Behind The Lies

Behind The Lies
Cewek Bar-Bar



Sepulang dari rumah Neneknya Iyash, Aruna diajak berkeliling Jakarta. Namun, sepanjang jalan dia hanya diam dan tak banyak bicara, padahal sedari tadi Iyash bercerita tentang keluarganya.


Iyash mengajak Aruna ke sebuah restoran.


"Kita makan siang dulu. Aku tahu kamu pasti lapar," kata Iyash seraya menurunkan standar motornya. Dia kemudian berjalan diikuti Aruna.


Aruna sendiri malah termenung usai Iyash mengajaknya duduk di depan sebuah meja. Entah kenapa dia merasa kalau dirinya adalah benalu yang hanya menumpang pada Iyash bahkan untuk makan siangnya hari ini.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Iyash sembari mendekatkan kertas menu pada Aruna.


“Aku ikut kamu aja, aku belum lapar kok,” bohong Aruna.


“Kamu yakin?”


“Iya.”


Iyash tersenyum pada pelayan. “Bebek betutu dua.”


“Baik, ada lagi?”


“Kamu mau minum apa?”


“Teh tawar aja.”


“Teh tawarnya dua.”


“Baik, ditunggu ya, Dek.” Pelayan itu pun pergi.


“Setelah dari sini aku mau ajak kamu ke kampus tempat kamu kuliah nanti.”


“Makasih ya, Yash. Aku banyak ngerepotin kamu di sini.”


Iyash hanya mengangguk dan itu benar-benar membuat Aruna serba salah.


“Kamu sekalian anterin aku cari kontrakan ya,” pinta Aruna.


Iyash mengernyit. “Loh?”


Pelayan datang dan meletakan dua piring nasi dan dua piring bebek betutu di meja.


“Makasih, Mbak,” kata Iyash. Dia kemudian menoleh menatap Aruna. “‘Kita bicarakan ini nanti, sekarang makan dulu, aku udah lapar.”


Aruna mengangguk dan segera menyantap makanan yang tersaji di meja. Sampai makan siang mereka selesai, tak sedikitpun Iyash bicara, pun dengan Aruna. Ketika di rumah Neneknya, sang ibu berkata kalau tak seharusnya Iyash menanggung hidup Aruna karena Iyash sendiri juga masih tanggung jawab orang tua.


Di jalan menuju kampus pun Iyash tak membahas tentang Aruna yang ingin mencari kontrakan. Dia bingung, benar-benar bingung, di sisi lain dia sudah berjanji untuk menjaga Aruna, tapi di sisi lain kedua orang tuanya terutama sang ibu tidak setuju dengan keputusan itu.


 Aruna juga hanya terdiam. Sejak kemarin semua terasa kaku. Keadaan ini membuat suasana lebih menegangkan dari yang seharusnya. Bagaimana cara dia menyampaikan kalau sebenarnya dia merasa tidak nyaman tinggal di rumah Iyash. Pertemuannya dengan keluarga Iyash pun telah meninju kepercayaan dirinya.


Jakarta memang kota besar dan tak mudah hidup sendiri di sana. Aruna tak menantang dirinya seratus persen karena dia begitu bergantung pada Iyash.


Tak berapa lama motor berhenti di depan sebuah kampus. “Sampai,” kata Iyash seraya membuka helm.


Aruna segera turun dan mengedarkan pandangan. Dia tak pernah membayangkan bisa berada di tempat itu. Mungkin memang Iyash adalah jalannya untuk bisa kuliah di Jakarta, Iyash yang membuatnya berani bermimpi.


“Yash, aku benar-benar berterima kasih sama kamu.”


“Iya. Ini keseribu kalinya kamu bilang terima kasih.”


“Aku nggak tahu, gimana caranya membalas kebaikan kamu.”


“Run, kita nggak usah bahas ini lagi.”


“Yash, aku serius. Aku nggak mau ngerepotin kamu lagi, jadi untuk tempat tinggal, aku–” Kalimat Aruna seketika terhenti karena seorang perempuan baru saja datang dan menyapa Iyash.


“Ngapain, katanya mau ke Spanyol?” tanya Adisty.


Iyash tersenyum lebar. “Gue ke sini mau antar Aruna.”


“Siapa?” tanya Adisty seraya menatap perempuan di sebelah Iyash.


“Aruna, cewek gue yang kemarin gue ceritain.”


“Oh.” Mulut Adisty membulat. “Yang dapat beasiswa itu?”


“Hm.” Iyash mangangguk.


Aruna tersenyum kikuk. Adisty tak memperkenalkan diri, maka dia pun tidak. Aruna terbiasa disapa dan dia tak pernah mengawali perkenalan.


Seorang pria melambaikan tangan pada Iyash.


“Kok ada Angkasa?” tanya Iyash pada Adisty. Namun, Adisty tak menjawab dan malah mengedikkan bahu.


“Yash … long time no see.” Angkasa merangkul bahu Iyash. “Gimana Surabaya. Perempuannya ayu-ayu toh?”


“Tunggu. Lu kapan balik?”


