
Pria berjas hitam itu duduk di sofa tepat di hadapan Miranti. Semua diminta berkumpul di ruang tamu untuk mendengarkan surat wasiat yang akan dibacakan pengacara almarhum Ganjar.
“Maaf sebelumnya, Bu. Ini amanat Bapak, jika–”
“Sebentar, Pak,” potong Miranti. “Bisa tidak ditunda dulu sampai anak saya pulang?”
“Bapak minta setelah beliau wafat, ini harus segera–”
“Anak saya pasti pulang.” Miranti kembali memangkas kalimat sang pengacara. “Beri kami waktu tiga hari, saya mau anak saya hadir di sini.”
Ashilla, Aruna dan yang lainnya tampak diam tak berani memberi komentar. Mereka sadar kalau mereka hanya cucu, tak berhak apapun atas harta sang kakek.
Semua mentok di titik ini. Baik Aruna, Ashilla dan semua yang ada di rumah itu tak berani untuk berkata apapun lagi. Mungkin masalah tentang Ganjar selesai. Mereka bisa melanjutkan kehidupan mereka masing-masing termasuk Aruna. Namun, tak semudah itu. Ganjar bukan satu-satunya penyebab dari semua masalah yang mereka hadapi. Kehidupan akan terus berlanjut dan masalah akan terus ada.
Permusuhan Ganjar dengan Dewi mungkin sulit untuk mendapat titik terang sampai ajal menjemput. Namun, dipersatukan pun sudah terlambat, setidaknya mereka pernah mencoba. Rahasia kebencian Ganjar terhadap Dewi ikut terkubur bersama kepergiannya.
“Kalau Bunda mengizinkan, aku akan pergi ke Surabaya untuk menyusul Kak Edgar,” kata Ashilla.
Aruna tahu Ashilla hanya ingin masalah ini cepat selesai. Sama seperti dirinya, Ashilla pun ingin hidup dengan tenang.
Dendam dan masa lalu tak baik untuk terus diingat karena akan mengganggu kehidupan mereka saat ini, kisah cinta di masa lalu pun tak akan bisa mereka raih kembali.
Waktu terasa singkat hanya untuk mengurusi masalah yang tak ada ujungnya.
“Kamu boleh pergi kalau Aruna pergi,” kata Miranti.
“Maaf, Bund. Aku tidak mengizinkan Aruna pergi. Ini terlalu rawan untuk kehamilannya. Aku tidak mau ambil resiko,” kata Faran khawatir.
Aruna langsung menatap sang suami.
“Itu artinya Bunda melarangku pergi,” dengkus Ashilla seraya menurunkan bahu. “Kalau begitu tunggu saja sampai Kak Edgar pulang.”
Angkasa menggenggam tangan Ashilla. Sama seperti Faran, dengan menikahi Ashilla dia juga menikahi semua masalah keluarga wanita itu. Dia pikir setelah menikah semua akan baik-baik saja.
“Aku permisi.” Aruna bangkit dan melenggang pergi meninggalkan ruang tamu menuju halaman belakang. Dia tidak tahu kalau Faran mengikutinya.
Aruna rela mengubur semua perasaannya dan menghilangkan rasa malunya dengan menghubungi Iyash untuk meminta bantuan pria itu.
Sambungan telepon berhenti dan Aruna kembali mencoba. Kali ini Iyash menjawab panggilannya.
“Hai. Maaf ganggu,” kata Aruna pelan.
Debar dibalik dada Iyash masih sama seperti dulu.
“Maaf aku hanya datang dan menghubungi kamu di saat butuh, tapi aku benar-benar membutuhkan bantuan kamu.”
“Katakan, apapun itu aku akan berusaha membantu kamu.”
Bagi Iyash tak ada gunanya lagi menahan diri untuk masa lalu. Yang perlu dilakukan adalah ikut berbahagia untuk cintanya itu.
Aruna menarik napas dan mengeluarkannya perlahan. “Kakakku, anaknya Bunda Miranti. Dia pergi ke Surabaya dan sampai saat ini belum pulang.”
“Terus?”
Aruna kembali menarik napas, seolah dia berusaha meredam luka yang hendak menguar dibalik dada. Seperti ada yang mengetuk-ngetuk dadanya dan berusaha untuk keluar. “Dia ada di kampung halaman ayah kamu.”
“Hah?” pekikan Iyash membuat telinga Aruna berdenging. “Buat apa dia ke sana.”
