang Aruna dan masuk ke kelas, semua orang kompak menyoraki mereka berdua.


Waktu itu salah satu teman mereka yang bernama Hambali segera berlari ke dalam kelas dan memberi pengumuman terkait kedatangan Iyash dan Aruna. “Perhatian-perhatian, saya beritahukan kepada para tamu undangan bahwa kedua calon mempelai akan memasuki gedung resepsi, mohon untuk memberi sambutan yang meriah.”


Sontak seisi kelas menyoraki sembari bertepuk tangan. Tentu saja Aruna dan Iyash terkejut sampai tak dapat berkata apa-apa dan keduanya hanya saling tatap.


“Perkenalkan, saya Hambali, wali yang akan menikahkan Iyash dan Aruna,” teriak Hambali di depan kelas.


Perlahan Aruna tertunduk dan melangkah ke tempat duduknya diikuti Iyash dari belakang. Aruna kemudian duduk di dekat Naya, sedangkan Iyash duduk di dekat Umam.


“Saya sendiri dari KUA,” kata Fahri seraya maju ke dapan.


“Saya sebagai saksi dari pihak perempuan,” ucap Susan seraya bangkit.


“Saya juga,” kata Mutia, teman sebangkunya.


“Sementara kalian semua saksi dari Iyash,” kata Hambali.


Sejatinya mereka hanya sedang mengolok-olok Iyash dan Aruna karena kabar kepergian mereka yang bermalam minggu di Jakarta sudah menyebar ke seluruh kelas.


Aruna hanya bisa tertunduk di kursinya. Naya, Dennis, Umam dan Bagas kompak mendiamkan mereka. Sesekali Iyash menoleh pada Aruna. Dia ingin memarahi semua yang mengolok-olok mereka, namun dia tak ingin ribut karena dia tahu kalau teman-temannya hanya bercanda.


Hambali, Fahri, Susan dan Mutia mendekat ke meja Iyash. “Bagaimana Yash, kamu sudah siap?” tanya Fahri.


Iyash hanya diam sembari membasahi tenggorokan.


“Aruna nampaknya sudah tak sabar ingin dinikahi kamu,” timpal Susan.


“Hm ….” Hambali berdehem, kemudian meraih tangan Iyash, sedangkan Iyash sendiri hanya diam dan tak menentang olok-olok tersebut. “Saya nikahkan Iyash Wiyahasa Ardhana dengan Putri semata wayang saya Aruna Anastasya binti–”


Seketika Aruna bangkit dan mendorong kursi, dia kemudian melenggang pergi ke keluar dari kelas dan itu membuat seisi kelas terperangah. Hambali, Fahri, Susan dan Mutia tergelak karena merasa berhasil membuat lelucon yang sangat berkesan bagi Aruna.


Iyash sendiri hanya menatap tajam ke arah mereka.


“Wuuuu ….” Sorakan seisi kelas membuat sahabat-sahabat Aruna geram.


“Tenang-tenang, pengantin prianya sedang mencoba meyakinkan pengantin wanita,” teriak Fahri.


Susan dan Mutia kembali tergelak, kali ini disusul dengan gelak tawa teman yang lainnya. “Si Fahri sama Hambali jago juga bikin orang kesal,” kata Susan.


Riuh rendah seisi kelas seketika berubah hening karena kadatangan Pak Rustam. “Ada Iyash dan Aruna?” tanya Pak Rustam di depan pintu. Namun, seisi kelas hanya bisa terdiam. “Kenapa? Saya tanya Iyash dan Aruna ada?”


“Keluar, Pak.”


Pak Rustam pun pergi. Tak berapa lama mereka mendengar panggilan melalui speaker. “Kepada Iyash dan Aruna ditunggu di ruangan Pak Gusti.”


Iyash dan Aruna yang terduduk di bawah pohon halaman belakang terperangah mendengar panggilan tersebut.


“Sekali lagi, kepada Iyash dan Aruna ditunggu di ruangan Pak Gusti.”


Iyash menghela napas. “Run,” panggilnya pada Aruna.


“Aku minta maaf karena melibatkan siswa teladan ke dalam masalahku,” kata Aruna seraya bangkit.


Iyash tak memberi tanggapan apapun, justru dia merasa senang karena dari sekian banyak teman laki-laki Aruna, gadis itu memilih dirinya.


Aruna lekas pergi ke ruangan Pak Gusti dan Iyash pun lekas menyusulnya.


Sesampainya di ruangan tersebut. Tanpa basa-basi Pak Gusti langsung memberikan hukuman. “Kalian bolos. Kenapa cuma dua hari?”


Aruna menghela napas dan tertunduk.


“Kamu nakal juga, Yash. Bapak pikir kamu tidak akan melanggar peraturan sekolah? Ini sampai bohong, ck-ck-ck.” Pak Gusti menggelengkan kepala. “Kalian akan mendapat hukuman.” Pak Gusti yakin kalau nasehat sudah mereka terima sejak kemarin.


“Membersihkan ******. Aruna ****** perempuan dan Iyash ****** laki-laki.”  Sekarang, cepat lakukan.”


Iyash mengangguk, kemudian keluar lebih dulu dari ruangan Pak Gusti disusul Aruna. Sementara semua siswa di kelasnya sedang belajar bahasa Indonesia.


“Iyash,” panggil Aruna setengah berteriak. “Aku beneran minta maaf,” katanya penuh rasa bersalah.


“Nggak usah dipikirin, Run, aku udah maafin kamu.”


“Aku lupa kamu murid teladan.”


“Nggak usah diingetin lagi. Aku juga tidak sesempurna yang kamu pikirkan.”


“Tapi, memang iya, ‘kan?


“Aku punya target, Run.”