Angkasa tersenyum. “Minggu lalu.”


“Pangling gue. Kuliah di mana?”


“Cewek gue. Aruna.”


“Oh. Hai.” Angkasa mengulurkan tangan dan Aruna menyambutnya.


“Angkasa.”


“Aruna.”


Angkasa tersenyum lebar. “Cantik,” pujinya pelan. Pria itu tak berkedip bahkan dia menahan genggaman tangannya.


Iyash berdehem, seketika itu juga Angkasa tersadar kalau dia baru saja terpesona oleh kekasih sahabatnya.


“Gue kira lu mau kuliah di sini sih?” tanya Iyash pada Angkasa.


“Gue nggak mau kuliah, gue nggak mau kerja, tapi bokap gue maksa. Siapa yang mau nerusin perusahaan Papa? Minimal Sarjana walau nggak jadi profesor.” Angkasa terkekeh, dia kemudian menatap Aruna. “Kayaknya gue kuliah di sini aja.”


Iyash lekas menatap Aruna yang sedang tertunduk. Dia kemudian kembali menatap Angkasa. “Mau ngambil apa?”


“Belum tahu.” Angkasa terus menatap Aruna. “Kalau Aruna ngambil apa?”


Aruna lekas menatapnya. “Sastra Inggris,” jawab gadis itu pelan.


“Sama,” jawab Angkasa asal.


“Sejak kapan lu suka sastra?” tanya Adisty ketus.


“Sejak hari ini,” jawab Angkasa setengah bergumam. “Eh, Dis, program beasiswa masih ada, ‘kan?”


“Buat apa, kayak yang nggak mampu, lagian beasiswa yang diadakan Papa, ‘kan buat orang miskin,” kata Adisty seraya menatap Aruna.


Aruna tergemap. Seketika jantungnya mencelus, sakit dan menyesakkan. Dia menatap Iyash, namun pria itu menghindari tatapannya dengan menoleh ke arah lain. Jika beasiswa itu untuk orang miskin, lalu untuk apa tes tersebut diikuti? Percuma saja prestasi-prestasinya selama ini.


“Gue pikir untuk orang pintar.”


“Orang pintar bisa dapat beasiswa di luar Negri kayak Iyash.”


Aruna menahan isakannya di tenggorokan. Bagai bumi dan langit, sungguh dia menyadari satu hal kalau dia memang tidak pantas untuk Iyash. Meski Iyash terlihat tulus, tapi tak dapat dipungkiri kalau status mereka begitu kontras.


“Betewe cewek lu tinggal di mana, Yash?” tanya Adisty.


“Untuk sementara di rumah gue,” jawab Iyash.


“Numpang, mau sampai kapan?”


Aruna hampir tersedak, kemarin saat dirinya meminta untuk mencari kontrakan, Iyash mengatakan kalau lebih baik dia tinggal di rumahnya saja, bahkan tadi Iyash tak ingin membahas hal itu.


“Jadi, rencananya hari ini mau nyari kontrakan?” tanya Angkasa.


“Iya,” jawab Aruna yakin.


Iyash terperangah karena dia belum memberi Aruna izin untuk pergi dari rumahnya.


“Oh. Ada nih sekitaran sini kos-kosan putri.” Angkasa menunjuk ke Selatan. “Lumayan, ‘kan dekat kampus.”


“Kok tahu?” Iyash mengernyit.


“Kayak yang nggak tahu Angkasa aja, Yash-Yash,” kekeh Adisty. “Dia sengaja cari yang bening-bening buat cuci mata.”


Iyash berdecak. “Kali-kali cuci otak lu.”


Angkasa tertawa.


“Yash, nanti antar aku ke tempat kos yang Angkasa maksud,” kata Aruna.


“Yakin bisa bayar, nanti malah Iyash yang harus bayar,” cibir Adisty.


“Nggak apa-apa yang penting bukan lu, Dis. Kecuali kalau Aruna cewek gue.” Angkasa mengedikkan bahu dan saat itu Iyash benar-benar tak berkutik.


“Ah iya.” Adisty mengeluarkan selembar undangan dari tasnya. “Baru aja dicetak. “Datang ya.” Dia membagikannya pada Iyash dan Angkasa.


“Wih, sweet seventeen.” Angkasa menatap kertas undangan tersebut.


Adisty tersenyum lebar.


“Yakin nggak salah cetak, bukannya sweet seventeen lu dua tahun yang lalu?”


“Anying!” Adisty meninju bahu Angkasa sampai Aruna ikut terkejut. “Emang gue keliatan setua itu?”


Angkasa tertawa. Sementara Aruna tak henti menatap Angkasa sampai pria itu menyadarinya. “Aruna sampai kaget, Yash,” kata Angkasa.


“Wajarlah, di Surabaya mana ada cewek bar-bar kayak Adisty,” kata Iyash.


“Seenggaknya gue nggak pernah munafik, kalau suka gue bilang, kalau nggak suka gue tendang.” Adisty menatap tajam ke arah Aruna.


Jantung Aruna mencelus.