“Aku nggak tahu dan aku juga bingung kenapa dia bisa mendapatkan alamat itu.”
“Aku akan ke sana,” kata Iyash cepat.
Aruna mengangguk. “Kalau kamu bertemu dengan dia, tolong minta dia buat pulang. Bunda hancur. Cuma Kak Edgar yang bisa membuat Bunda tenang.” Dia menyeka air mata yang terjatuh melintas di kedua pipinya.
Dari jauh Faran melihat kesedihan dan mendengar suara parau Aruna. Meski dia tidak tahu dengan pasti siapa orang yang dihubungi Aruna, namun dia cukup yakin kalau orang itu adalah pria yang sempat Ashilla bahas sebelumnya.
“Makasih, Yash. Aku berutang banyak sama kamu.”
Jantung Faran mencelus. Dia sudah menduga ini.
“Nggak usah dibahas. Apapun yang menjadi urusan ayahku akan menjadi urusanku.”
“Maksudnya?”
Aruna mengangguk. Apa yang dikatakan Iyash persis seperti apa yang dikatakan Miranti.
“Maaf melibatkanmu. Aku nggak tahu harus minta tolong siapa.”
Aruna mungkin tidak tahu kalau masih ada senyum setiap dia mengatakan itu. Iyash pikir setelah bersuami Aruna tidak akan meminta bantuan pria lain termasuk dirinya.
“Aku bisa saja pergi, tapi–”
“Orang-orang takut terjadi sesuatu dengan kehamilan kamu,” tukas Iyash.
Kedua mata Aruna terbuka lebar. Dari mana pria itu tahu tentang kehamilannya?
“Selamat ya, aku akan punya keponakan,” kekeh Iyash getir.
Jantung Aruna mencelus. Dia kembali menyeka pipinya yang tak terasa sudah basah.
“Anakku akan memanggil kamu Om.”
Aruna tidak tahu kalau Iyash juga bersedih untuk ini. Meski sudah merelakan satu sama lain, tapi hati tak bisa dibohongi. Bertahun-tahun Iyash bertahan untuk perasaannya, semoga dengan komunikasi yang sehat ini dia bisa mengikhlaskan semuanya dengan mudah.
“Ya sudah kalau begitu aku akan ke sana sekarang. Nanti aku kabari lagi.”
“Iya, kamu hati-hati. Salam untuk Nenek Alma.”
“Iya. Nanti aku sampaikan kalau kamu bangkit dari kubur dan titip salam.” Iyash terkekeh. Akhirnya Aruna bisa mendengar tawa itu lagi.
“Yash?”
“Iya?”
“Makasih.”
“Hm.”
“Kalau begitu aku tutup panggilannya.”
“Run.”
“Iya?”
“Kalau suatu saat aku butuh bantuan kamu, kamu–”
“Aku pasti akan bantu kamu.”
Iyash tersenyum dibalik telepon genggam yang dia pegang. Begitupun dengan Aruna. “Daah.”
“Daah.”
Telepon terputus usai Aruna menekan tombol merah di ponselnya. Dia tidak tahu kalau sejak tadi Faran sudah ada di belakangnya. Saat dia berbalik senyumnya seketika memudar.
“Mas?”
Faran terpegun. Sejak dua hari ini dia kehilangan senyum Aruna dan sekarang setelah Aruna berbincang dengan Iyash, istrinya itu terlihat lebih baik.
Faran langsung mendekap hangat wanita kesayangannya itu. Alih-alih mempermasalahkan dengan siapa Aruna berbincang sampai menangis, tersenyum dan bahkan tertawa. Dia malah takut kehilangan Aruna walau hanya untuk satu malam.
“Mas?” Aruna terperangah.
“Aku nggak peduli pada siapa kamu meminta tolong, aku hanya nggak mau kehilangan kamu sedetikpun.”
“Aku nggak akan pergi kemanapun, Mas. Meskipun kamu memintanya. Aku akan tetap di sini, di dekat kamu.” Aruna membalas pelukan sang suami.
Faran menggeleng. “Buat apa aku memintamu pergi, sementara aku takut kehilangan kamu.”
Aruna tersenyum dan semakin erat membalas pelukan tersebut. Dulu, dia beruntung bertemu Iyash dan sekarang dia tak kalah beruntung bertemu dan bisa hidup bersama Faran.
“Aku tak bisa memilih. Aku hanya menerima apa yang diberikan Tuhan untukku.”
Faran tersenyum.