“Aku ingin dapat beasiswa dan kuliah di luar negeri,” jawab Iyash sembari tetap menyikat lantai.


Seketika Aruna terdiam dan mematung di depan Iyash. Perlahan Iyash mengangkat wajah dan menatapnya. “Kenapa?” tanyanya heran.


“Aku kagum sama kamu. Kamu anak orang kaya, kamu cucu orang berada, tapi kamu masih memikirkan beasiswa untuk kamu kuliah.”


Iyash kembali menyikat lantai, bibirnya tersungging tipis lantaran baru saja dikagumi oleh Aruna. “Beasiswa untuk anak berprestasi, bukan untuk anak orang yang tak punya saja, ‘kan?” kata Iyash tenang.


Lagi-lagi Aruna terdiam mematung di depan Iyash. Entah di detik keberapa, tiba-tiba gadis itu berjongkok di depan Iyash yang kembali menyikat lantai.


“Sumpah, Yash. Aku beneran nggak nyangka, saat kamu ngarahin kamera ke betisku,” Aruna mengetuk kening Iyash dengan sendi jarinya, “aku kira otakmu kosong, nggak ada isinya.”


Iyash mendecih dan menjauhkan kepala dari tangan Aruna seraya tersenyum sinis.


“Nggak nyangka di sini.” Aruna kembali mengetuk kening Iyash. “Ternyata ada isinya.” Kemudian gadis itu bangkit dan apa yang dilakukannya membuat Iyash terperangah.


“Nanti ajarin aku jadi juara kelas, Yash,” tambah Aruna sembari melengos pergi ke kamar mandi sebelah.


“Jangan sok merendah, kita adalah saingan,” teriak Iyash.


“Tapi selama setahun ini, aku belum bisa mengalahkan kamu. Kayaknya kita nggak bisa bersaing, seharusnya kita jadi partner, Yash,” teriak Aruna tak kalah keras.


Jantung Iyash berdegup tatkala Aruna mengajaknya menjadi partner. Gerakan tangannya tiba-tiba melambat karena debar dibalik dada baru saja menguasai dirinya pagi itu.


“Kalau kamu dapat beasiswa, memang kamu mau kuliah di mana?” tanya Aruna.


“Valencia Spanyol. Aku ingin menjadi arsitek,” jawab Iyash.


“Hah? Apa, Yash? Nggak kedengeran.”


 “Valencia Spanyol. Aku ingin menjadi arsitek,” teriak Iyash.


“Wow. Kalau udah sukses jadi arsitek, tolong buatkan aku rumah dan taman yang bisa bikin aku betah di sana, di tamannya harus bunga berwarna putih semua, nggak boleh ada warna selain putih,” teriak Aruna.


“Hm, itu mah kecil.” Iyash bangkit dan menyiram lantai yang sudah di sikatnya. “Kalau kamu mau kuliah di Negara mana?” tanya Iyash.


“Aku?” Aruna terdiam sejenak. “Jangankan di luar Negeri sendiri saja aku nggak yakin bisa.”


Seketika Iyash menjatuhkan gayung ke ember kemudian pergi menghampiri Aruna. “Kenapa nggak? Memang kalau nggak kuliah kamu mau apa?”


“Nikah.”


“Loh, nggak kerja?”


Aruna berbalik dan menegakkan tubuhnya di depan Iyash. “Nikah aja yuk.”


Melihat raut wajah Aruna, Iyash sangat yakin kalau gadis itu hanya bercanda, mengingat kemarin dia mengatakan kalau dia tidak ingin menikah. “Katanya nggak mau,” kata Iyash seraya mencebik.


“Kalau sama kamu aku mau,” goda Aruna.


Iyash malah tertawa. Namun, hatinya tak menolak ajakan Aruna, terlepas dari sebuah candaan atau bukan.


Aruna sendiri ikut tertawa, namun tawanya terkesan kikuk dan dipaksakan. “Kalau ada rezeki, aku mau kuliah jurusan Sastra Inggris, terus nanti aku mau jadi Dosen Sastra Inggris. Cuman kayaknya itu mustahil deh, Yash. Aku nggak bisa mengaitkan mimpi terlalu tinggi, takut kecewa.”


Aruna kemudian kembali berbalik dan membungkuk untuk menyiram lantai yang sudah di sikatnya.


“Kamu bebas bermimpi, Run. Nggak akan ada yang melarang dan gantungkan saja mimpimu setinggi langit.”


“Kamu nggak dengar aku bilang kalau aku takut kecewa,” kata Aruna tanpa menoleh.


“Dengar. Berharapnya jangan sama manusia, gantung mimpi setinggi asa dan berharaplah pada Sang Maha Pencipta, maka Dia akan berkata kun, fayakun.”


Seketika Aruna terdiam dan berhenti menyiram lantai, kemudian menoleh pada Iyash. “Aku menyesal karena udah judesin kamu, padahal mungkin dari dulu kamu bisa jadi guru spiritualku.”


Iyash malah tertawa mendengar candaannya dan kembali ke ****** laki-laki.


“Tolong kamu catat, kamu dan Tuhan jadi saksinya. Aku ingin kuliah jurusan sastra di New York.”


“Ya. Udah aku catat.”


“Catat di hatimu, Yash.”


Iyash membasahi tenggorokan dan menatap punggung gadis itu.


Mereka segera menyelesaikan pekerjaan karena jam istirahat akan segera dimulai. Setelah banyak hal yang Iyash lalui bersama Aruna, dia tak keberatan kehilangan dua jam pelajaran di hari ini dan empat jam pelajaran di hari Sabtu karena Iyash bisa belajar banyak dari Aruna. Baginya pengalaman adalah guru terbaik.